CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 100


__ADS_3

"Saya baik-baik saja om. Sepertinya saya bermimpi buruk dan berteriak cukup nyaring. Maaf kalau sudah mengganggu waktu istirahat anda.." kata Farah dengan raut wajah bersalah. Bersalah karena menyembunyikan kebenaran dari tuan Wijaya


Tuan Wijaya tersenyum lega "Syukurlah kalau kau tidak apa-apa."


Tuan Wijaya pamit kembali ke kamarnya diantar oleh Zalynda. Meninggalkan Farah yang termenung sendirian di ranjang. Farah menghela nafas sambil memijit keningnya.


"Tante kenapa?"


Farah mendongak menatap Zalynda yang tengah menatapnya cemas. Farah tersenyum sambil menarik tangan Zalynda untuk duduk di tepi ranjang


"Tante nggak apa-apa. Memangnya tante kenapa tadi? Tante seperti nggak ingat." Ucap Farah sedikit berbohong


"Tadi tante teriak-teriak sambil memegang kepala, setelah itu pingsan. Tangan tante dingin banget. Za sampai takut.."


Farah tertawa kecil "Mungkin tante lupa baca doa tidur jadinya mimpi buruk."


Zalynda tersenyum lega melihat Farah sepertinya sudah jauh lebih baik.


"Sebaiknya tante istirahat. Sudah malam banget ini." Zalynda membantu Farah menyusun bantalnya kemudian menyelimuti Farah. Gadis itu kemudian berbaring di samping Farah


"Jangan lupa baca doa, tante biar nggak mimpi buruk lagi.." Goda Zalynda yang ditanggapi tawa oleh Farah. Tak lama Zalynda sudah terlelap, terdengar dengkuran halus nafasnya. Farah menoleh ke arah Zalynda


Wajah Zalynda merupakan perpaduan wajahnya dan Daniel. Mungkin sedikit banyak wajah Daniel disana, namun rambut Zalynda yang hitam lebat membingkai apik wajahnya diturunkan dari Farah


Zalynda Navulia..


Pelan, Farah membelai kepala Zalynda. Hatinya menjerit, sudah dua dekade lebih dirinya dipisahkan dari putrinya sendiri. Saat bertemu pun Farah tidak bisa leluasa memanggil dan menyebutnya 'putriku'


"Aku tidak akan bisa bermimpi buruk lagi, karena saat ini mimpi burukku berpindah ke alam nyata.." Bathin Farah sedih


***


Alin melihat dari balik gordyn saat taksi online yang membawa Ray dan Agus pergi dari rumahnya. Senyum Alin mengembang saat mengingat kejadian tadi. Walau kejadiannya tanpa sengaja, namun Alin ingin sekali mengulanginya. Jarang sekali dirinya berinteraksi begitu dekat dengan Ray


"Senyum-senyum aja." Sebuah suara mengagetkan Alin. Alin menoleh melihat seorang gadis berambut pendek tengah menatapnya sambil melemparkan senyum sinis


Alin sebetulnya malas menanggapi gadis itu. Segera Alin melewati gadis itu menuju kamarnya, namun gadis itu dengan cepat mencekal lengan Alin membuat Alin berbalik dan melayangkan tatapan tidak suka


"Lepas!" Kata Alin sedikit merendahkan suaranya, khawatir didengar orang di rumah


"Dari wajah lo gue tahu kalo elo naksir banget sama cowok yang bukain pintu mobil tadi kan?" Tanya gadis berambut pendek itu sambil menyunggingkan senyuman


"Elo memata-matai gue?" Mata Alin menyipit tanda tidak menyukai tindakan gadis berambut pendek itu


Gadis berambut pendek itu tertawa pelan "Gue kenal kok, itu Rayhan putra Farobi kan? Pewaris utama Frederick Groups Company."

__ADS_1


Alin tertawa mengejek "Semua juga kenal siapa Ray."


"Tapi gue lebih tahu, dimana rumahnya, nyokapnya, bahkan istrinya.." Gadis berambut pendek itu menekankan kata terakhir membuat Alin menatap tajam ke arah gadis berambut pendek itu


"Kenapa? Harusnya kan elo tahu kalau Ray udah punya istri. Tapi tenang aja, istrinya lemah kok."


"Lemah? Sakit?" Tanya Alin sedikit penasaran. Gadis berambut pendek itu mendecih sambil tertawa kecil


"Lemah dalam artian dia nggak cukup kuat untuk bisa stay di samping seorang Ray. Kalau elo mau, gue bisa bantuin elo ngegeser posisi istrinya buat elo."


Tatapan Alin berubah tidak sedingin pertama kali. Gadis berambut pendek itu melepaskan cekalannya dari lengan Alin dan meninggalkan Alin sendirian yang menatapnya heran


"Tunggu."


Gadis berambut pendek itu tersenyum. Umpannya kena. Dengan perlahan gadis itu berbalik


"Ya?"


"Kenapa elo mau ngelakuin ini buat gue?" Tanya Alin


Gadis berambut pendek itu tersenyum membalas tatapan Alin


"Anggap aja ucapan terima kasih dari gue sama nyokap gue karena bokap elo sudah berbaik hati menampung kami di sini."


Gadis itu masuk ke dalam kamarnya. Perlahan senyumnya lenyap. Gadis itu sedikit bersyukur karena Alin sepertinya type pekerja yang jarang menghabiskan waktunya melihat berita di televisi


"Sebelum gue pergi, gue akan buat perhitungan sama elo Zalynda. Gue akan hancurkan semua kebahagiaan elo, atau jangan panggil gue Diva.."


***


Agus mengerjapkan matanya saat Ray menyalakan semua lampu di kamar hotel yang ditempati Agus


"S**t!! Silau g****k!" Umpat Agus sambil menutup kepalanya dengan bantal


Ray terkekeh melihat sahabatnya yang masih bergelung dengan bantal dan selimut


"Shubuh bro! Bangun!" Ujar Ray dengan sengaja menyalakan televisi dengan volume cukup keras


Hal ini cukup mengganggu Agus. Pemuda itu melemparkan bantal ke arah Ray namun dengan sigap Ray menangkapnya. Agus bangun dari tidurnya dengan bersungut-sungut. Ray hanya geleng-geleng melihat Agus terhuyung lalu bersandar di pintu kamar mandi. Sesaat Agus tersadar


"Elo kenapa bisa masuk ke kamar gue?" Tanya Agus sambil memicing menatap Ray


"Gue kan minta kunci cadangan ke resepsionis. Elo mabok semalem. Kalo dibiarin kita bakal ketinggalan pesawat jam tujuh nanti. Cepetan mandi, sholat. Kita cari makan di bandara aja." Kata Ray beranjak pergi


"Ohya, itu gue tinggalin obat di situ. Resep dokter Husna, obat anti pegar katanya. Minum dulu biar bisa jalan ntar." kata Ray lagi sebelum menutup pintu kamar Agus. Agus mendengkus

__ADS_1


"Sial, punya temen kagak ada bedanya sama emak gue. Sama-sama cerewet." Rutuk Agus sambil masuk ke kamar mandi


Jam enam tepat terlihat kedua pemuda itu sudah duduk manis di salah satu restoran Bandara Udara Internasional Jendral Ahmad Yani


Agus menyesap kopi pahitnya perlahan. Kepalanya masih terasa pening.


"Ray, ngapa nggak pake jet pribadi nya om Ardhi sih? Kan bisa pulang rada siangan klo gitu.." Agus masih menggerutu


Ray sengaja tidak menjawab pertanyaan Agus. Seharusnya Agus tahu kalau Ardhi tidak sembarangan memberikan fasilitas untuk anak-anaknya. Jet pribadi yang dibeli Ardhi pun tujuannya agar bisa segera menjenguk tuan Erik atau Ina apabila diperlukan tanpa harus menanti jadwal penerbangan pesawat komersil


"Berapa botol elo embat semalem?" Tanya Ray sambil memakan roti isi srikaya nya.


Agus berusaha mengingat-ingat sesuatu "Perasaan nggak banyak, cuma satu botol malahan seinget gue. Elo tahu sendiri kan gue udah jarang mabok semenjak temenan sama kalian."


Ray mengetahui perjuangan sahabatnya ini untuk lepas dari kecanduan minuman keras. Karenanya Ray tidak terlalu keras dan saklek menasihati Agus.


"Udahlah, yang penting elo nggak ketinggalan pesawat pagi ini." Kata Ray sok bijak. Agus hanya mesem-mesem mendengar perkataan Ray


"Eh tapi gue bener cuma mesen satu botol, Ray. Napa jadi mabok banget ya?" Agus masih mencoba berfikir keras


"Mungkin karena udah lama elo nggak nyentuh minuman keras, jadi toleransi elo terhadap alkohol nggak sekuat dulu. Bagus kan kalo gitu."


Agus tersenyum sambil mengangguk. "Iya kali."


Pemuda itu kembali menyantap sarapannya.


"Ray, Agus.."


Keduanya spontan menoleh melihat Alin berlari kecil menghampiri mereka


"Aku ke hotel ternyata kalian udah check out. Kenapa pagi banget sih? Kamu udah nggak apa-apa Gus?" Tanya Alin sambil mengambil kursi dan duduk di samping Ray


"Nggak, semalam udah dicekokin ramuan anti mabok sama Ray." Kata Agus


Alin menatap Ray heran "Ramuan anti mabok darimana?"


"Dokter Husna. Gue minta resep terus nyuruh beli di apotek." Ucap Ray datar


Panggilan Boarding untuk pesawat yang ditumpangi Ray dan Agus sudah terdengar. Keduanya bersiap untuk masuk


"Save flight ya.. Ketemu lagi nanti di Jakarta." Kata Alin sambil memeluk Agus. Saat hendak memeluk Ray, Ray terlebih dahulu menangkup tangannya di depan dada. Alin mengerti, Ray tidak sembarang menyentuh wanita namun kadang gadis itu pura-pura lupa agar bisa sekedar memeluk Ray


Kedua pemuda itu beranjak pergi meninggalkan Alin yang melambaikan tangan hingga kedua pemuda itu tidak terlihat dari pandangan mata


Alin menghela nafas sambil merogoh sesuatu dari tasnya. Sebuah tube kecil berisi beberapa pil berwarna putih. Alin menatap isi tube itu sambil cemberut

__ADS_1


"Percuma pakai obat ini, tidak akan bisa menghentikan kalian untuk pulang ke Jakarta.."


__ADS_2