
Alin terlihat gugup saat semua orang di ruangan itu memandanginya
"Apa tante Anggun dan Diva benar bersamamu, Lin?" Tanya Zalynda
Alin meremas jemarinya untuk menekan kegugupannya. Kembali diangkatnya dagunya untuk menampilkan kesan angkuh dan kuat, padahal keberaniannya sudah menciut. Alin menatap Zalynda
"Kenapa? Tidak sesuai dengan keinginanmu ya yang pengen mereka terlunta-lunta di jalanan?"
Zalynda terperangah menatap Alin. Bisa-bisanya Alin berfikiran seperti itu. Biar bagaimanapun, Diva tumbuh bersama Zalynda dari kecil, dan walaupun hanya berpura-pura, Anggun pun pernah berbuat baik pada Zalynda.
"Tidak, aku malah bersyukur mereka ternyata baik-baik saja." Kata Zalynda tulus.
"Ck, pura-pura sok baik." Alin mendecih sambil memalingkan wajahnya
"Dimana mereka? Apa mereka ada di rumah elo?" Tanya Ray
Alin diam tidak mau menjawab pertanyaan Ray. Apapun jawabannya, Alin tetap dipersalahkan karena ayahnya sudah menyembunyikan buronan polisi.
"Mas Ardhi, ada laporan kalau pak Anton dan bu Anggun meninggalkan rumah tadi siang. Mereka pergi ke bandara, sedang menuju ke Jakarta." Kata Beno mendekati Ardhi
Alin langsung menoleh berang ke arah Beno saat nama ayahnya di sebut-sebut
"Kalian memata-matai ayahku?! Ayahku seorang polisi! Dia tidak akan tinggal diam kalau tahu kalian mengikuti dan memata-matai nya!"
"Justru karena kami masih menghormati ayahmu jadi kami tidak melaporkan perbuatannya pada atasannya. Kamu pasti tahu konsekuensi apa yang bakal diterima ayahmu jika ketahuan menyembunyikan buronan?" Kata Ardhi datar
Alin mendengkus. Dalam pikirannya Alin bertanya-tanya, mau apa ayahnya dan Anggun pergi ke Jakarta? Apakah mereka hendak mencari dirinya dan Diva?
"Aku rasa pak Anton dan bu Anggun memiliki satu hubungan. Tidak mungkin rasanya polisi seperti pak Anton mau melindungi orang-orang yang justru menjadi buronan polisi." Kata Daniel menerka-nerka sambil melihat ke arah Alin
"Kalian jangan sembarang menuduh. Ayahku seorang polisi terhormat!" Ucap Alin berang
Ardhi menghela nafas panjang, tidak mau pusing memikirkan alasan mengapa ayah Alin mau menyembunyikan Anggun dan Diva di rumahnya. Ardhi menoleh ke arah Beno
"Gadis itu sudah ditemukan, Ben?"
Beno menggeleng "Orang suruhan kita bilang, apartemennya kosong mas. Diva nggak ada di sana."
Sekali lagi Alin terbelalak. Orang-orang ini juga menggeledah apartemennya
__ADS_1
"Kalian menggeledah apartemenku? Itu termasuk tindakan tidak menyenangkan, akan kulaporkan pada polisi!" Dengus Alin
"Justru kami membawa polisi saat menggeledah apartemen anda, nona. Disaat kau di sibukkan dengan kebohonganmu tepatnya." Kata Ardhi
Alin terdiam. Benar-benar dirinya salah langkah. Harusnya dirinya tidak mengikuti saran Diva yang menyebabkan dirinya berada di posisi sulit saat ini. Seharusnya saat ini Alin masih tetap menjadi partner kerja Ray dan masih bisa mengagumi pemuda itu dalam diamnya
"Kalau begitu biarkan aku pergi. Kalian sudah menemukan bu Anggun dengan begitu mudah. Kalian pasti juga bisa menemukan Diva nanti." Kata Alin sambil berjalan menuju pintu keluar, namun Yudi lebih dahulu menghadang langkahnya
"Ada apa lagi sih?!" Alin berdecak kesal
"Urusan kita belum beres Lin. Gue bisa ngelaporin elo ke polisi dengan tuduhan kriminal penjebakan, perbuatan tidak menyenangkan dan pencemaran nama baik." Kata Ray
Alin menoleh tak percaya ke arah Ray. Gadis itu berjalan mendekati Ray
"Kamu tega ngelaporin aku Ray?"
"Elo sendiri tega ngejebak gue, Lin. Kenapa gue harus nggak tega?" Jawab Ray sambil melipat tangannya di dada
"Sorry Ray, aku khilaf. Aku cuma pengen sama kamu." Kata Alin berusaha memegang tangan Ray, namun Ray segera menepisnya
"Elo udah jadi temen gue, tapi ternyata elo tega bikin sandiwara murahan kayak gini dan bikin gue malu serta uring-uringan dua hari ini."
Zalynda menatap Alin kesal sambil membathin "Yeah terus aja, istri orang yang kamu bilang cinta itu ada di sini. B***h!"
Ingin sekali Zalynda berteriak di hadapan Alin karena sikap tidak tahu malu Alin. Namun Zalynda malas memancing keributan di rumah keluarga Al Farobi. Lagipula Zalynda tidak pernah berperilaku seperti itu sebelumnya sehingga Zalynda menyalurkan rasa sebalnya dengan melingkarkan lengannya di pinggang Ray
Ray merasakan tangan Zalynda memeluk pinggangnya. Sebersit senyum terbit di bibir Ray karena ulah Zalynda. Sepertinya Zalynda cemburu dengan pernyataan spontan dari Alin tetapi tidak mau mengungkapkannya. Ray pun segera melingkarkan lengannya di pinggang Zalynda
Alin melihat pemandangan didepannya terlihat kecewa. Ray tidak membalas kata-katanya, malah memeluk mesra Zalynda di hadapannya
"Cinta tidak seperti itu. Cinta harusnya tidak menyakiti, tetapi harus membuat hidup lebih berarti.." Ucap Farah tiba-tiba. Wanita itu berjalan mendekati Ray dan Zalynda sambil tersenyum, lalu menoleh ke arah Alin
"Itu bukan cinta, itu hanya obsesi semata. Bukalah matamu, nona. Kamu masih muda, banyak lelaki lajang di luaran sana yang bisa menjadi pasanganmu dan kamu akan menemukannya.." Kata Farah lagi
Suasana hening. Diantara Ardhi, Aya dan Daniel tidak ada yang menyangka kalau Farah mampu membuat kalimat yang begitu bijak, setelah peristiwa dua dekade lalu
Sayup-sayup terdengar tarhim dari masjid terdekat pertanda sebentar lagi adzan Maghrib akan di kumandangkan
"Kita sholat maghrib dulu." Ajak Ardhi
__ADS_1
"Ayo, kamu bisa pakai kamar tamu untuk sholat Lin." Ajak Zalynda
"Ck, aku sedang haidh." Jawab Alin cuek
"Haidh?" Zalynda membeo
"Iya, kenapa? Dikira aku bohong lagi? Ini sudah hari ke empat jadi aku tidak perlu repot-repot ganti pembalut." Kata Alin
"Hari ke empat? Berarti saat kamu bilang tidur dengan Ray itu bohong karena kamu sedang haidh kan?" Tanya Zalynda. Terlihat kelegaan di wajah Zalynda
Alin memejamkan matanya sambil menggigit bibirnya. Tanpa sengaja ia membuka rahasianya sendiri
"Sumi, antar Alin ke kamar tamu. Jangan biarkan dia keluar sebelum kami kembali dari mesjid." Perintah Ardhi
"Baik pak." Jawab Sumi
Sumi segera melakukan perintah Ardhi. Alin geram saat Sumi sedikit memaksanya untuk mengikuti Sumi namun mau tidak mau Alin terpaksa mengikuti Sumi.
Para lelaki pun bersiap untuk berangkat ke masjid
Ray segera naik ke kamarnya untuk mengganti kemeja kerjanya dengan baju koko, sementara Zalynda ikut naik ke kamar Ray
"Kamu tadi tahu Alin haidh kayaknya lega banget, Za." Tanya Ray sambil menukar kemejanya dengan koko
"Iya lah. Aku jadi tahu kalau Alin hanya sekedar foto sama kamu. Nggak berbuat lebih jauh dengan memanfaatkan ke tidak sadaran dirimu, Ray. Walau aku yakin dia pasti sempat g**pe-gr**e kamu." Kata Zalynda spontan
"Oh jadi kamu cemburu ya?" Kata Ray sambil menggoda Zalynda
Zalynda menghela nafas dan menatap Ray
"Kalau posisinya dibalik, aku yang di posisi kamu kira-kira kamu cemburu nggak?"
Rahang Ray terlihat mengeras. Zalynda terkekeh pelan sambil membelai rahang Ray yang ditumbuhi bulu-bulu halus
"Dah sana wudhu biar adem sedikit hatinya." Kata Zalynda sambil mendorong Ray ke kamar mandi
Adzan Maghrib sudah berkumandang saat Ray turun dari kamarnya. Tidak terlihat para pria di lantai bawah. Kemungkinan mereka sudah menuju ke masjid. Ray bergegas pergi menuju masjid agar tidak tertinggal raka'at pertama
Saking terburu-burunya, Ray membiarkan pintu pagar tidak tertutup sempurna. Saat Ray sudah menjauh, terlihat seseorang mengendap-endap masuk ke kediaman keluarga Al Farobi
__ADS_1