
TecnoTek, sebuah perusahaan Jepang yang bergerak di bidang konsultan IT adalah perusahaan yang banyak menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan besar se Asia. Kualitas pelayanannya sangat memuaskan, terlebih untuk bersaing di era digital dan pasar modern saat ini
Karena sudah terkenal dengan kualitas pelayanannya yang berada diatas rata-rata, banyak tawaran kerjasama yang berdatangan. Terlebih saat perusahaan itu membuka cabang di Jakarta, beritanya sudah ramai tersebar
Layaknya gula yang dikerubuti semut, banyak para pengusaha berdatangan untuk acara pembukaan dan penyambutan Manajer senior baru yang akan menangani perusahaan TecnoTek di Jakarta sekedar berkenalan dan menjalin relasi
Acara penyambutan manajer senior baru di perusahaan TecnoTek berlangsung lancar. Beberapa kolega baru terlihat mengerumuni sang manajer senior baru, Daniel Pratama
Daniel tersenyum dan sedikit berbasa-basi dengan para kolega. Setelah itu Daniel pergi ke ruangan yang disediakan untuknya
Seorang sekretaris cantik menyambutnya dan membukakan pintu ruangan miliknya. Daniel mengangguk sembari mengucapkan terima kasih.
Ruangannya cukup besar. Mirip dengan ruangannya ketika di Jepang dulu, hanya saja dulu jabatannya adalah manajer divisi sistem analisis. Daniel pun memiliki saham 15% di TecnoTek sehingga ia dipercaya Direktur utama untuk mengelola cabang di Jakarta. Daniel tersenyum, tidak menyangka dirinya sampai di posisi sekarang
Daniel duduk di kursi kebesarannya. Mejanya masih terlihat kosong. Segera Daniel mengeluarkan laptop dan beberapa file. Tak lupa Daniel mengeluarkan satu foto yang selalu dibawanya
Daniel memajang foto itu di mejanya sambil tersenyum. Foto dirinya dengan seorang gadis saat upacara kelulusan SMA. Foto itu masih terlihat bening karena Daniel menjaganya dengan baik
Daniel menyentuh bingkai foto itu, tepatnya di wajah sang gadis yang sedang tersenyum hangat
"Aku kembali, Fa. Kamu ada di mana?" Bisik Daniel
***
Yono memarkir mobilnya asal. Segera pria itu turun dari mobilnya dan berlari ke dalam perusahaan TecnoTek. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 saat kaki Yono sampai di resepsionis
"Maaf, bapak ingin bertemu siapa?" Tanya seorang resepsionis cantik
"Emm..saya dari perusahaan Wijaya Group. Saya ada janji dengan manajer senior yang dilantik hari ini." Kata Yono sambil mengelap keringatnya
Resepsionis cantik itu melihat ke arah Yono, lalu menelusuri setiap appointment di komputernya
"Wijaya Group, harusnya sekitar setengah jam yang lalu anda bertemu manajer senior kami." Kata resepsionis cantik itu datar
Yono menghela nafas berat "Apa mau dikata, Jakarta macet dimana-mana."
Resepsionis cantik itu menarik ujung bibirnya sambil membathin "Selalu alasan macet yang disalahkan. Sudah tahu macet harusnya bisa datang lebih pagi."
"Jadi, apa saya bisa bertemu manajer senior baru?" Tanya Yono lagi
__ADS_1
Baru saja resepsionis cantik itu hendak membuka mulut, terlihat Daniel turun dari lift khusus direksi bersama beberapa manajer divisi TecnoTek. Mereka sedang mendiskusikan sesuatu
Resepsionis itu menunduk hormat ke arah Daniel. Yono yang tidak mengenali Daniel hanya menatap Daniel sepintas lalu
"Hey, jadi gimana cantik?" Tanya Yono lagi
Resepsionis cantik itu menghela nafas "Barusan manajer senior lewat pak. Bapak bisa mengejarnya kalau mau."
Yono terbelalak. Bisa-bisanya dirinya mengacuhkan target yang seharusnya di dekatinya.
"Hih, bilang dong." Ujar Yono jengkel. Pria itu segera berlari menyusul Daniel. Resepsionis cantik itu hanya geleng-geleng kepala melihat ulah Yono
"Pak manajer senior.." panggil Yono saat melihat Daniel hendak menaiki mobil
Para manajer divisi menoleh ke arah Yono yang tersengal-sengal berlari ke arah Daniel. Daniel urung masuk kedalam mobilnya saat melihat Yono mendekat
"Dia yang kulihat di rumah om Wijaya.." bathin Daniel
"Pak..maaf saya terlambat. Saya Mariono Sutedjo dari Wijaya Group." Kata Yono sambil mengulurkan tangannya
Daniel malah melihat jam tangannya "Anda terlambat 30 menit, pak."
"Ah iya iya, maaf. Ngerti lah, Jakarta jam segini macet." Kata Yono berusaha membela diri
"Begini pak, apa saya boleh me re-schedule pertemuan kita? Saya membawa kerjasama yang bagus…"
Daniel mengamati Yono yang terus mengoceh. Entah apa yang diucapkan Yono, Daniel tidak terlalu memperhatikannya
"Orang ini tidak punya attitude dalam bisnis. Kenapa om Wijaya bisa menyerahkan kepercayaannya pada orang seperti ini?" Bathin Daniel
"Bagaimana?" Tanya Yono
"Baiklah, anda sepertinya senang berbincang santai. Saya kebetulan hendak makan siang di restoran Boulevard. Anda bisa ikut kalau anda mau." Kata Daniel sambil masuk ke dalam mobilnya
Mata Yono berbinar-binar "Baik,saya ambil mobil saya dulu."
Daniel melihat Yono berlari menuju parkiran luar gedung. "Kalau bukan karena ingin tahu keadaanmu, Fa.. Aku tidak mau buang-buang waktu untuk badut seperti dia."
***
__ADS_1
Jam 11 tepat Ray benar-benar menjemput Zalynda di rumah bu Reema. Bu Reema menyambut Ray dengan ramah
"Ehan sekarang nggak pake kawat gigi?" Tanya bu Reema sambil memperhatikan gigi Ray
Ray refleks membekap mulutnya dan menyapu giginya dengan lidahnya.
"Lah, pantesan kayaknya tadi ada yang ketinggalan." Bathin Ray
"Eh, iya bu. Kan gigi Ehan udah cakep jadi nggak perlu di kawat ceuk dokter ge." Kata Ray mencoba ngeles
Bu Reema tertawa kecil sambil mengangguk. Zalynda terlihat sudah bersiap untuk pulang
"Za pamit bu.." kata Zalynda sambil meraih tangan bu Reema untuk salim
"Sebentar, ibu mau ngobrol dengan Ehan." Kata bu Reema sembari mengajak Zalynda dan Ray duduk di sofa. Keduanya menurut
Mata tua bu Reema menatap teduh ke arah Ray dan Zalynda. Bibirnya tersenyum
"Ibu tahu, Ehan keberatan kalau Za bekerja sebagai pembantu disini. Kalau bukan sebagai pembantu, apa Ehan masih mengijinkan Za datang ketemu ibu?"
Ray melirik ke arah Zalynda. Sepertinya Zalynda sudah membicarakan tentang keinginan Ray agar Zalynda berhenti dari pekerjaannya sebagai pembantu di rumah bu Reema. Zalynda mengangguk kecil
"Ehan, Za ini sudah saya anggap seperti keluarga sendiri. Mirip-mirip seperti asisten pribadi deh. Dengan adanya Za, kesepian saya sedikit banyak terobati." Kata bu Reema sembari membelai kepala Zalynda
"Saya sudah terbiasa dengan adanya Za di sini. Kalau tiba-tiba berhenti, nenek tua ini akan sangat kehilangan." Lanjut bu Reema lagi
Ray menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya bu Reema juga seorang negosiator ulung, terlebih menggunakan perasaan kasihan pada orang tua.
"Ng..Ehan teh kasihan lihat Za pagi-pagi harus siap-siap. Rumah kami jauh dari sini.."
"Nggak harus pagi-pagi kok. Za juga nggak harus beres-beres. Cukup masakin sama nemenin saya aja. Kan Za juga sendirian di rumah kalau kamu kerja. Kalau sama saya, Za nggak akan kesepian. Saya pun begitu." Sambar bu Reema cepat
"Lagian ni ya, kamu kan capek bolak-balik jemput Za terus kerja lagi. Nggak sekalian gitu jemput sore. Anggap aja Za lagi main nemenin neneknya. Kita bisa sambil masak,merajut, bikin kue pesanan… Boleh kan Ehan?"
Ray menghela nafas. Alasan bu Reema cukup masuk di akal. Mungkin Zalynda juga akan kesepian sendirian di apartemen. Kalau Zalynda ada yang menemani, Ray tidak akan terlalu khawatir dengan Yono yang bisa saja menemukan Zalynda kembali
Ray menghela nafas "Hm..baiklah bu. Ehan manut aja kata-kata bu Reema."
Bu Reema nampak senang. Wanita itu segera memeluk Zalynda yang tergelak. Ray tersenyum, sepertinya Zalynda juga senang berada dekat dengan bu Reema
__ADS_1
"Makasih ya Ehan, Cucu pang kasep nya." Ujar bu Reema sambil mencubit pipi Ray
Ray mesem-mesem. Seumur-umur Ray baru kalah debat dari dua orang wanita. Yang pertama Aya, yang kedua bu Reema.