
Zalynda membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur. Sudah satu jam berlalu saat ia masuk kedalam kamar. Lampu kamarnya sudah dimatikan. Hanya tinggal penerangan dari kamar mandi yang menerangi kamar
Kembali Zalynda membalikkan tubuhnya. Teringat saat istri Ray datang tadi, Zalynda langsung menutup pintu dan masuk kedalam kamarnya
"Haah..tidak sopan banget aku ya. Harusnya aku menyapanya, menawarkannya minuman.."
Zalynda menghentikan monolognya yang terdengar konyol. Buat apa Zalynda menawarkan minuman pada sang nyonya rumah yang sebenarnya
Teringat saat Zalynda memandang perut istri Ray yang sedikit membesar. Apa gadis itu sedang hamil? Zalynda merasa menjadi orang jahat, mengambil suami orang disaat istrinya sedang mengandung
"Aah..aku harus gimana." Kata Zalynda gusar.
Kerongkongannya terasa sangat kering. Dari tadi Zalynda ingin sekali mengambil minum di dapur, hanya saja dirinya takut berpapasan dengan istri Ray
"Ah, harusnya kalau dia mau dia bisa mendobrak kamar ini dan mengusirku." Gumam Zalynda lagi, namun kembali ia berfikir. Istri Ray tidak mungkin melakukan tindakan anarkis seperti itu
Akhirnya Zalynda memberanikan diri mengintip ke luar. Suasana terlihat sepi. Lampu besar sudah dimatikan, tinggal lampu dinding yang memberikan penerangan.
Zalynda membuka pintunya perlahan dan segera pergi ke dapur untuk membasahi kerongkongannya
Saat hendak masuk kedalam kamar, dalam keremangan Zalynda melihat Ray sedang tertidur di sofa. Dahi Zalynda mengernyit
"Kenapa Ray tertidur di sofa? Kenapa bukan di kamarnya?" Bisik Zalynda
Zalynda mendekati Ray dan perlahan menyentuh pipi Ray untuk membangunkannya
"Ray, pindah ke kamar. Jangan tidur di sini." Kata Zalynda sambil menepuk pelan pipi Ray
Ray terbangun, mengerjap sesaat
"Za?" suara Ray terdengar serak khas orang bangun tidur
Zalynda tersenyum
"Kenapa tidur di sini? Kamu bisa masuk angin. Pindah ke kamar sana." Kata Zalynda lembut
Ray merenggangkan tubuhnya lalu membuka mata dengan sempurna
"Nggak apa-apa. Di kamar ada Ina lagi tidur."
Kening Zalynda berkerut. "Bukannya nggak apa-apa suami istri tidur sekamar?"
Mendengar ucapan Zalynda, Ray langsung menatap gadis itu, kantuknya menguap entah kemana
"Kamu mau kita tidur sekamar?"
"Eh.." Zalynda gelagapan. Ray sepertinya salah tangkap maksud perkataannya
Sebelum Zalynda meralat ucapannya, Ray sudah terlebih dahulu membopong tubuh Zalynda membuat gadis itu memekik. Zalynda segera menutup mulutnya, khawatir suaranya membangunkan istri Ray
Ray terkekeh melihat tingkah Zalynda. Dengan cepat pemuda itu membawa Zalynda ke kamar gadis itu dan membaringkan tubuh Zalynda ke ranjang.
Ray segera mengungkung tubuh Zalynda yang berada di bawahnya dan segera menciumi wajah dan bibir Zalynda bertubi-tubi
"Ray, t-tunggu. Maksudnya..aah.." Zalynda tidak sengaja mengeluarkan suaranya saat Ray mencumbu lehernya
Gadis itu langsung refleks menutup mulutnya. Ray tertawa sambil melepaskan tangan Zalynda yang menutupi mulut
"Jangan di tutup. Aku mau dengar.." bisik Ray, lalu mulai menciumi leher Zalynda sementara tangannya bergerilya liar di tubuh Zalynda
__ADS_1
"Aduuh, Ray! Kamu salah sangka. Maksudnya kamu tidur dikamar mu sana sama istrimu. Bukan disiniii.." Kalimat itu yang hendak diucapkan Zalynda.
Namun pada kenyataannya, tidak ada satupun kalimat yang bisa Zalynda ucapkan dengan benar ditengah gempuran tangan dan bibir Ray
"Ray..Hmmh.."
"Engh..Raay.."
Zalynda merutuki kebodohannya tidak bisa menahan diri untuk mengeluarkan suara-suara aneh yang justru membuat Ray semakin gencar menyentuhnya
Rasanya berbeda saat tangan Yono menyentuh tubuh Zalynda. Dengan Ray, Zalynda merasa lebih di hargai dan di sayangi
Zalynda mulai melingkarkan lengannya di leher Ray dan asyik membalas lu****n Ray, tidak menyadari semua penutup tubuhnya sudah terlucuti
Ray pun mulai menanggalkan pakaiannya. Tanpa sadar Zalynda meneguk salivanya melihat tubuh Ray yang terpahat sempurna
Ray tersenyum lebar melihat ekspresi Zalynda. Segera Ray menutup tubuh keduanya dengan selimut. Ray membisikkan sebuah doa di telinga Zalynda, Zalynda tahu betul doa apa yang di lafadz kan Ray. Refleks Zalynda menggigit bibirnya
Saat keduanya hendak kembali beraksi lebih jauh, tiba-tiba lampu kamar Zalynda menyala. Keduanya langsung menatap ke arah saklar lampu dan mendapati Ina tengah berdiri menatap keduanya sambil melotot
"Apa yang kalian lakukan?!"
***
Di ruang tamu, Ina menatap tajam dua orang yang duduk di hadapannya. Ray terlihat lebih santai, sementara Zalynda menunduk tidak berani mengangkat wajahnya.
Keduanya sudah berpakaian lengkap
Ina memindai keduanya. Nampak jejak kepemilikan Ray di leher Zalynda. Ina hanya geleng-geleng kepala lalu melihat ke arah Ray
"Ada apa ini sebenarnya, bang?"
"Na, sebenarnya.."
"Semua salah saya mbak." Zalynda tiba-tiba menyerobot ucapan Ray
Kening Ina berkerut seperti berfikir "Mbak yang ada di toko kue pengantin itu kan ya?"
Zalynda mengangguk cepat
"Benar. Ini semua bukan salah suami mbak. Suami mbak terpaksa menikahi saya karena warga salah faham terhadap kami. Suami mbak awalnya hanya menolong saya."
Mata Ina membulat "Suami ku? Kalian menikah? Anda dan suami ku?!"
Kening Ray pun berkerut mendengar penjelasan Zalynda. Kenapa tiba-tiba bawa-bawa Andre?
Ina berdiri dengan garangnya. Zalynda terkejut melihat mata Ina yang berkobar
"Jadi suamiku sudah menikahi anda dan menyembunyikan anda di apartemen ini?!" Suara Ina terdengar marah
Ray merasa ada yang tidak beres.
"Na.."
Ina mengangkat tangannya sambil menatap Ray
"Abang merahasiakan ini dari Ina?! Tega abang! Ina lagi hamil, bang!!" Teriak Ina
Zalynda mencoba berbicara dengan suara bergetar "Mbak..saya bersedia di cerai.."
__ADS_1
"Diam! Kamu pikir dengan bercerai saya akan menerima kembali suami saya?!" Bentak Ina sambil menatap Zalynda tajam
Ray terpana, Ina yang biasanya lemah lembut kini menjelma seperti naga yang siap memuntahkan api dari mulutnya
Ting tong
Ina menatap ke arah pintu. Lalu dengan cepat berjalan ke arah pintu dan membukanya. Terlihat Lean dengan wajah cemas
"Thank God! Ina, abang nyariin kamu kemana-mana. Untung belum nyari ke rumah bunda." Kata Lean sambil memeluk Ina
Ina mendorong kasar tubuh Lean sehingga menabrak pintu yang menutup. Lean menatap aneh ke arah Ina
"Kamu kenapa, sayang? Segitu marahnya sama abang gara-gara ditinggal ke club?"
Ina menatap Lean dengan nafas tersengal
"Abang kesini nyari Ina? Bukan nyari simpenan abang ini, hah?!!" Bentak Ina sambil menunjuk kearah Zalynda yang menatap bingung ke arah Ina dan Lean
Lean mengikuti arah telunjuk Ina
"Za?"
"Andre.."
Ina mendecih "Kenapa masih pura-pura bang?"
Lean menatap Ina dan Zalynda bergantian. Lalu menatap ke arah Ray
"Ini ada apa sebenarnya?" Tanya Lean bingung
'Nggak usah pura-pura, bang! Perempuan ini bilang sudah menikah dengan abang!" Kata Ina sambil menunjuk Zalynda
Lean ternganga.
"Na, bukan abang yang nikah sama Zalynda." Dengan cepat Lean meraih tangan Ina namun Ina menepisnya kasar
Zalynda pun menutup mulutnya. Sepertinya dari awal dirinya yang sudah salah faham.
Ina menatap Lean sambil menghapus airmatanya yang masih terus mengalir
"Bagus ya bang. Bolak balik ke Indonesia katanya ada urusan dengan tuan Dimitri, ternyata abang punya perempuan lain!" Kata Ina bergetar
"Na, ini salah faham. Ray! Jelasin!" Kata Lean panik saat Ina menolak di sentuh oleh Lean
Ina balik menatap Ray dengan tatapan marah
"Nggak usah jelasin apa-apa! Bang Ray juga tega ngebohongin Ina. Lagipula bang Ray juga mengambil keuntungan dengan menampung perempuan ini kan?"
"Ina! Abang nggak seperti pikiran Ina!" Bentak Ray dengan wajah merah padam
"Lalu tadi yang Ina lihat di kamar, apa?"
"Apa salahnya abang bermesraan dengan istri abang sendiri?" Jawab Ray tegas
Mata Ina mengerjap
"Apa?" Suara Ina sedikit menurun
Ray mendesah "Abang sudah menikah dengan Zalynda, Rayna.."
__ADS_1