CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 21


__ADS_3

Marvin terkejut saat mendapati Ray sudah duduk di kursinya sambil memakan bekal. Pemuda itu menatap sahabatnya yang terlihat menikmati sarapan paginya


"Bro, tumben pagi banget elo dateng." Sapa Marvin


"Kan gue rajin." Jawab Ray sambil melihat ke arah Marvin


Marvin terkekeh sambil duduk di hadapan Ray. Keningnya berkerut melihat sarapan Ray yang lain dari biasanya


"Apa itu?" Tanya Marvin


Ray menyodorkan kotak bekalnya. Marvin mencicipinya sedikit. Matanya melihat keatas seakan menerka-nerka


"Enak. Ini apa?"


Ray berfikir sejenak. Ia juga lupa menanyakan nama masakan yang tadi pagi Zalynda masak


"Sauteed tofu with basil." Jawab Ray asal. Karena rasanya agak mirip dengan tahu


Marvin mengangguk-angguk. Lalu kembali mencicipi bekal Ray


"Siapa yang buat? Tante Aya?"


"Kenapa? Doyan?"


Marvin tertawa "Ntar gue minta Ghea buatin."


Marvin mengulurkan surat cutinya ke depan Ray.


"Gue cuti 4 hari kerja ya Ray. Rabu depan gue baru masuk."


"Udah beres semua?" Tanya Ray


Marvin mengangguk "Udah semua kayaknya. Gue cuma bagian ngeluarin dana. Yang ngurus Ghea, mamanya sama mama gue."


Ray tersenyum. Teringat akan Zalynda, Ray belum mengumumkan pernikahannya dengan Zalynda.


"Vin, in syaa Allah gue dateng bareng Zalynda ke nikahan elo."


Marvin langsung menatap sahabat sekaligus boss nya.


"Yakin? Di nikahan gue banyak anak-anak universitas Gemilang lho Ray. Elo nggak takut jadi bahan omongan gitu?"


Ray menggeleng "Gue nggak peduli mereka mau ngomong apa. Gue cuma peduli reaksi elo sama Ghea."


Marvin termenung. Ghea dan Zalynda bersahabat baik, dulunya. Namun karena peristiwa di universitas Gemilang dulu, mereka sudah putus kontak sama sekali. Marvin tidak ingat Ghea pernah membicarakan Zalynda di depannya


"Boleh gue sama Za ketemu Ghea, Vin?


Marvin menghela nafas "Gue sebetulnya nggak masalah Ray. Gue dan mungkin Ghea udah memaafkan Za. Gue cuma mikirin elo aja."


Ray menatap Marvin. Temannya ini memang paling mengetahui apa yang terjadi dengan dirinya saat kejadian di universitas Gemilang dulu


"Gue udah nggak apa-apa. Malah gue yang jadi kasihan sama dia Vin. Dia terpaksa ngejalanin kehidupannya dulu, dia yatim piatu.."


"Kok elo tahu banyak soal dia?" Marvin memotong ucapan Ray dengan tatapan menyelidik


Ray berdehem "Cuma segitu yang gue tahu."

__ADS_1


Marvin seolah akan bertanya lagi, namun Arion sekretaris Ardhi muncul di pintu


"Maaf, pintunya kebuka. Ray, pak Al Farobi tadi pesan supaya kamu ikut beliau rapat siang ini."


"Ah ya, makasih Bang Arion. Ayah kok nggak telepon?"


"Nggak, tadi saya ketemu di parkiran. Beliau naik ke atas, saya belok dulu ke sini." Kata Arion sambil melambaikan tangannya


Ray membalas lambaian Arion. Segera Ray menghubungi Zalynda


"Assalamu'alaykum Ray.." terdengar suara lembut Zalynda


"Wa'alaykumussalam, Za. Za, nanti aku nggak bisa jemput buat ke bu Edah dan pulang. Nanti aku minta supir buat nganter jemput ya."


"Eh jangan, biar aku jalan sendiri aja.."


"Aku nggak terima penolakan! Aku nggak mau orang gila kemarin nyamperin kamu lagi!" Suara Ray terdengar meninggi


Hening sejenak di ujung sana


"Baiklah."


Ray tersenyum lebar "Ok, sampai ketemu di rumah."


Ray mematikan teleponnya sambil tersenyum. Tiba-tiba Ray tersadar, Marvin masih ada di depannya dengan wajah yang penuh pertanyaan


***


Marvin hanya manggut-manggut mendengarkan cerita Ray.


"Jadi, cuma gue sama Andre yang tahu?" Tanya Marvin.


Marvin berdecak "Kayaknya elo bilang sekarang juga nggak apa-apa, Ray. Orang tua elo nggak bakalan nolak Za juga kan. Elo juga umurnya udah cukup buat nikah, so amanlah."


Ray menggeleng sambil menatap ke arah sahabatnya


"Lo lupa ya Vin kalo Za itu masih ada hubungan dengan tuan Wijaya? Anaknya yang pernah bikin bunda terpisah 5 tahun sama ayah, ngerancang ngebunuh bunda juga. Belum lagi kejadian pas pemilihan senat.."


"Kan saudara jauh, Ray. Masalah di kampus dulu, orang tua elo emang tahu?" Tanya Marvin


Ray menggeleng "Gue nggak tahu, tapi kalau om Beno yang udah turun tangan itu berarti udah di suruh sama ayah, Vin. Gue tetap nggak boleh gegabah. Gue pengen baik kedua-duanya."


Ray menoleh menatap Marvin "Menurut elo, gue serakah?"


Marvin menggeleng "Nggak lah. Kalo gue di posisi elo mungkin juga begitu."


Keduanya saling melempar senyum dan saling meninju lengan dengan pelan


"Tapi gue jadi kecewa, bukan gue yang elo kabarin pertama kali." Kata Marvin memasang wajah sedih


Ray tertawa kecil "Emang jam tiga pagi elo masih bangun? Satu-satunya yang masih melek ya Andre."


Marvin nyengir sambil menepuk bahu Ray "Hehehe, gue becanda lah bro. Gue selalu dukung elo."


Ray tersenyum.


"Dah lah, ayo siap-siap. Ayah paling nggak suka kalo kita telat." Kata Ray sambil bersiap-siap

__ADS_1


Marvin membereskan beberapa berkas di mejanya dan berjalan mengikuti Ray yang lebih dulu keluar ruangan


"Yang jemput Za siapa?" Tanya Marvin saat mereka di lift


"Tadi udah WA si Asep. Nanti sekalian gue cek ke Za."


Marvin mengangguk. Kedua pria itu segera turun ke lobby. Di lobby sudah menunggu Ardhi dan Lean


"Andre? Kapan dateng lo?" Tanya Ray sambil memeluk Lean


"Tadi pagi." Lean balas memeluk Ray sekilas lalu bersalaman dengan Marvin


"Ina?"


"Ada di rumah bunda lagi istirahat. Pulang rapat gue jemput."


"Ck, kamu masa' langsung pulang ke apartemen. Nggak nginep dulu di rumah?" Kata Ardhi sembari menatap Lean


Lean tersenyum sambil mengangguk "Iya, kami nginep malam ini kok Yah."


Ardhi memandang Ray "Kamu juga bang. Beberapa hari ini di apartemen terus. Pulang ke rumah hari ini."


Ray hanya tersenyum dan mengangguk kecil sementara Lean dan Marvin memandangi Ray.


Ardhi merasa ada yang disembunyikan oleh Ray. Namun Ardhi hanya diam. Diam sambil menyelidiki apa yang terjadi. Ardhi tersenyum


"Ayo, kita harus berangkat sekarang." Kata Ardhi


***


Zalynda menekan deretan angka kunci apartemen Ray untuk membuka pintu. Tepat saat pintu tertutup sebuah pesan dari Ray masuk


"Za, maaf. Malam ini aku tidak pulang ke apartemen. Kamu nggak apa-apa? Kamu sudah sampai?"


Zalynda menggigit bibirnya sambil memandangi dua bungkus nasi goreng yang sengaja dibelinya. Zalynda menghela nafas


"Iya, nggak apa-apa. Aku barusan sampe di apartemen." Balas Zalynda


Gadis itu segera meletakkan nasi gorengnya di atas meja dan pergi membersihkan diri.


Setelah membersihkan diri, Zalynda menyalakan televisi sambil memakan nasi gorengnya.


Selesai makan, Zalynda segera membersihkan alat makannya. Sebungkus nasi goreng yang lain Zalynda simpan di kulkas dan berencana memanaskannya esok hari.


Zalynda memandang sekeliling ruangan apartemen Ray. Suasananya terasa sepi dan dingin. Zalynda kembali duduk di sofa sambil menonton televisi


Zalynda sibuk menggonta-ganti channel televisi. Tidak ada acara televisi yang menarik di mata Zalynda. Sewaktu dirinya masih di kost-kostan, dirinya selalu cepat tertidur karena saking lelahnya.


Namun malam ini sepertinya matanya tidak mau berkompromi walau tubuhnya terasa sudah lelah


"Duuh..kenapa sih aku." Gumam Zalynda pada dirinya sendiri


Gadis itu mematikan televisi. Setelah memastikan semua aman, Zalynda pergi ke kamarnya. Melewati kamar Ray, pintunya sedikit terbuka


Zalynda tadinya hendak menutup pintu kamar Ray, namun Zalynda melihat baju koko Ray tergeletak di atas tempat tidur. Zalynda masuk dan mengambil baju koko Ray


"Apa ini kotor? Aku harus mencucinya?" Zalynda menciumi baju koko Ray. Hanya ada wangi tubuh pemuda itu. Zalynda terus menciumi baju Ray sembari melangkah keluar kamar Ray

__ADS_1


Alih-alih membawa ke mesin cuci, Zalynda mrmbawa baju koko Ray masuk kedalam kamarnya. Diletakkan baju koko Ray sebagai alas bantalnya. Wangi Ray tercium


Zalynda mengelus-elus baju koko Ray. Rasanya nyaman sekali. Tak lama matanya mulai memberat, Zalynda pun mulai tertidur


__ADS_2