
Ray berdecak kesal karena sepanjang perjalanan dirinya menelepon Agus dan hanya di balas dengan pesan suara
"Masih molor kayaknya ni anak." Rutuk Ray sembari terus menelepon Agus.
Karena tidak kunjung diangkat, segera Ray menuliskan pesan untuk Agus
"Siap-siap Gus, kita ke Jakarta jam 8 pagi."
Jalanan pagi di Semarang cukup lengang. Ray memacu kendaraannya cepat. Saat lampu merah Ray segera memesan tiket penerbangan komersil untuk kembali ke Jakarta. Ray hanya ingin segera pulang menemui Zalynda. Entah kenapa, hatinya sangat merindukan istri cantiknya itu
Mobil yang dikendarai Ray memasuki lobby hotel. Penjaga valet dengan sigap mengambil kunci dan memarkirkan mobil ke lahan parkir di bawah. Segera Ray menuju ke resepsionis untuk meminta kunci cadangan kamar Agus
"Bapak Agus Akhtyara Fahrezi sudah check out semalam pak." Jawab resepsionis berkacamata itu
"Apa?" Ray memicingkan matanya. Seingat Ray kemarin Agus bolak-balik ke kamar mandi karena sakit perut, pagi ini harusnya pemuda itu masih beristirahat di kamar mengingat kondisinya
"Ada lagi yang anda butuhkan?" Tanya resepsionis itu membuat Ray terhenyak
"Ah, tidak. Terima kasih."
Segudang pertanyaan hinggap di kepala Ray. Semuanya seakan tidak masuk akal, tetapi otak Ray seakan tidak dapat diajak berfikir. Ray seakan buntu, yang diinginkannya sekarang hanyalah berada dalam dekapan Zalynda. Ray segera menuju kamarnya untuk bersiap-siap pulang ke Jakarta
***
Penerbangan Semarang-Jakarta hanya memerlukan waktu satu jam lebih. Ray segera menyetop taksi untuk membawanya pulang ke apartemen.
Kini..
Sampailah Ray di depan pintu apartemennya. Pemuda itu tidak mengabari Zalynda akan kedatangannya. Ray berharap Zalynda ada di apartemen dan tidak menginap di rumah Ardhi, bu Reema atau tuan Wijaya
Cklek..
Ray membuka pintu perlahan setelah memasukkan digit nomor kunci apartemennya. Suara penyedot debu terdengar, nampaknya Zalynda sedang bersih-bersih. Ray tersenyum senang mengetahui Zalynda berada di rumah
Kaki Ray melangkah ke ruang tengah dan melihat Zalynda sedang membelakanginya sambil asyik menyedot debu ditemani headset di telinganya, entah apa yang di dengar namun terdengar Zalynda bersenandung kecil
Tanktop hitam dengan celana jeans pendek membungkus tubuh proporsional Zalynda. Dengan rambut di cepol berantakan keatas justru menambah kesan seksi di mata Ray. Apalagi saat gadis itu bergoyang. Ray tertawa kecil melihat tingkah Zalynda, hiburan tersendiri untuk Ray di tengah masalah yang menerpanya
Ray bersandar di dinding sambil melipat tangannya di dada menikmati pemandangan di depannya sambil tersenyum. Zalynda belum menyadari kehadiran Ray. Saat gadis itu berbalik dan melihat seseorang di belakangnya, sontak Zalynda menjerit kaget
__ADS_1
"Ray!" Kata Zalynda sambil mengusap-usap dadanya. Ray terkekeh melihat Zalynda yang cemberut karena terkejut
Zalynda melepas headset dan mematikan penyedot debunya. Gadis itu segera menghampiri Ray
"Kok nggak bilang mau pulang?" Tanya Zalynda sambil meraih tangan Ray dan menciumnya takzim
Ray terpaku menatap Zalynda. Kelebat peristiwa tadi pagi kembali membayanginya. Dadanya terasa sesak.
"Ray, kau baik-baik saja?" Tanya Zalynda khawatir saat melihat Ray hanya terdiam sambil memandanginya
Tiba-tiba Ray menarik tubuh Zalynda dan memeluk erat gadis itu. Ray menghirup dalam-dalam aroma vanilla rose di tubuh Zalynda
Zalynda bingung menghadapi tingkah Ray yang sedikit aneh, namun gadis itu membiarkan Ray memeluknya karena merasa Ray memiliki suatu permasalahan. Zalynda melingkarkan tangannya di tubuh Ray dan memberikan usapan lembut untuk menenangkan pemuda itu
Ray menjauhkan tubuhnya dan menatap netra coklat milik Zalynda. Gadis itu tersenyum lembut sambil jemari lentiknya menyisiri rambut Ray
"Ada apa Ray?" Tanya Zalynda
Mata Ray sepenuhnya melihat ke mata Zalynda. Mata yang cantik, Ray tidak pernah berniat membuat Zalynda kembali menangis. Tiba-tiba perasaan takut menyelimuti Ray. Walau dirinya yakin tidak bersalah, namun dirinya belum menemukan bukti kuat untuk mendukung membersihkan namanya
Zalynda terhenyak melihat sorot mata Ray. Sorot mata yang sama seperti dalam mimpinya. Apa Ray sedang menghadapi masalah berat? Pikir Zalynda. Gadis itu hanya terdiam sambil menatap lembut ke arah Ray
"Ada ap.."
"Aku mencintaimu, Zalynda. Sangat mencintaimu. Apapun yang terjadi nanti, aku harap kau tetap percaya padaku dan tetap berada di sampingku. Jangan pernah tinggalkan aku, Za." Bisik Ray pelan sembari mengeratkan pelukannya
Zalynda balas memeluk Ray erat
"Aku akan bertahan sekuatku di sisimu, Ray. Akan kubuktikan kalau hanya aku yang pantas berdiri di sisimu.." Ucap Zalynda lembut
Ray mengangguk dalam pelukan Zalynda. Perlahan Ray menelusuri leher dan pipi Zalynda dengan bibirnya sambil memberikan hisapan kecil dan berakhir di bibir Zalynda dimana Ray langsung m*****t nya
"Emmph.." Zalynda mengerang dalam ciuman Ray saat pemuda itu menggendong Zalynda sembari meremas b****g padat Zalynda. Ray dengan cepat membawa Zalynda ke dalam kamarnya untuk menuntaskan rasa yang membuncah
***
Frederick Groups Company
Ardhi tersenyum sambil berdiri menyambut Aya yang datang tiba-tiba ke kantornya. Saat Arion menutup pintu, Ardhi langsung memeluk erat Aya dan menghujani wanita itu dengan ciuman
__ADS_1
"Beiib, genit ih. Udah mau punya cucu juga." Kata Aya mendorong tubuh Ardhi sambil mencubit perut keras Ardhi membuat pria itu mengaduh
"Bukannya kamu datang buat.." Ardhi sengaja menggantungkan kalimatnya sambil menatap menggoda Aya. Aya melotot
"Ih nggak. Aku kesini janjian sama Beno.. Ada urusan yang kamu juga harus tahu." Aya segera melengkapi kalimatnya khawatir dengan raut wajah Ardhi yang berubah.
Ardhi tetaplah Ardhi, seorang pencemburu berat apalagi menyangkut tentang istrinya
Aya mengajak Ardhi untuk duduk di sofa. Bertepatan dengan Beno yang memasuki ruangan
Ardhi hendak membuka mulut namun Aya mendahuluinya
"Beno, sini duduk." Perintah Aya
Ardhi menatap Beno dan Aya heran. Beno tampak salah tingkah dengan tatapan Ardhi seolah-olah Beno hendak merayu Aya. Sesuatu hal yang sangat mustahil dilakukan Beno
"Bagaimana?" Tanya Aya
Beno sekilas memandang Ardhi yang masih menatapnya. Beno semakin salah tingkah. Tingkah Beno membuat Aya melihat ke arah Ardhi
"Beib, Beno jangan di pelototi gitu. Beno bawa informasi penting. Aku yang minta tolong." Kata Aya sambil mengusap wajah Ardhi. Ardhi langsung tergagap sembari menoleh ke Aya
Sekuat tenaga Beno menahan tawa melihat tingkah kedua boss nya.
"Jadi, bagaimana Ben?" Tanya Aya
Beno mengangguk
"Nyonya benar, ada yang mencurigakan. Saya sudah mengambil beberapa foto dan video." Kata Beno mantap
"Bagus. Bagaimana dengan saksi yang bisa menguatkan?" Tanya Aya
"Untuk akses CCTV, anda mungkin bisa meminta Pak Daniel. Beliau akan senang hati memberikannya. Untuk saksi hidup, saya jamin dia tidak akan kabur." Kata Beno lagi sambil menyerahkan beberapa lembar foto yang sudah di cetaknya
"Videonya?" Tanya Aya
"Ada di handphone saya, nyonya. Sudah saya copy juga di flashdisk."
Aya tersenyum puas melihat hasil kerja Beno. "Terima kasih ya Ben."
__ADS_1
Ardhi ikut mengintip foto di tangan Aya. Matanya membelalak
"Ini apa maksudnya?!"