
Aya mengajak Ray dan Zalynda untuk makan siang di restoran favoritnya. Walau sedang berlangsung perang dingin diantara Ray dan Zalynda, mereka mampu menutupinya dengan baik di hadapan Aya
Makan siang dengan Aya berjalan lancar. Aya tidak terlalu banyak bertanya tentang masa lalu Zalynda. Aya lebih tertarik bercakap-cakap ringan dan menggosipkan hal-hal yang sedang trend di kalangan wanita
Di luar dugaan, ternyata Zalynda mampu mengimbangi percakapan Aya. Hal itu membuat Aya senang karena menemukan satu lagi partner yang bisa mengerti tentang wanita setelah beberapa bulan kesepian disebabkan Ina pergi mengikuti Lean ke Prancis
Diam-diam Ray tersenyum melihat interaksi hangat antara bunda dan istrinya.
"Jadi besok Za bisa ke butik siang?" Tanya Aya
"Ke butik lagi?" Tanya Ray sambil menatap Aya dan Zalynda bergantian dengan heran. Zalynda terlihat salah tingkah
"Iya, Zalynda bunda minta jadi model di butik untuk koleksi catur wulan bunda." Kata Aya sambil menyuapkan salad sayur ke mulutnya
Ray terlihat terkejut. Seingatnya mereka datang ke butik Aya untuk memenuhi undangan makan siang Aya. Tidak ada yang menyinggung tentang model
"Jadi model? Kok kamu nggak bilang-bilang sama aku, Za?" Tanya Ray pada Zalynda
Zalynda menatap Ray sambil menggeleng. "Aku juga nggak tahu, tadi tiba-tiba kak Vera datang bilang aku diminta jadi model.."
"Tenang aja bang. Bajunya nggak terbuka kok. Kamu kan tahu koleksi bunda. Soalnya terus terang bunda lagi butuh banget model. Yang kemarin audisi kayaknya kurang begitu cocok." Kata Aya lagi
Ray terlihat berfikir sejenak lalu menoleh ke arah Zalynda. "Terserah Za aja, bunda."
Zalynda refleks menoleh ke arah Ray. Ini kali kedua di hari ini, Ray membiarkan Zalynda menjawab sendiri. Jawaban pertama di toko bu Edah sukses menghancurkan mood Ray.
Aya terlihat antusias memandang ke arah Zalynda "Gimana Za? Mau kan bantuin bunda? Ya ya ya?"
Zalynda memandang Aya yang terlihat bersemangat. Zalynda tidak tega menolak Aya. Gadis itu mengangguk pelan mengiyakan. Aya bersorak gembira, sementara Ray menghela nafas pelan. Sebetulnya sisi hati Ray tidak ingin kecantikan istrinya dinikmati banyak orang,namun di sisi yang lain Ray tidak kuasa menolak Aya
"Tapi, Za nggak selamanya jadi model kan bunda?" Tanya Ray mencoba memperjelas
"Nggak bang. Untuk koleksi catur wulan bunda saja kok. Itu yang harus segera di foto dan dikirimkan ke editor di Paris. Cepet kok, kan nanti ada model yang lain dari audisi kemarin. Ohya, kamu udah kenal sama Sagara kan Za?" Kata Aya ceplas-ceplos.
Ray mengenyitkan keningnya sambil memandang Zalynda. Jangan-jangan itu yang tadi ngobrol sama Zalynda di ruang tunggu, bathin Ray.
"Sudah, bunda. Tadi kak Vera yang ngenalin." Kata Zalynda sambil melirik ke arah Ray yang masih memandanginya. Tatapan mata Ray seakan menguliti dirinya.
__ADS_1
"Iya, nanti dia yang akan jadi partner kalian di beberapa foto. Sebentar bunda telepon Vera dulu ya." Kata Aya sambil berdiri mencari tempat untuk berbicara di telepon
"Selamat ya jadi model di butik Tsurayya. Habis ini, aku nganterin kamu terus balik ke kantor." Kata Ray pelan
Zalynda mengangkat kepalanya, menatap ke arah Ray yang juga sedang memandanginya
"Kamu keberatan kan Ray? Kenapa kamu nggak bilang aja kalau kamu nggak ngijinin aku?"
Ray mengangkat ujung bibirnya sambil menggeleng "Kok aku? Kamu dong yang harus berani nolak kalau kamu nggak mau atau berasa nggak nyaman."
"Lagipula..aku kan cuma teman kamu. Teman itu nggak berhak larang-larang." Ujar Ray lagi
Zalynda terdiam. Ray masih tersinggung dengan ucapannya saat di toko bu Edah tadi.
***
TecnoTek
Daniel baru saja mengirimkan email ke kantor pusat TecnoTek yang berada di Jepang, mengabarkan beberapa perusahaan yang sudah menjadi relasi TecnoTek cabang Jakarta
Daniel kembali memeriksa beberapa klien yang berada di Indonesia dan sudah lama bekerja sama dengan TecnoTek Jepang. Rencananya, untuk urusan maintenance dan konsultasi bisa dilakukan di cabang Jakarta
"Frederick Groups Company.."
Ingatan Daniel kembali ke tahun-tahun silam dimana dirinya pernah berseteru dengan Ardhi.
"Apa aku harus ke sana dan memberi salam padamu, Ardhi Al Farobi?" Desis Daniel sambil menarik ujung bibirnya
Daniel teringat, perseteruannya dengan Ardhi dimulai dari seorang Farah. Walau gadis itu menolaknya dan lebih memilih Ardhi, Daniel tidak pernah berpaling dari gadis itu.
Bodoh, ya Daniel akui dirinya bodoh karena cinta. Daniel mungkin sudah dibutakan oleh cinta. Cinta yang tidak pernah terbalaskan. Bahkan sewaktu gadis itu hilang ingatan pun bukan namanya yang di ingat dan disebut.
"Haah.." Daniel menghela nafas panjang sambil menyugar rambutnya
Daniel berdiri dan memandang pemandangan di luar melalui kaca. Pandangannya seakan ingin memindai setiap sudut kota Jakarta. Padatnya kota Jakarta terlihat jelas dari kantornya yang berada di lantai 26
"Fa, kamu ada dimana.." bisik Daniel.
__ADS_1
Seperti teringat sesuatu, Daniel mengambil handphone nya dan mendial sebuah nomor
"Hallo, aku membutuhkan bantuanmu…"
***
Semburat jingga di langit sore menandakan senja sudah menyapa. Beberapa orang mulai beranjak pulang ke rumah masing-masing setelah berjuang seharian. Melepaskan penat dan letih bersama para kesayangan di rumah
Senja sudah tertutup sempurna, di gantikan oleh langit malam. Setelah menyambut panggilan cinta dari Rabb Semesta, Ray kembali berkutat di depan laptopnya. Beberapa pekerjaannya harus beres segera karena hampir setengah hari tadi dirinya meninggalkan kantor.
Drrt..drrt
Sebuah pesan masuk ke dalam handphone nya. Ray tersenyum kecil saat mengetahui pesan dari Zalynda
"Apa kamu pulang untuk makan malam? Mau dibikinin apa?"
Ray terdiam sejenak. Sebetulnya Ray ingin segera pulang dan bersama Zalynda menikmati malam. Hanya saja Ray masih jengkel dengan ucapan dan tingkah laku Zalynda yang berbicara dengan model pria di butik Aya
Seharian inipun Zalynda tidak berkomentar apa-apa tentang kejadian saat Ray dikerumuni para gadis yang meminta foto dengannya. Ray jadi sedikit curiga, mungkin perasaan Zalynda padanya tidak sedalam perasaan dirinya pada gadis itu
"Aku makan di luar, ada lembur hari ini. Tidak usah menungguku." Balas Ray
Semenit..dua menit..sepuluh menit
Pesan Ray hanya terbaca oleh Zalynda. Gadis itu tidak mengirimkan pesan lagi. Ray menghembuskan nafas keras. Segera dibereskan pekerjaannya yang berserakan diatas meja. Ray ingin segera pulang dan merebahkan tubuhnya di ranjang yang empuk.
Tiba-tiba Ray seperti teringat sesuatu.
Ray segera membuka laman pencarian dan mengetikkan sebuah kata kunci. Beberapa penemuan berita muncul. Ray meneliti satu persatu berita yang ada
Selama hampir tiga puluh menit mencari di laman pencarian, Ray tidak menemukan apapun. Ray mengusap kasar wajahnya
"Tidak ada..apa mungkin aku salah lihat tadi ya? Apa mungkin mereka orang yang berbeda?" Bisik Ray bermonolog
Ray mengetik kata kunci yang berbeda. Beberapa berita pun muncul. Segera Ray menelitinya satu persatu. Matanya memicing melihat satu portal berita
Bibirnya menyunggingkan senyum
__ADS_1
"Akhirnya ketemu juga, Lela.."