
Ardhi melirik Ray yang senyum-senyum sendiri sembari melihat handphone nya. Sebuah pemandangan yang jarang terjadi melihat Ray tersenyum selebar dan sesering ini
"Hati-hati nanti kering giginya, bang. Kamu kesini mau bicara dengan ayah atau mau berbalas pesan sama Zalynda?" Tanya Ardhi menggoda Ray.
Ray terlihat salah tingkah lalu segera meletakkan handphone nya di meja "Maaf, ayah."
Ardhi terkekeh melihat Ray. Pria itu menuju ke lemari penyimpanan dan mengambil sebuah kotak beludru berwarna merah. Ardhi memberikan kotak itu pada Ray
"Ini, sudah jadi."
Ray menatap kotak beludru merah itu lalu menatap Ardhi tak percaya "Secepat ini? Padahal baru kemarin pagi abang kirim gambarnya ke ayah."
Ardhi tersenyum. Pria itu memandang Ray yang terlihat memfoto isi kotak beludru itu lalu mengirimkannya ke seseorang
"Kapan kira-kira abang mau ngadain walimatul 'urs?" Tanya Ardhi
"Kata bunda nunggu koleksi caturwulan bunda beres, ayah. Sekalian menyelesaikan kontrak kerja Zalynda di butik bunda."
"Za kerja di butik?" Tanya Ardhi lagi. Ray mengangguk
"Bunda minta Za jadi model bunda untuk koleksi caturwulan."
Ardhi mengangguk-angguk lalu melirik jail kearah Ray
"Emang kamu nggak cemburu bang lihat Za di foto sama model pria?"
Ray tertawa kaku sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"Model prianya kan abang, Yah."
"Hah?!"
"Itu abang yang minta biar Za nggak difoto sama model pria. Tapi bunda bilang sekalian bikin foto-foto prewedding.. Atau post wedding tepatnya soalnya kan abang udah nikah."
Ardhi tertawa. Aya memang selalu punya cara untuk menghemat sesuatu
Tok..tok..
Arion, sekretaris Ardhi memasuki ruangan "Pak, manajer senior dari TecnoTek Jakarta datang menemui bapak."
Ardhi mengangguk "Baik, suruh masuk."
Ardhi berdiri mengancingkan jasnya, diikuti oleh Ray. Wajah Ardhi tidak terlihat terkejut melihat pria yang berdiri di depannya. Manajer senior TecnoTek tersenyum pada Ardhi
"Apa kabar, Pak Ardhi Al Farobi?"
"Alhamdulillah baik, Pak Daniel Pratama."
Keduanya saling berjabat tangan erat. Namun Ray melihat ada aura ketegangan diantara keduanya.
Daniel duduk di sofa sambil menatap ke sekeliling ruangan Ardhi. "Nyaman sekali, Not bad lah untuk seorang anak dari kampung ini suatu lompatan besar."
__ADS_1
Ardhi tersenyum "Kau juga mendapatkan posisi yang bagus untuk seorang mantan narapidana."
Ray melihat Ardhi dan Daniel bergantian. Sepertinya kedua pria di depannya sudah saling mengenal dan mempunyai masalah di masa lalu. Kapan keduanya saling mengenal? Padahal Manajer senior baru saja datang dari Jepang.
Daniel menatap Ray sambil tersenyum "Ada kemiripan diantara kalian. Aku menebak dia adalah putramu."
Ray mengulurkan tangannya ke arah Daniel "Rayhan Putra Farobi."
Daniel menatap uluran tangan Ray sejenak lalu menjabatnya. "Senang bertemu denganmu."
"Ada apa kau kemari, Daniel?" Tanya Ardhi. Daniel terkekeh
"Aku hanya menjalankan tugas dari direktur utama TecnoTek untuk memberi salam kepadamu. Frederick Groups Company adalah mitra lama TecnoTek. Karena sekarang kami membuka cabang di Jakarta, kau bisa langsung menghubungi aku."
"Terima kasih, akan kuingat hal itu." Ardhi tersenyum
Daniel memandang Ardhi sambil mendengkus
"B******k, ternyata bersikap baik kepadamu membuat aku lelah."
Ardhi terkekeh "Santai saja, disini hanya ada putraku. Kau bisa menunjukkan kebencianmu padaku."
"Cih, biar begitu aku tidak bisa lagi menghajarmu sesuka hatiku. Boss besar akan memecatku kalau aku berbuat ulah dengan Frederick Groups Company." Kata Daniel mendecih
Mereka terdiam saat Arion datang membawakan tiga cangkir kopi dan kue
"Sekretarismu lelaki?" Tanya Daniel saat Arion sudah keluar ruangan. Ardhi mengangguk. Seketika pecah tawa Daniel
Ardhi melotot sambil beristighfar "Jangan ngaco. Dia orang pilihan istriku."
"Hah, kau memang terikat padanya. Harusnya dengan jabatanmu seperti ini kau bisa mendapatkan wanita muda manapun yang kau mau."
Ardhi menggelengkan kepalanya "Kau sendiri, apa sudah menikah?"
Tawa Daniel tiba-tiba memudar, pria itu tersenyum sedih "Aku tidak seberuntung dirimu."
Daniel menyeruput kopinya tanpa menunggu penawaran Ardhi. Pria itu pun mengambil beberapa kue dan langsung memasukkan ke mulutnya. Setelah itu pria itu berdiri
"Yak, aku sudah melakukan kewajibanku. Semoga kedepannya kau tidak banyak memerlukan konsultasi dengan TecnoTek karena aku malas melayanimu."
Ardhi tertawa "Aku juga berdoa begitu. Semoga kau tidak sering muncul di hadapanku dan keluargaku."
Daniel tersenyum "Selamat siang, Ardhi Al Farobi."
"Selamat siang, Daniel Pratama."
Ray menatap kepergian Daniel lalu melihat ke arah Ardhi
"Sepertinya manajer senior kenal betul sama ayah."
Ardhi menghela nafas sambil membuka jasnya dan meletakkan di kursi. Ardhi menggulung lengannya
__ADS_1
"Dia, orang yang pernah membantu putri tuan Wijaya untuk menculik bunda."
Mata Ray melotot. Teringat berita yang berada di potongan koran yang diberikan Ima kemarin
"DP.. Daniel Pratama, partner Farah Afriyani Wijaya. Dia Manajer senior TecnoTek."
Ray segera berdiri dari duduknya membuat Ardhi sedikit terkejut
"Ayah, abang baru ingat ada urusan sebentar." Kata Ray sambil bergegas keluar dari ruangan Ardhi
"Bang..kotaknya!" Teriak Ardhi. Ray menghentikan langkahnya lalu berbalik mengambil kotak beludru merah di meja
"Thanks, ayah. Abang pergi dulu. Assalamu'alaykum."
Tanpa menunggu jawaban Ardhi, Ray bergegas keluar ruangan. Arion sedikit heran melihat tingkah Ray.
"Aiish, sudah masuk lift!" Rutuk Ray saat melihat dari jauh lift khusus direksi dan tamu sudah tertutup
Ray tidak kehabisan akal. Segera Ray berlari ke dekat tangga darurat. Ada lift khusus karyawan di situ yang apabila hendak bertemu dengan Ardhi
Lift karyawan berjalan lambat. Beberapa kali lift terbuka karena orang banyak yang naik turun di beberapa lantai. Ray menghembuskan nafas kasar sambil melihat angka di lift yang merangkak turun
Lift direksi terhubung langsung ke basement dan parkiran khusus direksi dan tamu sedang lift karyawan berhenti di lantai satu. Mau tidak mau, Ray berlari turun melalui tangga dan menuju parkiran khusus
Ray sekuat tenaga mencoba menyusul Daniel. Tepat Ray membuka pintu basement, sebuah mobil keluar dari parkiran. Segera Ray menghampiri satpam yang bertugas
"Pak, itu tadi yang keluar tamu darimana?" Tanya Ray ngos-ngosan. Satpam itu memperhatikan Ray yang terlihat seperti sedang mengejar sesuatu
"Tadi itu tamu pak Ardhi, pak. Bapak Daniel Pratama dari TecnoTek." Kata satpam tersebut
Ray memejamkan matanya sambil berteriak dalam hati "D**n, telat!"
***
Zalynda tersenyum membaca pesan-pesan yang dikirimkan Ray untuknya. Zalynda baru saja selesai dari rumah bu Reema dan sedang menuju pulang ke apartemen
Teringat ada beberapa bahan yang habis, Zalynda membelokkan motornya ke arah swalayan. Gadis itu memutuskan untuk berbelanja beberapa kebutuhan rumah tangga. Tidak memerlukan waktu lama gadis itu segera berjalan menyusuri rak-rak di swalayan
Zalynda tersenyum melihat troli nya yang penuh dengan belanjaan. Tidak pernah terlintas kalau ia akan berbelanja untuk kebutuhan dirinya dan Ray
Saat di rak susu, Zalynda melihat susu program diet dan susu untuk pembentukan otot bagi lelaki bermerk X-Men. Zalynda mengambil susu X-Men sambil membolak-balikkan kotaknya
"Apa Ray butuh ini ya?" Bisiknya dalam hati
Seketika terbayang tubuh Ray yang liat dan berotot, yang semalam aktif bergerak di atas tubuh Zalynda. Wajah Zalynda langsung memanas. Bisa-bisanya dirinya melamunkan hal jorok saat di swalayan.
Zalynda segera menaruh kembali susu X-Men dan bergegas pergi dari rak susu. Namun saat tangannya hendak mendorong troli, lengannya di tahan oleh seseorang
Refleks Zalynda menoleh. Mata gadis itu membola
"Kau.."
__ADS_1