CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 81


__ADS_3

Marvin menatap Ray dengan pandangan kasihan. Sahabatnya itu terlihat kuyu dan berantakan. Tidak seperti Ray yang dikenal Marvin. Sosok Ray Eagle yang tegas, rapi dan tegap kini terlihat lusuh dan kurus. Matanya terlihat cekung seperti kurang tidur


"Bro, udah berapa hari elo nggak pulang?" Tanya Marvin


"Sejak Zalynda dipindah ke sini..Berarti 5 hari." Kata Ray yang tidak melepaskan pandangannya ke arah Zalynda.


Marvin menghela nafas "Elo udah kayak gembel tau. Elo juga lama nggak ke kantor. Untung perusahaannya punya keluarga elo."


Ray menggeleng "Gue mau nungguin Za, Vin. Gue takut kalo dia bangun trus nyariin gue pas gue nggak ada."


"Tapi elo nggak bisa gini aja bro. Lo udah ngaca belum? Tampilan elo jelek banget.."


"Gue nggak peduli." Sergah Ray cepat


Marvin terdiam. Pemuda ini mencoba merangkai kata-kata yang bisa membuat Ray sedikit memperhatikan dirinya


"Elo mau Zalynda bangun trus lihat elo begini?"


Ray menoleh menatap Marvin sambil mengernyitkan keningnya. Marvin menghembuskan nafasnya


"Ray, Zalynda juga pasti sedih kalau elo begini. Tahu nggak, walau dia dalam keadaan vegetatif tetapi dia mungkin masih bisa denger. Dia bakal sedih dan merasa bersalah kalau elo begini. Elo nggak kasihan kalo dia malah kepikiran elo?"


Ray terdiam mencerna ucapan Marvin. Sebetulnya Ray pun pernah membaca hal yang disebutkan Marvin tadi, namun dirinya terlupa karena pikirannya terfokus pada Zalynda.


Ray perlahan menghela nafas panjang "Iya, gue nggak boleh bikin dia tambah sedih.."


Marvin ikut tersenyum mendengar kata-kata Ray, lalu memeluk sahabatnya erat. Ray pun ikut memeluk Marvin. Marvin melepaskan pelukannya sambil menutup hidungnya


"Hal pertama yang mesti elo lakukan adalah mandi dan pakai parfum, Ray. Asli badan lo bau banget!"


"Sialan lo bilang gue bau!" Kata Ray yang langsung memiting Marvin di ketiaknya hingga Marvin megap-megap. Keduanya tertawa tertahan


Ray melepaskan pitingannya lalu menatap Marvin


"Thanks bro."


***

__ADS_1


"Assalamu'alaykum, sayang. Maaf ya aku pulang telat hari ini. Rapat dengan PT Hong Liong menyita banyak waktu." Kata Ray sambil membuka jasnya. Suara Ray terdengar riang saat bercerita dengan seorang wanita


Seorang wanita yang sudah hampir 10 hari terbaring tak berdaya. Hanya terdengar alat denyut jantung saat Ray menjeda ucapannya


Ray tersenyum. Pemuda itu mengambil pakaian ganti dan masuk ke dalam kamar mandi. Tak berapa lama Ray keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat lebih segar


Atas saran Marvin, Ray kembali memperhatikan diri dan pekerjaannya. Saat malam, Ray lebih memilih tidur di rumah sakit, tepatnya di kamar perawatan Zalynda. Ray meminta pihak rumah sakit menyediakan bed untuknya di dalam kamar rawat Zalynda.


Tadinya Ardhi berencana memindahkan Zalynda ke rumah keluarga Al Farobi dengan menyediakan tenaga medis terbaik dan memboyong peralatan yang dibutuhkan Zalynda ke rumah.


Namun Ray menolaknya. Ray lebih memilih Zalynda berada di rumah sakit, berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu dan membutuhkan tindakan cepat. Selain itu Daniel dan bu Reema akan sungkan menengok Zalynda kalau gadis itu dibawa ke rumah


Dokter menyarankan untuk selalu merangsang otak Zalynda dengan sering bercerita dan mengajak gadis itu bercakap-cakap, dan Ray melakukannya


"Mm wangi, ini aku beli di depan rumah sakit tadi. Aku makan dulu ya." Kata Ray sambil menyuapkan sesendok nasi goreng kedalam mulutnya


"Enak, ini enak Za.." Ray terus memakan nasi goreng itu. Perlahan suapannya terhenti. Ray dengan pelan mengunyah nasi goreng di mulutnya. Bibirnya tersenyum sedih


"Tapi nggak seenak buatanmu, Za.."


Suasana hening, hanya terdengar suara dari mesin denyut jantung. Ray segera menghapus air yang menggenangi matanya. Biar bagaimanapun dirinya tidak boleh menangis di hadapan Zalynda


Ray menyingkirkan nasi goreng di hadapannya dan duduk mendekati Zalynda. Perlahan Ray menggenggam jemari lentik Zalynda, berhati-hati agar tidak mengenai infus yang terpasang di tangan Zalynda


"Kamu tahu Za, banyak yang menantikan dirimu. Kamu akan terkejut saat bangun dan mengetahui kalau kamu punya seorang nenek, mama dan Papa." Ray tertawa kecil.


Pemuda itu tersenyum sambil membelai kepala Zalynda perlahan


"Kebahagiaan sudah menantikanmu, Za. Karena itu kamu harus berjuang untuk bangun ya. Mereka kangen sama kamu, aku juga.. Kangen banget sama kamu.."


Ray yakin dan tetap memupuk harapan, di suatu hari nanti manik coklat itu akan terbuka dan kembali menatapnya hangat penuh cinta


***


Tuan Wijaya memasuki kamar rawat Zalynda dengan menggunakan kursi roda yang di dorong oleh bi Ijah. Ardhi dan Aya memberikan ruang agar tuan Wijaya bisa mendekati Zalynda. Di sofa nampak Daniel dan Ray duduk memperhatikan


Keadaan Tuan Wijaya sudah jauh lebih baik. Dirinya sudah bisa menggerakkan bagian kanan tubuhnya dan mulai bisa berbicara normal walau kadang terdengar sedikit cadel

__ADS_1


Mata tuan Wijaya memanas melihat kondisi Zalynda yang masih terpejam.


"Maafkan kakek.. Kakek yang bersalah selama ini.." kata Tuan Wijaya bergetar.


"Tuan.." kata bi Ijah yang juga menyusut airmata dengan ujung lengan kemejanya


"Kalau saja kakek tidak egois memikirkan perusahaan, mungkin kau masih berada di sisi kakek, tertawa dan tidak memiliki memori menyakitkan sepajang hidupmu, Zalynda ku sayang.."


Mata tuan Wijaya terlihat basah


"Mungkin ibumu tidak akan menjadi gila dan kalian masih bisa bertemu serta berbincang akrab.." lanjut tuan Wijaya lagi


"Aku sudah meletakkan namamu sebagai pewaris tunggal dari Wijaya Group. Aku tahu, kau sudah melalui banyak kesedihan dan yang kulakukan ini tidak bisa langsung menutup lukamu. Aku tidak akan heran kalau nanti kau membenciku, nak. Tetapi kuminta, berjuanglah untuk hidup. Setidaknya buatlah kakek tua ini berkurang rasa bersalahnya.." kata Tuan Wijaya tersedu-sedu


Tuan Wijaya menoleh menatap Ardhi dan Aya seraya tersenyum "Terima kasih. Kalian begitu baik pada cucuku, mengingat perbuatan anakku pada kalian dulu.."


Ardhi tersenyum "Tidak Om. Semua sudah berlalu. Aku dan Aya sudah memaafkan Farah. Lagipula Zalynda tidak ada hubungannya dengan kejadian seperempat abad yang lalu."


Tuan Wijaya mengangguk-angguk sambil tersenyum. Pria itu lalu berbalik menatap ke arah Daniel


"Niel.. Maafkan aku sudah memisahkan dirimu dan putrimu. Maafkan aku tidak pernah memberitahumu. Farah, dia tidak pernah buka mulut tentang ayah Zalynda jadi aku tidak tahu.."


Daniel mendekati tuan Wijaya dan berjongkok didekat tuan Wijaya


"Pak, sudahlah. Yang penting sekarang aku sudah tahu kalau aku punya seorang anak dari wanita yang selalu aku cintai sepanjang hidupku."


Mata Tuan Wijaya sedikit membesar "Kau.. kau pernah bertemu Farah?"


Daniel mengangguk.


"Bi-Bisa aku bertemu dengannya?" Tanya tuan Wijaya lagi


"In syaa Allah pak. Nanti aku akan meminta bu Edah membawa bu Farah kemari." Kata Ray


Mata Tuan Wijaya tampak berbinar-binar. Ray tersenyum melihatnya dan melihat ke arah Zalynda yang terbaring


Mata Ray membola saat menyadari ada titik bening yang jatuh dari sudut mata Zalynda

__ADS_1


"Za.."


__ADS_2