CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 46


__ADS_3

Ray baru saja selesai mengirimkan email ke Ardhi tentang progres proyek mereka di Semarang saat pesan dari Aya masuk ke dalam handphone nya


Zalynda yang sedang duduk di sebelah Ray melirik ada pesan masuk di handphone Ray. Melihat pemuda itu membaca pesan yang masuk sambil tersenyum membuat Zalynda tergelitik ingin bertanya pesan dari siapa, namun Zalynda tidak memiliki nyali mengungkapkannya


"Kamu nggak tanya pesan dari siapa ini, Za?" Tanya Ray seolah-olah pemuda itu bisa membaca pikiran Zalynda


Zalynda menggeleng pelan "Itu sudah masuk ranah privasi, Ray.."


Ray tertawa kecil lalu merangkul Zalynda sambil memperlihatkan pesan Aya pada gadis itu


"Bunda mau kita datang saat makan siang ke butiknya. Kamu nggak ke tempat bu Reema kan hari ini?" Tanya Ray karena melihat sudah hampir jam 7 tetapi Zalynda belum bersiap-siap


Zalynda menggeleng "Nggak, bu Reema ngasih cuti hari ini karena kemarin aku pulang Maghrib dari sana."


Hati Ray sedikit terenyuh. Zalynda pulang maghrib pasti kehujanan dengan perasaan yang tidak menentu karena sedari pagi sudah bermasalah dengannya.


Ray membelai kepala Zalynda sambil mengecupnya berkali-kali "Aku akan lebih memperhatikan istriku mulai sekarang."


Hati Zalynda menghangat mendengar kata-kata Ray. Gadis itu merebahkan kepalanya di pundak Ray. Ray menggenggam tangan Zalynda.


"Za, gelang dari mamah kamu mana?" Tanya Ray


"Ada, kusimpan."


"Coba bawa ke sini."


Zalynda menurut. Gadis itu masuk kedalam kamarnya untuk mengambil gelang nya. Ray kemudian memasangkan gelang itu di pergelangan tangan Zalynda. Ray tersenyum melihat gelang itu begitu pas melingkar di tangan Zalynda


"Cantik..Pakai terus ya." Kata Ray


"Aku takut hilang, Ray." Kata Zalynda sambil berusaha melepaskan gelangnya namun Ray menahannya


Ray berdecak "Ck, nggak sayang. Kan kamu sendiri yang bilang ini peninggalan mamah kamu. Harusnya kamu menghargainya dengan memakainya, bukan disimpen aja. Lagipula.."


"Lagipula?" Tanya Zalynda sambil mendongakkan kepalanya menatap Ray


"Lagipula, aku butuh untuk mencari cincin dan kalung yang akan di paskan dengan warna mutiara gelang ini." Kata Ray sambil tersenyum. Pemuda itu membelai pipi Zalynda yang merona


"Kita sudah dua minggu menikah tetapi kamu belum punya cincin kawin. Nanti kita beli yuk." Ajak Ray sambil menyelipkan rambut Zalynda ke belakang telinga

__ADS_1


"Tapi Ray.."


Ucapan Zalynda terhenti karena Ray kembali menutup bibir gadis itu dengan bibirnya


"Aku nggak terima penolakan."


***


TecnoTek


Yono tersenyum lebar saat Daniel menyerahkan kontrak kerjasama di hadapannya. Tanpa ragu, Yono segera menandatangani kontrak kerjasama itu. Daniel memperhatikan sembari menarik ujung bibirnya


"Anda tidak membacanya terlebih dahulu, pak Yono?" Tanya Daniel saat Yono mengembalikan kontrak kerjasama tersebut ke hadapan Daniel


"Saya sudah hafal di luar kepala tentang proposal kerjasama saya, pak Daniel. Saya tidak perlu membacanya berulangkali." Ujar Yono sedikit membanggakan dirinya


Daniel menyeringai. Sebetulnya ia dan teamnya merubah sedikit angka-angka yang tertera di proposal kerjasama dari Wijaya Group sehingga TecnoTek akan memperoleh keuntungan bukan hanya sekedar materi, tetapi juga hal yang dibutuhkan Daniel dalam penyelidikannya untuk menemukan Farah. Daniel tidak bermain curang. Salahkan saja Yono yang tidak teliti


Namun Daniel sedikit heran mengapa tuan Wijaya bisa-bisanya mengangkat Yono menjadi orang kepercayaannya. Daniel yakin perusahaan Wijaya Group lama-lama akan hancur bila dipegang Yono


"Baiklah. Semoga kerjasama kita selalu langgeng." Kata Daniel sembari mengulurkan tangannya ke Yono.


"Terima kasih banyak, pak Daniel. Dengan kerjasama ini, akan menarik kembali kepercayaan beberapa investor sehingga kembali menanamkan modal mereka ke perusahaan kami." Kata Yono


Daniel mengangguk sambil membathin "Aku juga bisa menyelidiki alur keuangan kalian."


"Ng, bagaimana kalau kutraktir anda di club langganan saya untuk merayakan kerjasama ini?" Tawar Yono. Daniel sejenak menatap ke arah Yono


"Bukan ide buruk, mungkin dengan membuatnya sedikit mabuk akan bisa mengorek informasi dimana Farah." Pikir Daniel


"Boleh saja, tetapi saya tidak ke club saat weekdays. Mungkin hari Sabtu kalau anda tidak keberatan?" Kata Daniel


"Baik, pak. Saya akan membooking tempat VVIP untuk anda." Kata Yono sumringah


Yono mulai berpikir untuk menjamu Daniel dengan para wanita-wanita boss Alvin yang sudah sangat terkenal kecantikan dan kelihaiannya menghadapi beberapa boss besar.


***


Sebelum ke butik Aya, Ray dan Zalynda menyempatkan mampir sebentar ke toko kue bu Edah untuk membeli kue dan mengambil sertifikat kelulusan kursus Zalynda. Kebetulan bu Edah tadi pagi mengabari Zalynda untuk datang ke toko kue nya

__ADS_1


Wanita bertubuh subur itu menyambut Zalynda hangat. Matanya sedikit terlihat bertanya-tanya saat Zalynda masuk bersama Ray. Kedatangan Ray pun sedikit banyak mendapat perhatian dari pengunjung dan pekerja di toko. Jarang-jarang toko kue bu Edah dikunjungi makhluk setampan Ray


"Mas Ray?" Sapa bu Edah


Ray tersenyum sambil menangkupkan tangannya di depan dada "Apa kabar, bu Edah."


Bu Edah tersenyum lalu melihat ke arah Ray dan Zalynda bergantian. Zalynda sedikit risih diperhatikan seperti itu oleh bu Edah


"Bu, Za mau ambil sertifikat kelulusan Za." Kata Zalynda mencoba mengalihkan perhatian bu Edah


"Oh iya, ayo ikut ibu ke kantor. Mas Ray mau ikut juga?" Tanya bu Edah


Ray tersenyum sambil mengangguk. Pemuda itu segera mengikuti Zalynda dari belakang. Mereka menuju ke ruangan kantor milik bu Edah


Bu Edah menyerahkan sertifikat kelulusan dan sertifikat magang Zalynda. Dengan gembira Zalynda menerimanya. Dengan begini, Zalynda merasa satu pintu masa depan cerah terbuka di hadapannya. Dengan sertifikat ini, akan menarik minat dan kepercayaan para pelanggan karena untuk mendapatkan sertifikat ini, tidaklah mudah


"Kamu bisa menggunakan atau memajang sertifikat itu di tokomu atau toko online mu Za." Kata bu Edah seolah membaca pikiran Zalynda. Wanita itu membelai kepala Zalynda


Ray yang melihat Zalynda tersenyum lebar juga ikut tersenyum. Ray dapat merasakan kebahagiaan Zalynda. Mata Ray melihat sertifikat Zalynda dari belakang. Matanya memicing melihat nama bu panjang Edah


Seolah magnet, pandangan Ray tertarik ke arah sebuah foto yang dipajang di meja kerja bu Edah. Ray memperhatikan dengan seksama. Bu Edah melihat Ray memperhatikan foto yang dipajangnya di meja


"Itu foto saya sewaktu pertama merintis usaha kue, mas. Masih muda banget dulu, masih kurus. Nggak sebesar sekarang." Kata bu Edah sambil tertawa


Ray melihat ke arah bu Edah sambil tersenyum lebar "Kalau sekarang berarti makmur ya bu."


"Ah mas Ray bisa aja. Eh, ngomong-ngomong kok kalian datang berdua? Kalian kenal ya satu sama lain?" Tanya bu Edah


"Ng.. kami ini teman kuliah dulu bu." Ucap Zalynda cepat. Ray menatap Zalynda tanpa berbicara sedikitpun


Bu Edah mengangguk-angguk "Dulu, kalau sekarang?"


Zalynda menatap Ray, berharap Ray yang menjawab pertanyaan bu Edah. Namun Ray terlihat cuek dengan melihat-lihat foto-foto bu Edah


Bukan Ray tidak tahu tatapan mata Zalynda. Ray hanya ingin mendengar pengakuan dari mulut Zalynda.


"Sekarang pun kami masih teman bu."


Ucapan Zalynda sontak membuat panas hati Ray. Ternyata gadis itu hanya mengakuinya sebagai seorang teman. Tiba-tiba Ray merasa gerah di ruangan ber AC milik bu Edah

__ADS_1


__ADS_2