
Bu Reema menatap mata elang milik Ray mencoba mencari kesungguhan di sana
"Kenapa Ehan mau repot-repot seperti ini? Ehan begini bukan untuk membalas dendam atau mempermainkan Zalynda kan?"
Ray terdiam beberapa saat sambil menunduk. Pemuda itu lalu mengangkat wajahnya menatap bu Reema sambil menarik ujung bibirnya
"Menurut ibu?"
Daniel terbelalak. Refleks pria itu memukul punggung Ray keras
"S****n, jawab yang jelas bisa tidak?!"
Ray misuh-misuh merasakan punggungnya sedikit ngilu akibat tabokan Daniel
"Kenapa anda memukulku, calon papa mertua?" Sahut Ray. Pemuda itu benar-benar ingin membuat Daniel jengkel. Pria itu berteriak kesal pada Ray
"Calon papa mertua, gundulmu!"
"Iya lah, kalau sudah fix anda ayah Za berarti panggilannya menjadi papa mertua." Jawab Ray asal sambil menarik ujung bibirnya
"Ck sudah! Ehan, ibu bertanya serius. Karena kalau kau hanya ingin membalas dendam atau mempermainkan Zalynda sebaiknya kau lepaskan Zalynda." Kata bu Reema keras
Ray tersenyum menatap bu Reema
"Justru saya bertanya, menurut ibu bagaimana? Saya terus terang baru pertama kali ini ingin membahagiakan seorang wanita lain selain bunda dan Ina. Melihatnya bahagia, membuat saya juga bahagia. Melihatnya menangis membuat saya juga bersedih. Saya juga ingin terus bersamanya. Apa itu termasuk mempermainkan? Termasuk kategori balas dendam?"
Bu Reema mendesah pelan "Tidak.. Hanya saja Zalynda sudah banyak menderita. Saya hanya memastikan.."
"Saya tidak bisa menjanjikan kedepannya perjalanan kami selalu mulus. Tapi in syaa Allah saya tidak akan meninggalkan Za sendirian." Jawab Ray tegas seolah mengikrarkan sebuah janji
Mata bu Reema berkaca-kaca. Wanita itu mengangguk sambil tersenyum ke arah Ray
Tiba-tiba seorang satpam datang mendekati mereka bertiga
"Maaf bapak dan ibu, walau ini ruangan VVIP tetapi untuk penjaga pasien hanya diperbolehkan satu orang saja."
Bu Reema menatap Ray dan Daniel. "Kalian pulang saja. Biar mama yang menemani Zalynda di sini."
Ray menggeleng "Maaf bu, tetapi saya yang harusnya menemani Za disini. Ibu pulang saja bersama calon papa mertua untuk beristirahat."
Daniel mendelik mendengar sebutan baru Ray untuk dirinya. Bisa-bisanya pemuda itu mengejek dirinya dengan wajahnya yang datar. Menyebalkan!
"Iya, benar sih. Tetapi ibu ingin sekali menemani Za di sini. Tolong ijinkan ibu ya Ehan.." Kata bu Reema
Tidak mungkin Ray tidak meloloskan permintaan bu Reema, apalagi sudah menggunakan mode kasihan seperti ini.
"Baik, kalau ada apa-apa segera hubungi saya ya bu." Kata Ray sambil menyerahkan kartu namanya
Bu Reema menerima kartu nama Ray seraya mengangguk
__ADS_1
"Hei, kau mau pulang Ray?" Tanya Daniel melihat Ray melenggang pergi
"Aku akan menyewa kamar di hotel dekat rumah sakit ini. Anda mau ikut juga menginap bersamaku, calon papa mertua?" Tanya Ray sambil tertawa kecil
Daniel mendecih sembari bergumam spontan
"Menantu s****n!"
Bu Reema hanya geleng-geleng melihat tingkah keduanya. Sepertinya mereka akan cocok satu sama lain
***
Pagi menjelang. Sinar mentari masuk ke celah-celah jendela kamar perawatan Zalynda
Zalynda mengerjap perlahan membiasakan menerima sinar yang berlomba masuk ke dalam indra penglihatannya
"Bau rumah sakit.." bisik Zalynda
Zalynda perlahan mengedarkan pandangannya. Benar ini rumah sakit, tercium dari bau khas dan cat putihnya. Zalynda memandang infus yang menggantung rapi di tangannya
"Siapa yang membawaku kesini.." gumamnya pelan
Kembali terangkai ingatannya malam kemarin bagai puzzle yang menyatu. Teringat bagaimana Yono melecehkannya, Diva menjebaknya dan siluet seorang pria sebelum dirinya tak sadarkan diri
"Pria itu..apa dia menyentuhku?" Bisik Zalynda pelan. Dada Zalynda tiba-tiba terasa sesak. Hatinya sakit mengetahui kemungkinan seseorang telah menyentuhnya tadi malam saat dirinya tidak sadarkan diri. Zalynda menangis pelan
"Lho kok nangis? Ada yang sakit? Biar ibu panggilin perawat ya."
Zalynda menggeleng sambil mencegah bu Reema memencet tombol perawat
"Za nggak apa-apa. Ibu kok bisa disini?" Tanya Zalynda sambil menyusut airmatanya dengan ujung piyamanya. Zalynda kembali tersadar ia memakai sebuah piyama, bukan gaun butik untuk pemotretan. Keningnya berkerut memandangi piyama yang melekat di badannya
"Daniel yang membawamu kesini, Za. Kata Daniel kamu pingsan di sebuah club."
Mata Zalynda kembali berkaca-kaca sembari berbisik dalam hati "Jadi siluet pria yang kulihat semalam adalah pak Daniel? Atau pak Daniel menemukanku setelah aku..."
Zalynda tidak kuasa melanjutkan monolog hatinya. Jemarinya meremas selimut. Mata Zalynda tertumbuk pada pergelangan tangannya yang lecet memerah bekas ikatan.
Bu Reema mengelus kepala Zalynda perlahan, lalu mengambil handphonenya
"Ibu akan menghubungi Ehan ya. Bilang kalau Za sudah sadar."
"Jangan! Za nggak mau ketemu sama siapapun termasuk sama Ray." Kata Zalynda cepat membuat bu Reema menghentikan gerakan tangannya
"Kenapa Za?"
Zalynda menggeleng sambil menggigit bibirnya "Za nggak mau ketemu Ray bu.. Za merasa nggak pantas sama Ray. Za sudah kotor, bu.."
Zalynda kembali terisak pelan. Gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua belah tangannya
__ADS_1
Bu Reema memandang Zalynda dengan berkaca-kaca. Perlahan tangannya menggenggam tangan Zalynda
"Kenapa Za bilang begitu? Apa yang terjadi semalam? Coba cerita sama ibu.."
Zalynda menatap bu Reema yang tersenyum memandangnya. Terlihat netra bu Reema pun berkaca-kaca
"Seingat Za waktu itu, Za sedang berada di pantry. Lalu Diva datang mengajak Za ngobrol. Setelah itu Za nggak ingat apapun."
Zalynda menarik nafas berusaha menenangkan hatinya
"Za terbangun di sebuah kamar.." Zalynda menunjukkan bekas ikatan pada pergelangan tangannya
"Dalam kondisi terikat.." suara gadis itu bergetar
Bu Reema menutup mulutnya sembari memekik kecil. Segera bu Reema menghampiri Zalynda dan memeluk erat gadis itu.
"Ternyata ada om Yono disana. Dia mendekati Za lalu kembali melecehkan Za.." Zalynda tercekat, nafasnya sedikit sesak
"Sudah, jangan diceritakan Za." Jawab bu Reema
Tubuh Zalynda kembali bergetar "O-om Yono..D-dia ja-jahat s-sekali bu.."
Suara Zalynda terputus-putus diselingi isakan tangisnya
"Apa yang sudah Yono lakukan padamu, nak.." suara bu Reema juga ikut bergetar merasakan kesedihan Zalynda
"Dia.. Dia.."
Bu Reema terkejut saat merasakan tubuh Zalynda memberat
"Za? Za!" Bu Reema panik melihat Zalynda terlihat tidak bernafas. Dengan cepat bu Reema menekan tombol untuk memanggil perawat
BRAAK
Daniel dan Ray terlihat memasuki ruang perawatan Zalynda dengan tergesa mendengar teriakan bu Reema
"Za, sadar Za." Ucap Ray sambil menepuk-nepuk pipi Zalynda
Dua orang perawat memasuki ruangan Zalynda memeriksa kondisi Zalynda. Ray segera memberi ruang untul para perawat itu
"Cepat panggil dokter jaga!" Ujar seorang perawat pada temannya
Temannya mengangguk dan secepat kilat berlari keluar
Bu Reema terlihat bingung sambil berlinang airmata di pelukan Daniel, sementara Ray masih memeluk Zalynda yang sudah kehilangan kesadarannya
Mata Ray memerah, rahangnya mengeras menahan amarah
"Kali ini kau tidak akan kuampuni, Yono.." desis Ray pelan
__ADS_1