CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 47


__ADS_3

Zalynda melirik Ray yang terlihat fokus menyetir di sebelahnya. Sejak dari toko kue bu Edah, Ray menjadi lebih pendiam. Memang karakter Ray adalah type yang tidak banyak bicara, namun diamnya Ray kali ini memiliki alasan. Kue yang dibeli pun di serahkan pada pilihan Zalynda, Ray hanya menunggui gadis itu di kasir untuk melakukan pembayaran


"Ray.." panggil Zalynda


"Hmm?" Jawab Ray singkat.


"Kamu marah?" Tanya Zalynda pelan


Ray menarik ujung bibirnya. Pandangannya tetap fokus ke depan


"Kenapa aku harus marah?"


"Karena..aku menyebut hubungan kita sebagai teman di hadapan bu Edah."


Ray tertawa, namun Zalynda merasa tawa Ray menyimpan emosi


"No, it's fine Za. Kalau kamu menganggap aku hanya sebagai temanmu, nggak apa-apa. Mungkin kamu malu mengakui hubungan kita.."


"Nggak, bukan gitu. Aku justru memikirkan gosip-gosip yang akan menerpa dirimu dan perusahaan kalau ada yang tahu putra pertama pemilik Frederick Groups Company telah menikah diam-diam dengan seorang gadis biasa.." Kata Zalynda mencoba menjelaskan


Ray mendecih dan berkata tajam "Tetapi kau tidak memikirkan perasaanku, Za.."


"Ray.."


Ray segera menyerobot ucapan Zalynda


"Kau tahu? Sebetulnya aku dan keluargaku bisa menghandle gosip-gosip yang akan beredar kalau berita pernikahan kita tersebar. Aku tidak malu mengakuinya, bahkan aku sudah mempersiapkan jawaban-jawaban dari kemungkinan pertanyaan yang di lontarkan."


Ray menjeda ucapannya saat mereka berhenti di lampu merah. Terlihat Ray menghembuskan nafasnya kasar.


"Aku pikir, kau yang belum siap untuk mengatakan pada semua orang tentang hubungan kita. Kau yang belum siap mengakui kalau kau sudah menikah. Atau mungkin kau masih ingin dianggap single agar bisa menarik pria di luaran sana?"


Zalynda menoleh sambil menatap tak percaya ke arah Ray. "Kenapa kau berfikir begitu Ray? Kau tahu aku tidak pernah membayangkan pria lain selain dirimu!"


Kata-kata itu hanya berputar di kepala Zalynda saat gadis itu menatap Ray dengan mata berkaca-kaca


Zalynda menghela nafas. Perlahan disentuhnya bahu Ray. Di luar dugaan, Ray menyentak tangannya membuat gadis itu terkejut.


"Aku hanya seorang teman kan? Tolong jaga batasanmu." Kata Ray dengan mata menatap lurus ke depan, tidak sekalipun Ray melihat ke arah Zalynda


Zalynda menunduk. Sebutir airmata menetes jatuh membasahi tangannya. Gadis itu tidak menyangka kalau ucapannya di toko kue bu Edah membuat Ray begitu marah.


***


Mereka sampai di butik Aya bertepatan dengan saat pengumuman seleksi untuk calon model butik yang menggantikan Mariska

__ADS_1


Ray dengan cueknya turun dari mobil. Zalynda menghela nafas berat. Segera gadis itu menyeka matanya dan hendak membuka pintu


Ternyata Ray lebih dulu membukakan pintu mobil Zalynda. Dalam kondisi marahpun ternyata Ray tidak melupakan adab yang diajarkan Ardhi dan tuan Erik dalam memperlakukan wanita spesialnya


Mereka berdua berjalan ke dalam butik Aya. Ray sengaja mendahului langkah Zalynda dan Zalynda pun sengaja memperlambat langkahnya sehingga mereka tidak bersamaan masuk ke dalam butik.


"Linda?"


Zalynda menoleh saat kakinya baru saja melangkah ke dalam butik. Terlihat Anggun dan Diva berjalan menghampirinya


Anggun memindai penampilan Zalynda. Gadis itu terlihat cantik dengan midi dress berwarna biru di bawah lutut dengan lengan ⅞. Sangat serasi dengan gelang yang melingkar di tangan Zalynda


"Kamu ngapain ke sini? Jangan bilang kamu ikut audisi model?!" Ucap Diva sambil menutup mulutnya. Jauh di lubuk hati Diva mengakui kalau penampilan make up sederhana Zalynda jauh lebih cantik dibandingkan dirinya yang full make-up


"Nggak kok, aku.."


"Ohoho tentu saja, kamu kesini mau ngelamar pekerjaan jadi tukang gunting bahan atau cleaning service?" Anggun menyela kalimat Zalynda sambil tertawa


Zalynda hanya tersenyum kecil sembari mengangguk. "Kalau gitu, aku pamit dulu ke dalam. Mari tante, Diva."


Anggun dan Diva melihat Zalynda menuju pantry. Keduanya tersenyum lega mengetahui Zalynda tidak ikut audisi model di butik Tsurayya


Zalynda berjalan cepat menghindari Anggun dan Diva. Ia hanya berjalan, ternyata kakinya membawa dirinya ke arah pantry butik. Zalynda terduduk lemas di pantry. Tadinya gadis itu sempat khawatir kalau-kalau Anggun dan Diva kembali menghinanya di depan banyak orang. Syukurlah hal itu tidak terjadi


"Ray kemana ya.." bisik Zalynda pelan


Tanpa Zalynda sadari, Aryo sang fotografer butik Aya diam-diam mengambil gambarnya


***


"Sepertinya belum ada yang bisa menggantikan Mariska, bu." Kata Vera putus asa saat melihat beberapa foto dari audisi yang diselenggarakan senin kemarin


Aya menatap beberapa foto yang berada di komputernya. Memang sampai sekarang belum ada rasa klik di hatinya dengan foto-foto peserta audisi.


"Kita harus memilih, bu. Koleksi caturwulan sudah harus di launching untuk persyaratan mengikuti ajang Paris Fashion Week tahun depan." Kata Nita mengingatkan


"Haiish.." Aya memijit keningnya


Tok..tok..


"Bunda.." Ray melongokkan kepalanya di pintu.


"Hai, masuk bang. Sebentar, belum jam makan siang kan?" Kata Aya mempersilahkan Ray masuk sambil melihat ke arah jam


Aya melihat ke belakang Ray "Sendirian? Za mana?"

__ADS_1


Vera dan Nita saling mencuri pandang. Za siapa? Perempuan? Tidak biasanya putra sulung Aya membawa wanita


"Tadi..ada di belakang. Coba abang cari dulu ya bunda."


"Eeiiit ntar dulu, coba bantuin bunda milih model pengganti Mariska. Sini sebentar." Kata Aya sambil menarik Ray duduk di hadapan laptopnya


Ray terlihat malas melihat foto-foto para gadis peserta audisi. Pemuda itu menggaruk kepalanya. Vera dan Nita tertawa melihat Ray ditodong begitu saja


"Yang mana bang?" Tanya Aya


"Terserah bunda, cantik semua kok." Kata Ray datar


"Wah, tumben muji-muji." Goda Vera


"Ya lah kak Vera. Mereka semua perempuan,pasti cantik. Kalau aku bilang ganteng kan nggak lucu."


Sontak Vera dan Nita tertawa mendengar Ray


Tok..tok


Aryo terlihat berada di depan pintu. Pria itu terlebih dahulu mengetuk pintu walau pintu ruangan Aya terbuka lebar


"Masuk Yo." Kata Aya


"Bu, coba lihat hasil jepretan saya yang ini." Kata Aryo yang terlihat bersemangat memperlihatkan hasil candid nya saat di pantry tadi


Aya, Vera dan Nita melihat foto Aryo. Ketiganya tersenyum. Memang tidak sakah memilih Aryo sebagai fotografer. Pria itu dengan mudah tahu keindahan dan kecantikan tersembunyi dan bisa memunculkannya di dalam sebuah foto


"Ini aja bu. Cantik alami. Nggak akan susah kalau di dandani." Kata Vera bersemangat


"Setuju, tapi gadis ini kan nggak ikut audisi. Minimal kita juga ambil satu peserta audisi agar tidak menimbulkan syak wasangka ke depannya." Kata Nita mengingatkan


Aya mengangguk tanda setuju. Wanita itu melihat ke arah Ray sambil tersenyum simpul


"Bang, yang ini cantik biasa atau cantik banget?" Tanya Aya sambil menyodorkan kamera Aryo pada Ray


Ray melihat foto di kamera Aryo dengan seksama. Hati Ray bergetar melihat Zalynda yang sedang duduk di pantry sambil menikmati segelas air putih.


Foto yang diambil Aryo adalah foto candid, namun Zalynda terlihat cantik bahkan saat gadis itu memanyunkan bibirnya, entah apa yang ada di pikirannya. Semua terlihat pas, alami dan natural


"Cantik banget.." bisik Ray


"Tentu saja, mataku tidak pernah salah kalau memindai wanita cantik." Kata Aryo sedikit berkelakar, namun sukses membuat perasaan Ray sedikit terganggu.


(Yang lupa siapa Nita dan Vera, mereka adalah pegawai butik yang merupakan pegawai kepercayaan Aya. Ada di novel THE PRINCESS yaa)

__ADS_1


__ADS_2