
Ray memperhatikan interaksi antara Aya dan Zalynda di gazebo. Entah apa yang dua wanita itu bicarakan, mereka berdua terlihat akrab dan menyenangkan. Tanpa sadar bibir Ray menyunggingkan senyum lebar
"Bang Ray ketularan bang Lean, bucin.." bisik Ian pada Endra dan langsung disambut anggukan Endra
"Mengerikan senyum-senyum sendiri." Bisik Endra
"Kalian berdua kalau nggak ada kerjaan nggak usah ngomongin orang." Kata Ina yang sudah dibelakang keduanya. Dengan keras Ina menjitak kedua adiknya sehingga keduanya misuh-misuh
Lean terkekeh melihat wajah merengut Ian dan Endra. Pemuda itu duduk di sebelah Ray
"Elo udah cerita ke ayah sama bunda tentang Za?" Tanya Lean
"Ke ayah udah. Ke bunda belum."
"Tanggapan ayah?"
Ray tertawa kecil "Ya gitu. Awalnya ayah pikir gue terjerumus pergaulan bebas sampe marah-marah. Itu yang buat gue akhirnya mau nggak mau cerita ke ayah."
"Emang kudu dipaksa lo ya." Lean tertawa sambil meninju pelan lengan Ray. Ray pura-pura mengaduh sambil tertawa kecil. Kembali Ray memperhatikan Zalynda dan Aya
Aya tersenyum memandang Zalynda. Gadis ini terlihat pendiam dan malu-malu pada awalnya. Ternyata wawasan gadis ini cukup luas. Aya bisa bercerita dan Zalynda menanggapinya dengan sangat baik
Sejujurnya sejak Lean membawa Ina ke Prancis, Aya sedikit kesepian. Namun sepertinya kesepiannya akan terobati dengan adanya Zalynda. Gadis yang bersemangat, Aya sangat menyukainya
"Jadi rencana kamu mau buka toko kue?" Tanya Aya
Zalynda mengangguk dengan mata berbinar "Ya nyonya. Saya ingin mengembangkan hobi saya, dan kebetulan hobi itu juga bisa menjadi bisnis untuk saya."
Aya mendecih sambil bergurau "Kenapa kamu panggil nyonya terus? Kan kamu nggak lagi nganter pesanan."
"Ng, terus Za panggil apa?" Tanya Zalynda.
Aya menatap Zalynda lekat, lalu memajukan tubuhnya "Sebelumnya saya mau tanya, apa hubungan kamu sama Ray?"
Zalynda nampak terkejut. Refleks gadis itu memandang Aya dengan wajah memerah. Aya tertawa geli melihat reaksi Zalynda
"Nggak usah di jawab. Saya sudah tahu kalau hubungan kalian lebih dari sekedar teman. Nggak biasanya Ray bawa teman wanitanya ke rumah, kalau Ray bawa pasti hubungan kalian sudah serius."
Zalynda tiba-tiba merasa ketakutan menyergapnya. Bagaimana cara memberitahu Aya kalau sebenarnya ia dan Ray sudah menikah? Bagaimana reaksi Aya kalau mendengar masa lalunya? Apa tanggapan Aya? Apa Aya akan menerimanya atau membencinya?
Baru saja Zalynda merasa nyaman di tengah-tengah keluarga Ray, apa kebahagiaan ini juga akan berakhir begitu cepat?
"Za..?" Panggil Aya saat melihat gadis itu terdiam cukup lama. Zalynda terhenyak dan langsung menatap Aya
__ADS_1
"Ah, iya nyonya?" Jawab Zalynda
"Hmm..panggilan itu lagi. Coba panggil ibu, tante atau.. bunda?"
Zalynda terpaku mendengar kata terakhir yang diucapkan Aya. Benarkah Aya mengijinkannya memanggil bunda? Benarkah Zalynda akan kembali punya seorang ibu dan merasakan kasih sayang seorang ibu setelah sekian lama? Gadis itu langsung menunduk saat merasakan panas di pelupuk matanya
"Bunda, Za.." Terdengar suara Ray. Namun Zalynda tidak berani mengangkat kepalanya karena air yang memenuhi kelopak matanya terasa semakin banyak
Ray melihat keanehan pada Zalynda, lalu berjongkok dihadapan Zalynda untuk melihat wajah gadis itu. Aya mengerutkan keningnya. Tidak biasanya Ray mau sedekat itu dengan wanita
"Ada apa? Kenapa nangis?" Ray melihat genangan di mata Zalynda. Pemuda itu langsung menatap ke arah Aya dengan wajah bertanya-tanya. Aya pun menggeleng
"Nggak..aku nggak apa-apa. Maaf nyonya, eh tante. Za udah lama nggak punya mamah. Jadi pas tante bilang suruh panggil bunda, Za jadi teringat mamah." Ucap Zalynda sambil menyeka air matanya
"Oalaah Za, kirain kamu di galakin bun..aduuh!" Ucap Ray yang langsung mendapatkan pukulan dari Aya di lengannya
"Lagipula, nggak ada salahnya kamu panggil bunda kok Za. Semua anak-anaknya panggil bunda, termasuk Andre.."
Zalynda langsung mendongak menatap Ray sambil terbelalak. Gadis itu langsung melihat ke arah Aya. Suasana hening, Aya mengerjap beberapa kali seolah sedang mencerna kalimat yang Ray ucapan
"Maksudnya gimana, bang?" Tanya Aya meminta kejelasan dari Ray
Ray berbalik menatap Aya sambil berdehem
"Bunda, abang dan Zalynda sebenarnya sudah menikah.."
***
Ardhi segera turun tangan menenangkan istrinya sebelum sekujur tubuh Ray lebam membiru terkena pukulan sandal
Di ruang keluarga, Aya terlihat memijat keningnya. Di sebelahnya, Ardhi memijat-mijat bahu Aya. Endra dan Ian duduk di sofa panjang tanpa suara. Lean dan Ina juga terdiam menunggu Aya membuka pembicaraan. Suasana terlihat sedikit tegang
"Abang bikin Za hamil duluan?" Tanya Aya pada Ray. Seketika mata Ray langsung membulat
"Astaghfirullah, nggak bunda. Za nggak hamil duluan." Jawab Ray
"Terus kenapa kalian nikah diam-diam, bang? Kamu nggak nganggep bunda?"
"Maaf bunda."
Ray kemudian menceritakan awal mula dirinya dan Zalynda menjadi sepasang suami istri. Semuanya mendengarkan dengan seksama cerita Ray
"Jadi sebetulnya kalian terpaksa menikah?" Tanya Aya
__ADS_1
"Kalau terpaksa kayaknya nggak, sayang. Buktinya Ray langsung setuju saat di grebek dan tidak menceraikan Za sampai sekarang." Ucap Ardhi sambil terus memijit bahu Aya
"Awalnya di grebek, lalu tumbuh benih-benih cinta. Duuh, novel banget cerita bang Ray ini." Goda Ian
"Ray itu sudah lama naksir Za, Yan. Cuma nggak pernah gerak cepat jadi mungkin Allah bantu dengan penggrebekan warga." kata Lean sambil terkekeh
Aya memberikan kode agar Ardhi menghentikan pijatannya. Aya berdehem sambil pindah ke sebelah Zalynda lalu menatap Zalynda dengan lembut. Tangan Aya menggenggam jemari Zalynda
"Maafin bunda, kamu pasti kaget banget ya lihat bunda kayak tadi? Bunda cuma ngasih sedikit pelajaran sama anak nakal itu." Kata Aya sambil tersenyum. Zalynda memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya menatap Aya
"Semua sudah digariskan Allah. Lean benar, ini adalah cara Allah mempersatukan kalian." kata Aya lagi
Mata Zalynda mengerjap tidak percaya
"Anda menerima saya? Nyonya, saya ini seorang yatim piatu.."
Ucapan Zalynda terhenti saat Aya mengangkat tangannya
"Masa lalumu biarkan menjadi masa lalu. Kamu adalah wanita pilihan Ray, dan bunda yakin Ray tidak akan asal memilih."
Aya mendesah perlahan
"Walau bunda kecewa karena tidak menyaksikan ijab qobul kalian, minimal bunda bisa mengatur pesta pernikahan kalian kan?"
Ardhi menatap Aya seksama. Benar, masa lalu Zalynda biarkan tetap menjadi masa lalu. Ardhi tidak perlu menceritakan ke Aya siapa Zalynda. Walau kemungkinan besar Aya tidak akan mempermasalahkannya karena Aya bisa memaafkan Leo, pastinya Aya juga bisa menerima Zalynda
Ardhi tersenyum lega
"Kalau begitu kamu juga panggil saya ayah, Za."
Zalynda menoleh menatap Ardhi tak percaya. Lalu menatap Ray yang tersenyum lebar ke arahnya
"Selamat datang di keluarga kami, Zalynda."
***
Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna adalah keluarga. Mutiara tiada tara adalah keluarga
Dahulu lagu itu terngiang-ngiang di telinga Zalynda saat kecil. Zalynda kecil hanya bisa mendengar tanpa bisa mengerti artian sesungguhnya. Harta berharga? Istana? Puisi? Mutiara? Zalynda kecil hanya bisa membayangkan saat melihat kehidupan teman-teman sepermainannya dengan sepasang keluarga lengkap dengan adik dan kakak
Lagu itupun hanya menjadi sebatas lirik tanpa makna kala Zalynda datang ke rumah tuan Wijaya. Bukan harta berharga ataupun mutiara indah, bukan pula istana atau puisi bermakna, melainkan penjara dunia dimana Zalynda merasa terasing, tidak diterima dan tidak dicintai. Setidaknya itu yang Zalynda rasakan, dulu.
Hari ini, Zalynda benar-benar merasakan harta, istana, lantunan puisi bahkan mutiara berharga yang terkait dalam satu kata.. Keluarga
__ADS_1
Betapa Zalynda hari ini bahagia berada di tengah-tengah keluarga Al Farobi yang hangat. Canda tawa bahkan ejekan guyonan kerap kali di dengarnya hari ini. Walaupun terbungkus ejekan, mereka tetap saling hormat satu sama lain. Bahkan sikap Ardhi dan Aya pun hangat terhadapnya.
Inilah keluarga yang sebenarnya. Keluarga yang dahulu berada dalam angan dan bayangannya. Zalynda bisa merasakan kehangatan di dalamnya.