CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 89


__ADS_3

Esok adalah misteri. Benar perkataan itu. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi keesokan hari bahkan di jam, menit atau detik berikutnya. Karena itu, hargailah milik kita hari ini karena esok entah apa yang kau miliki itu masih menjadi milikmu atau bukan


Zalynda pun melakukan hal yang sama. Pagi ini gadis itu mengawalinya dengan syukur pada Allah atas segala yang telah diberikanNya. Lalu Zalynda menuju dapur, membantu Aya menyiapkan sarapan untuk semua orang


Ruang makan kembali ceria dengan adanya anggota keluarga Al Farobi, kecuali Ina yang kini menetap di Prancis. Gelak tawa dan canda mewarnai pagi mereka. Zalynda ikut tersenyum sambil merekam semuanya dalam memorinya. Zalynda pasti akan merindukan semua kenangan indah ini


Setelah semua orang berangkat melakukan aktivitas masing-masing, Zalynda diam-diam pergi menggunakan taksi ke apartemen Ray untuk berkemas. Baju-baju yang ada di rumah keluarga Al Farobi semuanya adalah baju baru yang dibelikan Ray. Zalynda tidak ingin membawanya karena akan mengingatkannya pada Ray saat dirinya pergi nanti


Dengan perlahan Zalynda memasukkan baju-bajunya satu persatu ke dalam kopernya. Mata Zalynda tertumbuk melihat sajadah yang biasa digunakan Ray untuk sholat. Tangan Zalynda menjangkau mengambil sajadah itu lalu dipeluknya erat.


"Ray.. maafkan aku." Bisik Zalynda pilu


Segera Zalynda menyeka airmatanya dan kembali meletakkan sajadah Ray dengan rapi di ranjang. Gadis itu membersihkan hidungnya menggunakan tisu dan bergegas menutup kopernya.


Saat di ambang pintu, langkah Zalynda terhenti. Kembali gadis itu membalikkan badannya dan melihat ke sekeliling kamarnya. Kamar bersejarah, dimana banyak terukir kenangan di dalamnya. Kamar yang menjadi saksi pertama rajutan cinta antara Zalynda dan Ray. Tempat Ray dan Zalynda bercanda tawa dan berbagi impian. Kamar yang tadinya serasa hangat, kini terlihat lengang


Zalynda menggigit bibirnya menahan haru yang hendak berlomba keluar. Segera dilangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Saat tangannya hendak menggapai handle pintu, tiba-tiba pintu terbuka


"Ray.."


Zalynda terkejut melihat Ray sudah menjulang di depannya dengan tatapan marah, terlebih saat Ray melihat koper di tangan Zalynda


"Kenapa kau selalu ingin pergi dariku Za?" Desis Ray tajam


Pemuda itu segera masuk ke dalam apartemennya dan mendekati Zalynda. Zalynda mundur teratur bersamaan dengan langkah Ray yang mendekatinya


"R-Ray.."


"Apa yang terjadi? Kenapa kau tidak ingin berbagi dukamu padaku? Kau tidak mempercayaiku?" Tanya Ray lagi


Kali ini pemuda itu sudah berada di depan Zalynda. Zalynda menggenggam kopernya erat, mata Ray yang berkilat tajam sedikit menakuti Zalynda


Ray tiba-tiba menarik gadis itu kedalam pelukannya dan menghirup aroma manis dari tubuh Zalynda


"Aku benci kalau kau selalu menyembunyikan sendiri masalahmu, Za. Berkali-kali aku katakan, cerita padaku, buat aku repot, buat aku merasa dibutuhkan olehmu!"

__ADS_1


Zalynda memejamkan matanya. Ingin rasanya Zalynda bercerita pada Ray, tetapi Zalynda terlalu takut dengan ancaman Diva. Zalynda tidak mau lagi sebab dirinya, keluarga Al Farobi kembali dipermalukan


Ray menjauhkan tubuhnya dari Zalynda, menatap sepenuhnya manik coklat gadis itu.


"Ada apa?" Tanya Ray


Bibir Zalynda bergerak-gerak hendak berucap


"Aku.. aku tidak bisa mengata.. hmmph."


Ucapan Zalynda terputus saat Ray langsung mel***t bibir Zalynda dalam-dalam seolah menyalurkan segala amarahnya


Zalynda berusaha mendorong dada Ray saat dirinya kehabisan nafas, namun lengan kokoh pemuda itu menahan pinggulnya untuk bergerak


Hanya sebentar waktu yang diberikan Ray untuk Zalynda menarik nafasnya sebelum kembali mencumbu gadis itu


"Kau tidak akan kubiarkan pergi. Kau berhutang penjelasan padaku." Kata Ray parau sambil tak berhenti mel***t bibir Zalynda


Zalynda memekik kaget saat Ray menggendongnya, membawanya kembali ke kamar Zalynda. Pintu kamar masih terbuka saat terdengar erangan dan lenguhan sensual bersahutan dari dalam kamar Zalynda


***


Zalynda menoleh ke samping tempat tidurnya. Ray tidak ada di sebelahnya. Zalynda melihat jam di atas nakas, sudah pukul 12 lewat, sudah masuk waktu Dzuhur. Mungkin Ray sudah kembali ke kantor


"Uugh.." Zalynda meringis saat berusaha menggerakkan kakinya turun dari ranjang.


Sedikit perih Zalynda rasakan di intinya. Ini hari pertama mereka melakukannya setelah masa nifas Zalynda selesai dan Ray melakukannya dengan sedikit kasar. Terlihat di lantai baju yang tadi dipakainya berserak di lantai dan semua dalam keadaan terkoyak. Sepertinya Ray memang marah sekali tadi


Perlahan Zalynda beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya agar bisa menunaikan kewajiban lima waktunya.


Setelah membersihkan diri Zalynda mempercepat dirinya untuk berpakaian. Kesempatan, Ray sedang tidak berada di apartemen jadi Zalynda bisa langsung pergi


Kening Zalynda berkerut mencari kopernya. Teringat kopernya ada di ruang tamu. Hanya dengan berbalutkan handuk, gadis itu melangkahkan kakinya ke ruang tamu


Zalynda menebar ke sekeliling, kopernya tidak ada di ruang tamu

__ADS_1


"Perasaan di sini tadi.." Gumam Zalynda


Gadis itu berbalik ke kamarnya untuk menggunakan baju yang ada di lemarinya. Tadinya Zalynda tidak ingin membawa satupun baju yang diberikan Ray, namun ini kondisi mendesak


Gadis itu segera membuka lemarinya, dan terkejut..


***


Ray mengulum senyumnya saat memberikan makanan yang dipesannya melalui delivery order ke Zalynda. Terlihat gadis itu cemberut, manis sekali


"Ayo makan, pasti tadi energimu terkuras banyak kan." Goda Ray. Bibir Zalynda makin meruncing


"Kau yang membuatku begitu. Sekarang kau tega menyembunyikan baju-bajuku." Kata Zalynda kesal


Saat hendak berpakaian, Zalynda terkejut hanya menemukan pakaian dalam dan lingerie nya saja. Sementara kemeja, gamis dan celana panjangnya hilang entah kemana


Ray memiringkan sudut bibirnya "Dengan begini kau tidak bisa pergi saat aku ke masjid. Kau tidak mungkin berkeliling dengan lingerie seperti itu kan?"


"Aku bisa pakai mukenaku." Kata Zalynda tak mau kalah, membuat Ray terbahak. Zalynda makin sebal ditertawakan Ray


"Ayo makan Za, setelah itu aku ingin mendengar penjelasanmu." Kata Ray


Mau tak mau Zalynda menuruti Ray. Perutnya memang lapar karena selain sudah masuk jam makan siang, juga untuk mengembalikan tenaganya


Ray tersenyum melihat Zalynda makan begitu lahap. Merasa diperhatikan, Zalynda menghentikan suapannya dan menatap ke arah Ray yang terus memperhatikan dirinya


"Kau tidak makan?" Tanya Zalynda saat melihat makanan Ray utuh belum tersentuh


"Nanti aku makan, aku masih ingin mengawasi dirimu. Jangan sampai aku lengah berkedip sebentar, kau sudah pergi dari hadapanku."


Zalynda menggelengkan kepalanya "Lebay.."


Ray menarik kursinya mendekati Zalynda sambil melihat makanan Zalynda. Spontan gadis itu mengangkat tangannya hendak menyuapi Ray. Ray tersenyum lalu memegang pergelangan tangan Zalynda dan membimbing makanan yang ada di tangan Zalynda masuk kedalam mulutnya


"Makan disuapi memang paling nikmat, apalagi dari tangan orang yang kita sayangi. Benar?" Tanya Ray sambil mengunyah makanan di mulutnya

__ADS_1


Zalynda terpaku menatap Ray seakan terhipnotis dengan pandangan Ray. Ray tersenyum sambil menghisap jemari Zalynda satu persatu dan berucap


"Kau istriku, milikku, Za. Kau tidak akan kubiarkan pergi. Kalaupun kau pergi, aku akan menemukanmu dan membawamu kembali ke sisiku.."


__ADS_2