CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 42


__ADS_3

Kriiiing..


Alarm Zalynda terus saja berbunyi. Gadis itu tersadar dari buaian mimpi indahnya. Zalynda sedikit mengerang karena merasa tidurnya sedikit terganggu. Tangannya menggapai untuk mematikan alarm di meja dekat ranjangnya


Plek.


Zalynda mendesah, biasanya Ray yang selalu mematikan alarmnya. Tangannya kembali menggapai sisi tempat tidur yang lain. Kosong..


Ray?


Mata Zalynda mengerjap. Ray tidak berbaring di sebelahnya. Sisi ranjang itupun terasa dingin. Zalynda menoleh ke arah kamar mandi yang terbuka


"Ray?"


Tidak ada jawaban. Zalynda melilitkan selimut di tubuhnya dan turun dari ranjang menuju kamar sebelah. Zalynda perlahan membuka kamar Ray


Kosong...


Ray tidak berada di kamarnya.


"Ray pergi kemana?" Bathin Zalynda. Gadis itu kembali ke kamarnya. Dinyalakan handphone nya, berharap Ray meninggalkan pesan untuknya


Nihil. Zalynda mendesah, beberapa prasangka negatif hinggap di pikirannya


"Apa aku berbuat sesuatu yang menyinggung Ray? Apa Ray tidak puas denganku? Apa Ray punya kekasih lain?.."


"Astaghfirullah.." Desis Zalynda berulang-ulang, menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang melintas. Gadis itu menghela nafas panjang dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, bersiap menghadap Tuhan Pencipta Semesta


Selesai melaksanakan sholat shubuh, Zalynda kembali mematut dirinya di cermin riasnya sembari mengeringkan rambutnya. Terlihat beberapa tanda merah tampak kebanyakan di bawah tulang selangka dan daerah dadanya. Hanya satu yang kelihatan jelas di lehernya


"Duh, kentara banget.." gumam Zalynda. Gadis itu segera mengambil cushion miliknya dan segera menyembunyikan jejak kepemilikan yang di bubuhkan Ray di lehernya


"Lumayan..nggak kelihatan banget." Bisik Zalynda bermonolog saat melihat tanda merah itu tersamarkan


Gadis itu segera pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Tepat saat Zalynda membuka pintu kamarnya, Ray masuk ke dalam apartemen


"Ray.."


Ray nampak sedikit terkejut melihat Zalynda, kemudian kembali biasa


"Eh Za, sudah bangun?"


Kentara sekali Ray terlihat berbasa-basi. Zalynda selalu sudah bangun tepat waktu kecuali saat dirinya sakit. Zalynda mencoba bersikap biasa saja


"Kamu darimana?" Tanya Zalynda


"Aku? Aku habis sholat shubuh di mesjid. Memangnya kenapa?" Kata Ray sambil membuka jaketnya


Zalynda tertegun. Bukan itu jawaban yang ingin Zalynda dengar dari Ray. Sependek pengetahuannya, Ray tidak pernah ke masjid dengan kaos dan jeans, kecuali saat Ray sedang bepergian. Ingin rasanya Zalynda bertanya macam-macam ke Ray

__ADS_1


"Kamu kemana semalam? Tadi nggak ada, ranjang kamu dingin, kenapa ninggalin aku?"


Pertanyaan itu hanya berada dalam pikiran Zalynda, tanpa berani diungkapkan. Zalynda menghembuskan nafasnya pelan, gadis itu meraih jaket Ray, hendak menggantungnya di tempat jemuran


"Jangan sentuh jaketku!" Sentak Ray keras sambil menarik jaketnya dari tangan Zalynda membuat gadis itu terkejut


"Ehem, maksudku biar aku yang taruh sendiri di tempat jemuran." Kata Ray dengan nada yang lebih lembut saat melihat Zalynda terkejut


Zalynda mengangguk mencoba tersenyum "Oh, iya. Kamu mau sarapan a..?"


"Nggak. Aku mau ke kamar dulu. Tolong bangunkan aku nanti kalau kau mau ke bu Reema ya." Potong Ray sambil memegang erat jaketnya


Zalynda mengangguk pelan. Gadis itu segera pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Ray menghela nafas menatap punggung Zalynda yang mulai terlihat sibuk membuat sesuatu di dapur


Ray segera masuk ke kamarnya untuk merebahkan diri. Masih ada sedikit waktu sebelum pergi mengantar Zalynda ke rumah bu Reema


Tanpa Ray sadari, Zalynda sedang menitikkan air mata tanpa suara


***


Suara handphone Ray terdengar mengalun. Ray mengerjapkan matanya dengan berat.


"Assalamu'alaykum.." Ray mengangkat teleponnya dengan setengah sadar


"Wa'alaykumussalam. Elo masih tidur, bro?!" Terdengar suara seseorang


"Agus? Ganggu aja sih lo. Gue masih ngantuk." Gerutu Ray dengan suara seraknya


Ray langsung terlonjak bangun saat mendengar nama Ardhi disebut. Ray langsung melihat ke arah jam dindingnya. Jam sebelas siang!


"Hah! Kenapa Za nggak bangunin?" Bathin Ray


"Oi, elo jangan ngorok lagi brother." Kata Agus dari seberang


"Iya gue bangun. Gue siap-siap dulu." Ray segera menutup teleponnya dan pergi ke kamar mandi.


Tidak butuh waktu lama untuk bersiap-siap. Ray sudah terlihat rapi dengan kemeja biru dan jas hitamnya. Ray segera keluar kamar. Apartemennya terlihat sepi. Di meja terlihat makanan yang ditutup


Ray menghampiri meja makan dan melihat sarapan yang di buat Zalynda serta secarik kertas tulisan tangan gadis itu


"Aku sudah mengetuk beberapa kali. Sepertinya kamu capek banget. Aku berangkat sendiri saja. Aku sudah siapkan sarapan untuk kamu. Maaf ya.."


Ray mendesah, sebersit rasa bersalah hinggap di hatinya karena peristiwa tadi pagi. Gadis itu pasti sedikit salah faham padanya


Ray hendak duduk di meja makan saat handphonenya kembali berdering. Ray segera mengambil handphonenya di kamar.


"Ayah.." Gumam Ray


"Assalamu'alaykum Yah.."

__ADS_1


"..."


"Iya, abang udah on the way dari luar kantor." Kata Ray. Pemuda itu tidak berbohong, memang posisinya ada di luar kantor.


Segera Ray menyambar kunci motor dan jaketnya. Pikir Ray akan lebih cepat mengendarai motor di jam macet seperti ini


Ray segera keluar dari apartemennya, meninggalkan sarapan yang sudah di siapkan Zalynda di atas meja


***


Zalynda baru saja menemani bu Reema ke mall. Walaupun sudah berumur, stamina bu Reema tidak kalah dengan orang-orang yang berusia di bawahnya.


Di mall, bu Reema hanya membelikan beberapa potong pakaian, celana dan jas untuk Daniel. Tadinya bu Reema juga ingin membelikan Zalynda baju, namun gadis itu menolak dengan alasan tidak ada yang cocok dengan seleranya. Padahal itu hanyalah alasan Zalynda saja. Zalynda tidak mau merepotkan bu Reema


Mereka kembali siang hari, bertepatan dengan hujan yang turun dengan deras.


"Kamu di sini aja Za. Jangan pulang dulu, kan hujan. Ehan nggal jemput khan?" Tanya bu Reema


Zalynda menggeleng "Za bawa motor sendiri, bu."


Zalynda mengecek handphone nya. Tidak ada pesan dari Ray. Zalynda sedikit merasa sedih. Ray terkesan mengabaikan dirinya. Ada apa sebenarnya?


"Mungkin dia sibuk.." sisi lain diri Zalynda membisikkan untuk tetap berpositif thinking pada Ray


Zalynda segera mengetik di handphone nya "Aku sepertinya pulang sore, hujan di sini."


Send


Masih centang abu-abu. Zalynda segera memasukkan handphone nya saat bu Reema memanggilnya.


***


Hujan baru berhenti Maghrib menjelang. Zalynda segera menunaikan sholat maghrib sebelum pulang


Saat hendak pulang, terlihat Daniel sudah duduk santai di ruang televisi


"Kamu masih di sini?" Tanya Daniel saat melihat Zalynda


"Iya pak, tadi nunggu hujan. Ini mau pulang." Kata Zalynda sambil sedikit menunduk saat Daniel menghampirinya. Daniel melihat langit di luar. Langit terlihat gelap, walau hujan sudah berhenti masih beberapa kali terlihat kilat di kejauhan


"Kamu pulang naik apa? Mau saya antar?" Tanya Daniel


"Nggak usah, Za bawa motor pak." Kata Zalynda cepat sambil tersenyum.


Daniel menatap Zalynda sambil berbisik dalam hati "Gadis ini benar-benar mirip dengannya.."


Tangan Daniel refleks mengusap kepala Zalynda. Zalynda terkejut dengan tindakan Daniel sehingga gadis itu juga refleks memundurkan kepalanya


Daniel tersenyum melihat tingkah Zalynda "Hati-hati di jalan ya."

__ADS_1


Bu Reema tersenyum memperhatikan Zalynda dan Daniel dari pintu kamarnya. Ia seakan melihat Daniel berbincang-bincang dengan putrinya sendiri


__ADS_2