CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 36


__ADS_3

"Aku tidak punya pilihan, Ray.." ucap Zalynda sembari terisak


Tiba-tiba Zalynda mengayunkan telapak tangannya dan memukuli dadanya sendiri. Ray tersentak lalu menahan tangan Zalynda


"Za, apa yang kau lakukan?!"


"Kalau aku mengingatnya, dadaku serasa sesak dan sakit." Zalynda masih berusaha memukuli dadanya


"Jangan! Kau menyakiti dirimu sendiri." Kata Ray yang masih memegang erat tangan Zalynda. Lama kelamaan tangan Zalynda berhenti. Gadis itu tersengal mengatur nafasnya


"Aku bodoh, Ray. Aku tidak berfikir jernih dulu sebelum menyetujuinya. Aku masuk ke dalam perangkap om Yono. Berhasil atau tidak, aku tetap kalah dan salah. Dia akan tetap menjadikanku sumber uangnya.."


Ray menahan emosi saat mendengar cerita Zalynda. Ingin rasanya Ray pergi dan menyeret Yono ke penjara karena perbuatan asusila dan kejahatan lainnya terhadap Zalynda.


"Kata om Yono, itu semua untuk membayar hutang-hutangku karena menerima dan memakai fasilitas kakek..."


Mata Zalynda menerawang seperti mengingat masa lalu. Kembali gadis itu menarik nafas panjang. Ray segera merengkuh tubuh Zalynda ke dalam pelukannya


"Aku tahu di universitas Gemilang ada dana senat yang bisa dicairkan hanya dengan tanda tangan ketua senat terpilih. Akupun ingin menjadi ketua senat agar bisa mencairkan dana tersebut dan mengalihkannya ke proyek perusahaan kakek." Zalynda melanjutkan ceritanya


"Aku makin bersemangat, terlebih saat aku tahu anak pak Ardhi juga ada di Universitas Gemilang.. Dirimu, Ray." Zalynda mendongak menatap Ray. Pemuda itu hanya balas menatap dirinya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun


"Awalnya rencanaku adalah masuk kedalam circle pertemananmu, mendekati dirimu, membuatmu jatuh cinta padaku lalu meninggalkan dirimu."


Zalynda terdiam untuk melihat reaksi Ray. Namun Ray tetap diam sambil menatap dirinya. Zalynda merasa tidak enak hati, gadis itu perlahan melepaskan pelukan Ray dan berbaring di sisi ranjang yang lain


"Aku mulai mengubah penampilanku, Aku mulai mencoba menjadi Za yang modis, cerdas, percaya diri agar bisa menarik perhatian dirimu. Selama tiga tahun aku memainkan peranku dengan baik bukan?"


Zalynda mengusap matanya yang basah. Beberapa kali Zalynda menghembuskan nafasnya


"Aku bagaikan ngengat yang masuk ke dalam api. Aku terbakar oleh permainan yang kuciptakan sendiri. Aku dikeluarkan dari universitas dan masuk daftar hitam. Beasiwaku di cabut. Teman-teman menjauhiku. Dan yang paling buruk, aku kehilanganmu.."


Ray menoleh ke arah Zalynda cepat


"Zalynda merasa kehilangan? Berarti dulu dia juga menyukai ku?" Bathin Ray. Terlihat gadis itu menggigit bibirnya menahan isak tangis yang berlomba keluar


"Malam harinya..om Yono tahu aku dikeluarkan. Dia bilang aku gagal, jadi tidak perlu menunggu lima tahun. Malam itu, dia hendak memperkosaku sebelum melemparku ke rumah pelacuran.."


Zalynda tertawa hambar "Untung tante Anggun pulang, jadi niatnya tidak terlaksana. Hari itu pertama kalinya aku merasa senang tante Anggun di rumah, dan malam itu juga aku kabur dari rumah kakek."


Hening sejenak. Gadis itu mengubah posisi membelakangi Ray


"Aku kembali menjadi Linda. Seorang gadis miskin yang tidak punya apapun, tidak punya siapa-siapa. Aku sadar posisiku berbeda jauh dengan dirimu, Ray. Maafkan aku yang telah kurang ajar menaruh hati padamu. Maafkan a.."


Ucapan Zalynda terpotong saat Ray membalikkan tubuhnya untuk menatap pemuda itu

__ADS_1


"Siapa bilang kamu nggak punya siapa-siapa? Ada aku, ada ayah, bunda, adik-adik. Kamu nggak sendirian sekarang Za." Bisik Ray sambil membelai kepala Zalynda


Pandangan Zalynda serasa terkunci menatap netra coklat milik Ray yang menyorot lembut menatapnya


"Selama di kampus aku melihat Za yang cantik, cerdas, supel, lembut dan baik hati. Tidak ada yang bisa berperan sesempurna itu, kecuali sifat itu memang sudah ada di dirinya."


Mata Zalynda mengerjap "Benarkah?"


Ray tertawa kecil "Tentu saja. Itulah dirimu yang sebenarnya, Za. Luka bathinmu yang membuat dirimu menyembunyikan jauh cahaya sinarmu."


"Ah Ray, kenapa kau selalu punya kata-kata yang tepat untuk menghiburku?" Zalynda tersenyum lebar sambil menepuk pelan pipi Ray


Ray tersenyum, lalu membawa Zalynda kedalam pelukannya


"Mulai sekarang, jangan pernah sembunyikan apapun dariku. Jangan pernah merasa sendiri ya." Bisik Ray


Dalam pelukan Ray, kepala Zalynda terasa mengangguk pelan.


"Terima kasih.."


***


Pagi itu Zalynda terbangun dengan perasaan ringan. Gadis itu bersenandung kecil saat menyiapkan sarapan. Ray yang melihat hal itu ikut tersenyum.


"Masak apa?" Tanya Ray


"Aku bikin nasi uduk. Dulu di rumah kakek, nasi uduk ini favorit kakek."


Ray tersenyum sambil mengecup leher Zalynda membuat gadis itu sedikit menggelinjing geli


"Kamu kangen kakek Wijaya?" Tanya Ray


Zalynda menghela nafas pendek "Sejujurnya, iya. Beliau sangat baik padaku, Ray. Tapi aku tidak mau berharap banyak. Buktinya selama 4 tahun ini, beliau tidak mencariku kan?"


Zalynda menghentikan kata-katanya. Gadis itu tersenyum sedih. Ray makin mengeratkan pelukannya di pinggang Zalynda


"Jangan sedih pagi-pagi. Bisa merusak mood seharian. Kan sudah ada aku. Udah mateng emang? Aku mau makan dong." Kata Ray sambil membuat suara lucu. Zalynda tertawa mendengarnya


"Iya, coba lepas dulu pelukannya. Aku mau siapin di meja makan."


Ray menurut. Pemuda itu segera duduk di kursi sambil menanti masakan Zalynda. Ray iseng membuka berita-berita online. Perhatiannya tertuju pada satu tajuk berita


"Pergantian direksi, Wijaya Group terancam liquidasi."


Ray memicingkan matanya. Tangannya bergerak membuka berita itu. Setahu Ray, Wijaya Group adalah salah satu perusahaan terkuat. Sempat mengalami keterpurukan karena kasus 25 tahun yang lalu namun tuan Wijaya berhasil kembali mengibarkan bendera Wijaya Group dalam kancah bisnis

__ADS_1


"Mengapa harus ada pergantian direksi?" Gumam Ray


"Kau bilang apa Ray?" Tanya Zalynda saat mendengar Ray menggumam


"Ah tidak, aku lagi baca-baca berita di portal online."


Ray hendak menutup berita itu namun sebuah foto menarik perhatiannya. Ray menatap foto wanita yang berada dalam portal berita online dengan seksama


"Za.."


"Ya?"


"Siapa nama ibumu?"


Zalynda menoleh ke arah Ray sambil mengerucutkan bibirnya "Nama mamah, Rina. Kamu nggak hafal?"


Ray tersenyum lebar "Bukan sayaang, nama panjangnya."


Zalynda terlihat seperti orang berfikir. "Sejujurnya aku juga nggak tahu nama panjang mamah. Ada apa Ray?"


Ray menggeleng sambil tersenyum "Nggak sayang, aku lagi teringat waktu kita nikah dulu. Tiba-tiba kepikiran nama mamah kamu. Berarti saat aku ijab qobul kamu nggak dengerin ya?"


Zalynda meringis sambil menatap Ray "Aku terlalu syok sepertinya. Waktu prosesi ijab qobul seakan semua suara berdengung menjadi satu di kepalaku.."


Ray menatap Zalynda yang tersenyum. Ray juga tersenyum. Dalam hati, Ray meminta maaf pada Zalynda telah berbohong.


"Ngomong-ngomong, kenapa kamu nggak pakai gelang pemberian mamah kamu?" tanya Ray sambil menggenggam pergelangan tangan Zalynda


Zalynda tersenyum tipis "Kata mamah itu satu-satunya harta berharga yang kami punya dan sesulit apapun keadaan kami, mamah nggak ngebolehin ngejual gelang emas itu. Aku jadi nggak berani pakai, takut hilang.."


Zalynda menatap Ray sambil melanjutkan kalimatnya


"Kata mama, gelang itu sudah didoakan. Mamah bilang gelang keberuntungan ku. Tapi kita nggak boleh percaya hal-hal begitu kan Ray?"


"Ooh, jadi itu alasan kamu waktu kabur dari rumah kakek Wijaya bersikeras hidup pas-pasan daripada ngejual gelang itu." Kata Ray


Zalynda mengangguk. "Itu satu-satunya peninggalan mamah. Nggak mungkinlah aku jual."


Gadis itu kembali sibuk menghidangkan sarapan di meja. Ray pun kembali menatap handphone nya


Ray tidak lupa nama ibu Zalynda. Justru Ray sangat mengingatnya karena Ray ikut mengucapkan nama itu saat melakukan ijab qobul didepan bapak kost Zalynda dulu


Terlihat foto seorang gadis yang wajahnya sangat mirip dengan Zalynda dengan sub judul berita


"Farah Afriyani Wijaya, putri tunggal pemilik Wijaya Group menghabiskan umurnya di Rumah Sakit Jiwa Healing Soul."

__ADS_1


__ADS_2