
Ray masih berdiri di depan kaca melihat kedalam ruang ICU. Monitor yang berada di dekat Zalynda nampak masih bekerja memantau detak jantung, saturasi oksigen dan juga tekanan darah Zalynda
Semua masih terlihat normal
Tiba-tiba seseorang menarik bahu Ray untuk berbalik dan menghadiahkan satu tinju di rahang Ray. Ray yang tidak sigap menerima serangan itu langsung tersungkur ke belakang menabrak kursi di ruang tunggu ICU
Ray menatap orang yang telah memukulnya. Nampak Daniel dengan wajah memerah mendekati dan menarik kerah baju Ray agar pemuda itu berdiri. Ray hanya terdiam membiarkan Daniel melakukan apa yang ingin dilakukannya
"Aku percaya padamu, Ray. Aku percayakan putriku. Kenapa kau biarkan para wartawan itu menulis yang tidak-tidak tentang Za?! Kenapa dia terbaring di ICU sekarang?! Kenapaa?!!"
Daniel berteriak di depan wajah Ray lalu kembali memukul Ray membuat pemuda itu kembali terjungkal ke belakang
"Daniel hentikan! Ini Rumah Sakit!" Kata Ardhi sambil menahan tangan Daniel yang kembali bersiap memukul Ray
Daniel terengah-engah menatap Ray. Wajahnya yang tadi terlihat marah perlahan berubah sendu. Pria itu duduk terjatuh. Ardhi ikut berjongkok di sebelah Daniel. Beberapa perawat datang untuk melerai, namun Ardhi memberikan kode kalau suasana sudah bisa ditangani nya.
"Aku baru menemukan putriku, tolong jangan kau ambil dia ya Allah.." bisik Daniel pilu.
Ardhi mendengar ucapan Daniel sedikit memancing rasa penasarannya. Tetapi Ardhi menahan dirinya untuk tetap diam tidak bertanya apapun. Ardhi hanya membantu Daniel untuk berdiri dan duduk di kursi
Ray meringis menahan pusing akibat pukulan Daniel sambil memegang rahangnya. Sedikit rasa darah terasa di mulutnya. Pemuda itu ikut berdiri dan duduk di kursi di seberang Daniel. Ketiganya terdiam dengan pikirannya masing-masing
"Apa yang terjadi bang?" Tanya Ardhi memecahkan keheningan
"Abang nggak tahu, ayah.."
"B******k! Bagaimana kau bisa tidak tahu?!" Ucap Daniel emosi sambil berdiri hendak memukul Ray, namun Ardhi dengan sigap menahannya
Ray refleks memejamkan matanya dan terdiam sejenak
"Maafkan saya, pak Daniel. Saya terlambat menyadari kalau Zalynda pergi dari rumah.. Saya panik saat melihat bunda pingsan." jawab Ray pelan
Daniel mendengkus. Pria itu hanya terdiam sambil menatap Ray. Di sisi lain Daniel memaklumi keterlambatan Ray menyadari kepergian Zalynda, namun emosi Daniel masih menyalahkan Ray atas apa yang terjadi pada putrinya
"Bagaimana kondisi Zalynda, bang? Apa kata dokter?" Tanya Ardhi
"Zalynda mengalami benturan saat kecelakaan, ayah. Kemarin dokter sudah melakukan CT scan, katanya semua baik-baik saja di bagian kepala dan tubuhnya. Tapi.."
"Tapi apa?" Tanya Daniel
"Zalynda keguguran. Dokter kemarin sudah melakukan operasi.." Ray tercekat tidak dapat meneruskan kalimatnya
__ADS_1
"Innalillahi wa inna ilaihi rooji'uun.." desis Ardhi pelan. Daniel menutup wajahnya dengan tangannya. Wajahnya terlihat memerah
"Dimana janin itu bang?" Tanya Ardhi
"Abang masih titip di perawat yang kemarin menangani Zalynda. Setelah tahu kondisi Za, rencana abang akan pulang untuk menguburkan janin itu."
"Biar ayah yang menguburkannya, bang. Kamu disini saja menanti kabar Zalynda." Ardhi menawarkan diri.
Ray menoleh ke arah Ardhi sambil tersenyum dan mengangguk. Ray bersyukur memiliki ayah seperti Ardhi yang selalu pengertian dan ada untuk anak-anaknya
"Bang, boleh ayah bertanya?"
"Silahkan, yah."
"Apa benar Zalynda anak Farah dan.. Daniel?" Tanya Ardhi sambil menatap Daniel yang masih menangkupkan tangannya ke wajahnya
Ray mendesah "Ada yang akan abang ceritakan ke ayah. Tetapi ayah jangan potong dulu ya."
Ardhi mengangguk
***
Aya saat ini sedang terbaring di tempat tidur. Saat dirinya mengetahui tentang kehamilan Zalynda dan memikirkan hal buruk yang telah Aya lakukan pada Zalynda, kepalanya mendadak pusing. Ian dan Endra dengan sigap membawa Aya ke kamar untuk beristirahat
Aya terharu melihat banyak orang-orang yang menyayangi dan peduli padanya. Namun Aya kembali bersedih saat mengingat tentang Zalynda. Aya ingin sekali menanyakan kabar Zalynda pada Ardhi. Namun Ardhi tidak mengangkat teleponnya. Yang bisa Aya lakukan hanyalah berdoa dan menunggu
"Bunda, makan supnya yuk. Biar bisa minum obat." Kata Ina yang duduk di samping ranjang Aya
Aya menggeleng. Bagaimana dirinya bisa makan sementara hatinya sedang cemas
"Bunda kepikiran kak Za, Ina. Bunda semalam jahat banget sama kak Za." Kata Aya sambil menerawang menatap langit-langit kamarnya
"Bunda emosi kemarin. In syaa Allah kak Za ngerti kok." Hibur Ina sambil menggenggam tangan Aya
"Dia sedang hamil, semalam katanya Za kecelakaan. Bunda nggak tahu kabarnya sampai sekarang.."
"Ay, aku yakin Za akan baik-baik saja. Gadis itu kuat." Ima ikut berbicara
Aya menatap Ima "Kamu kenal sama Zalynda, Ma?"
"Aku hanya pernah bertemu dengannya satu kali saat mengurus kebebasannya di club XX. Selebihnya, aku mengetahui cerita hidupnya dari Ray. Dari situ aku yakin dia kuat."
__ADS_1
Aya menoleh ke arah Ina "Apa Ina juga tahu kalau kak Za pernah bekerja di club X?"
Ina menggigit bibirnya "Maafkan Ina, bunda. Bang Lean yang cerita waktu Ina tahu bang Ray dan kak Za sudah menikah. Ina juga tahu latar belakang keluarga kak Za karena bang Ray pernah tanya ke uncle Leo.."
Aya mendesah "Apa hanya aku saja yang ketinggalan berita? Kenapa kalian menutupi dari aku.."
Ima menggenggam tangan Aya "Ray yang minta, Ay. Rencananya, dia yang akan memberitahu kalian dan Zalynda saat Za sudah siap menempati kembali tempatnya sebagai pewaris dari Wijaya Group."
Kening Aya berkerut "Apa maksudnya, Ma?"
Ima menatap sahabatnya sambil tersenyum sedih "Zalynda juga sebetulnya tidak tahu akan hal ini, Ay.."
Ima mulai menceritakan segala yang diketahui dan yang diurusnya bersama Ray. Aya mendengarkan dengan seksama. Matanya berkaca-kaca mendengar kisah hidup Zalynda. Terlihat Ina pun ikut menyusut airmata dengan ujung kerudungnya
"Kemarin Ray sempat mengirimkan foto-foto visum Zalynda saat Za di culik. Dengan bukti itu, Ray akan dengan mudah menekan Yono untuk mengembalikan apa yang sudah ia rebut dari Zalynda." Kata Ima
"Visum?" Aya menatap Ima bingung. Ima mendesah
"Saat diculik, Za mengalami penganiayaan fisik Ay. Terlihat lebam di pipi, bekas telapak tangan di dada dan bekas ikatan di pergelangan tangannya.."
"Ya Allah.." Aya dan Ina terkejut. Rasa bersalah Aya makin menjadi-jadi
"Tetapi dengan adanya kalian di sisinya, membuatnya cepat melupakan kesedihannya. Dia gadis yang kuat, dia bisa bertahan sejauh ini.." Ima kembali menatap Aya sambil tersenyum.
***
Ardhi mengangguk-angguk mendengar cerita Ray sementara Daniel hanya terdiam menyimak setiap ucapan Ray
"Rencananya abang akan memberitahu ayah dan bunda kalau semua sudah terbuka. Tetapi, manusia hanya bisa berencana.." Ray mendesah
"Lalu..saat kalian menikah. Nama siapa yang abang sebut saat akad?" Tanya Ardhi
Ray terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. Sudah sering Ray mendengar kalau Allah adalah pembuat rencana terbaik, dan hari ini Ray membuktikannya. Allah sudah mempersiapkan jalan dan takdir terbaik untuk semuanya
"Zalynda binti Farah Afriyani Wijaya.."
Ardhi tersenyum sambil mengucap Hamdalah, sementara Daniel menatap Ardhi
"Nanti akan kujelasan." Kata Ardhi saat menyadari pandangan Daniel
Pembicaraan mereka terhenti saat dua orang dokter datang menghampiri
__ADS_1
"Bapak Rayhan, kami hendak menyampaikan sesuatu terkait kondisi ibu Zalynda Navulia.."