CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 117


__ADS_3

Zalynda meremas kedua tangannya saat mobil Ray melaju membelah jalanan ibukota menuju kediaman keluarga Al Farobi


"Kenapa tiba-tiba ayah sama bunda minta kita datang ya Ray?" Tanya Zalynda menatap Ray yang fokus melihat jalanan. Ray melirik sekilas ke arah Zalynda sambil tersenyum


"Kangen mungkin Za. Jangan berfikir terlalu jauh ya."


Ray tidak mungkin mengatakan hal sebenarnya. Seharian ini Alin benar-benar mengganggunya sedari pagi untuk minta bertemu sampai gadis itu datang menemui Ray ke kantor


Untung saja ada Marvin yang sigap menghalangi Alin setelah mengetahui duduk permasalahannya


Alin memang tidak menyerah. Gadis itu malah mendatangi rumah keluarga Al Farobi dan membeberkan peristiwa di Semarang. Karena itulah Ardhi menyuruh Ray dan Zalynda segera datang sore ini ke rumah


Sejujurnya Ray sedikit panik karena nada suara Ardhi datar seolah tidak ada apa-apa saat menyuruhnya datang. Biasanya Ardhi tidak mentolerir perbuatan yang melanggar batas syari'at agama bahkan ke anak-anaknya sekalipun. Hal ini membuat Ray sedikit waspada


"Kamu kenapa Za?" Tanya Ray saat melihat Zalynda meringis sambil memegangi perutnya


"Perutku agak sakit, mungkin karena tegang tiba-tiba dipanggil ayah sama bunda ke rumah."


Ray terkekeh mendengar ucapan Zalynda "Masa gitu aja tegang, Za. Nggak akan ada apa-apa. Mereka cuma pengen ketemu, ngobrol sama kita."


Ray berusaha meyakinkan Zalynda, lebih tepatnya berusaha meyakinkan dirinya kalau semua akan baik-baik saja


"Entahlah.. Tiba-tiba aku teringat peristiwa saat syukuran koleksi caturwulan bunda.." Ujar Zalynda pelan


Ray terdiam. Peristiwa itu memang sangat membekas di hatinya, apalagi di hati Zalynda. Ray meraih tangan Zalynda dan mengecupnya pelan


"Aku akan mejagamu baik-baik kali ini Za.." Bathin Ray


Mobil Ray sudah memasuki pekarangan rumah keluarga Al Farobi. Suasana terlihat tenang. Ray segera memarkir mobilnya dan turun untuk membukakan pintu Zalynda


"Tanganmu dingin banget Za." Kata Ray sambil menggenggam jemari Zalynda, mencoba mencairkan suasana


Zalynda menanggapi Ray dengan tersenyum kecil. Keduanya melangkah beriringan masuk ke dalam rumah


"Assalamu'alaykum.." Ray memberi salam saat masuk ke rumah.


"Wa'alaykumussalam warohmatullohi wabarokaatuh.."


Terlihat Ardhi dan Aya sudah duduk di ruang tamu bersama Farah dan Daniel dan satu orang tamu yang duduk membelakangi Ray. Ray sudah tahu itu adalah Alin.


"Mama, Papa.." desis Zalynda pelan saat melihat kedua orangtuanya ikut duduk di ruang tamu. Genggaman Zalynda di tangan Ray menguat


"Sst..nggak ada apa-apa. Ayo." Bisik Ray sambil menggandeng tangan Zalynda menuju ruang tamu.

__ADS_1


Ray kemudian menyalimi satu persatu orang tua dan mertuanya. Begitupula dengan Zalynda


Sejenak tatapan Zalynda dan Alin bertemu. Zalynda merasakan tatapan meremehkan dari Alin


"Duduk sini Za. Kamu udah makan?" Tanya Aya lembut


Zalynda mengangguk "Sudah bunda.."


"Ada apa Ayah memanggil abang dan Za kesini?" Tanya Ray yang ikut duduk di sebelah Zalynda. Pertanyaan Ray sebenarnya adalah pertanyaan basa-basi karena Ray tahu alasan Ardhi memanggilnya


Ardhi menghela nafas sambil menatap ke arah Ray


"Bang, gadis ini datang ke ayah dan bunda mengatakan sesuatu hal yang mengganggu pikiran ayah dan bunda. Marlina, benar?" Ardhi menoleh menatap Alin


Alin mengangguk "Panggil saya Alin, pak."


"Ok. Sebelumnya sengaja ayah memanggil Daniel ke sini untuk meminta pertimbangannya." Ardhi menoleh menatap Daniel, dijawab dengan anggukan kepala dari Daniel


Ray memicingkan mata melihat reaksi Ardhi yang seolah santai dan terlalu bertele-tele. Teringat dulu saat Ardhi memergoki Zalynda di apartemen Ray, pria itu langsung murka dan memukulnya. Tapi sekarang?


"Nah, coba kau ulangi apa yang tadi kau sampaikan pada kami Nona Alin?" Tanya Ardhi


"Saya dan Ray sudah tidur bersama, pak. Saya pun sempat memotret kebersamaan kami agar saya punya bukti yang mendukung pernyataan saya." Jawab Alin. Tanpa malu gadis itu memperlihatkan foto-fotonya saat bersama Ray di atas meja


Alin tersenyum kecil "Apa aku harus membuka bajuku untuk memperlihatkan hasil karyamu, Ray?"


Ray menggeram. Zalynda mengusap lengan Ray untuk menenangkannya


Farah seperti melihat dirinya dulu pada Alin saat dirinya masih terobsesi mengejar-ngejar Ardhi


"Ya Allah, apa ini balasan untukku karena dosa di masa lalu.." bisik Farah dalam hatinya sambil memandangi wajah Zalynda yang terlihat berusaha menenangkan Ray


"Apa maumu, nona?" Tanya Ardhi


"Gampang pak, aku hanya ingin Ray bertanggungjawab dengan menikahiku." Kata Alin sambil melihat ke arah Ray


"Gue nggak salah, nggak perlu bertanggung jawab. Dan gue juga udah nikah!" Kata Ray cepat


Alin tertawa "Ck, jangan munafik Ray. Banyak pria diluaran menginginkan istri lebih dari satu."


"Itu bisa di atur.." jawab Ardhi membuat Ray dan Zalynda sontak menoleh ke arah Ardhi. Hati Zalynda berdenyut sakit mendengar ucapan Ardhi sementara Alin tersenyum penuh kemenangan


"Ayah! Apa-apaan ini? Abang nggak bersalah, kenapa harus tanggung jawab?" Suara Ray sedikit meninggi.

__ADS_1


Ardhi mengangkat tangannya "Ayah belum selesai bicara, bang."


Lalu pandangan Ardhi beralih ke Alin


"Itu bisa di atur..Kalau memang betul terjadi. Tetapi maaf, nona. Hal itu tidak akan pernah terjadi."


Mata Alin menyipit mendengar ucapan Ardhi "Apa anda sedang membuat anak anda lari dari tanggung jawab pak?"


"Saya tidak pernah mengajarkan anak-anak saya lari dari masalah dan tanggung jawab. Tetapi sebagai seorang ayah, saya pun tidak akan tinggal diam kalau anak-anak saya terusik." Ardhi menatap tajam ke arah Alin membuat hati Alin sedikit ciut


Aya segera memperlihatkan foto-foto hasil jepretan Beno. Foto saat Alin yang memberikan sesuatu ke minuman Ray dan Agus, saat Alin dan temannya mencoba mengangkat Ray dan memasuki mobil


Wajah Alin pucat melihat foto di depannya. "Ini rekayasa!"


Ray dan Zalynda juga melihat foto yang diberikan Aya.


"Bunda, ini.." tanya Ray


"Kamu inget waktu kita nyicipin kue di bu Edah Za?" Tanya Aya sambil mengambil satu foto dimana Alin sedang memberikan sesuatu ke minuman Ray


Zalynda mengangguk


"Bundamu dan Mama merasa ada yang kamu sembunyikan. Kamu seolah ingin menceritakan sesuatu. Saat mendengar Ray pergi ke Semarang, Mama melihat wajahmu pucat. " Kata Farah


"Jadi Mamamu dan Bunda sepakat menggali sedikit informasi dan meminta om Beno untuk pergi mengawasi Ray di Semarang." Kata Aya tersenyum sambil bertukar pandangan dengan Farah


Ardhi dan Daniel sedikit kagum dengan hasil kerja para istri mereka. Terakhir yang Ardhi ingat dulu saat Aya dan Farah bekerjasama diakhiri dengan perkelahian. Tetapi sepertinya kedua wanita ini sudah jauh lebih kompak


"Tidak! Foto ini rekayasa, pak. Saya bisa menunjukkan kissmark Ray di tubuh saya. Tidak mungkin saya menandai diri saya sendiri bukan?" Kata Alin yang masih berusaha mempengaruhi Ardhi


Daniel mengeluarkan laptopnya dan memutar sebuah rekaman


"Kalau foto itu kau bilang rekayasa, rekaman CCTV ini adalah nyata." Kata Daniel


Mata Alin terbelalak melihat rekaman CCTV yang diperoleh Daniel. Semua dramanya hancur seketika saat Daniel memutar rekaman itu. Alin salah langkah. Datang ke kediaman Al Farobi sama dengan menggali kuburannya sendiri


Suasana sudah berubah tidak kondusif untuk Alin. Saatnya pergi! Alin bergegas menyambar tasnya dan segera berdiri


"Yudi! Beno! Jangan biarkan dia pergi." Kata Ardhi keras


Alin terperanjat melihat dua pria menghadang jalan di depannya. Alin membalikkan badan dengan gusar menatap semua orang di ruangan


"Kau tidak boleh pergi dulu, nona Marlina." Kata Ardhi sembari berdiri dari duduknya

__ADS_1


"Tidak sebelum kau katakan, dimana Nyonya Mariono dam Diva kau sembunyikan."


__ADS_2