
"Bu Edah?" Gumam Zalynda
"Kenapa Za?" Tanya Ray melihat Zalynda terdiam.
Zalynda menoleh ke arah Ray "Itu, aku tadi lihat bu Edah di.."
Saat Zalynda menoleh, bu Edah sudah tidak terlihat. Gadis itu celingukan mencari. Ray segera berjalan mendekati Zalynda
"Cari siapa?" Ray juga refleks ikut menebar pandangan ke sekeliling
"Ng, tadi kayaknya aku lihat bu Edah sama seseorang. Tapi, kok nggak ada.." Mata Zalynda masih sibuk mencari-cari
Ray membelai kepala Zalynda dengan lembut "Salah lihat mungkin. Kamu kecapean ya therapy sampai malam?"
Zalynda menggeleng, matanya masih sibuk mencari-cari "Nggak, belum terlalu malam juga kok."
"Atau kangen mungkin sama bu Edah. Kita bisa mampir ke toko kuenya besok kalau kamu mau." Tanya Ray lagi
Zalynda mendongak sambil menatap Ray "Aku sendiri aja. Kamu nggak usah anter jemput aku Ray, bikin kamu repot bolak-balik jadinya. Nanti dimarahin ayah lho telat terus setelah istirahat siang."
"Aku kan tugasnya memang ke lapangan, Za. Lagipula laporan ke ayah udah aku bikin draftnya ke Marvin. Biar dia yang bikin." Kata Ray sambil terkekeh
Mata Zalynda membola, gadis itu memukul pelan lengan Ray "Ya Allah, dia kan pengantin baru Ray. Udah kamu suruh kerja aja. Emang cutinya udah habis?"
Mata Ray melihat ke arah lengan yang di pukul Zalynda "Kamu kok belain Marvin sih?"
"Bukan gitu, dia kan baru nikah. Masa' nggak honeymoon dulu sama Ghea." Kata Zalynda sambil mengusap lengan Ray
Ray memutar bola matanya. Pemuda itu tidak menjawab Zalynda. Segera Ray membukakan pintu mobil untuk Zalynda, setelah itu Ray segera memutar untuk duduk di kursi pengemudi.
"Za.." Panggil Ray saat Zalynda hendak mengambil safety belt nya. Gadis itu menoleh
"Iy.." Zalynda terkejut Ray menciumnya dengan tiba-tiba. Zalynda teringat, walaupun di dalam mobil tetaplah mereka berada di area publik. Gadis itu berusaha mendorong tubuh Ray
"Kenapa belain pria lain, hm?" Bisik Ray sambil mengelap bibir Zalynda yang basah dengan jempolnya
"Nggh..Ray, ini di parkiran.." bisik Zalynda berat saat merasakan tangan Ray masuk kedalam roknya. Wajah Zalynda memerah saat jemari Ray mulai menjelajahi area pribadi nya. Refleks tangan Zalynda memegang lengan Ray
Ray menarik ujung bibirnya sambil melanjutkan serangannya menciumi Zalynda. Dari tadi sebetulnya Ray ingin mel***t bibir ranum Zalynda. Untung ini Ray dan bukan Lean yang selalu tidak tahu tempat ketika hendak bermesraan
"Biarin. Kamu bilang Marvin tadi pengantin baru yang harus istirahat di rumah kan? Honeymoon? Trus aku apa?" Bisik Ray serak di sela-sela l*****n nya di bibir Zalynda. Pemuda menurunkan ciumannya ke dagu dan leher Zalynda sembari memberikan tanda di sana
"Engh..jangan di merahin." Rintih Zalynda protes. Namun seketika Ray kembali membungkam bibir Zalynda dengan bibirnya
__ADS_1
"Jangan di tutup tandanya. Kamu bikin aku jengkel. Masa' kasihan ke Marvin, tapi ke aku nggak?" Kata Ray sambil terus menyerang Zalynda diatas dan di bawah
"Iya, maaf..nggh.. s-sudahh.." kata Zalynda menyerah. Ray tetap melanjutkan aksinya. Wajah Zalynda sudah memerah, pegangan tangan Zalynda di lengan Ray berubah menjadi cengkraman
Ray menghentikan aksinya saat merasakan cengkraman Zalynda pada lengannya menguat
"Sudah?" Goda Ray
Pemuda itu tersenyum lebar melihat Zalynda terengah-engah sambil menatap Ray kecewa. Bibir Zalynda terlihat sedikit membengkak akibat ulahnya.
Cengkraman Zalynda perlahan mengendur seiring dengan Ray menarik tangannya keluar dari rok Zalynda. Segera Ray mengambil tisu basah dan membersihkan jemarinya. Pemuda itu menatap Zalynda dengan wajah tanpa dosa
"Lanjutin di apartemen ya." Bisik Ray sambil mencuri kecupan panjang di bibir Zalynda. Segera pemuda itu melajukan mobilnya.
Ray sempat melirik ke arah Zalynda. Terlihat Zalynda menggigit bibir bawahnya menahan pusing di kepalanya akibat puncak yang di gagalkan oleh Ray.
Ray terkekeh, membuat Zalynda makin jengkel
"Ray nyebelin!" Bisik gadis itu pelan
***
Suara ringtone handphone Ray berdering. Pemuda itu mengerjapkan matanya saat mendengar bunyi handphonenya. Tangannya segera menjangkau ke arah meja kecil dekat ranjang
"Wa'alaykumussalam. Elo udah tidur jam segini Ray?" Tanya sebuah suara yang sangat dikenal Ray. Ray melihat ke arah jam di atas meja. Pemuda itu mendengkus
"Ini jam 1 malam, Andre.." kata Ray setengah mengantuk. Terdengar Lean terkekeh
"Turun sini Ray. Ada Daddy di sini, baru aja sampe dari Prancis."
Mata Ray langsung terbuka. Perlahan Ray melepaskan lengannya dari kepala Zalynda. Ray segera menegakkan duduknya
"Gue siap-siap dulu sebentar ya. Ntar gue turun." Kata Ray sambil menutup teleponnya. Sesaat Ray terdiam seperti berfikir sambil mengetuk-ngetuk handphone nya di dagu. Pandangan Ray beralih ke Zalynda yang terlelap di sampingnya
Ray tersenyum melihat wajah polos Zalynda yang terlihat damai terlelap di alam mimpi. Gadis itu terlihat kelelahan setelah Ray melunasi hutangnya saat di mobil semalam, bahkan Ray memberikan tambahan ekstra yang membuat Zalynda terus mendesah manja menyebut namanya
Jemari Ray bergerak membelai pipi Zalynda yang lembut. Belaian itu turun ke leher dan area dada Zalynda dimana bertebaran tanda kepemilikan yang dibubuhkan Ray. Gadis itu menggeliat sebentar lalu kembali terlelap
"Aku sayang banget sama kamu, Za.." bisik Ray sambil mengecup lembut leher Zalynda dan menutupi tubuh polos istrinya dengan selimut hingga ke leher
Perlahan agar tidak mengusik tidur Zalynda, Ray turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah membersihkan diri dan berpakaian, Ray segera turun ke unit Lean yang berada di bawah unit nya
Mata Lean memicing melihat Ray "Elo mandi jam segini? Kena rheumatik baru tahu."
__ADS_1
Ray hanya memutar bola matanya sambil masuk ke dalam unit apartemen Lean. Wangi masakan menguar menggelitik hidung. Terlihat Ina sedang membuat sesuatu di dapur
"Kok Ina belum tidur?" Tanya Ray
"Eh bang Ray. Ina baru bangun ini, habis isya langsung tidur." Kata Ina sambil menoleh sekilas ke arah Ray lalu kembali fokus ke oven di depannya
"Maafkan uncle ya Na." Kata suara berat Leo dari ruang televisi
"Nggak apa-apa, uncle. Ayo, mumpung masih hangat. Abang, bang Ray ayo sini." Kata Ina sambil menyajikan pizza buatannya. Ketiga pria itu segera melahap masakan Ina
"Jadi.. apa yang mau kau tahu Ray?" Tanya Leo
"Kalau uncle nggak keberatan, aku mau dengar sedikit tentang Farah."
Kening Leo berkerut "Farah? Farah yang mana?"
"Farah Afriyani Wijaya."
Wajah Leo sedikit menegang seakan mengingat dosa yang pernah ia lakukan dulu.
"Darimana kau tahu nama itu?" Tanya Leo sambil menatap Ray
"Aku akan bilang setelah uncle cerita semuanya." Jawab Ray. Leo mendengkus
"Aku tidak terlalu tahu banyak tentang dirinya." Kata Leo singkat
Ray mengangkat bahunya "Ya sudah, aku akan tanyakan ke bunda.."
"Tidak! Jangan. Soraya akan lebih sakit jika engkau mengungkit tentang Farah." Cegah Leo
Kening Ray berkerut "Separah itukah, uncle? Karena cerita dari tante Ima, Farah adalah gadis yang sangat terobsesi pada ayah dan membuat bunda tidak nyaman."
Leo mendesah sambil menatap Ray, Lean dan Ina bergantian
"Apa kau tahu kalau dulu aku.."
"Iya, ayah dan bunda pernah cerita." Kata Ray
"Pernahkah Ardhi atau Soraya mengungkit tentang Farah?" Tanya Leo lagi
Ray menggeleng sambil melihat ke arah Ina. Ina juga menggeleng. Leo menghela nafasnya
"Farah..dia yang menyuruhku untuk melenyapkan Soraya…"
__ADS_1