CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 37


__ADS_3

Motor yang dikendarai Ray menepi di depan rumah bu Reema. Zalynda segera turun dari boncengan Ray


"Harusnya kamu nggak usah nganterin aku begini, Ray. Aku bisa berangkat sendiri. Kamu juga sibuk kan." Kata Zalynda sambil menyerahkan helm ke Ray


Ray menatap ke arah Zalynda. Ray tetaplah Ray yang tidak suka setiap katanya di bantah, seperti saat di kampus dulu


"Aku nggak mau kalau om kamu tiba-tiba datang nyamperin kamu Za. Kamu tanggung jawab aku."


"Om Yono kan nggak tahu aku kerja di sini, Ray." Kata Zalynda sambil memegang tangan Ray. Ray balas menggenggam tangan Zalynda dan membelai pipi gadis itu. Tatapan Ray melembut


"Kalau tiba-tiba dia tahu bagaimana? Di toko kue bu Edah aja dia tahu kok. Aku nggak mau ambil resiko."


Zalynda menghela nafas. Sejak kuliah dulu, sifat keras kepala Ray tidak menghilang. Dia akan punya seribu satu cara mempertahankan pendapatnya selama pendapatnya benar. Percuma berdebat dengan Ray. Zalynda mengangguk, Ray tersenyum lebar


"Nanti aku jemput jam 11-an. Jangan pulang sendiri ya." Kata Ray lagi. Sekali lagi Zalynda hanya mengangguk dan mencium takzim tangan Ray


"Aku harap kau benar-benar membicarakan pengunduran dirimu ke bu Reema ya Za."


Zalynda menghela nafas sambil menggeleng menatap Ray. Pemuda itu memang menginginkan Zalynda untuk berhenti bekerja di bu Reema. Beberapa kali pemuda itu membujuknya untuk berhenti dari pekerjaannya di rumah bu Reema. Mungkin Ray, sang eksekutif muda malu punya istri yang bekerja sebagai asisten rumah tangga


"Kita bicarakan nanti saja ya. Aku mau masuk dulu, bu Reema udah nungguin kayaknya." Kata Zalynda mencoba mengalihkan pembicaraan. Zalynda melambaikan tangan ke Ray sambil melangkah masuk ke rumah bu Reema


Ray menatap punggung Zalynda yang berjalan memasuki gerbang rumah bu Reema. Setelah memastikan Zalynda sudah masuk, Ray segera mengambil handphonenya dan mendial nomor seseorang


"Hallo.."


***


"Za, kamu sudah datang." Sambut bu Reema hangat. Zalynda tersenyum melihat bu Reema. Wanita paruh baya itu terlihat sangat bahagia


"Sudah bu. Za mau beres-beres kamar ibu dulu ya."


"Eeh, kamu bantuin ibu masak aja yuk buat sarapan." Kata bu Reema sambil menarik tangan Zalynda menuju dapur


Zalynda mengerutkan keningnya melihat banyaknya bahan makanan yang berada di meja dapur


"Ibu mau kedatangan tamu? Kok banyak banget." Kata Zalynda sambil melihat-lihat bahan-bahan di atas meja


"Anak ibu sudah pulang. Lagi siap-siap di kamarnya. Hari ini pertama dia kerja di kantor cabang Jakarta."


Mata Zalynda membulat, bibirnya menyunggingkan senyuman saat melihat bu Reema juga tertawa senang. Pantas bu Reema sangat terlihat bahagia


"Pak Daniel pulang? Waah, berarti ibu nggak bakal kesepian lagi dong ya."


"Mudah-mudahan. Walau nanti Daniel pulang sore atau bahkan lembur, setidaknya dia pulang ke rumah."

__ADS_1


Zalynda tersenyum. Mungkin dengan kepulangan Daniel adalah tanda dari Allah agar Zalynda menuruti Ray untuk berhenti dari pekerjaannya


"Ya udah, kita masak dulu ya." Ajak bu Reema. Zalynda mengangguk. Gadis itu dengan cekatan membantu bu Reema memasak.


Sepanjang memasak, Zalynda melihat wajah bu Reema sangat sumringah. Suasana hati boss nya sedang bagus rupanya. Zalynda juga sedikit penasaran dengan sosok anak bu Reema. Zalynda hanya pernah melihat fotonya saat muda dulu sewaktu di tunjukkan oleh bu Reema


"Hmm..wangi banget masakannya, mama." Terdengar suara bariton seorang lelaki


"Niel, mari sini duduk nak. Kamu mau minum apa?" Tanya bu Reema sambil menyambut Daniel.


Pagi ini Daniel terlihat rapi. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai manajer IT cabang perusahaan Jepang yang berada di Jakarta


"Tumben, biasanya teh hangat atau kopi sudah tersedia." Goda Daniel pada bu Reema.


Pandangan Daniel tertumbuk pada seorang gadis di dapur yang sedang mengaduk sesuatu di wajan diatas kompor. Gadis itu berdiri membelakangi Daniel


"Ma,itu siapa?" Tanya Daniel saat bu Reema menyerahkan cangir teh hangatnya. Bu Reema menoleh


"Itu yang namanya Zalynda."


Daniel tersenyum sambil menyeruput tehnya perlahan "Ooh,asisten pribadi mama. Namanya bagus juga nggak pasaran."


"Iya lah. Pinter orang tuanya kasih nama. Za, sini sebentar." Panggil bu Reema


"Ya bu.."


Zalynda segera mencuci tangan dan mengelapnya dengan celemek yang gadis itu pakai. Segera gadis itu berjalan menuju ruang makan


"Ini Zalynda, Niel."


Nafas Daniel seakan berhenti melihat sosok gadis di depannya. Gadis yang dipanggil Zalynda itu sangat mirip dengan wanita yang menempati urutan teratas di hatinya. Seorang wanita yang merebut semua impian dan cintanya. Seorang wanita yang sekarang entah dimans keberadaannya


Tanpa sadar Daniel berdiri. Matanya tak lepas menatap Zalynda. Zalynda tersenyum kaku melihat Daniel yang memandanginya seolah tanpa berkedip


Tangan Daniel terulur meraih pipi Zalynda. Zalynda terkejut dan refleks mundur. Tindakan Zalynda membuat Daniel kembali tersadar


"Ah maaf..kamu Zalynda?" Tanya Daniel mencoba mencairkan suasana


Zalynda mengangguk cepat menjawab pertanyaan Daniel. Daniel tersenyum


"Kamu.. mirip sekali dengannya." Gumam Daniel


"Mirip siapa Niel?" Tanya bu Reema


Daniel tersentak dan seolah kembali dari lamunannya. Mata Daniel mengerjap beberapa kali

__ADS_1


"Eh, tidak mama. Bukan siapa-siapa." Kata Daniel sambil kembali menatap Zalynda. Zalynda merasa jengah dipandangi sedemikian intens oleh Daniel.


"Ng, bu Reema. Za ke dapur lagi ya. Masakannya takut gosong." Kata Zalynda berkilah


Bu Reema mengangguk sambil membelai kepala Zalynda. Gadis itu dengan cepat pergi ke dapur setelah sebelumnya mengangguk hormat ke arah Daniel


"Kamu tuh Niel. Bikin takut dia aja." Tegur bu Reema saat melihat Daniel masih menatap Zalynda. Bu Reema mengajak Daniel kembali duduk di meja makan


"Dia tinggal dimana ma?" Tanya Daniel yang masih melihat ke arah dapur tempat Zalynda sedang berkutat


"Dulu dia ngekost. Tapi sekarang tinggal sama suaminya." Jawab bu Reema sambil menuangkan teh untuk dirinya sendiri


"Dia sudah menikah?" Kening Daniel berkerut


"Iya. Kamu jangan macem-macem sama dia. Za itu lebih pantes jadi anak kamu ketimbang jadi istri kamu."


Daniel terkekeh mendengar ucapan bu Reema


"My God, mama. Niel nggak mikir sampai ke sana. Niel cuma teringat seseorang saat melihat Zalynda tadi."


Daniel kembali menatap Zalynda saat gadis itu datang dan menghidangkan sarapan di meja makan


"Mirip sekali…" desis Daniel


***


Yono terheran-heran melihat Anggun sudah terlihat cantik pagi ini


"Mau kemana ma?" Tanya Yono sambil melihat Anggun yang sedang merapikan dandanannya


"Mau ketemu calon besan." Jawab Anggun singkat. Kening Yono berkerut mendengar jawaban Anggun


"Calon besan? Siapa? Kok papa nggak tahu?"


"Ah papa lebih baik urusin perusahaan om Wijaya tuh. Jangan lupa menangkan tender. Katanya papa hari ini juga mau ke TecnoTek karena ada penyambutan manajer senior baru yang dari Jepang?" Tanya Anggun sambil melihat ke arah Yono dari cermin


"Iya, mungkin kalau papa bisa mengambil hati manajer baru itu dia bisa bekerja sama dengan perusahaan kita. Kita lagi butuh suntikan dana." Kata Yono sambil menyalakan rokoknya


"Iyalah, semoga sukses ya. Mama mau gerak cepat dulu. Mau nyari sesuatu buat di bawa ke calon besan."


"Emang siapa sih calon besan yang mama maksud?" Tanya Yono lagi


Anggun mengerling sambil tersenyum manis


"Nyonya Aya, istrinya Ardhi Al Farobi."

__ADS_1


__ADS_2