CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 79


__ADS_3

"Bapak Rayhan, kami hendak menyampaikan sesuatu terkait kondisi ibu Zalynda Navulia.." kata salah satu dari dua dokter yang menghampiri


Jantung Rayhan serasa berdetak lebih cepat. Entah mengapa dirinya tidak menyukai kalimat yang diucapkan dokter itu


"Begini pak, ketika seorang ibu melahirkan normal maka akan kehilangan daeah sebanyak 500cc dan akan meningkat dua kali lipat saat operasi Caesar. Lalu cedera saat ibu Zalynda kecelakaan pun menimbulkan perdarahan di area perut sehingga pasien kehilangan darah jauh lebih banyak dibandingkan operasi caesar pada umumnya. Kemarin kami harus menjahit beberapa pembuluh darah untuk mencegah perdarahan lebih banyak.."


"Bisa bicara dengan bahasa yang kami mengerti dok?" Daniel menyela ucapan dokter itu dengan tidak sabaran.


Kedua dokter itu saling berpandangan


"Saat ini kondisi ibu Zalynda kritis. Kami khawatir pasien terkena syok hipovolemik karena banyaknya darah yang hilang. Kamipun harus menunggu satu sampai dua hari untuk memastikan sirkulasi darah pasien lancar dan organ-organ tubuhnya bekerja dengan baik sehingga kami bisa memastikan masa kritis telah terlalui. Kami akan berusaha sebaik yang kami bisa pak, selebihnya keputusan berada di tangan Tuhan.."


"Apa maksudnya?" Tanya Ray bergetar


Dokter itu memandang Ray dengan pandangan empati


"Banyak-banyaklah berdoa pada Tuhan, pak." Kata dokter berkacamata sambil berlalu di hadapan mereka


Tubuh Ray bergetar mendengar ucapan dokter. Hampir saja kakinya tidak bisa menopang berat tubuhnya karena Ray langsung merasa tidak memiliki tenaga. Danielpun langsung terduduk saat mendengar ucapan dokter.


Ardhi langsung menghampiri Ray dan berusaha menguatkan putranya


"In syaa Allah Zalynda akan baik-baik saja bang. Ingat, Allah itu sesuai persangkaan hambaNya. Husnudzon pada Allah, bang. Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.."


Ray menarik nafasnya dalam-dalam untuk menenangkan perasaannya. Kembali Ray menatap Zalynda dari balik kaca. Jemari Ray mengelus kaca itu perlahan


"In syaa Allah kau akan pulih Za. Kau akan pulih dengan keadaan terhormat. Aku akan membersihkan namamu, mengembalikan kedudukanmu..Dan menyeret orang yang telah menyebabkanmu jadi seperti ini ke penjara…" Kata Ray dalam.


Ray berbalik menatap Ardhi dan Daniel bergantian. Ray terlebih dahulu menatap ke arah Ardhi


"Abang membutuhkan sedikit bantuan dari ayah untuk melakukan konferensi pers."


Ardhi mengangguk


Ray pun ganti menatap ke arah Daniel "Saya juga memerlukan bantuan anda, pak Daniel."


Daniel mendengar apa yang diucapkan Ray. Pria itu langsung berdiri


"Apa yang bisa kubantu?"


***


Ting tong


Bi Ijah tergopoh-gopoh membuka pintu depan saat mendengar bel, sebelum Anggun berteriak hebat mengganggu ketenangan tuan Wijaya yang sedang beristirahat


"Pak Daniel, silahkan masuk." Kata bi Ijah.


"Saya ingin membawa tuan Wijaya untuk melakukan therapy di Rumah Sakit. Tolong segera siapkan tuan dan barang-barangnya." Kata Daniel

__ADS_1


Kening bi Ijah berkerut. Baru kali ini seorang rekan bisnis sangat perhatian terhadap tuannya. Namun tak urung bi Ijah menyiapkan perlengkapan tuan Wijaya


"Pak Daniel? Wah tumben nggak ngabarin." Yono tiba-tiba sudah berada di dekat Daniel.


Daniel mati-matian menyembunyikan rasa marahnya pada Yono dan berusaha tersenyum semanis mungkin


"Pak Yono, apa kabar? Ini saya akan membawa tuan Wijaya untuk therapy di rumah sakit."


"Begitu? Bukankah biasanya dokter yang datang?" Tanya Yono keheranan


"Therapy kali ini butuh peralatan besar yang tidak bisa dibawa, pak. Jadi tuan Wijaya yang harus kesana."


"Wah jadi merepotkan pak Daniel. Baiklah, saya ikut mengantar.."


"Tidak perlu pak. Saya tahu anda lelah baru pulang dari kantor. Lagipula ini memang pelayanan TecnoTek untuk klien istimewa." Kata Daniel sedikit berbohong


Yono tersenyum. Sebetulnya ia senang karena tidak perlu repot-repot mengantar tuan Wijaya dan menghabiskan uang untuk pengobatan


Bi Ijah membawa tuan Wijaya yang sudah rapi. Daniel berjongkok didekat tuan Wijaya sambil merapikan syal tuan Wijaya sembari berbisik


"Saya akan bawa anda ke tempat yang aman, pak. Percaya pada saya."


Tuan Wijaya melihat ke arah Daniel. Ada pancaran tulus di mata Daniel yang membuat tuan Wijaya teringat tatapan seorang pemuda dulu sekali, entah dimana. Tuan Wijaya berusaha mengangguk


Daniel segera mendorong kursi roda tuan Wijaya dan berpamitan pada Yono


Sepeninggalan tuan Wijaya, Yono menatap ke semua ruangan sambil tersenyum lebar. Pria itu menghempaskan dirinya ke sofa


Ting tong


Terdengar suara bel. Bi Ijah segera membuka pintu. Keningnya berkerut melihat dua orang berseragam polisi dan satu orang berpakaian biasa dengan jaket kulit hitam di depan pintu


"C-cari siapa?" Tanya bi Ijah gugup


"Kami mencar saudara Mariono Sutedjo." Jawab seorang polisi


Yono yang mendengar namanya disebut langsung berjalan ke ruang tamu. Wajahnya pun terlihat bingung melihat dua orang polisi itu


"Ada apa bapak-bapak mencari saya?"


Seorang polisi berpakaian preman itu mengeluarkan sebuah surat penangkapan dari saku bajunya


"Saudara Mariono Sutedjo, anda ditahan atas tuduhan penculikan, penyekapan dan pelecehan terhadap saudari Zalynda Navulia."


Mata Yono terbelalak. Bukankah gadis itu tertabrak semalam? Bathin Yono


"Saya di fitnah!" Ucap Yono keras


"Anda bisa jelaskan di kantor. Silahkan menghubungi pengacara anda." Jelas polisi yang berpakaian preman

__ADS_1


Kaki Yono serasa lemas. Dirinya sedikit memberontak saat polisi memborgol tangannya dan membawanya ke mobil polisi


"Awas kau Zalynda.." Bathin Yono


***


Musik berdentum keras saat pintu ruangan Alvin terbuka. Boss gemulai itu nampak terkejut melihat Ray dan Lean


"Sial.." Bathin Alvin. Terakhir kali mereka bertemu, Ray hampir mematahkan tangannya


"Mau apa lagi kalian?!" Tanya Alvin gusar


"Chill, boss. Kami datang ingin meminta bantuan." Kata Lean sambil duduk di depan Alvin


"Tentang apa?!" Tanya Alvin


"Tentang gadis yang kubeli di club ini dua bulan lalu." Jawab Ray


Alvin mendecih sebal "Aku sudah mengatakan semua dan sudah kau rekam bukan?"


"Itu hanya cukup meyakinkan keluargaku. Aku ingin mengadakan konferensi pers dan aku ingin kau berbicara tentang kebenaran." Kata Ray lagi


"Kebenaran apa?"


Ray mendekati Alvin "Seperti siapa yang menjual gadis itu, alasan gadis itu dijual."


Alvin terkekeh "Dengar sayang, penjual itu tidak akan pernah membongkar identitas suppliernya."


"Sebaiknya kau menurutiku, jangan sampai adik iparku turun tangan." Kata Ray sambil melirik Lean yang tersenyum sambil menaikkan alisnya


Wajah Alvin mendekati wajah Ray sambil menatap dengan genit "Aku sangat senang dikeroyok pemuda-pemuda ganteng. Lagipula.."


Alvin menjentikkan jemarinya dengan wajah angkuh. Beberapa saat kemudian, barulah Alvin menyadari ada yang tidak beres. Tatapan Alvin langsung berubah menjadi tatapan ketakutan


Lean tertawa terbahak-bahak "Kau pikir dengan menjentikkan jari para bodyguard mu akan datang?"


Lean berdiri sambil memandang Alvin dengan seringai khasnya dan suara dalamnya "Mereka semua sudah dilumpuhkan hanya dengan satu orang."


Lean menekan handphonenya untuk menghubungi seseorang


"Kau tahu boss, memanggil orang dengan menjentikkan jari itu kuno. Begini cara modernnya"


Tidak berapa lama, Felix pun masuk ke dalam kantor Alvin. Tatapan Felix yang sedingin es membuat Alvin sedikit gemetar


"Paman kecil, dia tidak mau menurut. Mungkin sebaiknya kau ajak main sebentar agar suasana hatinya senang." Kata Lean


Felix mengangguk lalu menghampiri Alvin yang terlihat pucat. Felix memiringkan bibirnya sambil menatap tangan Alvin


"Jari mana yang kau pilih untuk di potong terlebih dahulu?"

__ADS_1


Jantung Alvin serasa melorot dari tempatnya


__ADS_2