
Hari Sabtu, hari yang dinantikan sebagian orang karena di hari ini mereka di liburkan dari berbagai pekerjaan dan tidak berjibaku dengan kemacetan jalan raya. Hari Sabtu dan Minggu, hari yang ditunggu-tunggu
Daniel melongokkan kepala ke dapur. Terlihat bi Mimin dan mbak Darsih sedang memasak.
"Dimana anak itu?" Bathin Daniel
Daniel mengedarkan pandangannya lalu berjalan ke teras depan. Tampak bu Reema sedang membaca koran sambil menyeruput teh manisnya
"Pagi ma. Tumben sendirian, mana Zalynda?" Tanya Daniel sambil mencium pipi bu Reema. Pria itu lalu duduk di kursi rotan sebelah bu Reema
"Zalynda ijin sabtu ini nggak masuk. Ada pemotretan katanya." Kata bu Reema
"Pemotretan? Dia model?" Tanya Daniel sedikit terkejut. Sependek pengetahuannya, Zalynda terlihat seperti orang pemalu.
"Dia di minta jadi model untuk koleksi butik Tsurayya." Kata bu Reema sambil melirik ke arah Daniel. Benar dugaannya, raut wajah Daniel terlihat berubah. Bu Reema menggenggam tangan Daniel.
"Niel.. sudahlah. Jangan terus mengingat masa lalu."
Daniel menghela nafas panjang. Ditatapnya bu Reema sambil tersenyum
"Ya mama." Ucap Daniel.
Daniel hanya berkata saja, sementara hatinya masih menyimpan kekesalan pada keluarga Ardhi. Daniel hanya berharap dirinya dan keluarganya tidak berurusan lagi dengan keluarga Al Farobi
"Zalynda terlalu keras bekerja sepertinya. Apa suaminya tidak bisa memenuhi kebutuhannya?" Tanya Daniel berusaha mengalihkan pembicaraan
Bu Reema terlihat berfikir sejenak "Sepertinya nggak sih, suaminya banyak duit kok. Kemarin aja Ehan minta Za berhenti. Tapi Za aja yang nggak betah diam di rumah, jadi dia masih disini. Nemenin mama lah sambil nunggu Ehan pulang kantor."
"Kok mama tahu Ehan banyak uangnya? Trus kerja apa dia?"
Bu Reema menatap Daniel sambil tertawa "Kamu ini kok jadi kayak bapaknya Zalynda yang kepo sama menantunya?"
Daniel terdiam sejenak sambil membathin "Benarkah? Wah kayaknya aku sudah termakan virusnya mama yang bilang aku dan Za kayak bapak dan anak."
Bu Reema menghembuskan nafasnya sambil memandang ke arah taman depan
"Kamu tahu nggak Niel, Za itu sudah mama anggap seperti cucu mama sendiri. Mama nggak kesepian kalau ada Za. Nyambung aja kalau bicara, padahal mama jarang nyambung sama teman-teman apalagi sama yang sudah beda jaman." Bu Reema terkekeh pelan
Bu Reema lalu menoleh menatap Daniel sambil tersenyum
"Andai itu benar ya Niel.."
__ADS_1
Daniel tersenyum kaku. Di dalam hatinya ia juga berdoa semoga benar dugaannya kalau Zalynda adalah putrinya. Daniel harus secepatnya melakukan tes DNA
"Si Ehan Ehan itu kerjanya apa ma?" Tanya Daniel kembali mengalihkan pembicaraan
"Apa ya.. Sepertinya Ehan itu kayak orang kantoran. Dia kalau ketemu mama logat Sunda nya kental banget. Tapi tahu nggak.." bu Reema memperbaiki duduknya menghadap ke arah Daniel seperti hendak menggosip
"Pernah dulu mama ajak ngobrol tentang bagi hasil kalau mama mau ikut join modalin toko kue Z, Ehan ngomongnya kayak ngerti banget bisnis dan tertata sekali kalimatnya."
Kening Daniel berkerut "Ehan..kata Za nama asli Ehan itu Rayhan kan ma?"
"Iya. Tapi apalah arti sebuah nama." Kata bu Reema. Wanita itu kembali menekuni korannya
Sementara Daniel terlihat berfikir. Nama Rayhan memang banyak, dan Daniel sangat berharap Ehan yang sering diceritakan bu Reema bukanlah Rayhan, putra Ardhi.
Daniel tertawa kecil
"Tidak mungkin. Putra Ardhi terlihat gagah dan necis kemarin saat kami bertemu, sedangkan kata mama Ehannya Za cupu." Bathin Daniel berusaha menenangkan hatinya
***
Zalynda memarkir motornya di parkiran butik Tsurayya. Segera gadis itu mengetikkan sebuah pesan pada Ray
"Aku sudah sampai di butik."
"Ok cantik, aku dzuhur dulu ya. Nanti langsung ke sana."
Zalynda tersenyum. Segera gadis itu menutup handphone nya dan berjalan memasuki butik. Dari jauh sayup-sayup terdengar suara adzan. Zalynda segera pergi ke mushola butik untuk menunaikan kewajiban lima waktunya
Segala doa baik Zalynda panjatkan pada Allah Rabbul 'izzati. Tak lupa Zalynda menyelipkan syukur karena dua minggu belakangan ini hari-harinya jauh lebih bahagia. Walau beberapa kali sempat diwarnai air mata, namun Zalynda merasa kebahagiaan yang datang lebih banyak daripada kesedihan yang menimpa
Bukankah dengan bersyukur walau itu hanyalah hal kecil maka Allah akan menambahkan nikmatNya? Itu yang selalu Zalynda yakini
Setelah selesai, Zalynda segera menuju ke lantai atas tempat studio foto. Beberapa karyawan butik melewatinya sambil menyapa, Zalynda membalas sapaan mereka dengan sopan. Sesampainya di atas, set foto sudah di tata rapi. Belum ada seorang pun disana
"Hai, Za. Sudah duluan disini." Terdengar sebuah suara bariton seseorang
Zalynda menoleh melihat Sagara sudah berada di belakangnya. Pria itu tersenyum manis menampilkan deretan giginya yang terawat
"Iya, sepertinya aku kecepatan datangnya. Kata Zalynda sambil duduk di kursi. Sagara menarik sebuah kursi dan duduk di samping Zalynda. Sagara melihat jam yang melingkar di tangan kanannya
"Emang kecepatan kayaknya ya."
__ADS_1
Zalynda tertawa kecil. Sagara tersenyum melihat tawa Zalynda yang terlihat cukup manis dan menawan hati
"Ini pemotretan ke dua, aku harap aku bisa berpasangan dengan dirimu dalam satu frame." Kata Sagara sambil menatap Zalynda
Zalynda menggeleng sambil tertawa "Jangan, nanti aku merusak fotomu. Aku nggak bisa luwes seperti Diva."
"Hm, buktinya kemarin kau bisa saat foto bareng dengan Rayhan. Terlihat lepas dan bahagia." Kata Sagara sembari menarik ujung bibirnya
Zalynda tertawa kecil sambil memandang ke arah set foto. Sagara memperhatikan gadis di sebelahnya. Kulit yang mulus tanpa makeup berlebih, alis yang berderet rapi, bulu mata lentik, hidung yang terpahat sempurna menurut Sagara
"Kamu cantik.." bisik Sagara
"Maaf?" Tanya Zalynda sambil menoleh ke arah Sagara
"Nggak, aku nggak bilang apa-apa." Ucap Sagara sambil mengambil minuman kaleng di sebelahnya yang memang di sediakan khusus
Entah memang Sagara yang tidak bisa membukanya atau ini adalah hari naas Sagara, kait minuman kaleng itu justru melukai telunjuk Sagara saat berusaha membuka minuman kaleng tersebut
"Aaw s**t!" Desis Sagara
Terlihat darah mengalir dari telunjuk Sagara. Sepertinya lukanya cukup dalam. Zalynda yang melihat refleks mengambil sapu tangannya di tas dan melipat menjadi bentuk panjang
Zalynda segera menarik tangan Sagara dan menekan saputangannya ke telunjuk Sagara. Sedetik Sagara terbengong-bengong melihat aksi gadis itu. Senyuman terbit di bibirnya
"Setidaknya ini bisa menahan darah agar tidak mengalir. Jangan lupa segera di bersihkan." Kata Zalynda yang tengah fokus membalut luka Sagara dengan sapu tangannya
Sagara memperhatikan Zalynda dari jarak dekat. Tampak Zalynda sangat serius membalutkan saputangannya di telunjuk Sagara yang terluka sehingga tidak menyadari tatapan Sagara yang seolah hendak menelan dirinya.
Zalynda terlihat amat manis dan menggoda di mata Sagara. Makin lama pemuda itu makin mendekati Zalynda yang tengah menunduk
"Nah, sudah. Maaf kalau.." Zalynda mendongak dan menyadari kalau jarak dirinya dan Sagara cukup dekat. Pria itu menatap Zalynda dalam
Zalynda refleks memundurkan kepalanya, namun Sagara dengan cepat menahan kepala belakang Zalynda dengan tangannya yang bebas sementara bibirnya menyerang bibir Zalynda dengan lembut
Zalynda terbelalak. Zalynda segera mendorong tubuh Sagara sehingga bibirnya terlepas dari bibir Sagara. Tangan Zalynda segera terayun menampar pipi Sagara
PLAAK
Wajah Sagara tertoleh ke samping. Pria itu merasakan panas menjalar di pipinya.
"Jangan kurang ajar ya!" Kata Zalynda tajam. Terdengar suara gadis itu sedikit bergetar
__ADS_1
Zalynda segera berlari pergi dari studio foto, meninggalkan Sagara yang mengusap-usap pipinya. Baru kali ini seorang wanita menolak dicium bahkan menamparnya
"Menarik.." bisik Sagara sambil tersenyum