
Daniel mengendarai mobil seperti orang kesetanan. Sesekali pria itu meneriaki para pengendara lain yang mencoba menyalip mobilnya. Beberapa kali pula Daniel mengklakson karena pengemudi di depannya lambat menjalankan mobil saat lampu hijau. Daniel sedikit menyesal karena terlambat membuka pesan Ray. Daniel membukanya saat ia sudah tiba di TecnoTek padahal Ray mengirim pesan itu sejak sebelum shubuh
Daniel memarkir mobilnya dengan tergesa di tempat parkir rumah sakit dan segera berlari ke ruang perawatan Zalynda. Tiba-tiba Daniel berhenti, kemudian berbalik arah menuju ICU
Nafas Daniel tersengal saat tiba di ICU. Daniel mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tubuhnya membeku melihat beberapa dokter mengerumuni seorang pasien di dalam ruangan ICU. Perasaan buruk sudah menyelimuti hati Daniel. Daniel berjalan mendekati kaca pembatas ruangan ICU
Terlihat salah seorang dokter menunduk lalu melihat ke arah jam. Lalu seorang rekannya menarik selimut menutupi seluruh tubuh pasien itu
"Tidak..tidak.." Desis Daniel panik.
Para dokter itu keluar meninggalkan beberapa perawat untuk mengurus pasien tadi
"Dokter..apa itu.." Suara Daniel bergetar
"Anda keluarga pasien?" Tanya seorang dokter. Daniel mengangguk
"Maafkan kami pak, kami sudah berusaha semampu kami namun Tuhan berkehendak lain. Pasien meninggal dalam keadaan damai dan sudah tidak merasakan sakit lagi."
Kalimat itu laksana palu godam yang memukul hancur hati Daniel. Pria itu tidak bisa menopang berat tubuhnya dan langsung terduduk di kursi dengan tatapan kosong
"Anda bisa melihatnya setelah para perawat membersihkannya." Kata Dokter itu lagi. Daniel seolah tidak mendengar perkataan dokter, pandangan pria itu kosong
Dokter itu menepuk bahu Daniel lalu meninggalkan Daniel yang masih termangu setelah sebelumnya berbicara dengan perawat. Tampak airmata mengalir di pipi Daniel. Pria itu menunduk sambil memegang kepalanya
"Maaf.. Maafkan Papa nak. Papa tidak bisa menjagamu." Bisik Daniel parau. Danielpun tidak dapat menahan isakannya lebih lama
Seorang perawat mendekati Daniel.
"Bapak.."
Daniel tidak begitu mendengar apa yang perawat itu sampaikan. Ia hanya pasrah saat perawat itu menuntunnya masuk
Tangis Daniel pecah saat melihat tubuh yang tertutup terbujur kaku dihadapannya. Perlahan Daniel duduk, jemarinya bergetar saat hendak meraih selimut yang menutupi tubuh itu
"Maafkan Papa nak.. Maafkan papa." Kata Daniel sambil perlahan menyibak selimut yang menutupi wajah. Daniel ingin melihat wajah Zalynda untuk yang terakhir kali
***
__ADS_1
Ardhi berusaha mati-matian menahan tawanya karena saat ini mereka sedang berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang rawat Zalynda. Sementara Daniel berada di hadapannya sambil menahan kesal
"Bisa diam nggak anda?!" Kata Daniel. Kalimat Daniel justru membuat tawa Ardhi pecah, namun Ardhi segera menguasai dirinya untuk tidak tertawa terbahak-bahak
"Maaf Daniel. Tetapi aku tidak bisa membayangkan wajahmu saat melihat jenazah itu di ICU."
Daniel mendengkus sebal. Sejujurnya iapun terkejut saat di ICU
FLASHBACK ON
"Maafkan Papa nak.. Maafkan papa." Kata Daniel sambil perlahan menyibak selimut yang menutupi. Airmata menggenangi dan menutupi pandangan Daniel
Segera Daniel menyeka air matanya untuk memperjelas penglihatannya. Tangis Daniel perlahan mereda tergantikan dengan wajah yang berkerut keheranan melihat sosok didepannya
"Suster..Ini siapa?" Tanya Daniel sambil menatap suster yang berada di sampingnya
Suster pun menatap Daniel dengan pandangan bingung "Anda tidak mengenali orangtua anda sendiri?"
"Hah?"
Daniel segera berdiri untuk memberikan tempat duduk pada wanita yang menangis tersedu-sedu melihat jenazah yang terbujur kaku di depannya
Perlahan Daniel mengusap wajahnya untuk menenangkan hatinya.
"Ng..dimana pasien atas nama Zalynda?" Tanya Daniel seperti orang bingung
Pandangan Daniel bersirobak dengan pandangan suster yang menatapnya penuh tanya. Seketika Daniel tersadar dirinya salah. Wajah Danielpun sedikit panas
"M-Maaf, sepertinya saya salah.."
Daniel buru-buru pergi dari ruangan ICU. Setengah berlari pria itu keluar dan hampir menabrak Ardhi yang kebetulan juga melintas di depan ICU. Ardhi menatap Daniel heran
"Daniel? Ngapain di sini? Kenapa wajahmu?"
FLASHBACK END
Mau tidak mau Daniel menceritakan hal yang terjadi di ruangan ICU karena perawat ICU mengejar Daniel untuk menandatangani berkas pemindahan jenazah. Suster itu mengira Daniel adalah salah satu keluarga dari pasien yang baru saja meninggal dunia tadi
__ADS_1
Ardhi pun membantu menjelaskan kepada perawat itu sehingga kesalahpahaman bisa segera teratasi. Sebagai gantinya Daniel mesti rela di tertawakan Ardhi di sepanjang jalan menuju kamar perawatan Zalynda
Mereka sampai di kamar rawat Zalynda. Saat Daniel membuka pintu tampak Ray sedang duduk di samping Zalynda sambil menggenggam erat tangan gadis itu
"Bagaimana dia?" Tanya Ardhi pelan sambil mendekati Ray
"Kata dokter semua baik-baik saja setelah beberapa rangkaian tes dari dini hari tadi. Pagi tadi adalah respon refleks yang umum terjadi. Hanya tinggal menunggu Zalynda membuka matanya, ayah." Kata Ray
Daniel menghembuskan nafas lega lalu menatap ke arah Ardhi yang terlihat biasa saja
"Kau, kenapa tadi kau tidak panik seperti aku? Apa karena Zalynda bukan anakmu hingga kau setenang itu?" Tanya Daniel sambil memicingkan matanya
Ardhi menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil
"Sebelum kesini, aku lebih dulu menelepon dokter Adrian untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat. Karena itu aku sudah tahu kondisi Zalynda. Kalau aku tidak peduli, aku tidak akan ada di sini Daniel." Kata Ardhi lalu menatap ke arah Daniel. Daniel hanya mendecih
"Seseorang lelaki harus mendahulukan akalnya. Jangan sampai panik terus nyasar ke ICU.." kata Ardhi lagi sambil menahan tawanya. Daniel hanya memutar bola matanya sambil menggeleng menanggapi perkataan Ardhi
Kening Ray berkerut "ICU? Siapa yang nyasar ke sana?"
***
Udara begitu sejuk malam itu. Deru angin yang menerbangkan dedaunan dan ranting pohon memberikan simfoni alam yang sangat indah dan syahdu. Sangat sesuai untuk bermunajat pada Rabb Semesta Alam
Atas kehendak-Nya dan kasih sayang-Nya lah yang akhirnya memutuskan membuka dua kelompok mata Zalynda perlahan
Mata Zalynda mengerjap perlahan menyesuaikan dengan cahaya yang berlomba memasuki matanya. Beberapa kedipan pelan dilakukan gadis itu untuk menghalau bayang-bayang yang mengaburkan sehingga semuanya terlihat lebih jelas
Zalynda menarik nafasnya dalam-dalam beberapa kali sambil memindai tempat yang saat ini ia tempati. Bau rumah sakit terasa menusuk hidungnya. Zalynda sangat yakin dirinya di rumah sakit
Zalynda perlahan melihat alat-alat yang masih terpasang di tubuhnya. Dari situ Zalynda mengetahui kalau dirinya kemarin tidak baik-baik saja
Kembali Zalynda mengedarkan pandangannya dan berhenti di sosok seorang pemuda yang tengah menengadahkan kedua tangannya meminta semua pada Allah Rabbul 'Izzati
Bibir Zalynda melengkung. Perlahan memorinya mulai tersusun. Zalynda merasa lidahnya sedikit kelu. Gadis itu mengumpulkan semua kekuatannya untuk berkata...
"Rayhan…"
__ADS_1