
Ray memarkir mobilnya sembarang di jalanan depan rumah keluarga Wijaya. Dengan cepat Ray masuk ke halaman. Pak Udin yang melihat Ray masuk begitu saja langsung tergopoh-gopoh menghampiri Ray
"Maaf, aden cari siapa?" Tanya pak Udin berusaha menghalang-halangi langkah Ray untuk memasuki rumah
"Saya mencari bapak Yono." Jawab Ray tegas. Langkahnya tidak terhentikan menuju pintu
Wajah pak Udin terlihat bingung karena melihat Ray seakan datang ingin mengajak berkelahi, bukan datang baik-baik
Ray mencoba menerobos masuk ke dalam rumah, namun pak Udin mencegah pemuda itu dengan tubuh ringkihnya
"Maaf, den. Pak Yono sedang tidak dirumah dari pagi. Di rumah hanya ada tuan Wijaya, saya dan Ijah." Kata pak Udin
Ray menggeram, seakan melupakan adab bertamu. Ray mendorong pak Udin hingga pria itu terjungkal ke belakang. Ray segera memasuki rumah keluarga Wijaya. Suasana sepi
"Yono! Keluar kamu! Yonoo!!" Teriak Ray marah
"Den, jangan berisik. Tuan sedang istirahat." Ucap pak Udin sambil meletakkan telunjuknya didepan bibir. Kembali pria itu menghalang-halangi Ray. Ray menatap tajam ke arah pak Udin membuat pria itu sedikit gentar
"Eh, ada apa sih ribut-ribut?" Bi Ijah pun ikut menemui Ray keluar
"Dimana Yono?!"
"Pak Yono pergi dari pagi. Tolong jangan buat keributan di sini. Tuan sedang istirahat!" Kata bi Ijah lantang, walau hatinya juga sedikit ciut melihat Ray
Nafas Ray memburu. Ditatapnya mata pak Udin dan bi Ijah. Ray tidak menemukan kebohongan di sana. Mungkin memang Yono tidak berada di rumah. Ray menarik nafas beberapa kali untuk meredakan emosinya
"Baik, maafkan saya." Jawab Ray sambil berbalik pergi meninggalkan pak Udin dan bi Ijah yang terlihat kebingungan
Ray kembali masuk ke dalam mobilnya sambil mendial sebuah nomor
"Assalamu'alaykum Yan, kak Za sudah pulang ke apartemen?"
"Wa'alaykumussalam. Belum bang."
Ray mendesah
"Kalau kak Za pulang, lekas kabari abang ya. Assalamu'alaykum."
Ray segera menutup handphonenya. Matanya menatap tas Zalynda yang tertinggal di ruangan Aya. Ray tidak bisa menghubungi Zalynda, karena itu Ray meminta Ian untuk menunggu di apartemennya kalau-kalau Zalynda pulang ke apartemen sementara Ray masih di luar mencari gadis itu
Terdengar gelegar guntur. Awan berarak hitam, membuat langit sore seketika gelap. Hujan mulai turun membasahi bumi. Ray menyalakan wiper mobilnya. Pandangannya menatap lurus ke arah jalan yang mulai basah
"Za, kamu dimana.." Bisik Ray
***
Zalynda sudah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP. Bu Reema pun sudah mengganti baju Zalynda dengan piyama yang dibelikan Daniel
"Mama, makan dulu. Ini Niel bawakan nasi goreng." Kata Daniel sambil meletakkan dua bungkus nasi goreng di meja. Bu Reema mengangguk
__ADS_1
Mereka makan dalam diam.
"Mama kasihan dengan Zalynda, Niel." Suara bu Reema memecahkan keheningan. Daniel tidak menyela, membiarkan bu Reema bercerita
"Mama sering memaksa Zalynda cerita karena selain kesepian, mama juga ingin tahu kehidupan Zalynda. Dia seorang yatim piatu yang hidup sendiri di kota besar."
"Tidak ada keluarganya ma?" Tanya Daniel heran. Dari penemuan yang didapatkan Okky, seharusnya Zalynda bersama dengan tuan Wijaya saat 'ibunya' meninggal
"Ada, kakeknya. Kakek dari keluarga jauhnya. Tapi sepertinya dia tidak betah disana."
Bu Reema menatap Daniel "Zalynda pernah cerita kalau dia pernah dijual om nya di satu club di Jakarta.."
Nafas Daniel tercekat.
"Om Zalynda, berarti itu Yono?" Pikir Daniel
Ada perih di hatinya mengetahui sekelumit jalan hidup Zalynda. Sebagian hatinya menyalahkan dirinya atas dosa-dosanya di masa lalu, kalau benar Zalynda adalah putrinya
"Tapi, Ehan menebusnya dan menikahinya." Kata bu Reema sambil tersenyum
Sesaat Daniel terlihat lega, namun sedetik kemudian dahi Daniel berkerut
"Sekaya itukah si Ehan sampai bisa menebus Zalynda?" Tanya Daniel. Bu Reema tertawa pelan sambil mengangguk
Daniel memikirkan sesuatu yang sama sekali tidak ia sukai
Cklek
Pintu kamar Zalynda dibuka, seseorang dengan cepat masuk dan menghampiri bed Zalynda. Daniel melihat sosok itu sambil terbelalak
"Oh tidak…"
***
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Gerimis masih setia menemani malam. Udara terasa dingin menggigit, membuat sebagian orang lebih memilih kehangatan di rumah masing-masing
Berbeda dengan Ray yang masih menyusuri jalanan ibukota. Tempat terakhir yang akan ditujunya adalah Club XX
Ray sudah bertekad tidak akan menginjakkan kakinya lagi di club ini setelah tempo hari Ray datang bersama Lean menemui Alvin. Namun kali ini kondisi darurat.
Drrt..drrt..
Handphonenya bergetar. Ray menepikan mobilnya sejenak lalu membuka pesan yang masuk. Dari dokter Husna
"Ray, gadis yang kau bawa tiga minggu lalu ada di sini. Dia dibawa oleh seorang pria ke IGD. Cepatlah kemari."
Ray membelalakkan matanya. Zalynda ada di rumah sakit!
Segera Ray menjalan mobilnya dan berbalik arah menuju rumah sakit.
__ADS_1
Hampir setengah jam lebih Ray berkendara, Ray tiba di rumah sakit. Pemuda itu segera berlari ke IGD
"Permisi sus, pasien atas nama Zalynda di bed berapa?" Tanya Ray pada seorang suster
Suster itu memeriksa sejenak "Nona Zalynda sudah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP 2, pak."
Ray mengangguk. Segera Ray menaiki lift yang terbuka dan berhenti di lantai 5. Ray segera berlari menuju kamar VVIP 2
Cklek
Ray tergesa membuka pintu, pandangannya terarah pada sosok gadis yang terbaring lemah di bed rumah sakit
"Za.." bisik Ray. Ada kelegaan tersendiri telah menemukan gadis itu. Ray segera masuk tanpa mengetahui ada orang lain di kamar itu
Ray menggenggam erat tangan Zalynda dan membelai pipi gadis itu
"Sayang, maafkan aku.." Bisik Ray
"Ehan?"
Ray menoleh melihat bu Reema dan Daniel yang menatapnya. Ray segera melepaskan genggaman tangannya dan menghampiri bu Reema
"Em, maaf bu Reema. Saya tidak melihat anda.." Kata Ray. Mata Ray menangkap sosok Daniel yang menatapnya marah.
"Daniel Pratama..ayah Zalynda." Bathin Ray
Daniel mencengkram kerah Ray. Dalam kondisi biasa, Ray akan dengan mudah melepaskan dirinya dan balik menyerang. Namun kali ini Ray membiarkan Daniel melakukan apa yang akan dilakukannya
"B******k! Harusnya kau menjaganya dengan baik!!" Maki Daniel di depan wajah Ray
BUUGH
Daniel melayangkan tinjunya ke arah Ray, menyebabkan pemuda itu terhuyung ke belakang. Ray memegangi rahangnya yang ngilu tanpa niatan membalas
"Niel! Berhenti! Ini rumah sakit!" Kata Bu Reema dengan suara tertahan.
Bu Reema menatap khawatir ke arah Ray. Walau Ray berdandan bukan seperti tampilan biasanya, bu Reema tetap bisa mengenali pemuda di depannya
"Ehan nggak apa-apa?"
Ray menggeleng pelan. Bu Reema mengajak Ray duduk di sofa sementara Daniel masih menatapnya dengan tatapan permusuhan. Bu Reema memandang ke arah Daniel
"Niel, ini Ehan suami Zalynda."
Daniel mendecih sambil tertawa mengejek "Ehan? Cih, mama tahu siapa dia?!"
Bu Reema menggeleng.
"Dia Rayhan Putra Farobi. Putra sulung dari pasangan Ardhi Al Farobi dan Tsurayya Ednika Frederick!"
__ADS_1