CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 132


__ADS_3

Zalynda menatap dua gundukan tanah merah yang terlihat masih baru itu. Wangi bunga yang ditebar diatas pusara masih harum mewangi. Mata Zalynda basah menatap dua batu yang bertuliskan 'Anggun Lesmana' dan 'Diva Annavalia Sutedjo'


Zalynda dan tuan Wijaya mendengar kabar dari kepolisian kalau Anggun meninggal di tempat akibat tembakan di dada kirinya setelah membunuh rekannya sesama tahanan. Sedangkan Diva menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit


Dikatakan mereka terlibat adu mulut antar tahanan dan berlanjut adu fisik. Karena sudah menjurus pada pembunuhan, mau tidak mau petugas penjara menembak Anggun


Sebagai keluarga terdekat, Zalynda lah yang mengurus pemakaman Anggun dan Diva karena tuan Wijaya masih berada di Singapore untuk pengobatan


Satu persatu pelayat mulai meninggalkan pemakaman. Tinggal Zalynda dan Ray yang masih berdiri di sana


"Za, matahari sudah tinggi. Pemakaman sudah selesai. Kita pulang yuk." Ajak Ray lembut sambil meremas bahu Zalynda


"Aku nggak mengira mereka cepat sekali pergi,.Ray.." kata Zalynda sambil mengusap matanya yang basah


"Itu sudah takdir mereka, Za. Tidak ada yang bisa memundurkan ataupun memajukannya." Ray merengkuh bahu Zalynda dan mengajaknya untuk pergi


Zalynda menurut dan mengikuti langkah Ray menuju mobil mereka.


Di perjalanan, Zalynda lebih banyak diam seolah sibuk dengan pikirannya sendiri. Ray berinisiatif mengajak Zalynda ke taman dan membelikan gadis itu satu cone es krim cokelat.


Zalynda tersenyum hangat saat Ray menyodorkan es krim cokelat yang sangat wangi di indera penciuman Zalynda. Zalynda makan dengan tenang sementara Ray duduk di sampingnya dan memperhatikan gadis itu menikmati es krimnya


"Za, apa yang kau pikirkan?" Tanya Ray saat melihat Zalynda sedikit melamun dan menghela nafas


"Aku masih memikirkan tante Anggun dan Diva, Ray. Aku tidak menyangka mereka pergi secepat itu." Kata Zalynda pelan sambil menggigit cone nya


"Kau masih dendam dengan mereka?" Tanya Ray hati-hati


Zalynda menggeleng sambil tersenyum kecil


"Aku tidak pernah berfikir akan membalas semua perilaku mereka. Walaupun memang beberapa kelakuan mereka akan selalu membekas di dalam ingatan dan hatiku, tetapi aku tidak pernah membenci mereka Ray.."


Ray mengangguk sambil membelai kepala Zalynda yang tertutup kerudung hitam


"Aku tahu, istriku ini sangat baik hatinya."


Mata Zalynda kembali menerawang seolah mengingat akan sesuatu


"Kau tahu, Ray? Ada satu hari dimana tante Anggun memberikan kue untukku. Walau akhirnya aku tahu ternyata tante Anggun salah beli kue pesanan Diva. Daripada dibuang percuma jadi tante Anggun memberikannya padaku. Walau begitu, aku punya sedikit harapan kalau tante Anggun juga akan menyayangiku seperti tante Anggun menyayangi Diva." Kata Zalynda lagi.

__ADS_1


Buliran airmata jatuh menerobos pertahanannya. Zalynda menyeka air matanya. Perasaannya benar-benar sensitif saat ini


"Jangan na.."


"Biarkan aku nangis Ray. Dadaku terasa sesak sekali." Zalynda memotong ucapan Ray


"Biarkan aku berduka untuk tante dan saudaraku.." Bisik Zalynda diantara isakannya


Ray terdiam. Kemudian pemuda itu merengkuh Zalynda ke dalam pelukannya. Gadis itu sedikit memberontak


"Ray, kemejamu kena es krim." Kata Zalynda pelan


Ray menarik ujung bibirnya. Bisa-bisanya dalam situasi seperti ini Zalynda malah mencemaskan kemejanya yang terkena es krim cokelat. Ray tidak menjawab, pemuda itu makin mengeratkan pelukannya membuat Zalynda akhirnya pasrah dan menangis dalam dekapan Ray


***


Mata Yono memerah. Yono tidak berhenti menangisi istri dan putrinya ketika mang Udin dan bi Ijah mengabarkan perihal Anggun dan Diva saat penjengukan rutin di penjara atas permintaan Zalynda


Terus terang Yono sangat terpukul mendengar kabar itu. Bahkan Yono berulang kali menyangkal bahwa berita yang di sampaikan mang Udin dan bi Ijah hanya kebohongan belaka.


"Om tenang saja, pemakaman bu Anggun dan non Diva sudah diurus oleh non Linda. Mereka sudah tenang di sana. Om harus banyak mengirimkan doa untuk mereka." Hibur mang Udin


"Pergilah kalian.." ujar Yono singkat


Akhirnya mang Udin dan bi Ijah pamit pulang. Yono membuka telapak tangannya dan menatap kepergian mang Udin dan bi Ijah


"Aku tidak bisa menunggu lebih lama. Aku harus keluar dari penjara sialan ini untuk membuat p*****r kecil itu membayar apa yang sudah disebabkannya. Tunggu saja, Linda.." bisik Yono dalam hati


Sorot mata Yono tajam melihat ke sekeliling. Sedikit banyak Yono sudah mengamati kapan pergantian shift sipir penjara, kapan binatu mengirimkan mengambil dan mengirimkan cucian, kapan gerbang penjara dibuka untuk kunjungan, dan yang paling penting kapan waktu terlemah penjagaan di penjara


Yono berjalan masuk kembali ke dalam penjara. Selama perjalanan kembali, dirinya menghafalkan dan mengingat-ingat apa yang harus di lakukannya nanti.


Yono hanya membutuhkan satu momen, dan Yono akan sangat sabar menantikannya untuk membalas dendam.


Sebentar lagi.. sebentar lagi..


***


Seperti biasa, Ray menjemput Zalynda di toko kue nya. Seperti biasa, kedatangan Ray menjadi satu magnet tersendiri bagi para pelanggan di toko kue Zalynda. Namun karyawan yang sudah mengetahui siapa Ray, segera menyambut hormat suami boss mereka

__ADS_1


"Mana ibu?" Tanya Ray pada salah satu pegawai di toko kue


"Ibu ada di kantornya, pak." Kata pegawai itu sopan


Ray mengangguk hendak berjalan menuju kantor Zalynda. Namun matanya melihat seseorang memasuki toko. Ray mengurungkan kakinya melangkah ke kantor dan mendekati seseorang tersebut


"Sagara.."


Sagara menoleh, bibirnya menyunggingkan senyum yang bagi sebagian wanita itu adalah senyum sengatan 100 volt. Tapi bagi Ray senyum itu sungguh menyebalkan


"Halo Ray. Bagaimana kabarmu? Kamu mau beli kue?" Tanya Sagara


"Pertanyaan basa-basi.." bisik Ray dalam hati


"Iya, aku lagi pengen pastry isi daging sapi, chocolate eclaire dan hot puff pastry. Tolong dibungkus ya." Kata Ray pada salah satu pegawai


Sagara menarik ujung bibirnya mendengar pesanan Ray karena ada kue kesukaan gadis itu di dalam pesanan Ray


"Menu itu memang enak. Sebetulnya emang enak semua sih di sini. Hot puff pastry nya 10 ya mbak." Pesan Sagara


Ray memandangi Sagara yang masih melihat-lihat kue di etalase, sesekali menebar pandangan ke arah pintu


"Kamu cari siapa?" Tanya Ray to the point, dengan mata memicing


"Oh nggak cari siapa-siapa. Lagipula dia tidak mungkin datang karena pasti dia sudah menitipkan makanan kegemarannya." Kata Sagara tersenyum. Pemuda itu menerima pesanannya dan segera membayar ke kasir


"Yuk, duluan bro." Kata Sagara. Ray hanya menarik ujung bibirnya sambil mengangguk. Ray masih mengawasi Sagara hingga keluar


"Pak, ini pesanannya." Kata seorang pegawai yang membuyarkan konsentrasi Ray


"Ah ya, makasih. Ngomong-ngomong orang itu sering ke sini?" Tanya Ray


"Mas Sagara? Sering pak. Dia selalu kesini antara jam 4-5 sore. Kadang saat ibu menunggu bapak jemput, Sagara selalu mengobrol dengan ibu." Kata pegawai itu polos


Kening Ray berkerut. Membayangkan Sagara mengobrol dengan Zalynda membuat dada Ray sedikit panas. Terlebih saat pegawai itu memanggil Sagara dengan sebutan 'mas', sementara dirinya dipanggil 'pak'.


"Apa aku setua itu?!" Bisik hati Ray


"Apa Zalynda juga memanggil Sagara dengan sebutan mas??!" Tiba-tiba pikiran konyol hinggap dalam benak Ray

__ADS_1


Ray tidak menyukainya


__ADS_2