
"Aku kecewa, kau menyembunyikan ini dariku Za.."
Zalynda segera menggeleng sambil memegang lengan Ray. "Bukan aku ingin menyembunyikan darimu Ray, tapi.."
"Tapi aku tidak ingin mencoreng nama baik keluargamu. Aku memikirkan perasaan ayah bunda, papa, nenek.. Begitu kan yang mau kau katakan Za?" Tanya Ray tajam. Zalynda sedikit terkejut Ray bisa meneruskan apa yang hendak diucapkan Zalynda
"Ray.."
Ray tersenyum kecut sambil menggeleng "Kau memikirkan perasaan banyak orang, tetapi kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku.."
"Ray, aku.."
"Aku merasa sepertinya hanya aku yang mencintai.. Bukan di cintai. Apa aku tidak pantas kau percayai Za? Apa aku tidak pantas kau perjuangkan, sehingga kau dengan mudah mau meninggalkan aku?"
Ray memandang wajah Zalynda. Terlihat kesedihan di mata Ray. Hati Zalynda ikut perih mendengar kata-kata Ray
Ray tersenyum kecil sambil melepaskan pegangan Zalynda pada lengannya. Ray mengeluarkan sebuah kunci dari saku bajunya dan memberikannya ke Zalynda
"Ini kunci kamarku di sebelah. Baju-baju dan kopermu ada di sebelah."
"Ray.."
"Kau jangan khawatir. Aku sudah mengurus semuanya. Diva memang mengirimkan video, tetapi bukan video tentang dirimu." Kata Ray sambil membelai pipi Zalynda
Pemuda itu menghela nafas, kemudian melangkah pergi dari kamar Zalynda, meninggalkan Zalynda yang mematung sendirian. Sedikit penyesalan menyusup ke hati Zalynda
Terdengar pintu depan dibuka, Zalynda terkejut. Kakinya segera berlari kecil menuju pintu depan.
Terlambat, Ray sudah pergi
"Dia marah.." Gumam Zalynda sedih
***
Sore ini, Diva dan Anggun sedang menonton acara di televisi. Mereka berdua menyewa sebuah kamar kost di pinggiran kota Jakarta setelah diusir oleh tuan Wijaya
"Aku nggak sabar banget lihat berita gosip hari ini ma." Kata Diva sambil menyuapkan kripik ke mulutnya
"Mama juga. Biar tahu rasa itu si Linda." Kata Anggun
Keduanya sangat antusias saat acara gosip yang dinanti pun mulai. Beberapa cuplikan gosip ditampilkan
"Hot news. Baru saja tersiar sebuah video yang diambil dari CCTV sebuah supermarket tentang peristiwa penabrakan yang hampir saja mencelakai Nyonya Al Farobi."
Diva dan Anggun saling memandang heran. Mereka kembali menyimak berita gosip di televisi. Wajah mereka terlihat pucat saat mengetahui video yang beredar
"Mama.." kata Diva bergetar
__ADS_1
Video itu menampilkan sebuah mobil hitam yang sengaja menabrak troli Aya lalu melarikan diri. Terlihat jelas wajah Diva yang ikut membantu Aya. Setelah Aya pergi, mobil hitam yang tadi menabrak Aya kembali datang menjemput Diva. Supir mobil itupun terlihat di CCTV karena kaca mobilnya terbuka
"Astaga!" Anggun menutup mulutnya melihat dirinya cukup jelas di televisi
"Mereka ternyata adalah istri dan putri dari Mario Sutedjo yang sudah lebih dahulu di tangkap karena kasus penculikan, pelecehan dan tindakan tidak menyenangkan terhadap menantu keluarga Al Farobi yang juga penerus tunggal dari Wijaya Group, Zalynda Navulia.."
Diva dan Anggun ternganga melihat wajah mereka kini masuk ke dalam daftar pencarian orang
"Div..kita harus pergi dari sini."
***
Ray tersenyum melihat berita yang dilihatnya secara streaming melalui handphone nya. Pemuda itu tidak pergi kemana-mana. Ray hanya berada di dalam mobilnya di parkiran basement Apartemen Gading. Ray ingin menyendiri sebentar
Ray menyandarkan tubuhnya di kursi mobil sambil memejamkan mata.
FLASHBACK
Ray sampai di TecnoTek, lalu bergegas pergi ke ruangan Daniel. Seorang sekretaris cantik menyambutnya di depan ruangan Daniel
"Pak Daniel ada?" Tanya Ray
"Ada pak, silahkan ke dalam." Kata sekretaris Daniel yang bernama Errin
Ray mengangguk, lalu segera masuk ke ruangan Daniel. Matanya menyipit melihat Ian juga ada di kantor Daniel
"Elo di sini Yan?" Tanya Ray
"Duduk Ray. Tadi di telepon sepertinya penting banget. Ada apa?" Tanya Daniel
Ray segera memperdengarkan hasil rekaman telepon Sumi. Rahang Daniel mengetat mendengar rekaman tersebut
"B******k dua orang itu. Masih berani ganggu juga mereka." Kata Daniel geram
"Kita harus segera bertindak, Pa. Apa ada orang di TecnoTek yang bisa masuk ke email Diva dan meretas video itu?" Tanya Ray
Daniel menyunggingkan senyumnya "A piece of cake, nak. Bisa diambil dari data-data yang disetorkan Wijaya Group. Tapi sepertinya tidak akan seru kalau kita tidak memasukkan video tandingan yang bisa memojokkan mereka. Saya juga bisa membuat editan yang seolah terlihat nyata."
Ray menggeleng "Jangan, kalau ahli IT mengetahui video kita palsu malah tambah memperburuk keadaan."
Ian sepertinya teringat sesuatu
"Bang, Om. Bisa ngambil video dari CCTV nggak?" Tanya Ian
"Bisa, dimana? Untuk area umum biasanya harus seijin pihak kepolisian atau pemilik CCTV." Kata Daniel
"Di supermarket. Dulu pas gue sama bunda belanja, ada mobil yang mencoba nabrak bunda. Gue inget banget body mobil itu agak kebaret karena nabrak troli. Tapi gue nggak inget plat keseluruhan, gue inget huruf belakangnya aja." Kata Ian seperti hendak mengingat-ingat
__ADS_1
Mata Ray membesar "Kok elo nggak pernah cerita?!"
"Ya elah, bunda juga baek-baek aja bang." Kata Ian nyengir
Ray mendengus "Terus?"
"Terus ada cewek yang muncul nolongin bunda, itu sepupunya kak Za yang juga jadi model bunda. Dia di tawarin audisi sama bunda karena nolongin bunda." Lanjut Ian
"Lalu?" Daniel mulai tidak sabar
"Bulan lalu, gue lihat lagi mobil yang sama. Warnanya sama, bekas baretannya juga di sebelah yang sama. Lebih parah lagi, huruf platnya sama.. FAW hurufnya dan sepupu kak Za gue lihat turun dari mobil itu. Ngerti kan maksud gue bang?"
Jantung Daniel berdebar. Segera di raihnya telepon di meja
"Supermarket mana? Pas hari dan jam berapa?" Tanya Daniel
Ian menyebutkan detail tempat supermarket beserta jam dan harinya. Daniel segera menghubungi seseorang
"Okky, saya minta tolong sesuatu.."
Ray menatap Ian sementara Daniel berbicara di telepon dengan Okky
"Kenapa elo nggak cerita-cerita?"
"Gue pikir nggak penting sih. Kalo abang nggak ngomong begini, gue juga nggak keingetan."
"Kebiasaan lo, Yan." Omel Ray yang hanya disambut cengiran dari Ian
Daniel sepertinya sibuk dengan laptopnya. Tidak berapa lama terlihat Daniel tersenyum lebar
"Okky memang bisa di andalkan. Coba kalian lihat rekam CCTV ini." Daniel menyorongkan laptopnya
Ray dan Ian melihat seksama rekaman CCTV dari supermarket yang di katakan Ian
"Subhanallah..Nggak sangka, ternyata mereka merencanakan dengan licik. Mereka berniat mencelakai bunda." Kata Ray sambil melihat rekaman itu sekali lagi
"Mereka harusnya dapat hukuman lebih berat lagi, bang." Geram Ian
"Ray, dimana lokasi Zalynda kecelakaan kemarin?" Tanya Daniel
"Sekitar Jalan Boulevard besar, Pa." Kata Ray
"Saya akan meminta beberapa CCTV di daerah itu pada kepolisian. Saya yakin mereka juga terlibat andil dalam kecelakaan Zalynda." Kata Daniel dengan mata menyipit
FLASHBACK END
Bunyi petir terdengar mengagetkan Ray. Pemuda itu melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir waktu ashar, berarti Ray tertidur sekitar setengah jam di mobil
__ADS_1
Ray segera memeriksa handphonenya. Terlihat beberapa email, pesan dan juga beberapa missed called
Ray tersenyum miris. Dari semua email, pesan dan missed called.. Tidak ada satupun dari Zalynda yang sekedar mencari atau menanyakan dirinya