CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 112


__ADS_3

...Maafkan aku untuk part yang ini 🙏...


Ray terbangun dan mendapati dirinya tengah memeluk Zalynda dari belakang. Ray tersenyum samar sambil kembali memejamkan matanya dan menghirup wangi favoritnya dari tubuh Zalynda


Kalau boleh memilih, Ray ingin seharian ini terus bersama Zalynda. Namun Ray teringat kalau dirinya pun harus mencari bukti bahwa dirinya tidak pernah melakukan tindakan yang dituduhkan Alin


Kelebat bayangan saat di hotel Semarang membuat Ray membuka matanya. Sekilas memang terlihat tubuh Alin dipenuhi bercak kepemilikan yang biasa Ray bubuhkan di tubuh Zalynda.


Ray frustasi. Alih-alih bangun untuk menyelidiki, pemuda itu kembali mengeratkan pelukannya ke tubuh Zalynda. Tangannya yang bebas mengelus dada Zalynda yang terbuka, sesekali meremasnya lembut dan memainkan puncak dada Zalynda. Mulut Ray pun tidak ketinggalan mengecupi bahu Zalynda dan menggigitnya lembut


"Nggh, Ray…" Zalynda terbangun akibat sentuhan mulut dan tangan nakal Ray


Suara sengau Zalynda membuat gairah Ray kembali mencuat. Zalynda berusaha menepis tangan Ray yang bermain di dadanya


"Maaf, kamu jadi kebangun ya cantik." Bisik Ray sambil menghisap cuping telinga Zalynda. Tangan Ray sudah tidak lagi berada di dada Zalynda, tetapi sudah menuju ke inti gadis itu


"Raay.." Zalynda kembali mencoba menepis tangan Ray, tetapi Ray dengan cepat menangkap dan menyatukan dua tangan Zalynda dalam genggamannya sementara tangannya yang bebas bermain di inti gadis itu. Zalynda mulai mendesah akibat perlakuan Ray


Terdengar Ray kembali merapalkan doa membuat Zalynda tersadar sepenuhnya dari tidur


"Semalaman nggak ketemu bikin kangen berat sama kamu. Suara kamu, wangi kamu, semuanya.." bisik Ray dengan suara serak dan berat disela-sela suara seksi Zalynda


Ray semakin bersemangat bermain di inti Zalynda sesekali menghisap bahu dan punggung gadis itu sehingga meninggalkan bekas. Ray tersenyum saat merasakan tubuh Zalynda bergetar diiringi pekikan seksi yang keluar dari bibir Zalynda


"Lagi ya, cantik.." bisik Ray sambil membuka satu paha Zalynda lebar-lebar. Dengan cepat Ray kembali menautkan tubuhnya dengan tubuh Zalynda


Kembali suara d*****n dan erangan memenuhi ruang kamar Ray. Kasur yang sudah di bereskan Zalynda sejak pagi kembali berantakan


Ting Tong..


Bel pintu terdengar mengacaukan konsentrasi Zalynda sementara Ray terlihat tidak peduli


"Nggh..ada..aah..ta-tamu.." Kata Zalynda terengah-engah sambil berusaha menoleh ke belakang, menatap Ray


Ray tidak menjawab, pemuda itu segera mencium Zalynda dari belakang saat gadis itu menoleh memalingkan wajahnya


Ting tong..


Ray menggeram. Gerakannya semakin cepat dan dalam membuat Zalynda tersentak-sentak. Nafas keduanya semakin memburu. Tidak berapa lama, pekikan kepuasan keduanya terdengar samar, tertahan dalam ciuman panjang


Ciuman keduanya terlepas. Keduanya berbagi nafas hangat berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Keduanya saling menatap penuh cinta


Ting tong..


"Ada tamu, Ray.." Kata Zalynda sambil mengulum senyumnya melihat wajah kesal Ray karena momen romantisnya terganggu

__ADS_1


"Aku lihat dulu. Tinggal sebentar ya cantik." Ucap Ray sambil mengecup bibir Zalynda


Ting tong.. Ting tong.. Ting tong..


"Aargh siapa sih?! Ganggu aja!" Gerutu Ray sambil menyambar tisu basah untuk membersihkan dirinya secara kilat. Setelah itu Ray memungut celana dan kemejanya. Zalynda terkikik sambil mengumpulkan tenaganya untuk bangkit


Ray mengenakan kemejanya sambil melihat di door viewer siapa yang datang. Segera Ray membuka pintu begitu tahu siapa tamunya


"Elo berantakan banget!" Komentar pertama Agus saat melihat penampilan Ray yang mengenakan kemeja asal tanpa dikancing


"Ngapain elo kesini?" Tanya Ray ketus. Sedikit kesal saat mengetahui Agus meninggalkan dirinya semalam


Agus mengangkat beberapa lembar dokumen "Pesenan elo. Gue nggak di suruh masuk? Bener raja tega lo."


Ray memutar kedua bola matanya. Siapa yang raja tega? Bukan Ray yang meninggalkan temannya seorang diri, tetapi Agus. Sepertinya Agus butuh kaca bersih di rumahnya


Dengan cepat Ray membuka pintu lebar-lebar mempersilahkan Agus masuk. Pemuda itu segera masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Ray segera ke dapur untuk mengambilkan minuman soda di kulkas


"Gimana perut elo? Udah bisa minum soda apa gue bikinin teh?" Tawar Ray


Agus menatap Ray. Agus baru benar-benar sadar akan penampilan Ray. Sepertinya Agus datang di saat yang tidak tepat. Pemuda itu berdehem


"Za mana?" Tanya Agus mengalihkan pembicaraan


Ray mendelik "Ngapain nanyain istri gue? Naksir lo?!"


Ray mendengkus


"Gue nyium bau-bau percintaan soalnya. Kayaknya ada yang keganggu. Siniin, perut gue udah aman." Kata Agus jahil sambil mengambil minumannya dari tangan Ray


"Ada apa?" Tanya Ray sambil duduk di sofa


"Nih, udah gue kerjain yang elo suruh." Agus menyerahkan beberapa berkas laporan di tangannya ke hadapan Ray


"Tinggal elo tanda tangan." Kata Agus lagi sambil kembali menyeruput soda nya


Ray meneliti berkas laporan Agus sambil mengerutkan keningnya. Tumben temannya yang satu ini rajin mengerjakan laporan tanpa di suruh terlebih dahulu


"Tumben amat elo ngerjain ini Gus." Kata Ray memandangi Agus


"Vangke lo! Bukannya elo yang nyuruh gue cepet balik ke Jakarta buat nyelesaiin laporan karena udah ditungguin om Ardhi?!" Kata Agus bersungut-sungut


Ray menatap Agus heran. "Kapan gue nyuruhnya?"


Agus mendengkus

__ADS_1


FLASHBACK


Agus meringis. Sepertinya semua makanannya sudah berpindah tempat. Entah apa yang Agus makan tadi


Kening Agus berkerut saat kembali ke mejanya. Tidak terlihat Ray maupun Alin. Mata Agus tertumbuk pada satu notes dan sebuah tiket pesawat


"Aku pulang ke Jakarta. Kamu juga pulang, tolong selesaikan laporan tentang kerjasama proyek di Semarang. Sudah ditunggu sama pak Ardhi. Ini tiket buat balik ke Jakarta malam ini. Ray."


"S**t, tiga jam lagi boarding. Tega bener dah lu Ray!" Kata Agus sambil kembali meringis merasakan mulas di perutnya


FLASHBACK END


"Gue sampe minta resep dokter Husna biar nggak 'brebet' di pesawat. Bisa hancur reputasi gue sebagai Playboy kawakan." Ucap Agus


Ray memandangi Agus dengan tatapan heran "Gue nggak pernah ninggalin elo notes dan tiket pesawat, Gus."


Agus berdecak kesal. Mungkin saat ini Ray sedang mempermainkannya.


Agus dengan cepat mengambil notes dan tiket boarding pesawat komersil semalam dan diletakkan di depan Ray


"Noh kalo nggak percaya. Masih gue simpen. Untung belum gue buang. Lupa soalnya lagi mules." kata Agus dengan nada sedikit marah merasa Ray mempermainkan dirinya


Ray mengamati notes dan tiket pesawat komersil di meja. Matanya memicing


"Gus, ternyata gue emang di jebak.." Desis Ray


"Apa? Di jebak? Di jebak gimana maksudnya?" Tanya Agus. Ray memperbaiki posisi duduknya


"Elo kemarin nggak makan aneh-aneh kan?" Tanya Ray


Agus berfikir sejenak, kemudian menggeleng "Gue makan biasa aja seinget gue. Gue mulai mules itu pas habis maghrib."


"Apa elo lihat sesuatu yang mencurigakan waktu kita habis sholat Maghrib?"


"Nggak sih, cuma ada makanan kita, trus ada Alin yang nungguin karena dia lagi haidh jadi nggak sholat Maghrib." Kata Agus


"Apa?" Mata Ray menyipit, merasa ada sesuatu yang aneh


"Kenapa Ray? Elo ngerasa restoran itu sengaja ngerjain gue?" Tanya Agus


"Ada kemungkinan begitu Gus, cuma sepertinya itu suruhan orang luar. Dan bukan cuma elo yang di kerjain, tapi juga gue. Waktu elo ngerasa mules, gue juga ngerasa ngantuk luar biasa." Kata Ray geram


Agus menyipitkan matanya "Elo juga dikerjain? Siapa kira-kira yang berani main-main sama kita?!" Tanya Agus kesal. Terbayang semalam bagaimana repotnya Agus bolak-balik ke kamar mandi, ke bandara dan bersegera menyelesaikan laporan.


Ray terdiam tidak menjawab pertanyaan Agus. Dalam otaknya mulai tersusun apa-apa saja yang harus dilakukan untuk menangkal segala tuduhan dan jebakan

__ADS_1


"Gue udah bilang kalo elo salah pilih orang, Marlina. Liat aja, gue nggak akan tinggal diam dituduh seperti itu.." Bisik Ray dalam hati


__ADS_2