
Aryo dan beberapa kru studio foto tertunduk di depan Aya yang menatap mereka satu persatu
"Betul apa yang dikatakan Ray kalau Sagara mengecup bibir Zalynda di depan kalian?" Tanya Aya memecahkan keheningan
Semuanya kompak mengangguk "Betul bu.."
"Dan kalian diam saja tidak menegurnya bahkan malah tertawa?" Ucap Aya lagi
Aryo memberanikan diri mengangkat kepalanya "Maafkan kami bu, kami benar-benar tidak tahu kalau Zalynda adalah menantu ibu. Nanti tidak akan terulang lagi."
Aya mendengus kasar "Kalau gadis itu bukan menantuku bagaimana? Apa sikap kalian akan tetap sama?"
Suasana kembali hening. Hanya terdengar detakan jam dinding
"Seorang perempuan dilecehkan didepan kalian dan kalian terdiam. Kalau posisi Zalynda ditukar dengan ibu kalian, adik atau kakak perempuan kalian, istri kalian.. Bagaimana?" Nada Aya terdengar lebih tinggi sambil melihat Aryo dan para kru
Vera dan Anita juga ikut terdiam. Selama bekerja dengan Aya, jarang sekali wanita ini marah kalau bukan sesuatu yang penting
"Maafkan kami bu, kami akui kami bersalah." Ujar Aryo diiringi anggukan beberapa kru nya
Aya menghela nafas "Saya harap kejadian ini adalah terakhir kalinya. Kita profesional bekerja. Kita satu team, harus saling membantu dan menjaga satu dengan lainnya. Sagara bersalah, tegur. Zalynda dilecehkan, lindungi. Bisa?!"
Semua kompak mengangguk. Aya pun ikut mengangguk
"Ray, coba ke pantry lihat Zalynda. Sepertinya lama sekali waktu yang dibutuhkannya untuk membuat teh." Kata Aya
"Saya saja bu, mungkin Za tidak tahu letak gula dan teh." Kata Vera
"Ray saja, Ver. Za ke pantry sebetulnya untuk menenangkan dirinya. Biar Ray yang datang menjemputnya." Kata Aya sambil tersenyum
Aryo dan para kru bernafas lega melihat boss mereka sudah bisa tersenyum kembali setelah sebelumnya bak singa lapar yang siap menerkam
"Baik bunda." Jawab Ray
Pemuda itu segera menuju ke pantry butik.
"Za?" Panggil Ray saat melihat pantry kosong. Ray pergi ke toilet untuk mengecek apa Zalynda pergi ke toilet
"Za.." panggil Ray sambil mengetuk pintu toilet
Hening, Ray membuka pintu toilet ternyata tidak terkunci. Kosong. Zalynda tidak ada di dalam
Kening Ray berkerut. "Apa Zalynda ngambek dan pulang sendiri?"
__ADS_1
Ray mengecek ke parkiran. Motor Zalynda masih bertengger manis di sana. Ray kembali ke pantry, keadaan masih sama. Kosong
"Za, kamu di mana sayang? Please jangan ngumpet, nggak lucu." Kata Ray sedikit keras.
Mata Ray tertumbuk pada secangkir teh di meja pantry. Ray menyentuh cangkir teh itu. Masih terasa hangat. Ray membeku memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi
"Zalynda…" desis Ray pelan
***
Perlahan Zalynda membuka matanya. Ruangan temaram yang berbau lavender. Zalynda mengerjap perlahan mengumpulkan tenaganya. Zalynda mencoba bergerak
"Eh, apa?!" Zalynda memekik terkejut saat merasakan kedua tangannya terikat keatas tempat tidur. Zalynda mengingat-ingat kejadian sebelumnya saat ia berada di pantry dan sedang mengobrol santai dengan Diva sebelum kepekatan melanda
Zalynda melihat ke bawah dan bernafas lega. Pakaiannya masih lengkap, tidak kurang satupun
"Aku harus segera pergi, Ray pasti repot mencariku.." Bisik Zalynda
Segera Zalynda menarik-narik tangannya berusaha melepaskan diri dari tali yang membelit pergelangan tangannya. Rasanya sedikit perih, Zalynda yakin kulit pergelangannya lecet tergesek tali. Ikatannya tidak kendur sedikitpun
"Kau sudah bangun, manis?"
Suara itu! Zalynda membeku. Ia sangat hafal suara itu. Tubuhnya bergetar ketakutan. Air matanya mulai menggenang
Yono menyeringai sambil mendekati Zalynda dan duduk di samping Zalynda yang terbaring. Tangan besar Yono membelai pipi Zalynda yang basah karena air mata. Yono terkekeh melihat tatapan tak berdaya dari Zalynda
"Kau tahu, betapa aku merindukan tatapan ini." Kata Yono sambil mengecup mata Zalynda. Isak tangis Zalynda makin kencang saat bibir Yono menyusuri hidung, pipi dan berlabuh di bibirnya
"Hmmph..hmmph.." Zalynda mencoba menggelengkan kepalanya melepaskan diri namun Yono menangkup pipi Zalynda agar tidak banya bergerak
Yono dengan rakus mel***t bibir Zalynda dan melesakkan lidahnya ke dalam mulut Zalynda
"Manis seperti biasanya. Walau aku yakin sudah berapa kali bibirmu juga dinikmati oleh tuan yang membelimu di club XX." Bisik Yono di sela l***tan nya.
"Lepaskan, Om! Om tidak punya hak memperlakukan Za seperti ini!"
Yono menatap mata Zalynda yang balik menatapnya. Zalynda berusaha tegas, namun Yono tahu gadis itu ketakutan. Yono menyeringai
"Memangnya kamu bisa apa, manis?" Tanya Yono. Sedetik kemudian Yono merobek gaun Zalynda membuat gadis itu menjerit ketakutan
Yono menyeringai melihat bercak kepemilikan yang terlihat baru memenuhi area dada Zalynda
"Sepertinya kau baru saja bermain cinta, eh? Kau tahu, aku dari dulu ingin merasakan daerah ini." Kata Yono terkekeh sambil meremas kasar dan mempermainkan bukit dada Zalynda
__ADS_1
Zalynda bergetar. Oksigen di sekitarnya seakan menipis. Sekuat tenaga Zalynda menjaga dirinya agar tidak pingsan ketakutan
"Aah s-sakiit om.." Rintih Zalynda saat merasakan perih di dadanya saat Yono menyesapnya tanpa ampun
Yono menghentikan kegiatannya di dada Zalynda dan mencengkram pipi gadis itu. Terlihat Yono berusaha keras menahan gairahnya
"Kau tahu dari dulu aku ingin sekali menidurimu. Hanya karena seseorang sudah membookingmu malam ini maka aku mengalah. Masih ada malam yang lain untuk kita, eh?!"
"K-kenapa om? Apa salah Za pada om?" Bisik Zalynda bergetar
Yono terdiam sambil membelai pipi Zalynda. Matanya memindai seluruh wajah Zalynda
"Salahmu adalah, kau kembali ke rumah keluarga Wijaya. Harusnya kau tidak usah kembali dan menghancurkan rencanaku."
Zalynda tidak mengerti apa maksud perkataan Yono. Keduanya saling berpandangan beberapa saat. Yono menyeringai. Kembali pria itu mel***t bibir Zalynda
Zalynda memejamkan matanya sambil terisak. Zalynda tidak merasakan gairah apapun walau Yono bertubi-tubi menjamah titik sensitif tubuh bagian atasnya. Yang ada hanyalah rasa jijik dan ketakutan
"Papa! Apa yang papa lakukan?!"
Zalynda membuka matanya, itu suara Diva. Zalynda merasa sedikit lega. Ketakutannya sedikit berkurang
"Apa papa menyentuhnya?!" Tanya Diva saat melihat posisi Yono dan Zalynda yang berurai air mata
"Ck, papa hanya memastikan tubuhnya mulus untuk klien kita."
Zalynda tersentak. Apa? Tunggu dulu!
"Tapi nggak usah gitu juga kali, Pa. Emang Diva anak kecil bisa dibohongi?! Nanti Diva lapor mama!" Ancam Diva
Diva mendekati Zalynda yang menatap Diva tak percaya. Diva menarik ujung bibirnya
"By the way, apa ya tanggapan Ray saat tahu kau disentuh laki-laki lain?"
Zalynda ternganga "Diva, teganya kamu.."
Diva hanya terkekeh kemudian merapikan gaun Zalynda. Gadis itu menepuk kasar pipi Zalynda
"Layani tamu malam ini dengan baik ya." Kata Diva sambil berdiri. Zalynda menjerit meluapkan amarahnya. Diva hanya mengangkat bahunya lalu meninggalkan Zalynda
Tubuh Zalynda mulai kembali bergetar saat mendengar pintu terbuka. Jemarinya mulai terasa dingin dan nafasnya makin sesak
Suara-suara itu berdenging tidak jelas di telinga Zalynda. Pandangannya mulai mengabur saat melihat bayangan pria mendekatinya. Terasa tangan pria itu membuka ikatannya
__ADS_1
"Ray, maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga diriku untukmu.." bathin Zalynda pilu sebelum pandangannya kembali gelap