
Bu Reema menatap Daniel yang bersiul-siul saat menuruni tangga. Penampilan Daniel yang casual menggelitik perasaan bu Reema untuk bertanya
"Rapi amat, Niel? Mau kencan?" Tanya bu Reema menggoda Daniel
Daniel tersenyum sambil mengecup pipi bu Reema "Mau main ma. Mumpung malam minggu, Niel mau refreshing dikit."
Bu Reema menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan putra semata wayangnya yang mengambil kunci mobil dari lemari buku
"Makanya kamu tuh nikah dong. Biar nggak jomblo pas malam minggu."
Daniel mengerling sambil tersenyum nakal kearah bu Reema
"Niel kan sudah menikah dua kali ma. Harusnya mama yang nikah, biar nggak kesepian pas malam minggu."
Bu Reema melotot ke arah Daniel dan bersiap mencopot sendal rumahnya. Pria itu terkekeh lalu dengan cepat melarikan diri sebelum bu Reema melemparinya dengan sandal
Daniel masuk ke dalam mobilnya. Setelah dirasa nyaman, pria itu mulai menstater mobilnya. Daniel mengecek handphone nya untuk melihat pesan yang masuk. Bibirnya menyunggingkan senyum. Segera Daniel menjalankan mobilnya menuju satu tempat di kota metropolitan
Jalanan cukup lengang untuk ukuran malam minggu. Mungkin karena hujan yang sedari sore mengguyur ibukota membuat sebagian orang malas keluar.
Daniel pun sama. Kalau bukan karena ingin mengetahui tentang Farah, Daniel lebih memilih bermalas-malasan di rumahnya bersama bu Reema. Daniel merapatkan jaketnya mencari sedikit kehangatan
Mobil Daniel berhenti di depan club terkenal. Daniel melihat palang warna warni nama club itu. Club XX
Seorang pegawai valet mendekati nya dengan sopan. Daniel segera melempar kunci mobilnya dan ditangkap dengan baik oleh penjaga valet itu
"Nice catch, dude." Kata Daniel memuji penjaga valet itu.
Daniel segera masuk ke dalam. Musik hingar bingar menghentak gendang telinganya. Sudah lama sekali Daniel tidak pergi ke club. Dirinya segera menebar pandangan mencari seseorang
Merasa tidak menemukan yang di cari, Daniel segera melihat handphone nya. Terdapat satu pesan
"Saya di ruangan VVIP 2 pak."
Daniel menyeringai. Rupa-rupa orang memang bermacam-macam. Hanya untuk menjamunya saja, mereka rela merogoh kocek cukup dalam padahal kondisi perusahaannya pun sedikit memprihatinkan
"Permisi, dik. Ruang VVIP 2 di mana?" Daniel bertanya pada salah seorang waiter.
"Oh lantai 3 pak. Ada nomornya di depan pintu." Jawab waiter muda itu ramah
Daniel mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Segera Daniel naik ke lantai 3. Betul ucapan waiter tadi, tidak susah menemukan ruang VVIP 2
Daniel segera mengetuk pintu. Seorang gadis cantik membuka pintu sambil tersenyum. Danielpun ikut tersenyum. Di belakang gadis itu, teman yang menghubungi Daniel pun ikut menyambut
"Selamat malam, Pak Yono." Ucap Daniel
"Pak Daniel, silahkan masuk." Jawab Yono sumringah
Daniel tersenyum sambil menyambut uluran tangan Yono
"Masuk om." Ujar gadis yang membuka pintu, yang ternyata adalah Diva
__ADS_1
"Kita ngobrol di sini?" Tanya Daniel sambil melihat sekeliling. Ruangan ini lebih pantas disebut kamar daripada ruang pertemuan atau ruang karaoke
"Hehehe, sebelumnya saya sudah menyiapkan hadiah untuk bapak. Bapak bisa bersenang-senang terlebih dahulu dengan gadis itu." Kata Yono
Daniel terkekeh "Aku memang menyuruhmu membooking gadis, tapi untuk menemani kita bercakap-cakap, bukan untuk hubungan satu malam."
Yono hanya menggaruk kepalanya. Ternyata ia salah tangkap maksud Daniel.
"Tapi sudahlah, aku terima hadiahmu. Ini gadis itu?" Tanya Daniel sambil memandang Diva yang terus menatap Daniel
Walau Daniel sudah berumur, ketampanannya tidak pudar. Malah semakin berkharisma. Wajar Diva terkesima melihatnya
Yono menggeleng cepat sambil memeluk Diva "Maaf, ini putri saya. Gadis yang saya maksud ada di dalam."
Daniel mengangguk "Apa gadis itu bersih?"
Yono mengangguk mantap "Saya jamin dia bersih. Hanya saja kelakuannya sedikit liar."
Daniel tertawa "Saya suka yang liar."
Yono terkekeh-kekeh sambil mempersilahkan Daniel menuju hadiahnya
"Saya menunggu diluar, pak." Ucap Yono sambil menutup pintu
Suasana temaram membuat Daniel harus membiasakan matanya terlebih dahulu. Wangi lavender memanjakan penciumannya. Daniel berjalan menuju ranjang
Terlihat seorang gadis terbaring di sana.
Daniel memicingkan mata, kemudian terbelalak. Tangan gadis itu diikat diatas tempat tidur.
Segera Daniel menghampiri gadis yang terbaring di ranjang lalu melepaskan ikatan tangannya. Daniel terkejut, tangan gadis itu sedingin es. Nafas gadis itu terdengar berat
"Hey, nona. Kamu baik-baik saja?" Tanya Daniel sambil mengangkat kepala gadis itu
Cahaya menyinari wajah gadis itu sehingga sedikit terlihat jelas di mata Daniel. Daniel terbelalak
"Zalynda!"
***
Bu Reema berlari menembus rintik hujan menuju IGD. Nafasnya tersengal saat membuka pintu IGD. Seorang perawat menghampiri bu Reema
"Pasien atas nama Zalynda dimana?" Tanya bu Reema panik. Perawat itu menunjuk bed Zalynda. Bu Reema segera berlari kecil menuju bed Zalynda dan menyibak tirainya
"Niel.."
"Mama.."
Daniel melihat kearah bu Reema. Pria itu berdiri memberikan duduk pada bu Reema di sebelah Zalynda yang tidak sadarkan diri
Bu Reema mendesah melihat kondisi Zalynda. Gadis itu memakai jaket Daniel untuk menutupi gaunnya yang sobek
__ADS_1
"Za kenapa, Niel?" Tanya bu Reema sambil membelai kepala Zalynda.
Belum sempat Daniel menjawab, seorang dokter datang memeriksa Zalynda. Dokter Husna sedikit terkejut melihat Zalynda. Ingatannya berputar ke peristiwa sekitar tiga minggu yang lalu
Dokter Husna segera memeriksa kondisi Zalynda. Sepertinya kejadian yang menimpa gadis ini berulang
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Daniel cemas. Bu Reema pun menatap dokter Husna dengan cemas
"Gadis ini terkena serangan panik. Tensinya drop. Sepertinya gadis ini ketakutan." Jawab dokter Husna sambil memperhatikan Daniel dan bu Reema seksama
"Ketakutan? Niel, dimana kau ketemu Zalynda?" Tanya bu Reema
Daniel menggeretakkan giginya menahan amarah. Yono membohonginya ternyata
FLASHBACK
"Zalynda!" Teriak Daniel sambil menepuk pipi Zalynda. Terlambat! Gadis itu sudah pingsan
Daniel segera menelepon Yono. Pada dering ke tiga, Yono mengangkat teleponnya
"Yon, segera ke atas!" Teriak Daniel
Daniel segera melepaskan jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Zalynda. Terdengar suara pintu dibuka
"Ada apa pak Daniel?" Tanya Yono
"Gadis seperti ini yang kau berikan padaku?! Kenapa dia ini?!" Bentak Daniel
Yono terlihat bingung. Tidak mungkin ia menceritakan hal sebenarnya
"Aah..pasti gadis ini memakai obat lagi pak. Dia memang selalu begitu." Kata Yono
Daniel mengerutkan keningnya. Tidak mungkin orang seperti Zalynda menggunakan obat-obatan terlarang
Daniel segera menyerahkan nomor Valetnya ke Yono.
"Segera ambil mobil saya, saya akan bawa gadis ini ke rumah sakit."
FLASHBACK END
"Niel.." panggil bu Reema membuat Daniel sedikit tersentak
"Niel bertemu di club, ma. Zalynda sudah pingsan saat Niel melihatnya." Kata Daniel. Daniel yakin ada suatu kejadian sebelum dirinya bertemu Zalynda. Dengan kondisi terikat dan gaun yang sobek, Daniel yakin gadis ini ketakutan setengah mati
Tiba-tiba Daniel merasa amat marah. Dirinya tidak rela melihat kondisi Zalynda. Rahang Daniel mengeras, tangannya terkepal erat
"Saya perlu melihat kondisinya ya bu, pak. Nona ini harus rawat inap minimal satu malam untuk saya memantau kondisinya." Kata dokter Husna lagi
Bu Reema mengangguk "Niel,segera urus pendaftaran untuk Za. Mama akan menemaninya di sini."
Ucapan bu Reema menyadarkan Daniel. Perlahan dilonggarkannya kepalan tangannya
__ADS_1
"Baik ma." Kata Daniel patuh. Segera Daniel menuju ruang administrasi
Dokter Husna memperhatikan ke arah Daniel dan bu Reema. Diam-diam dokter Husna mengetikkan sebuah pesan ke Ray