CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 73


__ADS_3

Anggun melirik Diva yang duduk di bangku belakang dari kaca spion. Gadis itu sedari tadi menekuk wajahnya tanpa melihat ke arah Anggun


"Pagi-pagi itu harusnya banyak senyum, ceria. Bukan ditekuk enam begitu." Kata Anggun keras. Yono juga melihat sekilas ke arah Diva sambil memarkir cantik mobilnya di pelataran parkir Rumah Sakit. Anggun dan Yono segera turun dari mobil. Mau tidak mau, Diva mengikuti mereka


"Lagian mama ngapain sih pagi-pagi kesini? Diva masih ngantuk banget, semalam baru pulang jam dua." Kata Diva sambil mensejajarkan langkahnya dengan Anggun dan Yono


Anggun berdecak kesal melihat kelakuan putri semata wayangnya yang sering pergi ke club. Untung sayang, kalau tidak sudah dibuang jauh-jauh


"Nanti malam kan ada acara syukuran di rumah keluarga Al Farobi. Jangan bilang kamu nggak tahu ya."


Diva memutar bola matanya "Jelas Diva tahu, mama. Itu kan syukuran selesai koleksi caturwulan butik."


"Naah, semua ibu-ibu arisan itu diundang tau nggak. Termasuk mama. Bu Aya udah kenal sama mama karena mama suka bawain kue saat arisan."


Diva tertawa hambar "Yaelah, sogokannya kue."


Anggun menghentikan langkahnya menatap ke arah Diva dengan pandangan tidak senang


"Kenapa? Kue itu mahal lho. Nggak sedikit mama ngeluarin uang buat beli kue itu. Lagian ya, itu juga untuk memuluskan jalan kamu ngedeketin putra sulungnya bu Aya. Kok malah bilang gitu."


Yono menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah istri dan putrinya. Mereka berdua sama-sama tidak mau mengalah


"Udah ah jangan berantem. Ini Rumah Sakit. Mama juga ngapain ke sini pagi-pagi?" Tanya Yono


"Mama janjian sama dokter kulit untuk treatment pa, kudu pagi-pagi karena antriannya cepet banget penuh. Biar ntar malam mama kelihatan kinclong dan glowing di acaranya bu Aya. Kamu juga harus ikut perawatan, Div."


Diva menghembuskan nafas kasar "Nggak usah jodoh-jodohin sama Ray, mama. Pria itu sudah menikah."


Anggun dan Yono berpandangan. Ray sudah menikah? Kenapa tidak ada beritanya di koran ataupun televisi?


"Kamu yang bener kalau bicara." Kata Anggun


"Beneran ma. Tau nggak istrinya siapa? Linda!" Kata Diva. Mengingatnya saja sudah membuat gadis itu kesal.


Anggun menggeleng, wanita itu segera mengambil nomor untuk mengantri di mesin otomatis pengambilan nomor setelah memencet nama dokter yang dituju


Yono segera menarik tangan Diva menjauhi Anggun yang sedang bertanya di bagian informasi


"Kamu yang bener, Zalynda sudah menikah sama Rayhan anaknya Ardhi Al Farobi?" Tanya Yono dengan suara pelan


Diva mengangguk "Ray sendiri yang bilang pa, waktu kita mau nyulik Linda itu lho."


Wajah Yono seketika memucat. Yono langsung menempelkan telunjuknya di bibir isyarat agar Diva tidak terlalu keras berbicara. Diva mengatup bibirnya sambil mengangguk


"Ng..Apa Ray tahu kalau kita yang nyulik Zalynda? Itu kamu tiap pemotretan ketemu mereka kan?"

__ADS_1


Kali ini Diva menggeleng "Mereka pemotretannya di rumah. Aku dan Sagara di butik. Tapi sepertinya Linda nggak bilang apa-apa ke Ray. Buktinya aku dan papa nggak kenapa-kenapa."


Yono terdiam. Pria itu teringat beberapa kali dihajar oleh seseorang saat akan menyentuh Zalynda setelah gadis itu ditebus seseorang di club XX. Terakhir kali peristiwa di dekat danau sehari setelah Zalynda diculik saat Yono dipukuli pria bertopeng hitam


Tiba-tiba Yono merasa sangat marah.


"Gadis itu mengadu ternyata. Dia juga sudah bersama pria dari keluarga Al Farobi. Aku tidak akan tinggal diam!" Bathin Yono


Pikiran Yono tiba-tiba teringat akan orang yang menebus Zalynda di club XX. Apa mungkin itu Ray? Yono menyeringai sambil berbisik dalam hati


"Well..well.. anak Ardhi Al Farobi main-main ke club XX ternyata."


"Dokternya datang jam 8 pagi. Udah, papa ke kantor sana. Ntar jam 12 jemput lagi ya." Kata Anggun memecah lamunan Yono. Pria itu memutar bola matanya


"Naik taksi aja kenapa sih ma. Kan papa bolak-balik kalau dari kantor."


Anggun mendelik galak "Siapa suruh kemarin jual mobil yang silver? Terpaksa pakai mobil hitam yang penyok pintunya. Untung acaranya nanti malam, nggak terlalu ketahuan mobil mama."


Yono mendesah pelan. Keuangan perusahaan menipis, Yono tidak bisa seenaknya merubah angka pemasukan dan pengeluaran karena pihak TecnoTek meneliti dengan ketat. Sedang hutang judinya harus segera dibayar, mau tak mau mobilnya di gadaikan


Mobil tuan Wijaya sebenarnya


Tiba-tiba matanya melihat interaksi di taman yang menarik perhatiannya. Matanya memicing


"Ma, coba lihat di sana." Tunjuk Yono. Anggun dan Diva mengikuti telunjuk Yono. Terlihat Zalynda sedang bercakap-cakap dengan Farah di taman


Yono terdiam. Sudah setahun yang lalu sebetulnya Yono tahu Farah dibawa oleh seseorang bernama Lela. Apa itu mungkin Zalynda yang menyamar karena gadis itu sudah mengetahui siapa dirinya? Pikir Yono


"Pa?" Suara Anggun menyadarkan Yono dari lamunannya. Yono harus segera bertindak


"Ma, ambil foto mereka." Perintah Yono


Anggun berkenyit, namun wanita itu tetap melaksanakan perintah Yono untuk memotret Farah dan Zalynda.


Yono sedikit heran melihat Daniel ikut bergabung dengan dua wanita itu. Cara Daniel memperlakukan Zalynda membuat Yono bertanya-tanya.


"Kemarin pak Daniel yang bawa Za ke rumah sakit. Apa terjadi sesuatu antara mereka? Apa mereka punya affair di belakang Rayhan?" Bathin Yono


"Itu pak Daniel kan? Kenapa peluk-peluk Farah? Terus akrab banget sama Zalynda?" Tanya Anggun yang masih memotret interaksi ketiga orang itu


"Sepertinya papa punya rencana bagus." Desis Yono sambil menyeringai


**"


Ray memandang wajah Zalynda yang terlelap di sebelahnya. Mungkin karena sesi therapy yang panjang membuat gadis itu kelelahan.

__ADS_1


Mobil Ray masuk ke parkiran Apartemen Gading. Ray membuka seatbelt nya dan keluar menuju pintu Zalynda lalu hati-hati membuka pintu.


Gadis itu masih terlelap saat Ray melepaskan seatbeltnya. Ray tertawa pelan sambil membelai pipi Zalynda "Kamu capek banget kayaknya."


Ray hendak menggendong Zalynda, saat gadis itu menggeliat dan membuka mata


"Ray.." mata gadis itu mengerjap


"Sudah sampai, Za. Kamu kelihatannya capek banget. Mau aku gendong?" Tanya Ray


Zalynda menggeleng. Gadis itu duduk sejenak untuk membuat dirinya benar-benar sudah bangun. Saat gadis itu hendak keluar, tiba-tiba rasa pusing melanda.


Ray dengan sigap menahan tubuh Zalynda yang sedikit oleng "Kamu masih ngantuk, sayang?"


"Ng..Nggak, rasanya pusing banget. Mungkin habis bangun tidur ini." Kata Zalynda yang masih berpegangan pada lengan Ray


Tanpa banyak bicara, Ray segera menggendong Zalynda. Satpam gedung segera membukakan pintu untuk Ray. Beberapa tatapan penghuni apartemen membuat Zalynda sedikit tidak nyaman, tetapi gadis itu berusaha cuek dengan memejamkan matanya sambil bersandar di bahu bidang Ray


Mereka sampai di unit apartemen. Ray segera merebahkan tubuh Zalynda ke ranjang dan membuka sepatu dan kerudung gadis itu


Ray segera menyeduhkan teh manis yang diberi sedikit daun mint. Rasanya sangat segar, Zalynda terlihat lebih baik


"Kamu istirahat ya. Kayaknya capek banget. Nanti malam bisa ikut acara syukuran bunda?" Tanya Ray


Zalynda mengangguk sambil tersenyum "In syaa Allah bisa. Aku sepertinya memang masih mengantuk."


Ray tertawa kecil sambil membelai rambut Zalynda yang panjang tergerai.


"Kamu mau ke kantor?" Tanya Zalynda melihat Ray berdiri dan mengganti bajunya dengan kemeja formal dan jas


"Iya, ada klien dari Semarang datang mau membicarakan layout untuk pembangunan proyek perumahan di sana."


Zalynda sejujurnya ingin Ray tetap berada di sisinya, entah kenapa hari Zalynda ingin sekali dipeluk terus oleh Ray. Mungkin karena melihat pertemuan Farah dan Daniel tadi pagi


"Aku berangkat ya." Ray mengecup kening dan bibir Zalynda


"Hati-hati di jalan. Cepet pulang ya."


Ray mengangguk lalu keluar dari kamar Zalynda. Terdengar Ray sudah keluar dari apartemen. Zalynda mendesah pelan. Mungkin dengan berendam di bathtub dengan air hangat akan sedikit merilekskan otot-ototnya


Zalynda melangkah ke arah lemarinya untuk mengambil pakaian ganti. Sesaat gadis itu tertegun melihat pembalut yang terbungkus rapi di pojok lemarinya


Pembalut itu ia bawa saat baru pindah ke apartemen Ray. Zalynda ingat pagi hari saat Yono menjualnya di club XX gadis itu baru selesai haidh


Mata Zalynda memicing.

__ADS_1


Jangan-jangan...


__ADS_2