
Tanpa diduga, Zalynda melangkah cepat ke arah meja dan langsung duduk di tengah-tengah Agus dan Marvin tepat di hadapan Ray.
Kedua pemuda ini refleks menggeser duduknya memberikan tempat lebih luas untuk Zalynda sambil memandang Ray yang langsung menatap tajam ke arah Zalynda.
"Ini piring dan sendoknya Gus, Vin. Mau yang mana nih? Aku ambilin." Kata Zalynda sambil menyerahkan piring dan sendok ke Agus dan Marvin. Sengaja Zalynda tidak memandang ke arah Ray untuk menghindari pandangan pemuda itu
"Ini buat Marvin, ini buat Agus." Kata Zalynda sambil mengambilkan dimsum ayam dan tempura udang untuk Marvin dan Agus.
Marvin dan Agus menerima pemberian Zalynda sambil mengucapkan terima kasih. Keduanya melirik Ray yang rahangnya terlihat makin mengeras. Alin pun menyadari perubahan sikap Ray. Alin mendongak dan melihat wajah Ray sedikit memerah
"Aku masak agak banyak. Mau saladnya juga?" Tanya Zalynda. Suara Zalynda terdengar lembut menawari Agus dan Marvin memantik api cemburu di dada Ray
"Zalynda!" Suara Ray terdengar keras mengejutkan Zalynda yang akan mengambilkan salad untuk Agus dan Marvin. Begitu juga dengan Agus dan Marvin, keduanya agak terlonjak. Agus malah langsung menelan potongan dimsumnya tanpa dikunyah terlebih dahulu
Alin juga terkejut karena Ray tiba-tiba bersuara keras seakan membentak Zalynda. Gadis itu segera menarik iPad nya dan mendekapnya di dada. Matanya menatap ke arah Ray dan Zalynda bergantian
"Ada apa Ray? Kamu mau sesuatu?" Tanya Zalynda mencoba mengatur nada suaranya tetap stabil. Zalynda tidak boleh terlihat lemah, apalagi di hadapan Alin
Ray tidak bersuara, hanya matanya tetap menyorot tajam ke arah Zalynda membuat Marvin dan Agus sedikit salah tingkah
"Ng, gue mau makan siang dulu ya Ray. Ntar gue balik lagi. Ayo Gus." Ajak Marvin cepat sambil berdiri dan menarik Agus untuk ikut berdiri
"Ah iya, gue lunch dulu ya Ray. Ikut Lin!" Perintah Agus cepat
Alin segera beranjak dari duduknya mengikuti Agus. Diam-diam gadis itu tersenyum melihat sebentar lagi sepertinya Ray dan Zalynda akan bertengkar hebat
Setelah pintu di tutup, Ray segera mengambil remote dan mengunci pintu ruangannya dari jarak jauh. Zalynda menoleh ke arah pintu lalu kembali menatap Ray
__ADS_1
"Apa yang.."
Zalynda belum sempat berucap, tangannya sudah di tarik oleh Ray sehingga gadis itu berdiri dan menubruk dada Ray. Ray segera mendekap tubuh Zalynda sementara Zalynda menyelipkan tangannya agar memberi jarak antara tubuh Ray dan tubuhnya. Keduanya bertatapan dengan tatapan berbeda
"Kamu ngapain duduk diantara Agus dan Marvin?! Ngapain nawarin makan ke mereka dengan nada suara mendayu-dayu kayak tadi?!" Tanya Ray tajam.
Zalynda malas menanggapi Ray. Gadis itu melihat ke arah lain namun Ray kembali memegang dagu Zalynda untuk melihat ke arahnya. Mata Zalynda menyipit memandangi Ray
"Kamu marah karena aku duduk diantara Marvin dan Agus? Kamu marah aku nawarin makan ke mereka padahal mereka teman kamu lho! Terus kamu kenapa diam pas tadi Alin duduk deket-deket sama kamu?" Kata Zalynda.
Suara gadis itu sedikit bergetar namun Zalynda tetap menahan agar tidak terlihat ketakutan dan sedih di hadapan Ray
"Apa?" Ray memicingkan mata. Pelukannya sedikit mengendur. Zalynda segera mendorong tubuh Ray dan melepaskan diri dari dekapan Ray. Gadis itu mundur beberapa langkah
"Kamu memang nggak sadar atau pura-pura nggak sadar Ray? Dari awal ketemu Alin aku tahu lho dia memiliki perasaan khusus sama kamu. Dari cara dia memandang kamu, cara dia bicara, nada bicaranya, aku tahu semua tapi kamu malah seperti tidak peduli dan kadang membiarkan dia untuk mendekatimu."
Suara Zalynda tidak terdengar seperti orang marah-marah. Justru nadanya terdengar lembut namun terasa tajam di hati Ray saat melihat manik coklat gadis itu berkaca-kaca
"Terus tadi dia sengaja duduk di sebelah kamu, mepet-mepet ke kamu dan kamu malah diam saja." Ucap Zalynda lagi sambil melipat tangannya di depan dada
"Dan kami bentak aku di depan dia dan teman-temanmu.."
Ray memejamkan matanya. Dirinya tahu sikapnya melukai hati Zalynda walau Ray melakukan hal itu tanpa sadar. Ray membuka matanya dan melihat Zalynda menyeka matanya. Perlahan Ray mendekati Zalynda
"Za, aku minta maaf.. Tapi terus terang aku sama sekali nggak sadar tadi kalau posisi Alin deket banget sama aku. Aku fokus sama makanan kamu dan hasil dekorasi yang dibuat Alin di iPad nya. Percaya sama aku."
Zalynda membuang pandangannya sembari mendengkus. Ray menghela nafas panjang
__ADS_1
"Dan harusnya kamu bilang langsung ke aku kalau kamu keberatan dengan posisi Alin tadi, bukan pakai acara duduk diantara Marvin dan Agus. Walau mereka temanku, mereka juga laki-laki asing untukmu." Kata Ray lagi membuat Zalynda memandang Ray sambil menyipitkan matanya
"Bilang langsung? Ngelabrak Alin maksudnya? Anarkis.." kata Zalynda pelan
Zalynda tahu sejak kuliah dulu kadang Ray kurang peka dengan para wanita yang selalu mencari perhatiannya. Wajar karena Ray dulu terkenal dengan julukan Ray Eagle, si kanebo kering. Namun tetap saja hatinya sedikit panas melihat pemandangan tadi apalagi sekarang status Ray adalah suaminya
Ray mendekati Zalynda dan mengulurkan tangannya mencoba menggenggam tangan gadis itu erat. Awalnya Zalynda mencoba melepaskan genggaman tangan Ray, namun Ray tetap menggenggam erat tangan gadis itu hingga akhirnya Zalynda pasrah
"Sejujurnya aku senang lihat kamu sudah seperti Zalynda yang aku kenal dulu di kampus. Lebih berani dan ekspresif. Apalagi kalau lagi cemburu." Kata Ray mencoba menggoda Zalynda
"Aku nggak cemburu." Ujar Zalynda sambil cemberut, sangat terlihat gadis itu berbohong. Ray terkekeh mendengar ucapan Zalynda
"Maafkan aku ya. Aku akan berusaha lebih peka lagi." Kata Ray sambil mencium tangan Zalynda
Zalynda melirik ke arah Ray kemudian mendesah pelan sambil menghadap ke arah Ray. Keduanya saling memandang
"Maafkan aku juga ya karena sudah buat kamu marah. Sebetulnya hal itu spontan terpikir untuk menarik perhatian kamu."
"Dan itu sangat berhasil mengalihkan semua perhatianku. Untuk itu kamu harus dihukum, Za." Kata Ray sambil menarik ujung bibirnya
"Hah?"
Dengan sekali gerakan, Ray mengangkat Zalynda menuju ruangan istirahat di samping ruangan kerja Ray. Di ruangan itu terdapat tempat tidur ukuran queen size, tempat Ray beristirahat sejenak dari penatnya pekerjaan. Ruangan itu juga dilengkapi AC dan kamar mandi dalam.
Ray meletakkan tubuh Zalynda di kasur dan langsung mengungkung tubuh gadis itu.
"R-Ray! Ini masih dikantor!" Kata Zalynda mencoba melepaskan diri dari Ray. Ray seakan tidak peduli dengan protes Zalynda. Tangan pemuda itu sudah mulai membuka baju Zalynda menjelajahi tubuh gadis itu
__ADS_1
"Cepat aja kok, cantik. Aku selalu mau nyobain s**s after lunch. Pas banget hari ini ada partner halalnya. Lagipula nolak suami dosa lho Za." Kata Ray sambil terus menggoda Zalynda
Akhirnya Zalynda hanya bisa pasrah menerima hukuman manis dari Ray