CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 72


__ADS_3

Perlahan Daniel membuka hasil tes dari dokter Husna. Daniel meneliti huruf demi huruf yang tertera di sana untuk mencari hasil akhir laporan tersebut


Sampai di satu kalimat.. Yang membuat nafas Daniel tercekat!


Matanya seketika basah. Inilah kenyataan yang harus diterima olehnya. Daniel memandang lekat wajah bu Reema yang menanti jawaban Daniel


Bu Reema menutup mulutnya melihat tatapan mata Daniel. Matanya pun turut basah. Terlihat wanita separuh baya itu berusaha mengukir senyum di bibirnya


"Tidak apa-apa, nak. Walau Zalynda bukan putrimu, mama tetap menyayanginya."


Kening Ray berkerut mendengar hasil tes DNA Daniel. Ray pun urung memberikan satu surat lagi yang tadi diberikan oleh dokter Husna


Daniel menatap bu Reema sambil menghapus air matanya. Daniel menunjukkan surat hasil tes DNA pada bu Reema.


Mata bu Reema langsung tertuju pada hasil laporan yang di cetak tebal bertuliskan Probabilitas DNA Daniel Pratama dengan DNA Zalynda Navulia adalah 99.9%


"Niel.." bu Reema kembali memandang Daniel tidak percaya. Seketika tangannya memukuli bahu Daniel


"Dasar nakal! Kenapa kau memandang mama seperti tadi hah?! Jantung mama serasa berhenti saat melihatmu menangis tadi. Nakal!" Bu Reema memukuli Daniel sambil menangis dan tertawa


Daniel pun balas memeluk bu Reema untuk menghentikan pukulan bu Reema


"Niel punya anak, mama. Mama punya cucu.." Kata Daniel. Bu Reema mengangguk di dalam pelukan Daniel.


Daniel beralih menatap Ray yang berdiri tak jauh dari dirinya. Daniel menghapus airmatanya dan menghampiri Ray


"Dengar, walau aku mempunyai masalah dengan orangtuamu di masa lalu tetapi putriku tidak tahu apa-apa."


Ray tersenyum "Aku tahu pak."


"Kalau nanti sekiranya Ardhi dan Aya mengetahui siapa Zalynda dan keberatan menerima keberadaannya, kau bisa telepon aku. Aku akan datang mengambil putriku." Lanjut Daniel


Ray menggeleng "Seperti yang anda bilang, Za tidak tahu apa-apa. Ayah dan bunda kemungkinan besar akan menerimanya."


"Bagaimana kalau tidak?" Desak Daniel


Ray menghela nafas sambil menatap Daniel. Mata elang keduanya bertemu


"Saya sudah membuat perjanjian saat ijab qabul untuk menjaga Zalynda di hadapan Allah, saya tidak akan menyerah begitu saja. Lagipula bunda pernah bilang, kami sepertinya ditakdirkan bersama, dan aku percaya hal itu."


Daniel tersenyum. Jawaban Ray sudah cukup membuat hatinya lega.


"Ah iya, sepertinya anda juga harus tahu hal ini, pak." Kata Ray sambil menyerahkan amplop putih hasil pemeriksaan DNA Farah dan Zalynda


Daniel memeriksa hasil laporan tes DNA yang menyatakan 99.9% DNA Farah Afriyani Wijaya cocok dengan Zalynda. Daniel tertawa senang


"Aku tahu, aku sudah merasakan kalau Zalynda adalah anak kami. Tes ini adalah bukti untuk membenarkan perasaanku."


Senyum di wajah Daniel terlihat pudar, matanya terlihat menerawang "Sayang, aku tidak tahu dimana Farah.."

__ADS_1


"Mau aku ajak anda menemui bu Farah, pak?" Tanya Ray spontan membuat Daniel membelalakkan matanya


"Kau tahu dimana dia?"


Ray mengangguk "Beliau ada di rumah sakit ini juga."


Daniel menoleh menatap bu Reema. Bu Reema mengangguk


"Pergilah Niel. Mama akan tunggu di sini. Mama rasanya masih bahagia sampai lemas tidak bisa berdiri."


Daniel tertawa kecil "Sebentar ya ma."


Daniel dan Ray keluar dari ruangan dokter Husna meninggalkan bu Reema yang bercakap-cakap dengan dokter Husna. Kedua pria itu berjalan melewati lorong-lorong yang ramai akan orang dan tiba di taman rumah sakit


Mata Daniel melihat kearah telunjuk Ray. Matanya membulat melihat sosok yang selama ini ia cari sedang mengobrol dengan Zalynda, putrinya.


"Mereka sudah saling kenal?" Tanya Daniel sambil mengamati Zalynda dan Farah yang terlihat akrab satu sama lain


Ray terkekeh "Tentu saja, Za pernah dibawa tuan Wijaya mengunjungi bu Farah saay di Healing Soul sewaktu SMA. Tetapi sampai sekarang Za tidak tahu statusnya. Dia hanya tahu dirinya adalah saudara jauh keluarga Wijaya."


Daniel menghela nafas. Perasaan bersalah sedikit menyelimutinya karena baru mengetahui kebenarannya sekarang


"Bu Farah sudah bisa berkomunikasi. Namun ada banyak memorinya yang hilang. Karena itu, sebaiknya anda perlahan berbicara dengannya pak. Jangan sampai ia terpicu memaksa mengingat sesuatu." Jelas Ray panjang lebar


"Baik, terima kasih."


"Dia masih harus kontrol?" Daniel menatap ke arah Ray. Ray terdiam sesaat, lalu menggeleng


"Dia menemui psikiater untuk menyembuhkan luka bathinnya akibat perlakuan Yono dan keluarganya."


Rahang Daniel mengetat. Daniel berjanji akan segera membalas perbuatan Yono pada putrinya.


"Silahkan temui mereka pak. Saya tinggal dulu." Kata Ray membuyarkan lamunan Daniel. Daniel menoleh menatap punggung Ray


"Ray.."


Ray menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya ke arah Daniel. Daniel tersenyum


"Terima kasih, menantu."


Daniel segera berlari mendekati Farah dan Zalynda meninggalkan Ray yang tersenyum mendengar panggilan Daniel untuk dirinya


***


Zalynda memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di koridor rumah sakit sementara dirinya mengambil tempat duduk sendirian di bangku taman rumah sakit


Hari ini jadwal Zalynda therapy, namun Ray meminta ijin mengurus sesuatu dan meminta Zalynda menunggu pemuda itu di taman


Zalynda menoleh ke samping. Senyumnya mengembang melihat sosok yang ia kenal. Segera gadis itu berpindah duduk menghampiri seseorang yang dilihatnya

__ADS_1


"Tante Farah.." Sapa Zalynda sopan


Farah menoleh lalu tersenyum. Zalynda segera mencium tangan Farah dan duduk disamping wanita itu


"Kamu sakit?" Tanya Farah karena melihat Zalynda sepagi ini sudah berada di rumah sakit. Zalynda menggeleng


"Hari ini Za ada janji ketemu dokter. Kalau tante?"


Farah mengangguk "Aku juga. Cuma tadi Lela bilang dokternya sedang rapat. Jadi aku diminta menunggu disini sambil menikmati matahari pagi."


Zalynda tahu sekarang, nama lain bu Edah adalah Lela, diambil dari Layla. Karena itu dirinya sudah tidak bingung lagi, tidak seperti awal dulu


"Iya, mataharinya enak. Udaranya juga masih segar." Zalynda menghirup dalam-dalam udara di sekitarnya. Farah tersenyum memperhatikan tingkah gadis di sebelahnya. Farah merasa pernah melihat Zalynda, entah dimana.


"Fa.."


Farah dan Zalynda sama-sama melihat ke arah belakang. Nampak Daniel terlihat habis berlari, dari nafasnya yang sedikit tersengal


"Pak Daniel, anda di sini? Siapa yang sakit?" Tanya Zalynda. Seingat Zalynda saat ijin tadi pagi, suara bu Reema terdengar sehat


Daniel tersenyum. Refleks tangannya membelai kepala Zalynda yang tertutup kerudung abu-abu. Zalynda sedikit terkejut, tetapi dirinya tidak menghindar.


"Tidak ada yang sakit, nak." Ucap Daniel lembut. Hati Zalynda bergetar saat Daniel menyebut 'nak' pada dirinya


Tatapan Daniel beralih ke arah Farah. Pria itu tersenyum sambil bertanya lembut


"Apa kabar Fa?"


Mata Farah mengerjap melihat Daniel. Daniel tahu dirinya tidak bisa berharap wanita itu akan mengenalinya. Selama di Healing Soul, Farahpun sering salah menyebut dirinya sebagai Ardhi. Daniel tersenyum kecut


"Aku..aku teman lamamu. Mungkin kau tidak mengenaliku tapi.."


"Daniel..?"


Ucapan Daniel terhenti mendengar Farah memanggil namanya


"Fa.."


Farah mendekati Daniel dan menyentuh pipi pria itu. Matanya seolah ingin mengeluarkan semua rekaman tentang pria itu dari pikirannya. Daniel seperti orang bodoh yang terdiam tidak tahu harus berbuat apa


"Daniel.." Farah tiba-tiba memeluk erat Daniel membuat pria itu beberapa detik tidak bisa berfikir apapun, namun selanjutnya Daniel balas memeluk Farah erat


"Daniel, aku merindukanmu." Kata Farah. Daniel memejamkan matanya dan memeluk Farah lebih erat


"Aku tidak akan kemana-mana sekarang."


Zalynda memegang dadanya. Ada sesuatu yang terasa membuncah melihat dua orang yang sudah terpisah lama kembali bertemu. Zalynda ikut tersenyum bahagia


Tanpa Zalynda sadari, seseorang beberapa kali memotret kebersamaan mereka bertiga dengan senyuman licik

__ADS_1


__ADS_2