
POV Farah
Tubuhku terasa ringan melayang. Aku perlahan membuka mataku. Semua terlihat putih, sejauh mata memandang. Segalanya terasa bersih, seakan tidak mengenal batasan ruang dan waktu
Tiba-tiba aku berada di sebuah taman dengan kolam ikan yang indah. Wangi bunga dan rumput basah memanjakan indera penciumanku
"Papa..papa.."
Mataku memicing melihat seorang gadis kecil berlari sambil menenteng boneka. Terlihat sembab di matanya. Gadis itu berlari lucu dengan kaki kecilnya mendekati seorang pria tampan yang langsung menyongsongnya
"Ada apa sayang? Mengapa menangis?" Suara pria itu terdengar lembut dan menenangkan hingga ke relung hatiku
"Anak-anak itu jahat, Pa. Mereka nggak mau main sama Fa karena Fa nggak punya Mama.." Jawab gadis kecil itu sembari terisak
Akupun merasakan sesak di dada mendengar jawaban gadis kecil itu. Airmata di pipinya pun menderas seirama dengan airmataku yang tanpa kusadari ikut berloncatan keluar
Terlihat pria tampan itu menggendong gadis kecil itu dan memeluknya erat. Wajahnya mendongak berusaha menahan air yang tumpah. Berkali-kali pria itu menarik nafasnya. Setelah tenang, pria itu mengurai pelukannya
"Jangan menangis. Fa masih punya Papa yang bisa jadi Mama untuk Fa. Papa janji, Fa tidak akan kekurangan kasih sayang Mama dan Papa."
Lelaki itu mengusap airmata gadis kecil itu sambil tersenyum lembut. Gadis kecil itu mengangguk pelan
"Mau eskrim?"
Mata gadis kecil itu terlihat berbinar. Dengan cepat gadis kecil itu mengangguk senang. Seakan terlupa dengan kesedihannya. Terlihat keduanya pergi sambil tertawa-tawa dan bercanda. Hatiku menghangat..Aku merasa bahagia melihatnya
Mataku mengerjap, ternyata aku sudah berada di tempat lain. Ruangan baca. Aku sepertinya mengenali ruangan ini. Tetapi yang menjadi perhatianku adalah seorang gadis remaja yang menatap garang pria di hadapannya.
Pria yang tadi kulihat bersama gadis kecil tadi, namun wajahnya terlihat lebih berumur walau tidak mengurangi ketampanannya
"Kenapa Papa tidak pernah bilang kalau sebenarnya Mama meninggalkan kita?!" Tanya gadis remaja itu dengan wajah memerah
"Darimana kau tahu?" Selidik pria itu dengan wajah sedikit terkejut
"Fa lihat wanita itu datang ke kantor Papa tadi untuk meminta kembali pada Papa. Fa dengar Papa bilang kalau dia sudah meminta cerai sedari dulu, meninggalkan suami dan anaknya karena tidak mau hidup miskin. Tetapi saat Papa berjaya, dia dengan tidak tahu malu datang kembali.."
"Fa.."
"Kenapa Papa tidak cerita sama Fa?! Papa tahu, bertahun-tahun Fa membayangkan Mama selayaknya bidadari. Tetapi sekarang Fa tahu dia tidak lebih dari seorang j****g yang tidak tahu malu!"
"Fa! Jaga bicaramu!"
"Kenapa? Fa tidak ingin menjadi sepertinya kelak!"
"FA!!"
Gadis remaja itu tersentak saat mendengar pria itu membentaknya. Hatikupun ikut berdenyut sakit. Pria itupun tidak kalah terkejutnya karena mendengar suaranya sendiri. Pria itu menghela nafas
__ADS_1
'Fa..itu masa lalu. Papa tidak mau mengingatnya. Sekarang ini yang Papa pikirkan adalah kita, kebahagiaan kita."
Pria itu mencoba mendekati gadis remaja itu namun gadis itu menampik tangan pria itu
"Papa bentak Fa? Papa bentak Fa?! Fa benci papa!!"
Gadis remaja itu berlari melewati pria itu yang hanya tertegun menatap punggung gadis remaja itu
Sebongkah penyesalan seperti hadir di hatiku. Airmataku terus mengalir melihat wajah pria itu tertunduk lesu sambil menyugar rambut kelamnya. Ingin rasanya kaki ini berlari memeluknya, namun aku tidak bisa melangkah. Bahkan suaraku pun tidak terdengar olehnya.
"Hai cantik.."
Aku menoleh. Gadis tadi bersama temannya, seorang pria. Bibirku menyunggingkan senyum. Mereka terlihat bahagia. Bercanda tawa lepas seakan tidak memikirkan hal-hal rumit. Kulihat mata anak lelaki itu. Mata yang hangat dan penuh pemujaan. Mereka begitu serasi..
Sreeet…
Kembali aku berada di ruangan lain. Kali ini seperti di lorong kampus. Terlihat seorang gadis yang sama namun tampak lebih dewasa sedang menatap seorang pemuda. Pemuda itu cukup tampan, wajahnya teduh, bicaranya pun santun. Tetapi aku tidak melihat tatapan hangat di matanya, bahkan terkesan menghindar. Aku menggigit bibirku. Ah andaikan waktu dapat di putar.. Mereka tidak serasi ternyata
DOR! DOR!
Sebuah tembakan mengagetkanku. Aku melihat seorang gadis cantik bersimbah darah di pelukan pria berwajah teduh tadi. Mata pria itu menyorot marah ke arah wanita yang tadi menembakkan peluru
"Kalau terjadi sesuatu pada Aya, kau tidak akan kuampuni!"
Deeggg!!!
Kepalaku terasa sakit berputar. Aku jatuh terduduk. Semuanya kembali putih. Hanya nafasku yang terdengar satu-satu
"Maafkan aku.. maafkan aku.." bisikku pelan
"Aaargh sakiit.."
Aku mendongakkan kepalaku mendengar jeritan seorang wanita. Aku melihat wanita tadi berjuang keras melahirkan bayinya. Bayi mungil yang cantik. Momen yang menegangkan, indah sekaligus terasa sedih di hatiku
Aku berjalan mendekati nya. Dari samping aku bisa merasakan betapa hangat hatinya, seperti hatiku
"Anak ibu punya tanda lahir rupanya.." bisik wanita itu sambil mengelus lengan kiri bayi perempuannya. Nampak tanda lahir kehitaman berbentuk seperti bintang
"Cahaya bintangku.. Zalynda Navulia-ku.."
Tiba-tiba seorang pria datang dan merenggut bayi dalam gendongan wanita itu menbuat wanita itu menjerit histeris sebelum akhirnya pingsan
"Jangan! Kembalikan! Kembalikan anakku!!!" Teriakan ku bagai angin lalu saat merasa tubuh ini tersedot kembali ke ruangan putih. Kini semua terlihat kosong, hampa, sepi dan dingin
Aku terduduk di ruangan putih seolah tidak memiliki tenaga untuk bangkit.
Aku terisak-isak.. Aku ingat semuanya..
__ADS_1
Yang kulihat adalah kilas balik masa laluku. Masa lalu yang begitu menyedihkan. Masa lalu yang sebetulnya ingin ku lupakan dan ku kubur dalam-dalam
Masa laluku..
Ya, aku..Farah Afriyani Wijaya
"Ma.."
Aku menegakkan telingaku mendengar sebuah suara
"Mama..mama.."
Aku mendongak. Suara itu seakan memanggilku. Suara itu terdengar sedih. Tangisannya terdengar pilu
"Mama, bangun. Jangan tinggalkan Za lagi.."
Za? Zalynda? Zalynda Navulia-ku..
Suara itu bagaikan magis yang mengisi semua kekuatanku di setiap sendi tubuhku. Aku mencoba melangkahkan kakiku menuju arah suara yang memanggilku.
Zalynda Navulia-ku.. Zalynda Navulia-ku..
Kaki ini terasa berat melangkah. Airmataku terus membanjir. Tanganku menggapai apapun yang sekiranya bisa kugunakan untuk berpegangan
Tetapi tidak ada satupun di depan kecuali suara Zalynda yang terus memanggilku
"Allah..ijinkan aku melihat anakku. Ijinkan aku hidup menemuinya, menemaninya, mengganti waktu-waktu yang hilang bersamanya.." bisikku pilu
Kakiku semakin berat melangkah. Ruangan putih itu nampak semakin benderang menyilaukan mataku. Terdengar suara Zalynda masih memanggilku.
Aku harus terus melangkah, aku harus terus maju.. Untuk anakku, untuk Zalynda ku...
KRRRK..KRRRK..
Aku melihat cahaya putih berpendar. Sesuatu menarikku. Tubuhku yang tadinya begitu berat melangkah kini seakan ringan melayang. Aku terlentang seakan mengambang di udara. Tanganku menggapai hampa.
Airmataku mengalir, mataku seolah memberat. Suara Zalynda semakin jauh terdengar. Aku mencoba bersuara walau hanya terdengar bagai hembusan angin
"Zalynda, maafkan mama kalau tidak bisa menemani hari-harimu. Maafkan mama yang melupakanmu sedari kecil. Maafkan mama.."
Lalu kembali gelap, sepi dan hampa...
...Untuk semua perempuan hebat diluar sana yang bergelar Ibu, Mama, Ummi, Mommy, Emak, Simbok, Biyung, Mamak, dll.....
...Profesi seorang Ibu, tidak punya waktu libur, tidak memiliki cuti. Ibu adalah gambaran cinta tanpa mengharapkan balas, tak menyertakan syarat...
...Semoga Allah mengganjar lelahmu dengan surga tertinggi, wahai ibu ❤️...
__ADS_1
...PS : Untuk semua lelaki hebat bergelar ayah..Kalian luar biasa ❤️...