
Zalynda beringsut sambil menutupi tubuhnya dengan selimut saat Ray perlahan mendekati dirinya, namun Zalynda tetap pada posisinya. Bu Reema tersenyum kecil melihat keduanya
"Ibu tinggal dulu ya. Sepertinya kalian harus bicara berdua." Kata bu Reema bijak
"Eh ibu, tunggu." Ray menyerahkan buket bunga dan sekotak martabak ke bu Reema.
"Terima kasih sudah mau menjaga Zalynda. Walau ini tidak sebanding dengan bantuan ibu, tetapi saya mohon ibu sudi menerima hadiah kecil saya."
Bu Reema tertawa sambil mencubit pipi Ray "Kenapa formal sekali, kayak ke siapa aja."
Bu Reema segera menerima pemberian Ray.
Wangi martabak telur yang harum membuat liur Zalynda berdesakan ingin keluar. Perutnya berontak seakan minta diisi. Namun gadis itu menahannya dengan tetap terdiam
"Mana Daniel?" Tanya bu Reema
"Pak Daniel menunggu di kafetaria katanya, bu." Jawab Ray. Bu Reema mengangguk. Dirinya pun berpamitan ke Zalynda
***
Daniel menekuk lengannya yang tadi ditembus jarum suntik. Rasanya sedikit ngilu dibanding suntik biasa
"Kapan hasilnya bisa keluar dok?" Tanya Daniel pada dokter yang ada di lab
"Kira-kira tiga sampai empat minggu pak."
"Apa gadis itu juga sudah diambil sample darahnya?" Tanya Daniel lagi
"Sudah pak, baru saja diantar kemari sesaat sebelum bapak datang."
Daniel mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Pria itu melangkahkan kaki menuju kafetaria rumah sakit menunggu bu Reema
Seperti teringat sesuatu, Daniel mengambil handphonenya di saku celana dan mendial sebuah nomor
"Hallo.." terdengar suara diseberang sana. Suaranya terdengar lemah
"Hallo, pak Yono? Anda baik-baik saja? Suara anda terdengar seperti orang sakit
"Pak Daniel? Ng, saya baik-baik saja. Ada apa menelepon?" Suara Yono terdengar lebih bersemangat. Daniel menyeringai
"Jadi begini, saya ingin memberitahu kalau besok saya ingin bertemu dengan tuan Wijaya sebagai direktur utama Wijaya Group."
Terdengar helaan nafas di ujung sana
"Apa tidak cukup bertemu dengan saya, pak?" Tanya Yono
"Ini instruksi dari kantor pusat. Setiap klien TecnoTek harus dikunjungi untuk menjalin kerjasama yang lebih erat. Klien yang belum saya kunjungi hanyalah tuan Wijaya." Kata Daniel
"Baik, kapan anda ke rumah?" Tanya Yono
"Besok sekitar jam 5 sore."
"Baik pak. Saya akan mempersiapkan orang rumah untuk menyambut anda."
"Terima kasih."
"Ohya, pak Daniel. Bagaimana dengan gadis yang kemarin anda bawa ke rumah sakit?" Suara Yono terdengar cemas. Daniel menarik ujung bibirnya
"Sepertinya dia baik-baik saja. Saya tidak melihatnya lagi." Jawab Daniel. Memang benar, Zalynda tidak ada di hadapan Daniel sekarang, jadi Daniel tidak melihatnya
"Oh syukurlah."
__ADS_1
"Darimana anda dapatkan gadis itu, pak Yono?"
"Dia hanyalah seorang p*****r kecil yang memiliki banyak hutang ke saya pak. Dia tidak penting."
Rahang Daniel mengetat. Untung saja dia sedang bertelepon dengan Yono sehingga Yono tidak melihat ekspresi Daniel
"Baik, sampai jumpa besok."
Daniel menutup telepon dengan geram. Teringat hal-hal yang diceritakan Ray tentang Zalynda saat mereka berdua sedang membuntuti Yono tadi
FLASHBACK
Ray dan Daniel membuntuti sebuah mobil yang mereka kenal keluar dari club XX. Mobil milik Yono
"Sejak lama Zalynda tersiksa fisik dan psikis tinggal di sana. Mereka memperlakukannya seperti pembantu." Ucap Ray sambil terus mengikuti mobil Yono
"Yang saya lihat kemarin sepertinya Zalynda memiliki trauma mendalam." Kata Daniel sembari menoleh sekilas ke arah Ray
Ray terdiam beberapa saat "Za adalah korban pelecehan seksual, pak. Sudah dari SMA dia diperlakukan tidak senonoh oleh Yono."
Dada Daniel berdenyut nyeri. Tidak menyangka kehidupan gadis itu sangat menyedihkan
"Mengapa Yono berbuat begitu? Dia harusnya menjaga Zalynda dengan baik.." Desis Daniel
"Sepertinya dia juga ingin menyingkirkan Zalynda agar dia bisa menguasai seluruh harta dan aset tuan Wijaya." Jawab Ray
Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Gerimis mulai turun membasahi bumi
"Anda menyewa mobil dimana ini?" Tanya Ray lagi
"Milik seorang teman. Tenang saja, platnya sudah di copot. Kita eksekusi di depan dekat danau. Cukup sepi di sana dan tidak ada CCTV jalan." Kata Daniel memberikan instruksi
Daniel tersenyum. Jelas dia hafal karena berpuluh kali dirinya selalu mengunjungi daerah ini untuk bertemu dengan Farah
"Setelah ini, kau harus jaga Zalynda dengan baik. Aku akan mengurus om Wijaya." Kata Daniel. Ray mengangguk
Mobil mereka sampai di tepi danau. Ray segera mendahului mobil Yono dan menghalangi jalannya
"Gunakan topengmu agar dia tidak mengenalimu." Kata Daniel sesaat sebelum mereka keluar mobil
FLASHBACK END
"Niel.."
Daniel tersentak. Bu Reema sudah berada disampingnya
"Sudah ambil darahnya?" Tanya bu Reema
"Sudah mama. Hasilnya akan keluar sekitar 3-4 minggu."
Bu Reema tersenyum sambil membelai kepala Daniel dengan sayang
"Semoga benar kalau Zalynda adalah putrimu."
Daniel tersenyum "Kita pulang sekarang."
***
Sepeninggalan bu Reema, suasana sedikit hening. Hanya terdengar suara televisi dimana seorang penyiar menyampaikan kabar seputar Indonesia dan dunia.
"Kamu kemana saja?" Tanya Zalynda pelan
__ADS_1
Ray tertawa. Pemuda itu duduk di bed Zalynda
"Dari semalam aku sudah ada di sini kok. Aku hanya pergi saat satpam mengusirku." Kata Ray terkekeh
Keduanya kembali terdiam
"Tadi pagi aku mendengar apa yang kamu ucapkan, Za. Yang mengatakan kau melarang bu Reema untuk menghubungiku karena kau tidak mau bertemu denganku." Kata Ray memecahkan keheningan
Tangan Ray perlahan menyentuh pipi Zalynda. Gadis itu sedikit memundurkan kepalanya sehingga tangan Ray hanya menggapai udara
"Aku sudah kotor, Ray.." bisik Zalynda tertahan sambil menunduk. Tangannya meremas selimut rumah sakit
"Kata siapa? Kau masih Zalynda yang dulu." Jawab Ray lembut
Zalynda menarik nafas beberapa kali sebelum berkata-kata
"Sebelum aku pingsan, aku melihat seorang pria mendekatiku dan merasakan tangannya membuka ikatanku.."
Zalynda terisak "Kemungkinan besar dia telah menyentuhku, Ray.."
Ray menggeleng. Perlahan tangannya menggenggam jemari Zalynda. Awalnya gadis itu menolak, namun Ray dengan lembut tetap berusaha meraih jemari. Akhirnya Zalynda pasrah dan membiarkan Ray menggenggam jemari nya
"Pria yang kau lihat itu pak Daniel, Za."
Zalynda mendongak menatap tidak percaya ke arah Ray
"Pak Daniel yang menyuruh om Yono?"
Ray tersenyum "Pak Daniel tidak pernah menyuruh Yono mencarikan seorang gadis. Itu inisiatif Yono sendiri. Dia ingin memuaskan klien dengan memberikan wanita, namun dia tidak mau mengeluarkan uang. Karena itu Yono menculikmu dan memberikan dirimu ke kliennya."
Ray menghela nafas lega "Alhamdulillah Allah masih menjagamu, Za. Untung pak Daniel yang menemukanmu dan membawamu ke rumah sakit ini. Sungguh.. Aku sangat bersyukur sekali.."
Zalynda menangis sambil menghembuskan nafas lega. Seakan sebuah beban berat terangkat dari dadanya.
Zalynda memperhatikan tangan Ray yang menggenggam tangannya. Kening Zalynda berkerut melihat buku-buku Ray yang memerah dan sedikit terluka. Refleks Zalynda meraih jemari Ray
"Ini kenapa?"
Ray memandang buku-bukunya yang memerah dan sedikit terluka. Seluas senyum terbit di bibir Ray
"Tidak apa-apa. Aku hanya memberi pelajaran pada seseorang yang sudah menyentuh milikku."
"Kau memukuli om Yono?" Tanya Zalynda dengan mata terbelalak.
"Bukan memukuli, Za. Lebih tepat, menghajarnya." Ralat Ray
Zalynda mendesah pelan "Ray, bagaimana kalau dia lapor polisi? Bagaimana kalau dia membalas ke kakek? Kakek sedang sakit.."
Ray segera menangkup pipi Zalynda dan mengarahkan wajah gadis itu untuk menatapnya
"Dia tidak akan lapor polisi. Kalaupun ia, dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Mengenai kakek Wijaya, pak Daniel sudah melindunginya."
Mata Zalynda mengerjap menatap Ray sambil tersenyum lega. Ray merengkuh Zalynda kedalam pelukannya. Keduanya saling terdiam sambil menikmati pelukan yang menghangatkan
"Pak Daniel baik sekali padaku. Mengapa ada orang sebaik dia Ray?"
Ray tertawa "Wajar Za. Dia ayahmu.."
Zalynda langsung tegak menghadap Ray "Apa kamu bilang?"
Ray memejamkan mata "Gawat keceplosan."
__ADS_1