CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 93


__ADS_3

Zalynda menyandarkan punggungnya di pintu kamarnya. Separah itukah kesalahannya sampai Ray tidak mau bertegur sapa dengannya


"Aku harus gimana supaya kamu nggak marah sama aku, Ray.." bisik Zalynda pada dirinya sendiri


Dengan berat Zalynda segera mengganti bajunya dan memakai make up tipis untuk bertemu Daniel dan Farah. Setidaknya hari ini Zalynda harus memperlihatkan dirinya bersemangat menemui kedua orang tuanya


Zalynda segera mengambil tasnya dan sekali lagi mengecek penampilannya. Kerudung krem dan gamis berwarna almond dengan motif bunga terlihat cocok di pakainya.


Gerakan Zalynda terhenti saat gadis itu membuka pintu kamarnya dan tanpa sengaja mendengarkan percakapan Ray dengan temannya via telepon


"Ok sayang, kita ketemu di kantor buat bahas yang tadi ya.."


Ada sesak yang menyelimuti dada Zalynda saat pendengarannya menangkap kata-kata Ray.


"Sayang.." Bathin Zalynda.


Gadis itu mengepalkan tangannya erat. Darahnya seketika memanas. Ingin rasanya Zalynda melangkah menjauhi Ray, namun kakinya seperti terpaku di tempatnya berdiri


Ray berbalik dan melihat Zalynda sedang menatapnya. Tatapan gadis itu menyiratkan kesedihan dan kekecewaan. Keduanya terdiam.


"Ng, aku berangkat dulu.." kata Zalynda memecahkan keheningan. Zalynda berjalan melewati Ray tanpa melihat ke arah pemuda itu. Ray mengikuti pergerakan Zalynda dengan matanya


"Kamu..dengar percakapanku?" Tanya Ray, menghentikan langkah Zalynda. Zalynda mengangguk


"Kenapa?" Tanya Ray lagi sambil mendekati Zalynda


Zalynda menoleh sambil mengerutkan keningnya "Kenapa apa?"


Ray menghela nafas kasar "Kenapa kamu nggak tanya dengan siapa aku telepon."


Zalynda menggeleng sambil menjawab "Itu melanggar batas privasi Ray.."


Ray menyipitkan matanya kemudian tertawa, bukan terdengar senang tetapi terdengar menyedihkan


"Haah, batas privasi! Ternyata memang aku nggak berharga ya di mata kamu." Ucap Ray sambil menatap tajam Zalynda


"Eh?"


"Kamu nggak pernah mau mengandalkan aku dengan alasan nggak mau bikin aku repot. Kamu nggak mau melibatkan aku dalam permasalahanmu dengan alasan takut di tolak. Kamu nggak peduli aku bicara, ngobrol bahkan janjian dengan siapapun dengan alasan melanggar batas privasi.. Padahal sebetulnya aku ini nggak penting kan di mata kamu Za?" Tanya Ray keras


"Mengapa Ray jadi marah-marah? Harusnya adegan marah-marah itu kan bagianku!" Bathin Zalynda. Namun gadis itu hanya terdiam sambil mendekati Ray


"Kamu nggak cemburu aku bilang sayang-sayang ke Agus?!" Tanya Ray.

__ADS_1


Kening Zalynda berkerut sambil membathin "Agus?"


Tampaknya Ray tidak menyadari dirinya sudah keceplosan. Ray masih saja mengeluarkan unek-uneknya


"Terus menurut kamu, aku harus gimana?" Tanya Zalynda saat melihat Ray sudah berhenti berbicara, entah tidak ada bahan lagi atau kehabisan nafas


"Marah kek, mencak-mencak kek, banting-banting barang kek.."


"Anarkis.." Jawab Zalynda cepat sambil mendekati Ray


"Kamu sebenarnya cinta nggak sih sama aku?! Kamu..!" Ray menahan ucapannya saat Zalynda menangkup pipi Ray dan berjinjit untuk mengulum bibir Ray


Mata Ray membesar karena kaget. Biasanya Zalynda selalu pasif, malu-malu kini berani memulai terlebih dahulu. Apalagi saat Zalynda berani menghisap lidah Ray, n***u Ray seakan ikut meningkat


Zalynda menyudahi ciumannya sambil menatap ke arah Ray. Terlihat pipinya yang mulus merona karena malu, sementara Ray mengerjap terlihat seperti orang bodoh


"Kamu tidak sedang berorasi, Ray Eagle. Ayo, nanti telat ke kantor lho." Bisik Zalynda tepat di depan bibir Ray.


Ray seakan tersihir dan memanyunkan bibirnya hendak menyentuh kembali bibir Zalynda. Zalynda terkikik geli melihat aksi Ray. Gadis itu melepaskan tangannya dari wajah Ray dan hendak meninggalkan pemuda itu sebelum kesadaran Ray kembali


Namun Ray lebih cepat membelit tubuh Zalynda dengan lengannya sehingga punggung Zalynda kembali menempel di dada Ray.


"Ray, lepasin.." Zalynda berusaha meloloskan diri dari pelukan Ray


"Jangan kabur, kamu harus tanggung jawab dulu." Kata Ray sambil menggigit kecil telinga Zalynda. Membuat bulu kuduk Zalynda meremang sehingga mengurangi ke fokusan nya


"Ray, kok di lempar? Ada handphone aku di dalam." Kata Zalynda bersungut-sungut


Ray tidak ambil pusing dengan kata-kata Zalynda. Pemuda itu lalu memanggul tubuh Zalynda di pundaknya dan membawa gadis itu ke kamarnya tanpa mempedulikan protes dari gadis itu


***


Daniel menatap handphonenya lama.


"Kemana sih dia?" Pikir Daniel.


"Kenapa Niel?" Tanya bu Reema yang sudah berada di sebelah Daniel


"Zalynda ma. Dia bilang mau ke sini pagi, terus mau sama-sama ke rumah bu Edah untuk menemui Farah. Tapi Niel telepon dari tadi nggak diangkat." Daniel kembali mendial nomor telepon Zalynda


"Sudah, jangan di telepon terus. Mungkin dia sedang dalam perjalanan. Bahaya nanti lho." Kata bu Reema mengingatkan


Daniel berdecak kesal sambil mematikan sambungan teleponnya. Dalam hati Daniel membenarkan apa yang bu Reema katakan. Jangan sampai Zalynda kenapa-kenapa di jalan gara-gara teleponnya

__ADS_1


"Lagipula kamu kalau mau ketemuan sama Farah, sana duluan. Mungkin Za pengen ngasih kalian waktu untuk berdua dulu." Kata bu Reema lagi sambil membuka koran paginya


"Nggak asyik kalau berdua ma. Kan rencananya memang mau family time sambil mendekatkan Zalynda dengan Farah." Kata Daniel sambil menyimpan handphonenya


Bu Reema tersenyum jail "Atau kamu yang pemalu dan takut mau ketemu Farah?"


Daniel tertawa mendengar ucapan bu Reema "Ya enggak lah mama. Malu sama umur yang sudah setengah abad gini."


"Kirain.."


Daniel menatap bu Reema jail "Lagipula ngapain malu-malu? Daniel ini sudah punya pengalaman dua kali lebih banyak dari mama."


"Hah?"


"Iya, kan Niel sudah menikah dua kali. Kalau mau saingan sama Niel, mama minimal harus nikah lagi. Banyak ini, ada pak RT, pak RW. Stok aki-aki banyak nih." Kata Daniel


Bu Reema melotot sambil mengambil sandalnya berpura-pura akan memukul Daniel. Daniel hanya terkekeh melihat aksi bu Reema


Daniel kembali menatap jalanan di depan rumahnya, berharap Zalynda segera datang


"Kemana sih dia?" Kata Daniel pelan


"Coba telepon ke rumah pak Ardhi, Niel." Saran bu Reema


Daniel mengikuti saran bu Reema. Segera pria itu menelepon rumah Ardhi


"Gimana?" Tanya bu Reema saat melihat Daniel menyudahi teleponnya


"Za dan Ray sudah kembali ke apartemen mereka kemarin, ma."


"Oo ya sudah jangan di ganggu. Kayaknya cicit mama sedang on the way." Bu Reema tertawa kecil.


Daniel hanya memutar bola matanya menanggapi omongan bu Reema. Darimana bu Reema mendapat kata-kata seperti itu?


"Kamu berangkat duluan saja. Nanti kalau Zalynda kesini mama suruh dia nyusul ke sana." Kata bu Reema lagi


"Hhh..ok, pergi dulu ya ma." Kata Daniel sambil mengambil kunci mobil di atas meja. Tak lupa pria itu mencium pipi bu Reema


Bu Reema memandangi punggung lebar Daniel


"Niel.."


"Ya mama?" Daniel memutar tubuhnya

__ADS_1


Bu Reema tersenyum


"Berbahagialah.."


__ADS_2