
"Ada kemungkinan begitu Gus, cuma sepertinya itu suruhan orang luar. Dan bukan cuma elo yang di kerjain, tapi juga gue. Waktu elo ngerasa mules, gue juga ngerasa ngantuk luar biasa." Kata Ray geram
Agus menyipitkan matanya "Elo juga dikerjain? Siapa kira-kira yang berani main-main sama kita?!" Tanya Agus kesal. Terbayang semalam bagaimana repotnya Agus bolak-balik ke kamar mandi, ke bandara dan bersegera menyelesaikan laporan.
Ray terdiam sejenak lalu mengambil notes dan tiket pesawat itu dengan hati-hati
"Elo sadar nggak kalau ini bukan tulisan tangan gue? Elo sadar nggak ini bukan kalimat gue? Elo sadar nggak se b******k nya gue, gue gak akan ninggalin temen yang lagi sakit? Lagipula kalo gue mau ninggalin elo, ngapain gue nulis notes segala? Kenapa nggak ngirim pesan di handphone?" Tanya Ray beruntun
Seketika Agus tersadar dengan apa yang dikatakan Ray. Kemarin dirinya sedang fokus pada sakit perutnya hingga tidak fokus dengan hal-hal kecil seperti itu
"Ada orang yang ngerjain kita? Vangke! Siapa orangnya? Gue bejek-bejek bikin gue mules nggak karuan!" Kata Agus marah
"Gue ceritain sesuatu, tapi ntar gue minta elo bantuin gue ya." Kata Ray
Ray kemudian menceritakan kronologis kejadian yang membuatnya berakhir di tempat tidur bersama Alin. Agus ternganga-nganga mendengar cerita Ray
"Gue nggak sangka Alin senekat itu." Kata Agus
"Gue juga nggak sangka." Kata Ray menghela nafas panjang
"Kemungkinan besar emang elo di jebak sama Alin, Ray. Dia sengaja misahin kita dengan bikin gue mules supaya gue nggak fokus." Kata Agus berasumsi.
Tiba-tiba Agus seperti tersadar akan sesuatu
"Eh, nggak mungkin dia tidur sama elo, dia kan.."
"Betul, makanya gue yakin banget kan di jebak. Cuma kalau hanya mengandalkan bukti itu nggak bakal kuat." Kata Ray memotong ucapan Agus. Agus mengangguk menyetujui ucapan Ray
"Gue mau minta beberapa rekaman CCTV dari restoran itu. Yang jelas kayaknya dia nggak kerja sendiri." Tutur Ray gemas
Agus terbahak "Ya iya lah. Elo kalo tidur kayak orang mati gitu berat tauk! Cewek kurus kayak dia nggak mungkin bisa ngangkat."
"Nah itu juga. Pokoknya kita harus cepat bertindak, jangan sampai bukti-bukti itu hilang." Kata Ray sambil membuka handphone nya dan menghubungi seseorang
"Telepon siapa?" Tanya Agus. Ray mengkode Agus agar menahan pembicaraan sebentar saat teleponnya tersambung
"Assalamu'alaykum Pa.." Ray beranjak pergi ke balkon meninggalkan Agus du ruang tamu
Agus terdiam melihat tiket maskapai salah satu perusahaan komersil. Segera Agus mencoba menghubungi Mike untuk meminta bantuan menyelidiki siapa yang sudah membeli tiket untuk menyuruhnya pulang ke Jakarta.
__ADS_1
"Gue udah ngomong ke Papa, tapi kata Papa rekaman CCTV yang gue minta semua sudah di serahkan ke om Beno.." Kata Ray sambil menimang handphonenya
Kening Agus berkerut "Om Daniel ngasih rekaman CCTV ke om Beno? Disuruh bokap elo bukan Ray?"
Ray hanya mengangkat bahunya. Pemuda itu mencoba menelepon Beno
"Ck, nggak diangkat."
"Ray, Zalynda belum tahu kan masalah ini? Jangan sampe si Alin ngirim macem-macem ke Zalynda. Mending dia tahu duluan dari elo." Kata Agus mengingatkan Ray
Ray menatap Agus horor "S**t! Gue lupa."
Ray kemudian segera berdiri menuju kamarnya. Perlahan pintu kamarnya di buka. Terlihat Zalynda tengah duduk bersandar di kepala sambil memejamkan mata. Apa gadis itu tertidur?
Ray mendekati Zalynda. Gadis itu tengah memegang handphonenya
"Za.." panggil Ray
Zalynda membuka matanya.
Udara disekitar Ray seakan menipis saat melihat mata Zalynda basah seperti habis menangis. Perasaan Ray menjadi tidak enak. Ray duduk di tepi ranjang berhadapan dengan Zalynda. Perlahan Ray menunduk melihat sebuah foto yang berada di dalam handphone Zalynda
"Za…"
***
Kening Ardhi berkerut melihat foto-foto dan rekaman CCTV yang di minta Aya dari Daniel. Dari CCTV restoran, terlihat saat makanan datang, Alin menaburkan sesuatu di minuman Ray dan Agus. Kemudian terlihat Ray seperti tertidur..Alin memanggil temannya dan meletakkan sesuatu di meja kemudian memanggil seorang pelayan untuk membantu membawa Ray
Lalu dari CCTV hotel melihat seorang OB juga ikut membantu membawa Ray ke kamarnya bersama Alin dan seorang temannya. OB itu sepertinya langsung keluar saat membantu mengangkat Ray
"Apa mau gadis itu hingga menjebak Ray sedemikian rupa?" Tanya Ardhi
"Sepertinya gadis itu terobsesi dengan abang. Aku seperti melihat de javu." Kata Aya sambil melirik Ardhi. Ardhi segera berdehem. Matanya kembali mengamati rekaman CCTV itu. Tiba-tiba matanya menyipit
"Sayang, coba putar balik rekamannya." Kata Ardhi
Aya melihat heran ke arah Ardhi, namun dirinya tidak berkata apa-apa. Aya segera melakukan apa yang diminta Ardhi
"Stop." Ujar Ardhi. Pria itu membesarkan tampilan gambar dan mengetuk layar laptopnya
__ADS_1
"Kamu kenal orang ini kan sayang?" Kata Ardhi
Aya segera melihat ke arah yang ditunjuk Ardhi. Matanya membola melihat siapa yang menjadi kaki tangan Alin
"Diva?!"
"Ck, pantas saja bu Mariono dan putrinya tidak ditemukan di manapun, ternyata mereka bersembunyi di Semarang. Hebat juga Marlina bisa menyembunyikan tanpa ketahuan oleh polisi." Decak Ardhi geram. Pria itu menyambar telepon di meja dan hendak menelepon
"Beib, telepon siapa?" Tanya Aya
"Polisi."
"Jangan!" Aya segera beranjak ke meja Ardhi dan mematikan sambungan teleponnya. Ardhi menatap kesal ke arah istrinya
"Kenapa?"
"Beib, kalau kamu telepon sekarang yang ada Alin sama Diva akan kabur dan lebih waspada ke depannya. Kamu sadar nggak sih orang yang melindungi Diva sedikit banyak punya pengaruh lho sampai polisi saja hilang jejak." Kata Aya
Ardhi terdiam. Ucapan Aya memang ada benarnya
"Lalu apa rencanamu, sayang?"
"Kalau berbicara dari ego wanita, gadis itu pasti akan menghubungi Ray, Zalynda atau kita untuk meminta pertanggungjawaban Ray. Biarkan dia melakukan apa yang ingin dia lakukan sebelum kita men skakmat dirinya dengan bukti-bukti yang kita miliki."
Aya memicingkan matanya. Lalu menatap Ardhi sambil tersenyum
"Setelah itu kita bisa tekan dia untuk menangkap Diva dan Anggun."
"Apa itu akan sesuai prediksimu?" Tanya Ardhi
"Feeling ku bilang begitu, beib. Tunggu saja dua hari. Kalau meleset, baru kita grebek di sana." Kata Aya
Ardhi mendecih "Sepertinya kamu mulai ketularan menantu lelakimu, sayang. Main serang dan grebek saja."
"Bagus dong kalau mirip Lean, kenapa nggak bilang mirip Leo?" Ucapan Aya sukses membuat Ardhi memicingkan matanya menatap Aya
"Becanda, beib. Aku ini seorang ibu yang akan selalu pasang badan melindungi anak-anaknya." Ujar Aya mengelus lengan Ardhi. Kembali Aya memperhatikan rekaman CCTV yang di pause tadi
"Aku tidak akan membiarkan seorangpun merusak kedamaian keluarga kita.."
__ADS_1