CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 96


__ADS_3

Zalynda menghembuskan nafasnya teratur sembari menyeka matanya yang basah saat sesi Psychodynamic therapy nya selesai. Dokter Adina tersenyum melihat Zalynda dari kursi kerjanya


"Bagaimana perasaanmu, Za?" Tanya dokter Adina


"Sudah lebih baik, dokter." Kata Zalynda sambil tersenyum. Gadis itu menegakkan duduknya,masih menyeka mata dan membersihkan hidungnya


"Satu hal yang harus kamu ingat, Za. Kamu itu berharga. Kamu punya kemampuan, jangan merasa minder duluan dan merasa orang lain lebih hebat dari kita. Layaknya super hero, setiap orangpun memiliki kelemahan dan kekuatan tersendiri. Jangan bandingkan hal itu dengan orang lain." Kata dokter Adina panjang lebar


"Kadang aku merasa takut mengungkapkan pendapatku atau sekedar meminta bantuan, dokter. Aku khawatir menjadi beban.."


"Meminta bantuan tidak langsung membuatmu menyandang predikat beban." Dokter Adina langsung menanggapi ucapan Zalynda. Wanita itu langsung mendekatkan duduknya pada Zalynda


"Wajar seseorang meminta bantuan, apalagi terhadap orang terdekat yang tulus menyayangi dan mencintai kita. Justru dengan pikiran kau tidak ingin merepotkan lalu tidak mau meminta bantuan, mereka orang-orang di sekitar mu akan berfikir kalau kau tidak membutuhkan mereka."


Dokter Adina tersenyum pada Zalynda sambil memegang lembut bahu Zalynda


"Jangan ragu mengungkapkan pendapat, jangan takut meminta bantuan. Kau bukan beban, kau istimewa." Kata dokter Adina memberikan penekanan di kalimat terakhirnya


Zalynda menatap dokter Adina. Senyum mengembang di bibir Zalynda. Gadis itu mengangguk lalu memeluk dokter Adina


"Terima kasih dokter." Kata Zalynda


Dokter Adina mengurai pelukannya. "Tidak perlu berterima kasih karena sesungguhnya dirimu lah yang tangguh. Dirimu sudah berani keluar dari tabir ketakutan yang menyelimuti selama ini. Aku bangga sekali padamu, Zalynda." Dokter Adina menepuk pundak Zalynda


Zalynda tersenyum senang. Gadis itupun berpamitan pada dokter Adina. Di luar ruangan, Daniel dan Farah sudah menunggu Zalynda


"Sudah?" Tanya Farah sambil menyambut Zalynda


"Sudah tante. Terima kasih sudah mau menemani Za therapy hari ini." Kata Zalynda sambil memeluk Farah


"Tidak perlu sungkan. Tadi pagi Daniel memintaku menemanimu karena suamimu sedang pergi ke luar kota meninjau proyeknya. Semarang?" Tanya Farah


Zalynda mengangguk lalu terdiam. Ray memang sedang pergi ke Semarang meninjau proyek hunian yang sedang digarapnya. Walau Zalynda tahu Ray bersama Agus, namun di sana juga ada Alin. Gadis yang selalu menatap Ray dengan tatapan memuja


Alin...


Seingat Zalynda, Ray memang tidak pernah menanggapi Alin. Tetapi, batu saja bisa berlubang jika terus di tetesi air. Bagaimana dengan pertahanan Ray? Selain perhatian dan pendekatan ekstra yang dilakukan Alin, penampilan dan kecerdasan Alin pun terlihat sempurna di mata Zalynda. Zalynda menghembuskan nafasnya


"Nah bengong." Daniel tiba-tiba menjentikkan telunjuknya di dahi Zalynda. Gadis itu terkejut


"Eh, Papa..sakit." kata Zalynda sambil mengusap dahinya. Daniel terkekeh

__ADS_1


"Iseng banget sih Niel. Ayo Zalynda, kamu sama tante sini. Kamu mau kemana habis ini? Makan?" Tanya Farah


"Tante mau nemenin Zalynda lagi?"


"Tentu saja mau, sebenarnya tante bosan di rumah Lela terus. Dengan begini, tante bisa jalan-jalan." Jawab Farah sambil terkikik


Kedua wanita itu tampak bercakap-cakap dengan asyiknya tanpa mempedulikan Daniel yang berjalan di belakang Farah dan Zalynda


Tanpa sadar Daniel tersenyum melihat keakraban Farah dan Zalynda. Orang-orang yang melihatnya pun mengetahui kalau mereka adalah ibu dan anak.


Dan dengan Daniel yang berada di antara dua wanita cantik ini, Daniel merasa hidupnya lengkap


***


Farah memicingkan matanya melihat rumah besar di depannya. Zalynda mengajak Farah dan Daniel ke rumah kakeknya, tuan Wijaya


"Ini.."


"Rumah kakek, tante." Jawab Zalynda


Farah mengangguk. Dalam hatinya, suasana di rumah kakek Zalynda sangat familiar. Hatinya terasa berdegub kencang saat melihat taman dan bunga yang tertata rapi


Farah seperti pernah melihat pemandangan ini, entah di mana


Bi Ijah yang menyambut pun terpana melihat Farah. Walau sudah diberitahu tentang kondisi Farah dan tidak boleh memancing kecurigaan wanita itu terhadap masa lalunya, tetap saja bi Ijah tidak mampu menyembunyikan air matanya


Bi Ijah adalah orang tuan Wijaya yang sudah ikut bekerja dengan tuan Wijaya semenjak Farah masih remaja. Wajar bi Ijah tidak dapat menyembunyikan kesedihan dan keharuannya


"Non.." suara bi Ijah bergetar


Farah memandangi bi Ijah lalu memandangi Zalynda


"Kamu pasti jarang pulang kesini, makanya mbok ini sedih." Kata Farah


Zalynda hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Farah. Zalynda segera menghampiri tuan Wijaya dan memeluk pria tua itu


"Linda bawa mama, kakek.." bisik Zalynda pelan.


Tuan Wijaya mengangguk lalu melihat Farah yang sedang melihat ke sekeliling. Perasaan nyaman timbul di hati Farah. Ada apa ini? Bathin Farah


"Selamat datang di rumahku, nona." Kata tuan Wijaya pura-pura tidak mengenali Farah

__ADS_1


Farah tersenyum sambil menyalami tangan tuan Wijaya. Sesuatu yang dulu jarang Farah lakukan


"Terima kasih, pak. Maaf kalau kedatangan saya merepotkan." Kata Farah lembut


"Oh tidak sama sekali. Kebetulan sekarang jam makan siang. Apa kalian mau ikut makan bersama? Ayo Linda, temani kakek makan. Ajak Papamu dan temannya juga."


"Ya kakek. Pa, tante..Yuk makan dulu." Ajak Zalynda


Farah mengangguk sambil mengikuti langkah Zalynda. Kening Farah berkerut, dirinya baru satu kali ke rumah kakek Zalynda. Tetapi sepertinya dirinya hafal letak ruang makan, dapur bahkan kamar mandi di rumah sebesar itu.


"Sungguh aneh.." pikir Farah


***


Cuaca memang tidak dapat diprediksi. Sedari pagi cuaca terang benderang, masuk sore hari awan hitam datang bergulung-gulung. Hujan pun tumpah membasahi saat Maghrib menjelang


"Linda jadi kan menginap di sini?" Tanya tuan Wijaya


"Ya kakek, Linda sudah ijin sama Ray. Besok katanya Ray jemput Linda di sini." Kata Zalynda sambil mengangguk


"Syukurlah. Bi Ijah dari kemarin sudah heboh katanya non Linda mau datang dan sudah membereskan kamarmu." Kata tuan Wijaya


"Ah tuan, bukannya tuan juga yang menyuruh saya sampai tanyaaa terus jam berapa non Za datang." Kata bi Ijah terkekeh


"Iya iya..aku memang kangen sama cucuku. Puas kamu Jah?" Tuan Wijaya menjawab bi Ijah sambil ikut tertawa


Farah ikut tertawa. Hatinya menghangat, seolah-olah dirinya merasa menjadi bagian dari keluarga ini


"Kamu nginep juga di sini Niel?" Tanya tuan Wijaya. Daniel menggaruk tengkuknya


"Ng.. Niel pulang palingan, om. Nggak ada yang nemenin mama." Kata Daniel.


Tuan Wijaya mendesah sambil memandangi hujan yang mengguyur taman dengan deras


"Bahaya kalau pulang hujan deras begini, Niel. Lagipula Linda juga pasti pengen kamu nginep. Ya kan Lin?" Kata tuan Wijaya sambil berkedip dengan Zalynda


"Apa? Eh iya, kakek bener Pa.." Sahut Zalynda cepat


"Ah kamu konspirasi sama kakekmu ya. Papa juga harus nganter tante Farah, Za. Nanti bu Edah nyariin." Kata Daniel


"Ooh, iya.." Zalynda tersenyum

__ADS_1


Farah merasa Zalynda sedikit sedih dengan penolakan Daniel. Ingin sekali Farah menjewer Daniel dan menyuruhnya menginap. Tetapi kata-kata yang di lontarkannya justru berbeda


"Aku akan menginap.."


__ADS_2