
Cuaca siang ini terasa amat terik. Mentari memancarkan kuat sinarnya sehingga udara terasa kering dan panas. Namun bukan hanya di luar saja, di dalam studio foto butik Tsurayya pun hawa panas sedang di rasakan oleh Ray saat melihat interaksi spontan Sagara dan Zalynda
"Lho bang, kamu di sini?" Tanya Aya yang sepertinya baru saja tiba dari temu janji dengan klien
"Hmm, ya bunda."
Ray menoleh sekilas kemudian kembali menatap Zalynda dan Sagara yang sedang berbincang-bincang. Sesekali Zalynda terlihat melirik ke arah Ray yang terus menatapnya
Aya memperhatikan putra sulungnya yang terus menatap ke arah Zalynda. Segera Aya mengecek foto-foto yang diambil oleh Aryo. Aya pun faham mengapa Ray memandang begitu tajam ke arah Zalynda dan Sagara
"Yo, ini coba foto Za dan Sagara sedikit berjauhan bisa nggak?" Tanya Aya saat Aryo mendekat
"Kurang bagus bu. Ini kan temanya romantis. Masa' pasangannya berjauhan." Kata Aryo
Ray tiba-tiba merasa haus. Pemuda itu segera pergi ke pantry di lantai bawah untuk mengambil segelas air. Ternyata Zalynda mengikuti Ray pergi ke pantry
"Ray.." panggil Zalynda. Ray menoleh sekilas.
Zalynda mendekati Ray sambil memegang tangan Ray. Ray melihat kearah tangannya lalu menatap Zalynda
"Kita ini cuma teman. Kenapa kamu pegang-pegang begini?" Kata Ray datar
Zalynda mendesah pelan "Kau temanku, teman hidupku. Tolong jangan marah lagi Ray."
Ray menarik ujung bibirnya sambil melepaskan genggaman tangan Zalynda. Zalynda merasakan hatinya sedikit tercubit saat genggamannya terlepas
"Aku pikir kamu sudah punya teman baru di studio foto. Kayaknya kamu seneng banget ngobrol sama dia, pake tatap-tatapan dan pelukan segala lagi."
"Nggak begitu Ray, tadi aku jatuh trus Sagara nolongin aku."
"Terus pakai dibelai pipi sama kepala itu bonus?!" Suara Ray sedikit meninggi. Pemuda itu berbalik menatap Zalynda
"Dan kamu diam saja diperlakukan begitu. Kamu menikmatinya kan?" Kata Ray tajam.
Zalynda menggigit bibirnya. Ray seakan tidak ingin mendengar semua penjelasannya. Tiba-tiba Zalynda merasa sangat sedih. Zalynda mengangguk pelan sambil menunduk
"Aku minta maaf karena aku menyebutmu teman. Bukan karena aku tidak ingin mengakuimu atau tidak ingin hubungan kita diketahui orang. Aku tidak khawatir dengan diriku yang dicap macam-macam. Aku lebih khawatir reputasi dirimu dan keluargamu. Maaf kalau hal itu justru membuatmu marah Ray."
Zalynda mendongak menatap Ray. Mata gadis itu berkaca-kaca
"Kau tahu, aku hanya berbincang dengan Sagara kau marah. Apa kau pikirkan perasaanku saat kau di kerumuni gadis-gadis cantik kemarin? Bahkan kau biarkan mereka merangkul lenganmu, memelukmu. Kau tahu dengan begitu kau membangkitkan fantasi liar mereka, yang seharusnya itu adalah hakku. Apa kau memikirkannya Ray?"
Ray mengerjap. Selama menikah,baru kali ini Zalynda berkata panjang lebar dengannya. Baru kali ini Ray melihat emosi di mata kaca yang membanjir. Bahasa yang tertata, nada suara yang stabil. Mengingatkan Ray saat melihat Zalynda berorasi di depan Fabulous Sorority, pertama kali Zalynda mencuri perhatiannya
Zalynda mengusap matanya dan berbalik berlari pergi dari pantry. Meninggalkan Ray sendirian. Tanpa sadar, bibir Ray tersenyum
"Za, kau kembali." Bisiknya
__ADS_1
***
Suara telepon di ruangan Daniel berbunyi
"Pak, ada yang ingin bertemu." Kata sekretaris Daniel
"Siapa?"
"Pak Okky."
"Suruh masuk." Kata Daniel antusias.
Tak berapa lama, seorang pria bertubuh tegap dengan sedikit kumis tipis menghiasi atas bibirnya tersenyum ke arah Daniel.
"Boss.." Sapa Okky
"Duduk Ky. Kau menemukan sesuatu di sana?" Tanya Daniel
"Banyak boss. Bisa pinjam laptop boss?" Daniel segera memberikan laptopnya. Dengan cepat Okky mengutak-atik sesuatu di laptop Daniel kemudian menyerahkan kembali ke Daniel
Mata Daniel memicing melihat laptopnya
"Ini keuangan Wijaya Group?" Tanya Daniel
Okky mengangguk. "Saya melihat sekilas sepertinya beberapa tahun belakangan ini ada yang tidak beres dalam laporan keuangan Wijaya Group. Karena itu saya mencoba masuk melihat alur keuangan mereka yang hanya bisa diakses oleh pihak bank."
"Grafik mereka mulai tidak stabil sekitar 16 tahun lalu pak." Kata Okky lagi
Daniel mengangguk sambil menelusuri. Benar dugaannya, pembayaran rumah sakit Healing Soul berhenti sekitar dua tahun lalu. Padahal mereka masih memiliki dana yang sehat, ada apa sebenarnya? Bathin Daniel
Daniel mencari data sekitar 20 tahun yang lalu, mundur beberapa tahun saat grafk perusahaan mulai tidak stabil, berharap menemukan sesuatu di sana
"Transfer atas nama Rina Wijayanti?" Bisik Daniel saat menemukan salah satu transaksi.
Daniel melihat tuan Wijaya mulai melakukan transaksi atas nama Rina Wijayanti bertepatan dengan saat tuan Wijaya mulai membayar sewa kamar dan perawatan di Healing Soul
"Nama mamah Rina.."
Kembali terngiang ucapan Zalynda tadi pagi.
"Apa ini Rina ibunya Za? Ada hubungan apa mereka dengan om Wijaya sampai om Wijaya transfer ke ibu nya Za? Bagaimana Za bisa memiliki gelang Farah.." bisik Daniel
***
Ray kembali ke studio foto tepat saat Aryo memberikan pengarahan untuk Zalynda dan Diva
"Jadi ini untuk foto hitam putih, Za dan Diva akan berakting sedih. Buat ekspresi sedih sambil memperlihatkan keindahan pakaian yang kalian kenakan. Lalu nanti ketika Sagara datang, perlahan wajah kalian harus kembali ceria dan tertawa seolah kalian menemukan cinta sejati." Jelas Aryo panjang lebar
__ADS_1
"Mm berarti harus berakting mesra saat bersama Sagara?" Tanya Diva
"Tentu saja, sampaikan perasaan itu di foto. Ini kan foto tentang pasangan." Kata Aryo
Sesi foto dimulai. Yang pertama adalah Diva. Gadis itu mulai berakting dan Aryo mulai memotretnya.
"Sedih Diva..sedih.." kata Aryo memberi pengarahan sambil terus memotret dari beberapa sudut
"Sekarang Sagara masuk. Beraktinglah bersama." Kata Aryo
Aya dan Vera memperhatikan hasil foto Sagara dan Diva. Wajah Sagara terlihat lebih menonjol dibanding Diva, padahal seharusnya justru Diva yang harus lebih terlihat
"Kenapa wajahnya m***m begitu?" Bisik Aya pada Vera saat melihat close up wajah Diva. Vera tertawa kecil
"Okelah, sekarang Zalynda." Kata Aryo.
Zalynda dengan cepat masuk kedalam sesi foto dan mulai berakting.
"Sedih Za, ingat sesuatu yang membuatmu sedih. Tampakkan di wajahmu." Kata Aryo
Zalynda kembali mengingat kebersamaannya dengan mamah Rina dulu. Tiba-tiba Zalynda merasa sangat merindukan Rina. Dengan Ray yang mengabaikannya, Zalynda merasa tidak memiliki siapapun di dunia
"Ya, begitu ekspresinya. Cantik, sedih. Ya begitu." Puji Aryo sambil terus memotret Zalynda
Ray melihat dari layar beberapa foto Zalynda. Ray tercekat melihat airmata yang mengalir di pipi Zalynda. Sorot matanya persis sama saat tadi Zalynda menahan tangisnya. Ray merasa amat bersalah pada Zalynda.
"Eh,bang.." Aya terkejut saat Ray dengan cepat masuk ke sesi foto Zalynda dan memeluk gadis itu dari belakang.
Aryo juga sedikit terkejut, namun instingnya cepat bekerja. Ia tetap mengambil gambar Ray dan Zalynda
Sesaat Zalynda terpaku, matanya mengerjap perlahan lalu pelan-pelan menghadap ke arah Ray. Ray tersenyum sambil mengusap airmata Zalynda dan membelai kepala Zalynda
"Maafkan aku. Kau benar, aku hanya memikirkan dirimu tanpa mau tahu apa yang kau rasakan. Maafkan aku ya?" Bisik Ray sambil memeluk pinggang Zalynda
Zalynda menatap Ray dalam. Gadis itu tersenyum sambil berbisik "Aku juga minta maaf."
Keduanya saling menatap sambil tersenyum. Terlihat rona kemerahan di pipi Zalynda. Kalau tidak ingat mereka sedang berada didepan orang banyak, tentulah Ray langsung mencium Zalynda habis-habisan.
Ray menahan dirinya untuk tidak terlalu vulgar apalagi di depan Aya, Vera dan beberapa kru yang terbengong-bengong menyaksikan interaksi mereka berdua
"Teman sehidup sesurgaku.."
Ray mencubit pelan ujung hidung Zalynda.
Zalynda tertawa lalu melabuhkan kepalanya di dada Ray. Sesaat Zalynda menatap ke arah kamera Aryo yang terus mengambil gambarnya
Zalynda tersadar, mereka masih berada di sesi foto dan semua mata memandangi dirinya dan Ray!
__ADS_1