CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 69


__ADS_3

"Pak Daniel baik sekali padaku. Mengapa ada orang sebaik dia Ray?" Tanya Zalynda sambil melihat ke arah dagu Ray yang berada tepat di atas hidungnya. Ray tertawa


"Wajar Za. Dia ayahmu.." Ray seketika langsung memejamkan matanya


"Gawat keceplosan!" Bathin Ray


Zalynda langsung melepaskan diri dari pelukan Ray dan menatap pemuda itu "Apa kamu bilang barusan?"


"Maksudku dia juga seorang ayah. Mungkin naluri kebapakannya muncul saat melihatmu, Za." Ray mencoba merapat ucapannya barusan. Zalynda menatap Ray lekat.


"Lagipula kau pernah cerita kalau dirimu mirip dengan seseorang yang pak Daniel kenal, kan? Perasaan itu juga bisa mendorongnya untuk baik kepadamu." Ray kembali meyakinkan Zalynda


Zalynda masih menatap Ray lekat seolah masih ingin bertanya pada Ray


"Assalamu'alaykum.."


Ray dan Zalynda sontak menoleh ke pintu. Terlihat Aya dan Ardhi di ambang pintu kamar perawatan Zalynda. Aya bergegas menghampiri Zalynda dan memeluk gadis itu


"Ya Allah Za, bunda sampai bingung kamu pergi kemana. Satu butik ikut nyariin kamu." Kata Aya lega


"Alhamdulillah Za baik-baik saja bunda. Sudah dari kemarin Za di sini, besok mungkin Za pulang."


Aya merenggangkan pelukannya dan menatap Zalynda


"Kemarin?"


Zalynda mengangguk


Aya menoleh menatap Ray dan refleks menjewer telinga Ray. Zalynda memekik


"Anak nakal. Kenapa baru tadi bilang ke bunda kalau Zalynda di rumah sakit padahal Za sudah ada sejak kemarin."


"Aduduuh bunda maaf, abang lupa ngabarin." Ringis Ray saat telinganya ditarik oleh Aya


"Luoa?! Ih, bunda sudah khawatir terus padahal." Kata Aya masih gemas dengan Ray


Ardhi tertawa geli lalu memegang tangan istrinya untuk melepaskan jewerannya dari telinga Ray


"Sudah sayang, jangan di jewer didepan istrinya." Kata Ardhi mengingatkan


Aya menghembuskan nafas keras sebelum melepaskan tangannya dari telinga Ray. Zalynda refleks membelai telinga Ray.


"Za sehat?" Tanya Ardhi lembut sambil membelai kepala Zalynda


Zalynda mengangguk "Alhamdulillah, ayah.."


Mata Ardhi memicing melihat bilur merah di pergelangan Zalynda.


"Tanganmu Za.."


Aya pun terbelalak melihat pergelangan tangan Zalynda dan segera meraihnya.

__ADS_1


"Ya Allah. Ini tindakan kekerasan. Beib, kita lapor polisi!" Kata Aya gemas


"Jangan bunda, ayah. Za udah nggak apa-apa kok." Cegah Zalynda. Aya menghela nafas


"Tapi Za.."


"Za belum siap cerita-cerita lagi ke polisi, bun. Kalau bikin laporan pasti ditanya-tanya lagi." Kata Zalynda sambil menggeleng pelan sambil menunduk


Aya hendak berbicara namun bahunya diremas lembut oleh Ardhi. Pria itu mengisyaratkan agar Aya tidak meneruskan ucapannya


Aya menghela nafas lalu memeluk Zalynda erat.


"Jangan takut. Kamu punya bunda, ayah, Ray dan adik-adik. Kalau ada apa-apa bilang segera ya."


Zalynda mengangguk dalam pelukan Aya dan membalas memeluk Aya. Hati Zalynda menghangat.


Ardhi tersenyum. Pandangannya melihat buku-buku jari Ray yang memerah dan sedikit terluka. Tanpa Ray bilangpun, Ardhi sudah tahu kalau Ray sudah menghajar orang yang menculik Zalynda


Aya melepaskan pelukannya dan menatap Ray "Kapan Za boleh pulang?"


"Tunggu dokter visit dulu, bunda. Mungkin besok sore." Jawab Ray


"Pulangnya ke rumah bunda ya. Nginep di rumah. Za baru sembuh, butuh ada yang rawat. Ray kan harus ke kantor. Jadi Za tinggal beberapa hari di rumah bunda ya." Kata Aya tidak memberikan kesempatan Zalynda menolak


Zalynda menatap Ray. Pemuda itu tersenyum kecil sambil mengangguk. Zalynda pun tersenyum kecil


"Baik bunda.." jawab Zalynda patuh


***


"Papa? Kok bonyok begitu?" Anggun terkejut melihat wajah Yono


Yono mendengkus. Langkahnya menuju kamar tuan Wijaya. Anggun tergesa-gesa mengikutinya dari belakang


BRAAK


Pintu dibuka dengan keras. Tuan Wijaya yang sedang tertidur terbangun karena terkejut mendengar suara pintu. Bi Ijah dan pak Udin pun tergopoh-gopoh datang melihat tuan Wijaya


Yono menatap tajam kearah tuan Wijaya. Pria itu mendekati tuan Wijaya dan mencengkram pipi dan menarik kerah tuan Wijaya


"Uugh.." tuan Wijaya meringis


"Pak, jangan.." cegah pak Udin. Namun tubuh kerempengnya dengan mudah di dorong Yono ke samping hingga terjungkal


Mata Yono menatap tuan Wijaya marah


"Cucu b******k mu itu yang membuatku jadi begini." Desis Yono


Mata tuan Wijaya mengerjap sambil membathin "Zalynda? Dia baik-baik saja?"


"Katakan, om. Apa aku harus menghajarmu juga untuk menebus apa yang cucumu lakukan padaku?" Tanya Yono lagi sambil mencengkram kuat pipi tuan Wijaya

__ADS_1


"Uugh..uughh.." tuan Wijaya berusaha melepaskan diri. Namun dirinya tidak bisa berbuat banyak karena tubuh kanannya tidak bisa digerakkan


"Pak..jangan. Tuan sedang sakit.." Bi Ijah mencoba memohon pada Yono.


Yono terkekeh.


"Kau beruntung, om. Aku tidak akan memukulimu karena besok akan ada rekan kerjaku yang akan mengunjungimu."


Yono menghempaskan tuan Wijaya kasar. Bi Ijah dan pak Udin segera menghampiri tuan Wijaya yang meringis menahan sakit bekas cengkraman Yono


"Ma, besok kamu masak agak banyak ya. Sore pak Daniel mau datang. Kalian berdua.." Yono menatap bi Ijah dan pak Udin


"Dandani om Wijaya agar layak menerima tamu besok."


Yono mendengkus lalu segera pergi meninggalkan kamar tuan Wijaya diikui Anggun.


"Tuan baik-baik saja?" Tanya pak Udin sambil memeriksa keadaan tuan Wijaya. Tuan Wijaya mengangguk pelan. Hatinya sedikit lega karena mengetahui Zalynda baik-baik saja


Bi Ijah dan pak Udin segera membantu tuan Wijaya untuk kembali berbaring dengan nyaman di tempat tidurnya


"Pak Udin, kamu segera gelar kasur di bawah. Temenin tuan." Ucap bi Ijah disambut anggukan pak Udin


Setelah cukup nyaman berbaring. Tuan Wijaya memandang ke arah langit-langit kamarnya. Matanya mengerjap mencerna ucapan Yono barusan


"Daniel? Sepertinya aku pernah dengar nama itu…"


***


Ray menatap wajah Zalynda yang tertidur pulas. Wajah gadis itu amat polos dan imut dengan mulut sedikit terbuka. Senyum mengembang di bibir Ray


Ray kembali membuka handphonenya untuk mengecek beberapa pesan dan melihat pesan dari bu Edah


"Besok siang saya akan membawa Farah untuk check up ke dokter. Apa bisa sekalian dilakukan tes DNA?" Tanya bu Edah dalam pesannya


"Tentu bu. Nanti akan saya koordinasikan dengan dokter. Zalynda juga sedang berada di rumah sakit." Balas Ray


Tak berapa lama bu Edah membalas pesan Ray


"Za sakit?"


"Ya bu, tetapi sudah membaik. Mungkin besok Za sudah boleh pulang."


"Syukurlah. Baik, sampai bertemu besok ya mas Rayhan."


Ray tersenyum sambil meletakkan handphonenya di atas meja. Pemuda itu mendekati bed Zalynda.


Teringat tadi dirinya sempat keceplosan mengatakan kalau Daniel adalah ayah Zalynda sehingga gadis itu curiga dan bertanya. Untung saja Aya dan Ardhi datang sehingga membuat Zalynda terlupa


Sedikit demi sedikit Ray akan mengungkapkan jati diri Zalynda. Kalau benar Zalynda adalah pewaris tunggal Wijaya Group, maka Yono dan keluarganya harus segera angkat kaki dari rumah tuan Wijaya dan menyerahkannya ke Zalynda


Ray membelai wajah Zalynda pelan.

__ADS_1


"Sabar ya Za. Orang-orang yang sudah merebut tempatmu dengan licik dan mencwlakaimu akan segera menerima balasannya." Bisik Ray pelan


__ADS_2