
...Sebelumnya saya ucapkan terima kasih untuk para pembaca setia yang sudah mengikuti novel ini dan membaca cerita-cerita saya yang lain. Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan alur, cerita atau typo-typo karena masih dalam tahap belajar....
...Maafkan juga beberapa hari kemarin lambat update nya karena matanya tidak bisa diajak kompromi, tidak boleh banyak pantengin gadget hehehe. Alhamdulillah sekarang sudah membaik...
...Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan ❤️❤️...
...Happy Reading ❤️...
***
Kamar berukuran 5x5 meter dengan dominasi abu-abu putih biasanya terlihat rapi dan lengang, namun malam ini suasana kamar itu sedikit berantakan, diwarnai dengan suara mendesah manja dan erangan maskulin yang bersahutan tanpa khawatir terdengar keluar karena kamar itu dipasangi peredam suara
Mata Ray tidak berhenti memandangi Zalynda yang berada di bawahnya. Dengan mata terpejam, wajah memerah dan mulut yang mengeluarkan rintihan manja selaras dengan pergerakan Ray di bawah sana
"Aku suka wajahmu saat seperti ini Za.. menggemaskan." Bisik Ray di sela gerakannya
"Ngh..Ray." Kepala Zalynda sedikit pening karena Ray menurunkan tempo gerakannya. Sepertinya pemuda itu ingin berlama-lama bermain
"Kenapa cantik?" Bisik Ray serak sambil tersenyum jail. Tangannya ikut menyentuh titik-titik sensitif di tubuh Zalynda sehingga gadis itu merasakan kupu-kupu menari di perutnya.
Gadis itu tanpa sadar bergerak berlawanan arah dengan gerakan Ray membuat milik Ray makin mengeras
"Ray.." Zalynda masih merajuk. Gadis itu malu mengungkapkan keinginannya
"Katakan, Za.." Goda Ray membuat Zalynda membuka mata memandang Ray dengan tatapan sayu. Ray masih mempertahankan ritmenya. Zalynda menyerah
"Faster please.." Rengek Zalynda membuat Ray tersenyum lebar
"As you wish, cantik.."
Seketika Ray menggerakkan dirinya lebih cepat dan lebih dalam sehingga membuat tubuh Zalynda berguncang. Tangan Ray tidak ketinggalan bergerilya, memberikan sensasi yang membuat Zalynda makin pening akan gairah
Saat rasa itu hampir tiba, Zalynda memeluk erat tubuh Ray menyalurkan segala gelora yang ada. Mulutnya tak henti memanggil nama Ray
"Aah!! Aaah!! Ray!!"
Ray menggertakkan giginya saat merasakan milik gadis itu mencengkram kuat miliknya. Ray makin mempercepat gerakannya
"Aaah!!"
"Zalynda!!Aakh!"
Ray menggeram di perpotongan bahu dan leher Zalynda sementara Zalynda memeluk tubuh Ray erat sembari mendesah saat pelepasan itu datang bersamaan
Keduanya terengah-engah berusaha mengumpulkan nafas yang seakan terserak
Ray menggerakkan tubuhnya menuntaskan sisa-sisa rasa yang ada. Pemuda itu menyatukan keningnya dengan dahi Zalynda. Mereka saling berbagi nafas hangat
__ADS_1
"Aku mencintaimu Zalynda, sangat mencintaimu.." bisik Ray sambil menghisap bibir gadis itu lalu menciumi seluruh wajah Zalynda. Pemuda itu melepaskan diri dari tubuh Zalynda dan memperbaiki selimut untuk menutupi tubuh polos mereka
Zalynda yang melemas membiarkan Ray melakukan apapun yang diinginkannya. Gadis itu terlihat lelah, langsung masuk kedalam pelukan Ray dan memejamkan mata di dada pemuda itu
Ray menatap wajah polos Zalynda lama. Ray mengusap lembut wajah Zalynda sambil tersenyum membuat gadis itu membuka matanya dan ikut menatap Ray
"Ada apa?" Tanya Zalynda
"Tidak, memandangimu seperti ini membuatku tak henti berterima kasih pada Allah karena telah menghadirkanmu di sisiku." Jawab Ray sambil mengecup kening Zalynda. Gadis itu tersenyum
"Justru aku yang sangat bersyukur. Allah menghadirkan dirimu untuk seorang gadis sepertiku. Bukan hanya satu, tapi paket lengkap."
Ray tersenyum. Seperti teringat sesuatu, Ray bergerak mengambil sesuatu dari laci didekat tempat tidur
Sebuah kotak beludru berwarna merah. Zalynda menatap Ray bingung saat Ray menyerahkan kotak itu padanya. Gadis itu segera duduk dan membalutkan selimut menutupi tubuhnya
"Bukalah." Kata Ray
Zalynda membuka kotak itu. Satu cincin emas bermata biru dan kalung emas dengan bandul permata berwarna biru
"Ray.. apa ini?" Tanya Zalynda memperhatikan perhiasan di dalam kotak tersebut
Ray mengambil cincin dan menyematkan ke jari manis Zalynda. Lalu mengambil kalung dan memakaikannya ke leher Zalynda. Ray tersenyum
"Lihat, cocok kan dengan gelangmu." Kata Ray sambil mengangkat tangan Zalynda
"Tidak ada pemberian suami yang terlalu mahal untuk istrinya. Asal aku mampu, kenapa tidak? Toh untuk istriku, bukan untuk wanita lain."
Zalynda cemberut mendengar kalimat terakhir Ray sementara Ray hanya terkekeh melihat wajah Zalynda
Ray merangkum wajah Zalynda lalu menghujaninya dengan ciuman lalu menutupnya dengan kecupan di bibir.
"Diterima ya Za. Jangan dilepas-lepas." Kata Ray. Zalynda mengangguk
"Terima kasih, Ray."
"Sama-sama.."
Kantuk Zalynda menghilang. Gadis itu bangkit dari tempat tidur berniat membersihkan diri
"Mau kemana?" Tanya Ray
"Mau bersih-bersih dulu." Zalynda bergerak cepat menuju kamar mandi tanpa sehelai benangpun
Saat Zalynda hendak menutup pintu kamar mandi, tiba-tiba Ray sudah menahan pintu itu sambil tersenyum jail
"R-Ray.." Zalynda mundur ke belakang sambil berusaha menutupi tubuhnya dengan tangannya walau hal itu percuma dilakukan
__ADS_1
"Mandi berdua dengan shower air hangat kedengarannya mengasyikkan ya Za." Kata Ray sambil masuk kedalam kamar mandi
"Duh, bisa bangun telat besok.." bisik Zalynda dalam hati
***
Waktu terus bergulir. Tidak terasa sudah sebulan sejak peristiwa penculikan Zalynda. Gadis itu kembali ceria karena dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya
Zalynda dan Ray hanya tinggal seminggu di rumah keluarga Al Farobi. Setelah itu mereka kembali pulang ke apartemen.
Zalynda kembali datang ke rumah bu Reema dan setiap weekend datang ke rumah keluarga Al Farobi untuk melakukan sesi foto caturwulan bersama Ray
Zalynda juga beberapa kali diantar Ray bertemu bu Edah di rumahnya untuk membicarakan tentang pembukaan toko kue. Bu Edah berfikir akan membuka cabang dan menyerahkan pengelolaannya pada Zalynda
Pertemuan dengan bu Edah sebetulnya juga untuk mendekatkan Zalynda dan Farah karena terlihat Farah senang sekali saat mengobrol dengan Zalynda dan hal itu membantu banyak penambahan kosakata Farah
Yono tidak bisa berbuat apa-apa pada tuan Wijaya karena Daniel selalu mengunjungi tuan Wijaya dan mengirimkan dokter untuk membantu therapy tuan Wijaya, dengan dalih hal ini adalah salah satu pelayanan dari TecnoTek untuk klien terpilih
Pagi hari di rumah sakit..
Daniel dan bu Reema sedikit berlari menyusuri parkiran rumah sakit menuju ruangan dokter Husna setelah mendapat pesan dari dokter Husna kalau hasil tes DNA sudah keluar
Mereka sudah sampai di ruangan dokter Husna. Ternyata Ray sudah berada di sana. Pemuda itu tersenyum pada Daniel dan bu Reema
"Kau sudah disini?" Tanya Daniel sambil mengambil tempat duduk de depan dokter Husna sementara bu Reema duduk di samping Daniel
"Iya, pak. Dokter Husna juga memberitahukan kepada ku." Jawab Ray
Dokter Husna tersenyum sambil menyerahkan hasil tes DNA pada Daniel. Daniel menatap bu Reema seakan takut membukanya
"Ma.." Kata Daniel menggenggam erat kertas dari dokter Husna
"Ada apa Niel? Ayo dibuka.."
Daniel menggeleng "Tiba-tiba Niel takut mama. Niel takut hasilnya tidak sesuai harapan Niel.."
Bu Reema menggenggam erat tangan Daniel. Wanita itu tersenyum
"Bukalah Niel. Apapun hasilnya, itu yang terbaik." Kata bu Reema menguatkan Daniel
Daniel menarik nafasnya. "Baiklah.."
Perlahan dibukanya hasil tes dari dokter Husna. Daniel meneliti huruf demi huruf yang tertera di sana untuk mencari hasil akhir laporan tersebut
Sampai di satu kalimat
Nafas Daniel tercekat. Matanya seketika basah. Inilah kenyataan yang harus diterima olehnya. Daniel memandang lekat wajah bu Reema yang menanti jawaban Daniel
__ADS_1
"Mama…"