CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 130


__ADS_3

Alat ultrasonografi itu bergerak perlahan di perut rata Zalynda sementara Ray dan Zalynda terdiam menatap layar hitam di atas. Dokter Wilda, seorang dokter kandungan dan juga rekan dokter Husna memeriksa dengan seksama


Tadi di IGD, dokter Husna berbicara berdua dengan Zalynda dan menyodorkan sebuah testpack karena dokter Husna curiga Ray mengalami kehamilan simpatik dimana ibu yang hamil dan ayah yang merasakan ngidam


Tangis Zalynda pecah saat keluar dari kamar mandi IGD dan sedikit membuat Ray panik hingga ingin mencabut infusnya kalau saja tidak ditahan oleh dokter Husna


Setelah melihat hasil testpack Zalynda, Ray pun ikut menitikkan air mata dan memeluk erat Zalynda. Dokter Husna langsung menyarankan agar mereka berdua segera memeriksakan diri ke dokter kandungan


Dan disinilah mereka...


"Usianya 7 minggu. Dia berkembang sangat baik sesuai usianya. Organ-organ nya berkembang sempurna.." kata dokter Wilda. Matanya tak lepas menatap monitor


Ray menahan nafas sambil tangan kanannya menggenggam jemari Zalynda saat terlihat sebuah gambar di monitor


"Panjang badanny 1.27 sentimeter. Ini kaki dan lengannya yang mirip dayung berselaput.. Ini kepalanya. Memang lebih besar dari badannya saat ini, dan ini normal. Ini detak jantungnya."


Zalynda menggigit bibirnya menahan haru dan berusaha tidak menangis saat terdengar degub kehidupan di dalam rahimnya


Ray tertawa bahagia. Sepertinya pemuda itu lupa saat ini dirinya duduk di kursi dan membawa-bawa infusan


"Selamat ya pak Rayhan, bu Zalynda. Bayinya sehat. Tolong di jaga istrinya ya pak. Jangan kelelahan dan banyak pikiran." Kata dokter Wilda menutup pemeriksaan.


Seorang perawat dengan cekatan membantu Zalynda untuk turun dari bed


"Adakah pantangan untuk istri saya dok?" Tanya Ray


"Tidak ada. Semua boleh dimakan karena dari pemeriksaan ibu Zalynda cukup sehat, tidak memiliki riwayat sakit berat. Asal tidak boleh berlebihan. Kan yang berlebihan itu tetap tidak baik." Kata dokter Wilda sambil menuliskan resep


"Ng, dok. Biasanya ibu hamil itu mengalami mual dan muntah. Tetapi istri saya tidak merasakan apa-apa, saya yang merasakannya. Apa nggak apa-apa dok?" Tanya Ray


Zalynda mengulum senyumnya mendengar pertanyaan Ray. Gadis itu membelai lembut tangan Ray yang masih menggenggam tangannya


"Bisa saja itu terjadi pak. Istilahnya couvade syndrome, diperuntukkan bagi seorang pria yang mengalami kehamilan simpatik, atau biasa juga disebut ngidam pada ayah, mulai dari mual, muntah, penambahan berat badan, dan perubahan hasrat seksual. Terjadi pada trisemester pertama dan bisa sampai trisemester ketiga." Kata dokter Wilda tersenyum


"Bisa sembuh nggak dok?" Tanya Ray lagi


"Cara menghilangkannya ya dengan kelahiran bayi itu sendiri pak." Kata dokter Wilda sambil menahan senyumnya


Zalynda tertawa geli melihat wajah memelas Ray yang menatap dirinya

__ADS_1


"Semoga ngidamnya nggak lama.." kata Ray pelan


"Nanti saya kasih obat mual." Kata dokter Wilda lagi


Setelah menerima resep, keduanya segera keluar dari ruangan dokter Wilda setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih


"Terima kasih ya, cantik." Kata Ray sambil menggenggam erat tangan Zalynda. Memang sejak di ruang periksa dokter Ray tidak pernah melepaskan genggaman tangannya


"Kenapa matamu memerah seperti mau nangis Ray?" Tanya Zalynda sambil melihat mata Ray. Zalynda mengajak Ray duduk di bangku ruang tunggu. Kebetulan ruang tunggu itu sepi dari pasien


"Ck, aku sudah bilang hanya kau yang bisa membuatku begini. Mendengar anak kita tumbuh sehat sudah membuat aku bahagia tiada terkira." Kata Ray sambil memeluk perut Zalynda dan membenamkan wajahnya di cerukan leher Zalynda yang tertutup kerudung


Biarpun tertutup kerudung, Ray masih bisa mencium aroma tubuh Zalynda dan membuat mualnya berkurang jauh. Ray mulai berfikir akan membawa-bawa Zalynda ke kantor agar dirinya bisa terus menempel seperti ini untuk menghindari rasa mualnya


Zalynda melingkarkan lengannya dan mengusap-usap punggung Ray pelan. Beberapa lama mereka bertahan dengan posisi seperti itu sampai Ray mendongakkan kepalanya dan menatap Zalynda


"Terima kasih sudah mau mengandung dan menjaganya." Bisik Ray


Zalynda tersenyum sambil mengangguk


"Ehem.."


Zalynda dan Ray refleks menoleh melihat Marvin menatap mereka dengan canggung


"Ntar Vin. Ngabisin infusan dulu. Elo ke mana dulu aja, ntar gue telepon kalau infusannya udah habis ya." Kata Ray dengan posisi masih menyederkan kepalanya di bahu Zalynda membuat Zalynda sedikit malu


"Oh iya, gue ke kantin dulu kalo gitu." Kata Marvin sambil berbalik meninggalkan Ray dan Zalynda


"Boss vangke! Mesra-mesraan nggak tahu tempat. Kan gue juga jadi pengen cepet-cepet pulang nemuin Ghea." Bisik Marvin dalam hati


***


Berita kehamilan Zalynda sudah terdengar oleh keluarga dan teman-teman keduanya. Ray dan Zalynda tak henti-hentinya mendapatkan ucapan selamat baik lewat telepon maupun secara langsung


Untungnya mual-mual Ray hanya sebatas peka nya indera penciuman Ray terhadap segala jenis pewangi. Dengan cepat Ray menyuruh Marvin untuk mengganti pengharum ruangannya untuk antisipasi. Sedang untuk berhadapan dengan para karyawan dan klien, Ray rajin menghirup sapu tangan yang sudah di tetesi minyak kayu putih. Sedikit banyak bisa membantunya mengurangi mual


Hari ini apartemen Ray sedikit ramai karena Ardhi, Aya, Ian dan Endra datang mengunjungi apartemen Ray


"Waah bunda mau masak buat hajatan?" Tanya Ray saat melihat Aya mengeluarkan bahan-bahan mentah dari kantong belanjaannya

__ADS_1


"Ih kamu, ini bunda mau masak buat Zalynda. Farah sama Daniel lagi di Singapore untuk pengobatan bu Reema dan om Wijaya. Jadi nggak ada yang perhatiin Zalynda kalau bukan bunda." Kata Aya


"Abang kan selalu perhatiin Za kok bunda. Masa' nggak dihitung. Ya kan cantik?" Tanya Ray menatap Zalynda


Zalynda terkekeh sambil mengangguk. Zalynda lalu berdiri untuk membantu Aya memasak


"Cantik, mau kemana?" Tanya Ray


"Ke dapur. Kasihan bunda masak sendirian." Kata Zalynda


"Nggak usah, ini tinggal cemplung-cemplung kok Za. Gampang." Kata Aya


"Tuh, denger bunda. Ayo sini duduk." Kata Ray


Endra dan Ian menatap Ray dengan tatapan horor. Baru kali ini mereka melihat Ray begitu over protective


Zalynda menggeleng sambil berjalan ke dapur


"Kamu mau kemana?" Tanya Ray lagi


Zalynda berbalik menatap Ray "Ray, aku cuma mau bikin minum buat ayah, bunda dan adek-adek."


"Jangan, ntar kamu capek."


"Ya Allah Ray, aku ini hamil bukan sakit serius." Kata Zalynda sedikit kesal


Ardhi tertawa mendengar perdebatan anak dan menantunya. "Sudah, Za duduk saja. Ray nggak akan berhenti kalau Za nggak nurutin Ray."


Karena Ardhi yang berbicara, mau tidak mau Zalynda menuruti ucapannya sambil memandang kesal ke arah Ray


"Menyeramkan bang Ray.." bisik Endra


"Hooh, bucin maksimal." Bisik Ian


Ray menatap tajam dua adiknya "Daripada cuma olahraga jempol, sebaiknya sana kalian ke dapur. Ian bantuin bunda, Endra bikinin minum."


Ian dan Endra langsung menggerutu dalam hati walau mereka tetap bergerak melaksanakan perintah Ray


"Nyebelin ih bapak-bapak bucin." Bisik Ian

__ADS_1


Endra terkekeh. Namun langsung menghentikan tawanya saat melihat tatapan tajam Ray


Sementara Zalynda hanya tertawa kecil melihat tingkah tiga saudara itu


__ADS_2