CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 133


__ADS_3

Zalynda melirik Ray yang sedang mengemudikan mobil dengan tenang. Zalynda merasa ada sesuatu dengan Ray karena semenjak pemuda itu menjemputnya dari toko, pemuda itu tidak berkata banyak


"Ray.."


"Hm.."


"Kamu kenapa?"


"Aku kenapa?" Ray balik bertanya


Zalynda menghela nafas. Kalau seperti ini Ray pasti mengalami sesuatu dan itu berhubungan dengan dirinya. Zalynda mencoba memberikan ruang untuk Ray menenangkan diri walau Zalynda ingin sekali bertanya ada apa, mengapa sikapnya dingin dan sebagainya


Mereka sampai di apartemen. Ray masih tetap membukakan pintu dan menggandeng Zalynda. Hanya saja Zalynda kehilangan senyuman Ray dan kata-kata nya. Sampai masuk ke dalam unit pun Ray masih mendiamkannya


Zalynda duduk di sofa. Nafasnya sedikit tersengal. Walau baru enam bulan, namun karena Zalynda mengandung bayi kembar jadi perutnya terlihat lebih besar dibanding para ibu di kehamilan enam bulan yang mengandung satu bayi


Ray terlihat melepas jasnya dan melonggarkan dasinya. Pemuda itu langsung menggulung lengan bajunya dan pergi ke dapur. Zalynda menggigit bibir, biasanya Ray akan ikut duduk di sofa menemaninya sampai Zalynda sedikit lebih enak


Tiba-tiba sebuah ide terbesit di kepala Zalynda


"Aah..aduuuh.." Zalynda sedikit merintih


Ray yang mendengar suara Zalynda langsung bergegas menghampiri istrinya


"Kamu kenapa Za? Apa yang sakit?" Tanya Ray sambil mengusap-usap perut Zalynda.


Tatapan mata Ray menyiratkan pemuda itu khawatir, beda dengan pandangannya tadi sepanjang perjalanan. Zalynda berkejap menatap mata Ray


"Sepertinya anak-anakku protes.." kata Zalynda


"Anak-anak kita." Ralat Ray


"Hm, iya anak-anak kita protes Papa nya diam saja dari tadi. Biasanya mereka di sapa tapi tadi nggak." Kata Zalynda sambil mengusap perutnya


Ray menghembuskan nafasnya mendengar ucapan Zalynda. Pemuda itu kembali mengingat pertemuannya dengan Sagara di toko kue Zalynda tadi. Ray sedikit kesal karena Zalynda tidak pernah mengatakan kalau Zalynda sering ditemani mengobrol dengan Sagara saat menunggunya menjemput Zalynda


"Kamu kenapa Ray? Ada yang salah sama aku ya?" Tanya Zalynda membuyarkan lamunan Ray


"Apa kau sering bertemu dengan Sagara?" Tanya Ray


"Iya, dia selalu datang ke toko hampir setiap hari." Kata Zalynda ringan


"Kenapa?"


Zalynda mengerutkan keningnya "Kenapa? Ya mungkin karena dia menyukai rasa kue-kue di toko?"


Ray berdecak sebal.

__ADS_1


"Terus dia sering ngajak kamu ngobrol kan sambil nungguin aku jemput?" Tanya Ray


Zalynda terlihat berfikir sejenak


"Nggak sih, biasanya aku nunggu kamu di kantor. Beberapa kali aku memang nungguin kamu di luar kantor sambil melihat-lihat kerja pegawai toko. Kadang Sagara datang terus ngajakin aku ngobrol."


"Bukan kadang-kadang, tapi sering." Kata Ray melengos


Zalynda menghela nafas. Gadis itu faham sekarang mengapa Ray bersikap jutek dari tadi. Zalynda meraih tangan Ray dan menggenggamnya erat


"Kalau dibilang sering, nggak juga kok. Aku nggak mau cerita karena aku pikir nggak penting. Toh aku sama Sagara nggak ada apa-apa. Lagipula type kayak Sagara nggak mungkin mau sama ibu-ibu hamil kayak aku. Dia bersikap baik mungkin karena menyesal dengan sikapnya dulu."


"Dia masih suka sama kamu, Za." Kata Ray jutek


"Aku nggak berhak melarang urusan hati Sagara. Yang penting aku nggak suka kan sama dia." Kata Zalynda lagi sambil mengelus lengan Ray


"Oke kalau kamu nggak suka aku ngobrol sama Sagara, aku nggak akan keluar-keluar kantor. Atau aku nggak usah ke toko sekalian." Kata Zalynda lagi dengan nada suara sedikit keras. Ray tahu Zalynda marah padanya hanya gadis itu berusaha keras menjaga suaranya di hadapan Ray


Ray masih terdiam. Sepertinya hormon kehamilan Zalynda sedikit banyak masih berpengaruh pada suasana hatinya. Ray menghembuskan nafasnya sambil menggenggam tangan Zalynda


"Nggak, jangan begitu. Maafkan aku.." Ray mengecup punggung tangan Zalynda berkali-kali


"Tadi aku ketemu Sagara di toko dan seorang pegawaimu bilang Sagara sering ngobrol denganmu sambil menunggu aku menjemputmu. Aku cemburu banget ngebayangin kamu ngobrol sambil ketawa-ketawa sama Sagara. Lagipula.."


"Lagipula?" Tanya Zalynda


Zalynda tergelak mendengar ucapan Ray


"Kamu lucu banget sih. Pegawai itu manggil kamu pak soalnya menghormati kamu. Lagipula kalau dia berani panggil kamu mas, aku yang marah." Kata Zalynda


Ray mengerling menatap Zalynda sambil tersenyum "Kamu mau coba panggil aku mas?"


Zalynda memutar bahu Ray untuk menghadap ke arah dirinya dan melingkarkan lengannya di leher Ray. Tubuh mereka sudah tidak bisa menempel karena terhalang perut Zalynda


"Sepertinya harus dibiasakan untuk merubah panggilan. Lagipula beberapa bulan lagi panggilanmu berubah, Ray."


"Apa?" Tanya Ray sambil menaikkan satu alisnya


Zalynda menggigit bibirnya sambil memandang Ray dengan pandangan seduktif. Ray menjadi gemas dengan Zalynda. Perlahan gadis itu mendekati wajah Ray. Darah Ray terpacu saat hembusan nafas Zalynda menerpa wajahnya. Gadis itu tersenyum jahil lalu membelokkan wajahnya menuju telinga Ray sambil berbisik


"Papa.."


Ray menggeram lalu menarik tengkuk Zalynda untuk mencium gadis kesayangannya. Secepat kilat Zalynda menahan tubuh Ray dan memundurkan kepalanya


"Maghrib Ray..tuh denger adzan." Kata Zalynda mengingatkan. Terdengar sayup-sayup suara adzan.


Ray memejamkan matanya. Sepertinya dirinya harus diguyur air dingin untuk menidurkan sesuatu yang terbangun

__ADS_1


"Awas ya, nanti habis isya nggak boleh tidur dulu. Kamu harus tanggung jawab." Kata Ray dengan wajah ditekuk. Segera pemuda itu melangkah menuju kamar untuk mandi sementara Zalynda terkekeh-kekeh karena berhasil menjahili Ray


***


Yono mengamati jam besar yang tergantung di ruang makan. Sebentar lagi jam delapan malam.. Saatnya pergantian shift sipir penjara. Jumlah para penjaga akan berkurang setengahnya. Yono hanya harus menyelinap keluar menuju ke mobil binatu yang mengambil dan mengantarkan cucian di penjara


Yono mengamati seseorang yang menjadi targetnya. Seorang tahanan dengan tatto memenuhi lengannya. Sudah lama Yoni merendahkan diri di hadapan preman itu agar memperoleh kepercayaan darinya. Dan Yono berhasil


Yono pun melihat target selanjutnya. Seorang tahanan berkepala botak. Musuh tahanan bertatto tadi.


Peluit panjang menandakan pergantian sipir penjara


Yono bergegas berdiri berpura-pura mengantri mengambil jatah ransumnya. Saat berada di dekat preman botak itu, Yono menarik orang di depannya, berpura-pura telah di dorong oleh orang itu. Yono menjatuhkan diri di punggung preman botak itu sehingga wajah preman botak itu membentur piring alumunium di hadapannya. Makanannya seketika menempel di wajahnya


"Cari mati lo!" Kata preman botak itu sambil berdiri melihat ke arah Yono dengan tatapan garang


"M-maaf bang. Saya di dorong tadi sama dia." Kata Yono sambil menunjuk orang yang mengantri di depannya. Orang itu terbelalak sambil menggeleng cepat


"Alaah b*cot lu!" Kata preman botak itu sambil meninju Yono.


Rasa sakit menjalar di kepala Yono saat menerima pukulan dari preman botak itu


"Tahan Yon..tahan!" Bathin Yono menyemangati dirinya


Saat preman botak itu hendak meninju Yono, tangannya di cekal oleh seseorang


"Woi, elo mukulin orang gue!" Kata preman bertatto itu lalu dengan cepat meninju preman botak tadi


Dua kubu mulai saling menyerang saat melihat pimpinannya saling adu jotos


Sebersit senyum hinggap di bibir Yono. Umpannya kena


Saat melihat kekacauan, Yono berpura-pura ikut berkelahi padahal dirinya berjalan mendekati pintu keluar. Terdengar peluit sipir penjara. Yono segera bersembunyi di dekat pintu saat beberapa sipir penjara masuk untuk melerai perkelahian. Cukup sulit karena yang berkelahi adalah dua kubu terbesar yang ada di penjara sementara para penjaga sedang melakukan pergantian shift


Yono menyeringai melihat pintu yang terbuka. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Yono segera berlari menuju pintu dan menguncinya dari luar


"Setidaknya ini akan memperlambat pekerjaan mereka." Bisik Yono saat melihat tidak ada seorangpun yang sadar kalau dirinya sudah keluar dari ruang makan penjara


Yono segera berlari sambil menghindari CCTV yang sudah dihafalkan letak-letaknya menuju ke ruangan binatu. Di sana Yono menghembuskan nafas lega melihat seorang pekerja binatu sedang mendorong troli yang mengangkut pakaian kotor. Yono segera mendekati orang itu dan menepuk bahunya dari belakang


"Hai, aku mau minta tolong boleh?" Tanya Yono


Orang itu menoleh dan sedikit terperanjat melihat seorang tahanan berdiri di belakangnya. Sebelum orang itu bersuara, Yono terlebih dahulu membekap orang itu sambil menekan lengannya kuat-kuat ke leher pekerja binatu itu


"Aku minta tolong mau pinjam baju dan posisimu sebentar." Bisik Yono. Pekerja binatu itu terus memberontak. Lama kelamaan gerakannya melemah dan terdiam untuk selamanya


Yono menyeringai kejam…

__ADS_1


"Om datang, Linda…"


__ADS_2