
Banyak yang mengira siang hari adalah waktu yang memberikan begitu banyak penghidupan karena saat itu kebanyakan manusia terjaga dan bekerja. Namun sebenarnya, di saat malam hari di waktu tertentulah yang memberikan kehidupan.
Dalam kedamaian dan kesunyian, di sanalah sebuah rahasia tersebut. Pada sepertiga malam terakhir, itulah kehidupan. Itulah saat yang terbaik untuk memburu sumber kehidupan karena sepertiga malam terakhir merupakan salah satu waktu mustajab untuk berdoa sekaligus mempersiapkan diri lebih awal untuk menghadapi hari
Jam menunjukkan pukul 3 dini hari saat Ray selesai menyampaikan segala hajat dan doanya pada Penguasa Semesta. Ray menoleh ke ranjang dimana Zalynda masih bergelung dalam selimut menutupi tubuh polosnya
Ray mendekati Zalynda. Tangan Ray perlahan membelai kepala Zalynda. Wajah gadis itu terlihat sangat polos ketika sedang tertidur, membuat Ray menarik ujung bibirnya. Gadis itu terlihat lelah setelah malam panjang mereka
Pikiran Ray tertuju pada beberapa dokumen dan guntingan koran lama yang diberikan Ima di restoran. Ray segera pergi ke kamarnya kemudian membaca dokumen itu lembar per lembar
"FAW, putri seorang pengusaha dijerat Pasal 338 dan Pasal 340 KUHP juncto Pasal 53 KUHP tentang percobaan pembunuhan. Hakim memutuskan hukuman 25 tahun penjara dikurangi masa tahanan.
FAW dan rekannya DP tertangkap di villa di daerah Bogor setelah melakukan tindakan kejahatan penculikan dan percobaan pembunuhan terhadap TEF putri keluarga FGC.."
Ray membaca dengan serius berita dari guntingan koran lama. Ray kemudian membalikkan ke halaman berikutnya
"Di duga mengalami guncangan kejiwaan, putri pengusaha besar FAW kini dirawat di Rumah Sakit Jiwa Healing Soul."
Ray kembali mengingat percakapan dengan Ima di restoran
FLASHBACK
"Menurut sipir penjara yang bertugas, Farah memiliki kelakuan sangat baik saat di penjara. Rupanya kehidupan penjara bisa menempa dirinya menjadi pribadi yang lebih baik." Kata Ima sambil menyerahkan beberapa dokumentasi kegiatan di penjara 25 tahun silam
Ray melihat beberapa foto tahanan. Ada yang bekerja membersihkan rutan, ada yang membantu di dapur dan beberapa aktivitas saat pengajian. Mata Ray hanya fokus kepada foto seorang wanita yang agak mirip dengan Zalynda
"Ini tante..di foto ini perutnya sedikit membesar." Tunjuk Ray pada sebuah foto saat kegiatan olahraga di rutan
Ima menghela nafas "Ini adalah kasus rahasia, Ray. Om Wijaya menutup mulut semua orang kala itu untuk merahasiakan kehamilan Farah dari media."
"Hamil?" Ujar Ray dengan mata memicing. Sejujurnya Ray juga baru tahu akan berita rahasia ini setelah kemarin Ray membuka kembali berita tentang Farah dan bertanya pada Leo
Ima mengangguk. "Ada beberapa surat hasil pemeriksaan kandungan dari rumah sakit penjara. Sepertinya Farah benar-benar menginginkan bayinya hidup, buktinya dia rutin memeriksakan kandungannya."
"Apa tante Ima tahu ayah biologis dari bayi yang di kandung Farah?"
__ADS_1
"Tidak ada yang tahu. Farah tidak pernah mengatakan siapa ayah bayinya. Tetapi sepertinya orang ini tahu.." kata Ima sambil menunjukkan sebuah foto.
Ray memperhatikan foto itu dengan seksama. Rasanya wajah wanita itu tidak asing
"Dia Lela, teman dekat Farah di penjara. Lela dibebaskan beberapa bulan sebelum Farah melahirkan. Lela juga yang sering menjenguk Farah di rutan, selain om Wijaya." Lanjut Ima
Ray kembali membaca potongan koran lama yang dibawakan Ima
"Siapa partner Farah, tante? DP?"
"Entah dimana dia sekarang. Apakah masih dipenjara atau tidak, aku tidak tahu. Kenapa Ray?" Tanya Ima
Ray mengetuk-ngetuk meja. Wajahnya sedang memikirkan sesuatu "Aku merasa aku bisa menanyai DP ini. Kalau dia partner Farah, sedikit banyak dia pasti tahu tentang Farah."
Ima mengangkat bahunya "Mungkin iya, mungkin juga tidak. Tetapi tidak ada salahnya mencoba. Kau tahu, dia ini yang dulu pernah mengeroyok ayahmu dan menjejalinya minuman keras sehingga masuk rumah sakit karena cemburu, Farah lebih memilih ayahmu ketimbang dia."
"Benarkah? Dia cemburu pada ayah?" Ray mengangkat satu alisnya. Ima mengangguk
"Dia diberi inisial DP, Daniel Pratama.."
Ray masih menatap guntingan koran lama yang barusan dibacanya
"Daniel Pratama.. namanya seperti nama manajer senior TecnoTek yang baru diangkat kemarin. Namanya pasaran berarti." Kata Ray pelan sambil terkekeh
Ray melihat foto-foto lama yang diberikan Ima dalam sebuah dokumen rahasia. Mata Ray menatap foto seorang wanita yang tersenyum di sebelah Farah
"Rasanya wajah ini tidak asing..Aku lihat dimana ya.." gumam Ray
***
Pagi ini Zalynda bangun terlambat. Sepertinya Ray sengaja mematikan alarm lebih cepat dan membiarkan Zalynda tertidur lebih lama setelah malam panjang mereka. Zalynda mengerjap perlahan saat merasakan dingin di wajah dan tubuhnya
"Ray.." Zalynda menatap Ray yang tersenyum di depannya. Pemuda itu sedang memegang waslap yang di basahi air dingin kemudian menyapukan ke wajah dan lengan Zalynda. Cara membangunkan yang cukup aneh, menurut Zalynda
"Bangun, cantik. Sudah mau jam lima kamu belum shubuh."
__ADS_1
Mata Zalynda langsung terbuka dan melihat ke arah jam alarmnya. Benar kata Ray, sebentar lagi jam lima pagi.
"Aduh,kok kamu nggak bangunin aku Ray."
Zalynda segera membalut tubuh polosnya dengan selimut dan beranjak dari tempat tidurnya dengan langkah tertatih. Ray tertawa kecil melihat Zalynda masuk ke kamar mandi lengkap dengan selimut, lalu gadis itu kembali membuka pintu kamar mandi sedikit untuk mengeluarkan selimutnya
"Nggak usah ditutup Za, aku sudah hafal letak-letaknya." Kata Ray sedikit keras. Ray yakin Zalynda mendengar kalimat Ray dengan wajah yang langsung merona menggemaskan
Zalynda segera membersihkan diri dan menunaikan kewajiban shubuh nya yang terlambat. Setelahnya, gadis itu bergegas keluar untuk menyiapkan sarapan
Zalynda tertegun melihat beberapa makanan dan minuman hangat tersedia di meja. Sebuah lengan kekar mengurung dirinya dari belakang dengan wangi citrus yang selalu Zalynda rindukan
"Pagi, cantik." Bisik Ray sambil mengecup kepala Zalynda
"Ray..ini kamu yang buat semua?" Tanya Zalynda sambil memegang lengan Ray yang memeluk tubuhnya. Matanya masih meneliti hidangan di atas meja
"Mmm.. minumnya aku yang buat. Kalau makanan, ada yang jualan di bawah." Kata Ray jujur
Zalynda tertawa mendengar kejujuran Ray. Ray segera membalikkan tubuh Zalynda untuk menghadap dirinya
"Maafkan aku ya, kemarin pagi aku sedikit kasar padamu dan sedikit mengabaikanmu. Kenapa kamu nggak protes?" Tanya Ray sambil membelai kepala Zalynda
Mendengar itu, Zalynda hanya tertunduk sambil menggeleng. Ray segera mengangkat dagu Zalynda untuk membuat gadis itu menatapnya
"Ingat kata-kata dokter Adina? Kau harus berani mengutarakan apa yang kau rasakan, Za. Aku tahu kemarin kau juga sedih dan marah. Tetapi kenapa kau tidak ungkapkan itu?"
Mata Zalynda mengerjap menatap Ray "Aku takut kau tidak nyaman denganku, Ray. Aku takut merepotkan dirimu, aku takut.."
Ray memotong ucapan Zalynda dengan mendaratkan ciuman lembut di bibir gadis itu. Ray melepaskan ciumannya dan menatap mata indah milik Zalynda
"Lain kali bilang ya. Omongin. Jangan di pendam sendiri. Sedikit mengeluh tidak akan membuatmu di cap sebagai orang yang tidak bersyukur kok. Mengerti?" Ray tersenyum sambil mengelap bibir Zalynda yang basah dengan jempolnya
Zalynda mengangguk
"Bicara, Za."
__ADS_1
"I-Iya Ray, aku mengerti.." kembali Zalynda mengangguk sambil berucap. Ray tersenyum lalu memeluk erat gadis kesayangannya