CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 127


__ADS_3

Sudah enam bulan berlalu semenjak resepsi pernikahan Zalynda dan Ray. Mereka kembali ke rutinitas sehari-hari. Zalynda saat ini mengelola toko kue cabang dari toko kue bu Edah di dekat Gengs Cafe


Zalynda cukup senang dengan kesibukannya karena tidak lagi bosan di apartemen menunggu Ray pulang dari kantor. Terlebih Zalynda bisa menyalurkan hobinya dan memiliki penghasilan sendiri. Pegawai Zalynda pun bertambah sehingga saat ini Zalynda tidak perlu sering terjun ke dapur.


Ray memperbolehkan Zalynda untuk beraktivitas di luar dengan syarat Zalynda tidak melupakan tugasnya sebagai istri. Terkadang saat tidak ada lembur, seperti saat ini, Ray menjemput Zalynda untuk pulang bersama


"Masih sore, mampir di taman mau nggak? Aku kangen makan siomay yang di jual di taman." Kata Zalynda sambil mengencangkan sabuk pengamannya


"As you wish, cantik." Kata Ray sambil tersenyum. Ray pun melajukan mobilnya menuju taman kota


Taman kota di sore hari cukup ramai pengunjung. Kebanyakan anak-anak kecil yang berlarian sembari bermain di taman bermain main mini yang disediakan sebagai fasilitas taman


Zalynda tersenyum melihat anak-anak yang berlarian sembari di suapi ibu atau pengasuhnya. Celoteh cadel mereka terdengar lucu dan menyenangkan


"Ngeliatin apa sih? Serius amat." Kata Ray sambil menjawil pipi Zalynda membuat gadis itu terhenyak


"Eh nggak. Aku lagi ngeliatin anak-anak itu. Mereka lucu-lucu banget." Kata Zalynda sambil terus memperhatikan anak-anak yang berlarian kesana kemari


Perasaan sedih hinggap di hati Zalynda. Terhitung hampir satu tahun Zalynda menikah dengan Ray. Semenjak keguguran, Zalynda belum mengandung lagi. Sebagai istri, tentu saja Zalynda ingin memberikan keturunan untuk Ray. Sudah dua bulan lalu Zalynda melepaskan alat kontrasepsinya


"Za, kenapa?" Ray menyadari perubahan raut wajah Zalynda. Pemuda itu menolehkan wajah Zalynda menghadap ke arah dirinya. Mata mereka bertemu, Ray melihat netra coklat Zalynda berkaca-kaca


"Kamu sakit?" Tanya Ray lagi sambil menempelkan punggung tangannya ke kening Zalynda. Zalynda mengambil tangan Ray dari keningnya dan menggenggam erat tangan Ray


"Maafkan aku.."


"Kenapa?" Tanya Ray bingung


"Karena aku belum bisa memberikan keturunan untukmu.." kata Zalynda lagi


Ray tersenyum sambil membelai kepala Zalynda yang tertutup kerudung "Aku nggak mempermasalahkannya, sayang. Allah belum menitipkan lagi anak untuk kita mungkin karena ini yang terbaik buat kita saat ini."


Zalynda mengangkat kepalanya menatap Ray. Ah, tatapan Ray tidak pernah berubah. Selalu menyorot lembut pada dirinya


"Mungkin Allah tahu, bekas operasi caesarmu kemarin belum sembuh betul atau supaya kamu bisa mengaplikasikan apa yang menjadi impianmu sejak lama. Husnudzon sama Allah, ya cantik." Kata Ray lagi


"Kamu nggak masalah aku belum hamil lagi Ray? Ina dan Andre sudah punya satu jagoan yang lucu. Ghea pun sudah hamil." Kata Zalynda


"Agus sama Mike masih jomblo.." kata Ray sambil tertawa. Ucapan Ray tak urung membuat Zalynda ikut tertawa kecil. Tawa Zalynda adalah hal yang indah untuk Ray. Pemuda itu menggenggam jemari Zalynda erat. Ray selalu baik pada Zalynda, membuat gadis itu makin merasa bersalah


"Ray.. kalau aku tidak kunjung hamil, aku ingin kau menikah lagi." Ucapan Zalynda meluncur begitu saja dari bibirnya

__ADS_1


Genggaman tangan Ray mengendur. Wajah Ray menegang. Apa dirinya tidak salah dengar tadi kalau Zalynda menyuruhnya menikah lagi? Mata Ray memicing


"Ray.." panggil Zalynda


"Berhenti bicara!" Suara Ray terdengar tegas membuat hati Zalynda sedikit ciut.


Ray menghembuskan nafas kasar. Ingin sekali dirinya berteriak pada Zalynda atas saran konyolnya. Apa Zalynda pikir Ray bisa menikah semudah itu dengan wanita lain? Apa berarti Zalynda tidak keberatan melihat dirinya bersama wanita lain? Apa mungkin cinta Zalynda amat tipis untuknya?


Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk dalam benak Ray. Ray meneguk air mineral, berharap dapat memadamkan panas hatinya


"Sudah sore. Ayo kita pulang." Ajak Ray. Tangannya tetap menggenggam tangan Zalynda dan membawa istrinya menuju mobil


***


Malam harinya keduanya tidak saling bicara. Ray yang sedikit menghindari Zalynda dengan menyibukkan diri pada pekerjaannya.


Zalynda tahu Ray marah padanya. Zalynda menyesal mengeluarkan kalimat tadi sore. Ingin rasanya Zalynda berbicara pada Ray, namun pemuda itu seakan tidak tersentuh dan tidak mau membuka komunikasi dengan dirinya


Ting tong..


Zalynda bergegas mengenakan gamis dan kerudungnya sebelum pergi membuka pintu


"Assalamu'alaykum sayang.."


"Bunda, ayah. Kenapa nggak bilang? Biar abang sama Za yang kerumah." Kata Ray sambil mengecup pipi Aya


"Emangnya bunda sama ayah nggak boleh datang ke apartemen kamu, bang?" Aya sedikit cemberut sambil duduk di sofa.


"Bukan gitu, abang nggak mau bunda sama ayah repot." Kata Ray lagi


"Nggak repot, bang. Bunda pengen ketemu kalian. Ini aja baru dari bandara langsung kesini." Kata Ardhi. Keningnya sedikit mengerut melihat pekerjaan Ray yang berada di meja


"Sibuk?" Tanya Ardhi


"Nggak, ayah. Lagi gabut." Kata Ray sambil membereskan pekerjaannya


"Gabut? Bahasa apa lagi itu?" Tanya Ardhi


Zalynda datang membawakan empat cangkir teh dan beberapa camilan yang dibuatnya untuk di rumah


"Gimana toko kamu Za?" Tanya Aya sambil menyeruput tehnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah bunda, baru kemarin nambah pegawai untuk bantu di dapur. Pesanannya lumayan banyak sekarang." Kata Zalynda sambil duduk di samping Ray. Terlihat Ray sedikit menggeser duduknya, tidak mau berdekatan dengan Zalynda


Mata Aya memicing. Sepertinya terjadi sesuatu antara Ray dan Zalynda.


"Beib, kamu tahu spaghetti di seberang apartemen ini kan? Aku lagi pengen makan spaghetti bolognese itu." Kata Aya


"Spaghetti? Za ada bahannya, sebentar Za buatin ya bunda."


"Eeh nggak usah Za. Bunda pingin makan yang di jual di seberang. Beib, beliin boleh? Ajak abang sekalian." Kata Aya menahan gerak Zalynda sambil mengkode ke arah Ardhi


Ardhi rupanya faham dengan kode Aya "Ayo bang, temenin ayah."


Ray dengan patuh mengikuti Ardhi keluar dari apartemennya, membelikan pesanan Aya


Setelah keduanya pergi, Aya menatap ke arah Zalynda sambil tersenyum


"Za berantem sama abang?"


Zalynda sedikit terkejut. Ibu mertuanya ini cukup peka dengan apa yang terjadi


"Hanya salah faham kecil, bunda." Kata Zalynda sambil memilin ujung kerudungnya


Aya menggeser duduknya mendekati Zalynda


"Ada apa? Tidak ada permasalahan yang tidak bisa di selesaikan. Apa abang menyakiti Za?" Tanya Aya


Zalynda dengan cepat menggeleng. Ray tidak pernah menyakitinya secara sengaja. Justru dirinya sepertinya yang telah membuat Ray sakit hati dengan ucapannya


"Putra bunda itu memang sangat keras kepala dan terkadang menyebalkan. Dia terkadang ingin menang sendiri dan tidak mau tersentuh ego nya. Bunda harap kamu maklum ya." Ujar Aya


"Nggak bunda, justru Za yang salah. Sampai hari ini Za belum hamil. Za merasa gagal tidak bisa memberikan keturunan buat Ray."


"Bukan tidak bisa, belum. Allah belum menitipkan lagi malaikat kecil untuk kalian. Za kan pernah hamil dulu jadi menurut bunda tidak ada masalah dengan kesehatan kalian berdua. Za tahu nggak waktu bunda nikah dulu, nunggu satu tahun untuk bisa hamil." Kata Aya mencoba menghibur Zalynda


Zalynda menggigit bibirnya. Ingin dirinya menceritakan apa penyebab Ray marah padanya, namun Zalynda mengurungkannya khawatir Aya ikut menyalahkan dirinya


"Za pasti tahu abang ego nya tinggi. Bunda harap Za bisa ngertiin Ray dan baik-baik sama Ray ya, semenyebalkan apapun dia. Karena semenjak sama Za, Ray terlihat lebih banyak tersenyum dan tertawa." Kata Aya sambil membelai kepala Zalynda


Ucapan Aya membuat Zalynda tertegun. Zalynda tahu dirinya harus meminta maaf pada Ray karena memang dalam hal ini dirinya yang bersalah.


Zalynda tersenyum menatap Aya sambil mengangguk

__ADS_1


"Iya bunda.."


__ADS_2