CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 67


__ADS_3

Ray menatap Zalynda yang terbaring tidak berdaya dengan selang infus di tangannya. Dokter Husna sudah memeriksa dan menyatakan kalau Zalynda mengalami serangan panik karena masih terbayang peristiwa yang menimpanya


Wajah cantik Zalynda yang biasa merona saat Ray menggodanya kini terlihat pucat. Mata yang selalu tertunduk malu-malu atau menatap lembut kini terpejam. Bibir yang merah merekah kini terlihat pucat


Ray menyentuh pipi Zalynda hati-hati seolah gadis ini adalah barang pecah belah yang rapuh dan bisa pecah kapanpun. Bibir Ray tak putus menggumamkan istighfar


"Astaghfirullah..Maafkan aku, Za. Aku lalai menjagamu.." Bisik Ray perlahan. Matanya mengembun dan sekejap saja butiran airmata jatuh mengalir di pipinya


Ray menggenggam lembut jemari Zalynda yang tidak dipasangi infus. Diciuminya tangan Zalynda berkali-kali. Ray jarang sekali menangis. Terakhir kali ia menangis adalah saat pemakaman bu Aisha dan itupun hanya menitikkan airmata.


Bu Reema dan Daniel memperhatikan Ray dari sofa. Bu Reema terenyuh dengan sikap Ray pada Zalynda


Ray memandang wajah Zalynda yang masih saja tertidur. Ray tiba-tiba menghapus air matanya. Wajahnya menggeram dengan rahang mengeras menahan amarah


Saat ini Ray tengah menggumamkan nama yang bertanggung jawab atas kejadian ini. Pemuda itu membelai lembut kepala Zalynda dan mengecup keningnya sekilas


"Stay strong, cantik. I'll be back soon.." bisik Ray sebelum kembali mengecup kening Zalynda


Ray segera berdiri dari duduknya dan berbalik "Bu Reema, pak Daniel. Saya titip Za sebentar."


Ray sudah kembali ke mode pengaturan awal, tidak lagi menggoda Daniel. Artinya pemuda itu sedang serius dan hendak melakukan satu tindakan


"Niel, susul Ehan. Mama takut dia melakukan hal-hal yang bisa merugikan dirinya." Suruh bu Reema saat melihat Ray dengan cepat meninggalkan ruangan rawat Zalynda


Daniel mengangguk. Pria itu segera keluar menyusul Ray


"Ray. Tunggu sebentar." Panggil Daniel menghentikan langkah Ray. Pemuda itu berbalik menatap Daniel


"Kau mau kemana?" Tanya Daniel


"Saya ada sedikit urusan, pak." Jawab Ray datar. Pemuda itu segera berbalik dan kembali berjalan menuju lift


"Kalau kau berencana ingin membuat perhitungan dengan Yono, kau tidak boleh gunakan cara kekerasan seperti yang kau pikirkan." Daniel sepertinya bisa membaca apa yang akan dilakukan Ray. Pemuda itu menghentikan langkahnya kemudian perlahan membalikkan badannya menatap Daniel


"Zalynda istriku, dia kehormatanku. Jika ada seseorang yang sudah berani mengganggunya, maka orang itu juga menggangguku. Saya tidak akan melepaskannya." Kata Ray tajam


Daniel menghela nafas sambil menghampiri Ray


"Saya tahu. Saya juga akan berbuat hal yang sama jika saya menjadi dirimu. Tetapi kau harus tahu, tidak bagus memutuskan suatu tindakan dalam keadaan marah."


"Lalu saya harus bagaimana? Apa saya harus diam saja melihat mereka bersukacita di atas luka Zalynda?"


Daniel menggeleng. "Tentu saja tidak. Kita akan membalasnya, tetapi bukan dengan cara bodoh seperti yang kau pikirkan."


Ray menatap Daniel yang menyeringai.

__ADS_1


"Tenang saja. Soon we'll make him pay."


***


Isya waktu Jakarta. Jalanan tidak terlalu macet karena kebanyakan orang lebih memilih beristirahat di rumah untuk mempersiapkan diri menghadapi senin esok hari. Selain itu, gerimis mulai turun membuat malam semakin syahdu


Yono sedang bersiul sambil mengemudikan mobilnya santai. Sepertinya hatinya sedang bahagia. Pria itu tidak menyadari ada sebuah mobil yang sedari tadi mengikuti mobilnya


Mobil Yono keluar dari jalan besar memasuki jalanan yang menuju komplek perumahan tuan Wijaya


Saat melewati danau buatan, Yono dikejutkan oleh sebuah mobil tanpa plat yang tiba-tiba menyalip dan menghalangi jalannya. Pria itu serta merta menginjak remnya. Mata Yono melotot, sedikit saja kakinya terlambat menginjak rem, dapat dipastikan mobilnya akan menabrak mobil yang menghalanginya di depan


"B******k!! Bisa nyetir nggak sih?!" Tanya Yono keras sambil keluar dari mobilnya berniat menegur orang yang berada di mobil depan


Yono terkejut saat melihat dua orang bertopeng keluar dari mobil lalu menghampirinya.


Bugh!


Yono terpelating ke belakang membentur mobilnya saat menerima bogem mentah dari seseorang bertopeng hitam. Hati Yono menciut seketika


"S-siapa kalian?!"


Tidak ada yang menjawab. Kali ini si topeng hitam menarik kerah Yono dan memepetkan tubuh pria itu ke mobil Yono


"Apa.."


Bugh! Yono kembali tersungkur ke tanah


"Sebentar.."


Bugh! Pria bertopeng hitam itu tidak memberikan kesempatan untuk Yono berdiri apalagi berbicara


Pria bertopeng coklat hanya memandangi Yono dan rekannya sambil bersandar di mobilnya seolah menikmati tontonan tinju secara live


"Hei, apa salahku? Kenapa kau memukuliku?!" Teriak Yono mencoba bangkit dari jatuhnya. Tangannya diangkat sebagai tanda dirinya menyerah. Kepalanya sudah pening karena menerima pukulan bertubi-tubi


Pria bertopeng hitam itu menyambar kerah Yono


"Kau mau tahu salahmu? Salahmu adalah kau menyentuh milikku yang berharga!" Desis pria bertopeng hitam itu lalu kembali memukuli Yono bertubi-tubi


Bugh!


Bugh!


Bugh!

__ADS_1


Pria itu berdiri setelah membuat Yono terkapar tidak berdaya. Ditariknya kerah baju Yono sembari mencengkram pipi Yono keras


"Aagh.." Yono mengerang kesakitan


"Ini peringatan terakhir, berani kau menyentuh Zalynda maka aku tidak segan-segan melemparmu ke penjara!" Desis pria bertopeng hitam itu


Yono menyeringai "P*****r kecil itu, apa bagusnya dia?"


Mata pria bertopeng hitam itu menggelap tidak terima Zalynda disebut sebagai p*****r


Bugh!


"Mati lo b*****t! Mati lo!" Pria bertopeng hitam itu tak henti memukuli Yoni yang sudah tidak berdaya. Rahang dan pipinya babak belur, bibirnya pecah, kepalanya sudah berkunang-kunang namun pria bertopeng hitam itu seakan belum puas menghajar Yono


Tepat saat tangan pria bertopeng hitam itu akan kembali meninju Yono, pria bertopeng coklat itu mencengkram tangannya


"Sudah, dia bisa mati nanti." Kata pria bertopeng coklat itu. Nafas pria bertopeng hitam itu tersengal-sengal


Bugh!


Sebuah bogem mentah kembali melayang ke wajah Yono menyebabkan pria itu kembali tersungkur. Pria bertopeng hitam itu mendengkus lalu meninggalkan Yono sendirian bertemankan gerimis


Mata Yono mengerjap melihat lampu mobil yang semakin menjauh. Yono mengerang menahan sakit


"Linda..kau akan membayar semuanya.." Desis Yono sembari tertatih menuju mobilnya. Yono butuh istirahat sejenak


***


Bu Reema melihat Zalynda menatap kosong layar televisi. Hujan turus dengan derasnya diluar sana, sesekali terdengar bunyi gemuruh petir


"Za, sudah malam. Istirahat ya." Kata bu Reema lembut


Zalynda menatap bu Reema dengan pandangan bersalah "Maafkan Za merepotkan ibu."


"Tidak merepotkan sama sekali." Bu Reema tersenyum sambil membelai kepala Zalynda


Zalynda menggigit bibirnya. Harusnya Ray yang menemaninya di sini. Tetapi semenjak Zalynda sadar dari pingsannya, dirinya tidak pernah melihat Ray. Kemana perginya pemuda itu?


Di satu sisi, Zalynda tidak ingin Ray menemukannya karena Zalynda merasa sudah tidak pantas mendampingi Ray. Namun di sisi lain hatinya merindukan pemuda itu


"Ray, kamu dimana.." Bathin Zalynda pelan


Baru saja Zalynda menyebut nama Ray, pemuda itu tiba-tiba datang dengan membawa sebuket bunga dan dua kotak martabak telur


"Ray.." ucap Zalynda pelan

__ADS_1


__ADS_2