
Jantung Ray seakan berhenti saat Diva menekan pisau ke pipi Zalynda. Zalynda menggigit bibirnya untuk menahan rintihannya saat pisau Diva kembali menggores tangannya yang menahan lengan Diva agar tidak terlalu kuat menekan lehernya
"Kenapa sepupu? Sakit?" Tanya Diva sarkas saat melihat darah mengalir dari punggung tangan Zalynda
"Itu tidak sebanding dengan apa yang sudah kau lakukan pada keluargaku! Kau memang anak haram pembawa sial!"
Diva mengayunkan pisaunya cepat dan berhenti tepat di depan wajah Zalynda. Aya dan Farah langsung menjerit
"Tapi tenang saja, aku nggak akan biarkan kamu mati dengan mudah…" bisik Diva sambil tertawa sinis
"Tidak, jangan sakiti anakku. Bawa aku sebagai sanderamu dan lepaskan Zalynda!" Teriak Farah histeris saat melihat Diva kembali menggores punggung tangan Zalynda
"Sepupuku ini jauh lebih berharga dari dirimu, tante." Kata Diva sambil memandang Farah tajam
"Baik, katakan apa maumu Diva." Ray merasa takut melihat tangan Zalynda sudah berlumuran darah. Diva sepertinya benar-benar serius menyakiti Zalynda
"Mauku? Kusebutkan satu persatu. Pertama, cabut tuntutan kalian padaku dan Mama!"
"Baik, saya akan mencabutnya." Kata Ardhi. Segera Ardhi menghubungi seseorang. Tampaknya Ardhi berbicara cukup serius dengan seseorang di seberang telepon sana sampai akhirnya pria itu berbalik dan mengangguk
"Saya sudah mencabut tuntutan pada kalian.."
Sebetulnya hatinya tidak rela mencabut tuntutan kepada Diva dan Anggun karena telah mencelakai Aya dengan sengaja. Namun sepertinya Ardhi tidak punya pilihan
Diva menyeringai senang
"Kedua, bebaskan Papa. Cabut tuntutan kalian."
"Kau tahu, kasus Yono sudah sangat berat dan tidak bisa dicabut begitu saja." Kata Ray
"Kalau begitu aku akan bawa sepupuku ini sampai kalian mencabut tuntutannya! Kita akan bersenang-senang, ya sepupu?" Kata Diva dengan nada licik
"Kau.. lepaskan Zalynda. Kalau terjadi sesuatu dengan Za.."
"Uuuuh aku takut sekali Ray." Diva memotong ucapan Ray dengan maksud mengejeknya
__ADS_1
"Diva! Hentikan semua ini!"
Semua orang di ruangan terkejut melihat kedatangan Anggun dan Anton, ayah Alin
"Mama? Ngapain kesini?!"
"Untuk mencegah tindakan bodoh kamu! Ayo segera lepaskan Zalynda. Kita pergi dari Indonesia memulai hidup baru di luar negeri." Bujuk Anggun
"Cih, apa mama tidak memikirkan Papa? Aku tidak akan pergi sebelum mereka membebaskan papa!" Kata Diva keras
"Kita tidak perlu laki-laki seperti dia. Kita bisa hidup berdua!" Kata Anggun seolah memohon pada Diva.
"Tidak! Aku tetap pada pendirianku!" Kata Diva keras
"Mengapa kau masih memikirkan pria yang sudah membuat kita sengsara?!"
Mata Diva menyipit melihat Anggun. Diva tidak menyangka Anggun mengatakan hal tadi
"Mengapa? Ma, dia suami mama! Dia papaku!"
Mata Anggun memerah menahan tangis "Please, Diva. Mama sudah mggak punya siapa-siapa lagi selain kamu. Papa sudah dipenjara. Mama nggak mau kamupun di penjara karena tindakan bodohmu ini."
Semua orang di ruangan bernafas lega, tetapi kemudian mereka kembali panik saat Diva menjambak rambut Zalynda yang tertutup kerudung dan mendekatkan pisaunya di leher Zalynda
Zalynda memejamkan mata dan menahan jeritannya akibat rasa panas yang menjalar di kepalanya. Gadis itu tidak berani bersuara karena khawatir Ray mendengar rintihannya dan semakin khawatir. Perlahan Zalynda memandang Ray yang terlihat frustasi
"Setidaknya Zalynda harus menderita di tanganku sebelum kita pergi, mama. Katakan, sepupu..Apa Ray akan tetap memujamu walau wajahmu penuh sayatan luka?" Kata Diva dingin sambil memainkan pisaunya
Anton tiba-tiba berlari menerjang Diva dan mencoba menahan serta merebut pisau dari tangan Diva
"Sial! Lepaskan!" Jerit Diva
Melihat ada celah, Ray langsung menarik Zalynda lepas dari Diva dan membawa Zalynda kedalam pelukannya. Zalynda pun memeluk erat Ray.
"It's okey. You're safe now cantik.." bisik Ray. Zalynda mengangguk dalam pelukan Ray
__ADS_1
Sedetik Zalynda merasa aman, tiba-tiba Ray mengeratkan pelukannya dan memutar tubuh mereka
Teriakan Aya dan Farah terdengar. Zalynda belum sempat mencerna betul apa yang terjadi karena mendadak tubuh Ray terasa kaku. Zalynda mengurai pelukannya dan melihat di belakang Anton dan Beno sedang memegangi Diva. Di tangan Diva terlihat pisau yang berlumuran darah
Sekujur tubuh Zalynda dialiri ketakutan. Terlebih saat Ray ambruk dan kembali memeluk Zalynda. Otomatis Zalynda memeluk tubuh Ray dan melihat cairan hangat berwarna merah membasahi tangannya. Mata Zalynda terbelalak
"Tidak! Ray..Raay!"
***
Zalynda menatap wajah Ray yang terpejam. Pemuda itu terlihat begitu tenang walau di hidungnya terpasang selang untuk membantu pernafasannya. Di kamar ini Zalynda hanya seorang diri menjaga Ray. Walaupun kamar rawat VVIP, dokter tetap menyarankan hanya satu orang yang menunggui pasien di sana
Suasana begitu hening. Hanya terdengar suara monitor jantung yang membuat Zalynda sedikit takut kalau-kalau suara monitor itu berubah menjadi nada datar yang panjang. Mungkin seperti itulah rasa takut yang di alami Ray selama menjaga Zalynda saat dirinya koma dulu
Ray menderita luka tusukan cukup dalam akibat ulah Diva. Entah bagaimana Diva berhasil melepaskan diri dari Anton dan hendak menikam Zalynda
Ya, sasaran Diva adalah Zalynda. Namun Ray melihatnya dan dengan sigap bertukar posisi melindungi Zalynda
Ray baru saja menjalani operasi. Kata dokter yang menangani, walau Ray kehilangan banyak darah namun kondisinya cukup stabil sehingga setelah observasi pasca operasi, Ray dipindahkan ke ruang perawatan.
Zalynda mengulurkan tangannya membelai pipi Ray yang terasa dingin akibat pendingin ruangan.
"Diva sudah diamankan, Ray. Begitu juga dengan tante Anggun. Kamu tahu nggak kenapa ayah Alin mau menolong mereka? Ternyata ayah Alin pernah melakukan satu kesalahan dan diketahui oleh tante Anggun. Sejak itu tante Anggun selalu memanfaatkan ayah Alin jika berhubungan dengan hukum. Jahat ya?"
Ray masih terpejam. Zalynda membelai rambut lebat Ray sambil tersenyum
"Mungkin setelah ini tidak ada lagi yang akan mengganggu kehidupan kita. Kita bisa hidup tenang. Kita bisa mewujudkan impian-impian kita.."
Zalynda mendesah melihat Ray tidak merespon ucapannya. Zalynda sadar ternyata dirinya yang dulu tidak mau bergantung pada siapapun, kini seakan tidak berdaya saat Ray tidak di sampingnya.
Ray, pemuda yang selalu mendukung dan melindunginya. Selalu memberikan semangat dan curahan kasih sayang sehingga Zalynda kembali menjadi pribadi yang jauh lebih percaya diri dibandingkan sebelumnya.
"Bangun ya Ray.. katanya kamu mau bikinin aku pesta resepsi dan mengumumkan ke seluruh negeri kalau aku adalah istrimu. Terus katanya kamu mau bikin tim kesebelasan sama aku?" Zalynda terkekeh pelan
Mata gadis itu berkaca-kaca. Zalynda menarik dan menghembuskan nafasnya untuk mengatur emosinya
__ADS_1
"Maafkan aku yang selalu bikin kamu repot Ray. Maafkan aku.."
Zalynda menelungkupkan badannya ke ranjang Ray. Zalynda merasa letih sekali. Matanya pun mulai memberat. Akhirnya Zalynda tertidur di sisi ranjang Ray sementara tangannya tak lepas menggenggam tangan Ray