
"Lagipula, apa urusanmu dengan perasaan Ray? Kau hanya klien Ray, tidak lebih." Kata Zalynda dengan tenang tapi cukup dalam menusuk Alin
Alin ternganga mendengar ucapan Zalynda. Baru saja Alin hendak membalas, Ray sudah berada di dekat mereka sambil menyerahkan segelas jus jeruk untuk Zalynda.
"Terima kasih ya suamiku.." kata Zalynda dengan nada sedikit manja. Ray tersenyum lebar mendengar ucapan Zalynda. Baru kali ini Zalynda memanggil Ray dengan sebutan suamiku, Ray pun menyukainya
"Ohya, kamu jadi pulang sekarang Lin?" Tanya Zalynda membuat Alin sedikit tergagap
"Kapan aku bilang mau pulang?" Bathin Alin
"Udah mau pulang?" Tanya Ray menatap Alin
"Tadi Alin bilang mau nunggu kamu buat pamit pulang cepat, ya khan Lin?" Kata Zalynda sambil menatap ke arah Alin dan Ray bergantian
"Oh ya udah. Mau nyiapin buat presentasi besok ya?" Tanya Ray lagi
"Ah eh, iya.." jawab Alin. Gadis itu kesal, kenapa sekarang dirinya jadi mengikuti permainan Zalynda
"Ok, hati-hati ya." Kata Ray sambil menyeruput jus jeruk Zalynda
"Kamu nggak nganterin aku Ray?" Tanya Alin. Zalynda mendelik ke arah Alin. Bisa-bisanya gadis itu meminta Ray mengantarnya
"Nggak bisa lah. Kan ini pernikahan Papanya Za. Masa aku pergi." Kata Ray datar
"Nggak punya kuota untuk panggil taksi online? Aku punya kok, mau aku pesenin Lin?" Tanya Zalynda lembut.
Alin mendengkus keras. "Nggak usah,aku punya kuota. Permisi."
Alin segera berbalik meninggalkan Zalynda dan Ray dengan cepat. Zalynda memperhatikan punggung Alin yang menjauh sambil menghela nafas.
Zalynda menggenggam tangannya erat. Baru kali ini Zalynda banyak bersuara untuk bangkit melawan seseorang yang menindasnya setelah empat tahun berlalu. Rasanya lega luar biasa walau tubuhnya sedikit gemetar. Zalynda merasa kembali menjadi Zalynda, ketua Fabulous Sorority yang penuh percaya diri setelah sekian lama rasa itu menghilang dari dirinya
"Kamu kenapa?" Tanya Ray melihat tangan Zalynda sedikit gemetar
"Ah nggak apa-apa kok Ray. Aku sedang berusaha mengikuti saran dokter Adina untuk tidak menahan perasaanku." Zalynda makin mengeratkan genggaman tangannya
__ADS_1
Ray tersenyum. Pemuda itu mengambil tangan Zalynda dan menggenggamnya. Zalynda merasakan genggaman hangat tangan Ray ikut menghangatkan hatinya. Sepertinya genggaman tangan Ray seakan sebuah sihir yang menghentikan gemetar Zalynda.
"Aku punya hutang ya sama kamu." Bisik Ray di telinga Zalynda. Gadis itu mengerutkan keningnya
"Hutang resepsi pernikahan kita." Jawab Ray membuat pipi Zalynda bersemu merah
"Kamu beneran mau bikin resepsi?" Tanya Zalynda mengingat mereka sudah menikah hampir 6 bulan lamanya
"Kenapa nggak? Justru dengan resepsi aku secara resmi mengenalkan kamu sebagai istri aku. Biar pada tahu kalau si cantik Zalynda adalah milik Rayhan." Kata Ray sambil mengecup punggung tangan Zalynda. Zalynda tersenyum lebar sambil mengangguk menyetujui rencana Ray
***
Ray mengungkapkan keinginannya untuk mengadakan resepsi pernikahannya yang sempat tertunda. Rencana itu didukung penuh oleh Aya karena koleksi caturwulan nya pun sudah rilis.
Farah dan bu Reema pun tidak kalah antusias. Mereka pun mulai mencari-cari gaun yang cocok untuk dikenakan Zalynda saat resepsi nanti
Zalynda hanya geleng-geleng kepala melihat kehebohan nenek, mama dan bundanya. Alasan mereka kompak, karena tidak melihat Zalynda melakukan ijab qobul sehingga mereka melampiaskannya pada acara resepsi
Sementara para pria seperti Ardhi, Daniel dan tuan Wijaya mendukung penuh dengan finansial mereka
Zalynda terharu karena saat ini kebahagiaan benar-benar berpihak padanya. Orangtuanya yang kembali lengkap, mertua yang menyayanginya, kakek, nenek, saudara, teman-teman dan seorang suami siaga yang terus berada di sisinya
***
Ray tersenyum puas saat pihak pengembang menyetujui dekorasi interior yang pernah dirancang Zalynda sebagai pembuka dekorasi modern village di type rumah besar yang terletak di jalan utama. Senyumnya semakin melebar melihat beberapa penawaran yang masuk untuk membeli unit-unit tersebut
"Jadi gimana, kira-kira berapa unit type 240 yang kita jual?" Tanya Agus sambil melihat rancangan yang dibawa oleh Alin
"Semua aja Gus. Nggak perlu sisain buat rumah contoh. Toh kita nanti buat lagi modern village yang beda untuk unit belakang. Gimana Ray?" Tanya Marvin meminta pendapat Ray
"Setuju gue kalau nanti kita bedain disain rumah di jalan utama sama yang masuk cluster. Tetap pakai konsep modern village karena suasana disana pas banget dengan tema hunian pedesaan modern kita." Kata Ray sambil mengamati jam di dinding
"Kamu ngapain lihat jam terus?" Tanya Alin sambil ikut memutar kepalanya melihat jam dinding di kantor Ray
"Belum Ray, masih kurang 5 menit." Celetuk Marvin
__ADS_1
"Ck, ya sudah. Ini deal dulu ya. Lin, coba bikin dekorasi interior untuk rumah-rumah yang masuk cluster." Kata Ray
"Sekarang?" Tanya Alin
"Besok. Ya lah sekarang. Makin cepat makin bagus untuk kita kembali modal dan meraih keuntungan." Ray sedikit berdecak sebal
Alin mengerucutkan bibirnya. Sudah hampir jam makan siang tetapi tidak ada satupun dari tiga pemuda ini yang mengajak break untuk makan siang. Terlebih Ray yang sepertinya sangat buru-buru untuk menyelesaikan proyek Modern village di Semarang. Dengan begitu kesempatan Alin bertemu Ray akan makin menipis
Tepat pukul 11.30 siang seseorang membuka pintu ruangan Ray. Terlihat Zalynda datang dengan kotak bersusun tiga di tangannya. Ray tersenyum lebar dan langsung menyambut kedatangan Zalynda
"Sama siapa kesini sayang?" Tanya Ray sambil membantu Zalynda membantu Zalynda membuka kotak tiga susun yang di bawa gadis itu. Harus masakan merebak ke penjuru ruangan membuat Agus dan Marvin tanpa sadar ikut mendekat
"Naik motor." Jawab Zalynda cepat sambil menyusun makanan di atas meja tamu.
Alin memperhatikan bagaimana Zalynda dengan cekatan menata makanan di meja. Alin menarik ujung bibirnya
"Kayaknya enak, beli di restoran mana?"
Gerakan Zalynda terhenti sambil menatap Alin. Sedetik kemudian gadis itu tersenyum
"Mirip sama masakan restoran kah?" Tanya Zalynda sambil menyerahkan makanan untuk Ray. Ray segera memasukkan satu suapan ke mulutnya setelah sebelumnya membaca doa. Pemuda itu langsung memberikan jempol ke arah Zalynda
"Kita nggak ditawarin Ray?" Tanya Agus sambil terus memperhatikan makanan yang dihidangkan
"Boleh nyicip." Ujar Ray. Zalynda segera menekan tombol extension ruangan OB untuk meminta tambahan sendok dan piring
"Kita beli aja Gus. Tadi kamu beli di mana Zalynda?" Kembali Alin bertanya
"Aku masak sendiri. Kamu mau juga?" Kata-kata lembut Zalynda seolah menohok hati Alin. Gadis itu semakin dongkol karena secara tidak langsung tadi dirinya memuji masakan Zalynda.
Terdengar ketukan di pintu. Zalynda dengan cepat berdiri membuka pintu. Seorang OB menyerahkan beberapa sendok dan piring yang di minta Zalynda
Hal itu tidak di sia-siakan Alin. Segera Alin mengambil iPad nya dan menyerahkan pada Ray
"Ini hasil dekorasi untuk rumah cluster. Gimana Ray?" Tanya Alin sambil duduk di sebelah Ray
__ADS_1
Kening Zalynda sedikit berkerut melihat keberanian Alin. Marvin dan Agus saling melirik satu sama lain saat melihat tatapan Zalynda. Ray sepertinya tidak sadar tatapan yang diarahkan Zalynda. Pemuda itu menoleh ke arah iPad Alin membuat posisi mereka saling berdekatan
"He's dead.." bisik Marvin pada Agus saat melihat Zalynda dengan cepat melangkah kearah meja