
Zalynda meletakkan mukena nya di atas nakas setelah selesai menjalankan kewajiban Maghribnya. Gadis itu segera turun untuk mengecek apa yang Alin butuhkan. Biar bagaimanapun Alin adalah tamu, bukan tawanan
Ruang tengah keluarga Al Farobi tampak lengang. Aya sepertinya masih berada di kamarnya, sedangkan Farah berada di kamar Ina. Zalynda segera pergi ke kamar tamu. Di sana terlihat Sumi sedang menunggui Alin. Zalynda menggeleng-gelengkan kepalanya, Sumi benar-benar melakukan apa yang diperintahkan Ardhi
"Sumi, maghrib dulu sana. Biar aku yang disini." Kata Zalynda
"Nggak apa-apa non. Saya di sini aja dulu nunggu om Beno sama om Yudi pulang dari mesjid." Kata Sumi sambil menggeleng sopan
"Nggak apa-apa. Jangan di entar-entar. Waktu Maghrib cepat lho, nanti kehabisan." Kata Zalynda
"Tapi Non.." Sumi agak ragu meninggalkan Zalynda dengan Alin. Sumi khawatir Alin akan menyakiti Zalynda.
"Tenang aja. Aku bisa jaga diri kok." Zalynda tersenyum seakan mengetahui kecemasan Sumi.
Akhirnya setelah menimbang-nimbang, Sumi mengangguk dan meninggalkan Zalynda berdua dengan Alin. Beberapa kali Sumi menengok ke belakang untuk memastikan sebelum akhirnya benar-benar menutup pintu
Alin mendengkus dan membuang muka saat Zalynda duduk di hadapannya. Dalam pandangan Zalynda, Alin adalah gadis yang cantik dan cerdas. Entah mengapa Alin mau melakukan sandiwara murahan kemarin. Helaan nafas Zalynda memancing Alin untuk melihat ke arah Zalynda
"Kenapa?" Tanya Zalynda lembut. Alin mengerutkan keningnya
"Kenapa apa?" Alin balik bertanya
"Kenapa kau melakukan ini semua?" Zalynda memperjelas pertanyaannya
Alin tersenyum sinis "Sudah jelas kan, aku menyukai Ray."
Zalynda menghela nafas "Kau pikir dengan menjebaknya akan membuat Ray berpaling padamu?"
"Apa kau punya saran yang lain agar Ray berpaling padaku?" Tanya Alin sarkas. Zalynda menggelengkan kepalanya, Alin berusaha memancing emosinya.
"Tidak ada yang bisa membuat Ray berpaling kecuali dirinya sendiri yang menginginkannya." Kata Zalynda
Zalynda menatap ke arah Alin
"Kau tidak berfikir akibatnya, selain Ray membencimu hubungan pertemanan dan bisnis kalian menjadi kacau. Kau pernah berfikir sampai kesana?"
Alin terdiam. Dalam hatinya gadis itu membenarkan apa yang dikatakan Zalynda. Hubungan pertemanannya merenggang. Hubungan bisnisnya terpengaruh. Kemungkinan besar Ray tidak akan mau memakai jasanya lagi dalam urusan disain interior
"Aku tahu, seseorang mempengaruhimu untuk melakukan drama kemarin. Kamu tahu tujuan utama orang itu? Untuk menyakiti aku. Masalah kau mendapatkan Ray atau tidak itu hanya untung-untungan dari keberhasilan rencananya." Kata Zalynda lagi
"Sok tahu!" Kata Alin ketus walau dalam hati dirinya membenarkan pernyataan Zalynda
Zalynda tersenyum kecil. "Mama ku benar. Cinta itu tidak akan menyakiti, tetapi justru membuat hidup lebih berarti."
__ADS_1
Alin melirik ke arah Zalynda. Pembawaan gadis itu sangat tenang. Mungkin kalau bukan Zalynda yang menjadi istri Ray, sudah habis Alin di labrak. Perlahan Alin memutar kepalanya untuk melihat Zalynda. Gadis yang cantik bagai dewi walau tanpa makeup berlebihan. Tutur katanya tertata rapi, lembut namun tajam pada saat diperlukan. Terlihat sangat cocok dengan Ray
Alin benci mengakui kalau Ray dan Zalynda terlihat serasi saat bersama
Zalynda melihat ke arah jam di dinding "Sepertinya sudah masuk waktu makan malam. Aku akan minta ijin bunda untuk membolehkan dirimu makan malam bersama kami."
"Kenapa?" Ucapan Alin menghentikan Zalynda untuk keluar kamar. Zalynda berbalik menghadap ke arah Alin
"Kenapa apa?"
"Kenapa kau tidak marah padaku? Tidak seperti wanita kebanyakan yang meradang saat melihat wanita lain suaminya?" Tanya Alin
Zalynda tertawa kecil
"Tidak, itu tindakan anarkis menurutku. Lagipula, kau bukan wanita lain suamiku. Kau hanya sebatas kliennya, tidak lebih. Setidaknya Ray menganggapmu seperti itu." Kata Zalynda
Alin terdiam. Memang benar, Ray hanya menganggap hubungan mereka adalah pertemanan bisnis antar klien. Tidak lebih.
Zalynda berbalik dan membuka pintu kamar tamu, namun Zalynda dikejutkan dengan seseorang yang sudah berdiri di depan pintu sambil menodongkan pisau ke arah Zalynda
Orang itu memaksa Zalynda untuk kembali masuk ke dalam kamar. Alin yang melihat hal itu pun ikut terkejut hingga berdiri dari duduknya
Orang itu menutup pintu sambil menodongkan pisau ke arah Zalynda. Orang itu menyeringai
"Knock..knock.. Do you miss me?"
Para pria terlihat sudah kembali dari masjid. Ardhi langsung masuk ke kamarnya sementara Daniel menghampiri Farah yang duduk di ruang tamu
"Za mana?" Tanya Daniel sambil melihat sekeliling
"Sepertinya masih di kamar. Belum turun dari tadi. Mana Ray?" Tanya Farah
"Sepertinya Ray tertinggal di belakang. Tadi aku melihat seseorang menghampiri Ray dan bercakap-cakap dengannya di masjid selepas sholat." Kata Daniel
Farah mengangguk
"Fa, tadi itu keren banget."
"Keren? Yang mana?" Kening Farah berkerut
"Tadi yang kamu sampaikan ke Alin. Aku nggak nyangka kami bisa merangkai kalimat seperti itu. Coba dua puluh tahun lalu kau katakan pada dirimu yang dulu." Kata Daniel menggoda Farah
Mata Farah membola, lalu segera mencubit perut Daniel walau wanita itu sedikit kesulitan menemukan bagian yang bisa di cubitnya
__ADS_1
"I grow up, Niel." Kata Farah sedikit sebal. Daniel terkekeh
Terlihat Ardhi dan Aya sudah keluar dari kamar mereka. Keduanya segera menghampiri Daniel dan Farah
"Daniel, terima kasih banyak ya karena sudah membantu mengakses CCTV restoran dan hotel." Kata Ardhi
"Tidak masalah. Itu pekerjaan mudah. Justru feeling para wanita yang sepertinya harus di acungi jempol." Kata Daniel sambil tersenyum menatap Farah
Ardhi pun tersenyum menatap Aya sambil membelai kepala Aya yang terbungkus kerudung hijau pupus
"Itu hanya perasaan seorang ibu, beib. Saat melihat anaknya resah, seorang ibu langsung tahu ada yang tidak beres dan langsung menelusuri penyebabnya." Kata Aya
Farah tersenyum haru memandang Aya. Dalam hati Farah sangat bersyukur Aya menganggap Zalynda seperti anaknya sendiri
Tanpa sadar Farah menggenggam tangan Aya
"Terima kasih sudah menyayangi Zalynda.. Walau kau mertuanya, tetapi perasaan mu jauh lebih tajam dibandingkan diriku."
Aya menatap genggaman tangan Farah sambil tersenyum. Aya pun balas menggenggam tangan Farah. Farah tertegun, hampir saja dirinya terhanyut dan membocorkan rahasia kalau sebenarnya dirinya sudah mengingat semuanya
"Yaah maklum saja, aku baru mengenal Zalynda saat menikah dengan Daniel. Aku harus sering menghabiskan waktu bersama putri Daniel agar ikatan kami bisa terbentuk, betul kan Niel?" Kata Farah mencoba mengalihkan pembicaraan
Daniel hanya mengangguk menanggapi ucapan Farah.
"Assalamu'alaykum, Zalynda mana bunda?" Ray yang baru datang dari mesjid langsung menghampiri kedua orangtua dan mertuanya
"Sepertinya masih di kamar." Kata Farah sambil melihat kamar Ray yang terletak di lantai dua
"Nyonya,makan malam sudah siap. Mau dihidangkan sekarang?" Tanya Sumi
Kening Ardhi berkerut "Eh, kok kamu di dapur Sumi? Kan saya minta kamu jaga Alin kamar tamu."
"Ng..tadi non Za yang nemenin non Alin, tuan. Saya sholat Maghrib dulu tadi, habis itu beberes di dapur." Kata Sumi dengan nada sedikit khawatir dimarahi Ardhi
"Za lagi sama Alin?" Terdengar nada khawatir dari ucapan Ray.
"Biar aku yang lihat Zalynda dan Alin sekaligus memanggil mereka ke mari." Kata Farah sambil berdiri dari duduknya.
Wanita itu bergegas menuju ke kamar tamu yang terletak di samping dekat pintu menuju taman
"Kalian makan di sini ya." Tawar Ardhi pada Daniel
"Senang menerima ta.."
__ADS_1
Ucapan Daniel terhenti saat mendengar jeritan Farah
"AAAH..DANIEEL.."