
"Saya bertanya, bu Layla Zubaedah.. Atau apa harus saya panggil dengan sebutan.. Lela?"
Wajah Bu Edah terlihat terkejut. Nama itu kembali muncul setelah lebih dari dua dekade ia menyembunyikannya. Bu Edah segera berdiri dan hendak pergi dari hadapan Ray, namun Ray mencegahnya
"Bu, maaf. Saya kesini bukan untuk mengulik masa lalu ibu. Saya kesini untuk mencari bu Farah."
Bu Edah menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Ray "Ada hubungan apa mas Rayhan dengan Farah?"
"Duduk dulu bu, saya akan beritahukan." Kata Ray
Bu Edah memindai Ray, kemudian menghela nafasnya
"Kita bicara di ruangan saya saja, mas Rayhan."
Ray mengangguk dan mengikuti bu Edah menuju ruangannya. Bu Edah mempersilahkan Ray duduk
"Nah sekarang jelaskan kenapa mas Rayhan ingin tahu dimana Farah? Ada hubungan apa antara mas Rayhan dengan Farah?" Tanya bu Edah
"Saya ingin memastikan apa betul Farah adalah ibu dari Zalynda, bu."
Kening bu Edah berkerut "Zalynda?"
Ray mengangguk. Ray kemudian menceritakan semua penemuannya yang mengerucut pada satu dugaan kalau Zalynda adalah anak Farah. Bu Edah menghela nafas. Matanya menerawang
"Farah dan aku memang bersahabat saat kami sama-sama berada di lapas wanita. Kami saling dukung dan saling bantu satu sama lain." Bu Edah tertawa mengenang kebersamaannya dengan Farah dulu
"Suatu hari dia mual-mual dan setelah diperiksa, dia memang mengandung.."
Bu Edah menghembuskan nafas berat. "Ayahnya menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya saat itu."
Ray menahan nafasnya.
"Tetapi Farah memilih mempertahankan bayinya. Saat itu aku mendapat remisi dari pemerintah dan akupun dibebaskan. Aku bertemu orang baik yang mau menampung para mantan narapidana dan memberikan skill khusus seperti menjahit,memasak, baking.. Karena itu aku berani berjanji akan merawat bayi itu."
Mata bu Edah kembali menerawang
"Saat mendengar Farah melahirkan, aku sedang berada di Bandung mengikuti magang. Esoknya saya langsung pulang dan pergi ke rumah sakit penjara. Ternyata saya terlambat. Ayahnya sudah datang dan mengambil bayi Farah.."
Ray mengangsurkan tissue pada bu Edah. Bu Edah mengucapkan terima kasih lalu menyusut air di pelupuk matanya dengan tissue dari Ray
"Itulah awal Farah seperti orang linglung. Kerjaannya hanya melamun dan melamun. Lalu ia dipindahkan ke Healing Soul."
"Jadi bukan karena ayah.." Gumam Ray
Bu Edah menoleh "Apa mas?"
Ray dengan cepat menggeleng "Nggak bu, saya pikir bu Farah stress karena tidak mendapat cinta dari seseorang."
Bu Edah tergelak "Farah tidak selemah itu. Buktinya dia sangat kuat saat tahu hamil. Diapun menjaga kehamilannya dengan baik meski di penjara."
__ADS_1
Bu Edah tersenyum menatap Ray
"Bagi seorang ibu, kemalangan terbesar adalah dipisahkan dari anaknya. Setelah proses berat yang ia hadapi, kemudian mendapat secercah harapan, alasan mengapa ia harus hidup.. Lalu tiba-tiba anaknya direbut begitu saja dari buaiannya. Saya pun mungkin akan gila kalau seperti itu."
Bu Edah memutar fotonya saat muda sambil tersenyum tipis
"Dulu aku hanya seorang tukang kue kecil-kecilan. Aku belum sanggup untuk mencari anak sahabatku. Yang bisa kulakukan hanyalah rutin menjenguk Farah di Healing Soul."
Mata Bu Edah kembali menerawang
"Mungkin ini memang maksud Allah menitipkan anugerahNya. Usaha kue ku berkembang pesat. Saat aku tahu pembayaran kamar rawat Farah di Healing Soul menunggak enam bulan, aku langsung melunasi dan membawanya pergi. Aku pikir mungkin keluarganya sudah meninggal jadi tidak ada yang akan mengurusnya."
Bu Edah kembali menatap Ray
"Apa mas Rayhan yakin Zalynda adalah anak Farah?"
Ray menunjukkan foto Zalynda dan foto Farah saat muda yang diambilnya dari dokumen Ima. Bu Edah mengangguk
"Memang mirip, tapi.."
"Saya juga tahu Za memiliki gelang peninggalan bu Farah. Disitu tertulis nama Farah Afriyani Wijaya." Ujar Ray cepat
Bu Edah memicingkan matanya menatap Ray sambil tersenyum jail "Kamu tahu banyak tentang Zalynda ya mas."
"Saya tahu karena saya yang menyebutkan nama bintinya Zalynda saat ijab qobul kami."
"Ijab qobul?"
"Tidak seperti itu bu." Sergah Ray cepat.
Mau tidak mau Ray terpaksa menceritakan semua ke bu Edah karena khawatir gosip tidak benar menyebar. Bu Edah terdiam mencerna cerita Ray, bibirnya tersenyum
"Alhamdulillah, Zalynda bertemu dengan pria seperti mas Ray. Hidupnya sudah menderita sejak kecil karena dipisahkan dari ibunya. Dia harus bahagia."
Ray tersenyum kecil. "Kalau boleh, saya ingin minta tolong pada Bu Edah."
"Apa itu?"
"Saya ingin melakukan tes DNA untuk membuktikan secara jelas kalau mereka memang ibu dan anak. Bisa ibu ambilkan sampel rambut atau apapun yang bisa dijadikan untuk tes DNA?" Tanya Ray
"Itu bisa diatur mas. Saya bisa mengusahakannya."
Ray tersenyum "Terima kasih."
Bu Edah pun ikut tersenyum sambil membelai foto dirinya yang berada di meja kerjanya
"Satu lagi. Apa bu Farah pernah bercerita tentang siapa ayah bayinya?" Tanya Ray
Bu Edah menghela nafas panjang
__ADS_1
"Dia bilang, ayah Za dulu juga sama-sama berada di penjara karena kebodohan mereka. Farah tidak pernah menyebutkan dengan jelas namanya. Namun saya pernah mendengar saat menjenguknya dulu di penjara. Saat pertama kali ia merasakan bayinya bergerak. Ia sangat bahagia sampai keceplosan." Bu Edah terkekeh
Ray makin penasaran "Ada nama yang disebutkannya bu?"
"Dia menangis sambil berkata 'Daniel, anak kita sangat sehat..'."
Ray menahan nafasnya. Ucapan-ucapan Ardhi, berita yang ia baca di dokumen Ima, cerita bu Edah berseliweran di dalam pikirannya
"DP, Daniel Pratama. Dia partner FAW.."
"Dia yang membantu putri tuan Wijaya menculik bunda.."
"...posisi yang bagus untuk mantan narapidana."
"Daniel, anak kita sangat sehat.."
Hanya ada satu Daniel. Daniel Pratama
***
Daniel baru saja hendak bersiap pulang saat Okky memasuki ruangannya
"Pak, saya punya berita untuk anda." Kata Okky
Daniel mengangguk dan menunda kepulangannya "Duduk."
"Saya menemukan beberapa dokumen yang sengaja disembunyikan." Kata Okky sambil memberikan secarik kertas ke aeah Daniel
"Apa ini?" Tanya Daniel
"Itu tidak sengaja saya temukan di hidden file milik tuan Wijaya. Saya copy dan print untuk anda."
Kening Daniel berkerut. Surat Rumah Sakit penjara yang menyatakan kepindahan Farah dari penjara ke Healing Soul karena kesehatan mentalnya
"Gangguan kesehatan mental setelah melahirkan?" Tanya Daniel
Mata Daniel terbelalak "Farah melahirkan? Dia sempat hamil?"
Okky mengangguk "Berita ini sengaja ditutup dari wartawan. Tuan Wijaya mengeluarkan banyak uang saat itu untuk menutup mulut semua orang. Bisa anda periksa di laporan keuangan Wijaya Group."
Daniel segera membuka laptopnya. Benar saja, ada sejumlah uang besar yang keluar sehari sebelum berita itu diturunkan
"Kalau Farah melahirkan, dimana anaknya?" Gumam Daniel
"Kemungkinan tuan Wijaya membawanya, pak. Beliau sangat takut berita kehamilan dan kelahiran cucunya mempengaruhi kepercayaan para relasi Wijaya Group setelah peristiwa dengan Frederick Groups Company."
"Dibawa? Di titipkanā¦"
Daniel teringat kemiripan wajah Zalynda dan Farah, gelang yang dipakai Zalynda, bukti transfer rutin yang dikirimkan tuan Wijaya ke Rina
__ADS_1
"Apa Zalynda anak Farah? Siapa ayahnya?" Bisik Daniel. Hatinya terasa sakit. Farah kembali mengkhianatinya dengan memiliki seorang anak dari lelaki lain