
Banyak yang beranggapan bahwa family time itu adalah hal yang sepele atau tidak terlalu penting. Masih banyak keluarga diluar sana yang beranggapan seperti itu. Mereka tidak tahu sebenarnya hal ini sangatlah penting. Waktu keluarga bisa menjadi kunci sukses nya keluarga yang harmonis.
Hal itu selalu dipegang oleh Ardhi dan Aya. Karena itu mereka selalu menyempatkan berkumpul dengan anak-anaknya. Apalagi saat ini Lean dan Ina sedang berada di Jakarta
Pesta Barbeque adalah tema yang selalu dipilih Ardhi karena selain semua anak-anaknya yang kebanyakan lelaki sangat menyukai daging, saat makan juga merupakan saat berkumpul dan mendekatkan satu sama lain
Aya memperhatikan Zalynda yang sedang mengobrol dengan Ina sembari mempersiapkan hidangan pencuci mulut untuk pesta barbeque kecil-kecilan di taman samping rumah keluarga Al Farobi
"Ini Ina bawa ya kak." Kata Ina sambil mengangkat satu nampan semangka yang sudah dipotong-potong. Lean yang melihatnya segera menghampirinya
"Sini, abang yang bawa. Mau taruh dimana Na?"
"Di meja sana bang. Mau sekalian Ina susun." Kata Ina sambil berjalan mengikuti Lean
Zalynda tersenyum memperhatikan interaksi keduanya. Dulu Lean terkesan sedikit flamboyan, cuek dan banyak wanita di sekelilingnya. Namun bersama Ina, Lean terlihat lebih setia, dewasa dan terlihat lebih sabar
Mungkin benar adanya kalau buaya sudah ketemu dengan pawangnya akan terjadi tunduk dan patuh
Zalynda melihat ke arah Ray yang sedang memanggang daging dan sayuran. Merasa diperhatikan, Ray melihat ke arah Zalynda.
Zalynda segera menunduk karena ketahuan sedang memperhatikan Ray. Ray pun tersenyum lebar melihat rona merah wajah Zalynda
Dan semua itu tertangkap oleh pandangan mata Aya. Aya berjalan menghampiri Zalynda yang kini sedang memotong mangga
"Kamu pintar juga memotong buah-buahan ya. Rapi." Puji Aya saat melihat potongan Zalynda
"Eh nyonya.."
Zalynda menggeser duduknya, memberikan tempat untuk Aya. Aya pun mulai ikut mengupas dan memotong buah. Zalynda memperhatikan hasil potongan Aya. Tiba-tiba Zalynda teringat bekal yang pernah diberikan Ray.
"Apa kemarin dulu itu bekal dari ibunya Ray?" Bisik Zalynda
"Kamu belajar masak sama ibu kamu, Za?" Tanya Aya memecahkan keheningan
Zalynda menggeleng pelan "Saya belajar sendiri, nyonya."
"Ooh, wah hebat kamu. Ibu kamu kerja apa?"
"Mamah udah nggak ada sejak Za usia 8 tahun."
"Oh, maaf.."
"Kalau ayah kamu?"
Zalynda menggigit bibirnya, bingung apa yang akan ia katakan. Bayangan kata-kata anak haram terlintas dalam benaknya.
Melihat Zalynda hanya terdiam, Aya tidak meneruskan ucapannya. Aya sedikit menyesal melontarkan pertanyaan yang sepertinya menyinggung hati gadis di depannya
"Ayo kita kesana Za. Kayaknya sudah pada mateng masakannya." Ajak Aya sambil membawa buah hasil potongannya. Zalynda menurut dan mengikuti Aya menuju meja panjang yang disediakan di luar
Hasil panggangan Lean dan Ray tampak menggugah selera. Setelah membaca doa yang dipimpin oleh Ardhi, merekapun mulai menikmati hidangan sambil bercakap-cakap
"Eh kak Za, bang Ray ini punya bakat yang nurun dari bunda lho." Ujar Ina tiba-tiba sambil mengerling ke arah Ray
"Na, abang nggak mau ah." Kata Ray sambil sedikit melotot ke Ina.
"Bakat apa?"
"Nyanyi sambil main gitar. Yan, pinjem gitar elo." Kata Ina sambil meminta gitar yang sedang dipetik Ian
"Ah gue juga punya bakat metik gitar. Mau dengar, kak Za?" Tanya Ian
__ADS_1
"Jangan kak. Bang Ian fals suaranya." Ejek Endra yang langsung di lempar potongan semangka oleh Ian
"Ian, jangan buang-buang makanan." Tegur Ardhi sambil melihat Ian tajam. Ian langsung menghentikan aktivitasnya melempari Endra.
"Ayo Ray, bisa sekalian belajar ngegombal kan." Kata Lean sambil tertawa
"Hmm, ntar gue belajar ngegombalin cewek-cewek dari elo deh Ndre." Balas Ray datar. Lean langsung terbatuk-batuk sambil menatap Ina yang juga langsung menatapnya
"Nggak, Na. Abang nggak pernah ngegombalin cewek-cewek." Ujar Lean cepat, khawatir Ina salah sangka. Ina tertawa melihat tingkah Lean
"Iya, Ina percaya sama abang kok. Bang Ray jangan memancing di air keruh ya. Ayo coba nyanyiin lagu buat kak Za."
Ray akhirnya menyanggupi permintaan Ina. Ray mengambil gitar Ian dan mulai memetiknya
You with the sad eyes
Don't be discouraged, oh I realize
It's hard to take courage
In a world full of people
You can lose sight of it all
The darkness inside you
Can make you feel so small
Zalynda terpaku mendengar lirik lagu Ray. Ray masih memetik gitarnya sambil terus menatap lembut ke arah Zalynda seolah berbicara dengan gadis itu
Show me a smile then
Can't remember when
I last saw you laughing
This world makes you crazy
And you've taken all you can bear
Just call me up
'Cause I will always be there
And I see your true colors
Shining through
I see your true colors
And that's why I love you
So don't be afraid to let them show
Your true colors
True colors are beautiful
Ina juga mulai ikut bernyanyi sambil memegang tangan Lean. Lean tersenyum dan mencium punggung tangan Ina
I see your true colors
__ADS_1
Shining through (true colors)
I see your true colors
And that's why I love you
So don't be afraid to let them show
Your true colors
True colors are beautiful (they're beautiful)
Aya memperhatikan interaksi antara Ray dan Zalynda. Aya merasa hubungan keduanya seperti melebihi hubungan pacaran pada umumnya. Terlihat seperti interaksi Ina dan Lean, mengingat Ray tidak sembarangan berinteraksi dengan wanita
Like a rainbow
Oh oh oh oh oh like a rainbow
Ooh can't remember when
I last saw you laughing
Ooh oh oh oh
This world makes you crazy
And you've taken all you can bear
Just call me up
'Cause I will always be there
And I see your true colors
Shining through
I see your true colors
And that's why I love you
So don't be afraid (don't be afraid)
To let them show your true colors
True colors are beautiful (you're beautiful, oh)
Ray menyelesaikan lagunya. Endra dan Ian bertepuk tangan dengan keras. Pandangan Ray masih mengarah ke Zalynda. Gadis itu tertunduk
Dalam hatinya, Zalynda berterima kasih pada Ray. Lewat lagu itu, seolah Ray memberi semangat pada Zalynda agar berani menjadi dirinya sendiri, berani menunjukkan siapa dia yang sebenarnya. Menjadi diri sendiri bukan citra diri yang diinginkan orang lain.
Zalynda mendongak menatap Ray yang duduk di seberangnya. Gadis itu tersenyum manis ke arah Ray
"Thank you.." Zalynda mengucapkan kata-kata itu tanpa bersuara. Hanya bibirnya yang membentuk rangkaian kata itu
Ray tersenyum sambil mengangguk dan membalas ucapan Zalynda
"I love you.."
Zalynda membulatkan matanya lalu menunduk dengan wajah merona. Ray terkekeh kecil melihat reaksi wanita kesayangannya itu
Dan itu semua tidak lepas dari pengamatan Aya
__ADS_1